
~Jangan pendam rasa sakit dalam hatimu, karena itu dapat menjadi masalah untukmu~
__________ZENOVIA__________
Sebuah motor melaju dengan sangat cepat di jalanan yang sepi bagaikan anak panah yang telah melesat dari busurnya.
Wajah penuh amarah yang menggebu dan meluap-luap dari gadis cantik si pengendara motor, Arasya.
Pikirannya sangat dipenuhi wajah-wajah pria brengsek yang mengusik dirinya. Ya, walaupun mereka sudah menjadi mayat sekarang. Tetapi rasa kesalnya pada Farel belum terbalaskan. Farel, kan belum ia pukuli layaknya pria brengsek yang menghadangnya tadi di jalan.
Tak terasa perjalanan menuju sebuah vila milik Zeno kini sudah berakhir. Begitu dirinya sampai, ia langsung saja masuk dengan menendang pintu dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang nyaring.
BRAK...
Dada Arasya naik turun dan nafas yang memburu disertai dengan wajah yang memerah karena amarah.
Semua orang di ruang tamu itu amat terkejut dengan kehadiran Arasya. Zeno, Leon, dan beberapa pria tampan dan juga beberapa bodyguard penjaga di dekat pintu menatap Arasya.
Beberapa dari mereka nampak takut gemetar melihat Arasya yang terlihat marah. Namun, tidak dengan Zeno. Ia malah menghampiri sahabat baiknya itu dan mengajaknya untuk duduk.
"Ara!! Ayo, kemarilah! Duduk dan tenangkan dirimu! Apa yang membuatmu marah? ceritakan pada kami." ucap Zeno mencoba menenangkan Arasya.
Zeno, sahabat yang tak pernah pergi dari sisi Arasya. Bagaimana pun juga, Zeno-lah tempat untuk menampung perasaan Arasya yang tak menentu setiap waktu. Jadi, wajar saja Zeno tahu kondisi Arasya.
"Ayolah, jangan pendam amarahmu! Apakah dirimu tidak mau menceritakan semua yang terjadi kepada dirimu beberapa hari ini? Kami, kan sahabatmu. Jadi, jangan ragu, ya!" ucap Zeno lagi dan setujui semuanya.
Arasya tanpa basa-basi langsung memeluk Zeno dengan erat. Ia menumpahkan air matanya dengan deras. Tangisan yang begitu memilukan tampak terdengar di ruangan itu. Leon dan yang lainnya merasa bingung dengan perilaku Arasya kini. Namun, Zeno yang mengerti menyuruh yang lainnya pergi dari ruangan itu.
Setelah semuanya pergi, ia mengusap lembut Surai panjang Arasya sembari menasihatimya layaknya seorang kakak.
"Jangan pendam rasa sakit dalam hatimu, karena itu dapat menjadi masalah untukmu!"
"Apa yang membuat pikiranmu begitu kacau, Ara? apakah kau tak mau cerita padaku?" ucapnya lagi sembari mengangkat dagu Arasya.
Ia melihat wajah cantik, putih dengan pipi chubby milik Arasya yang kini berwarna merah dengan isakan yang terus keluar dari bibir mungilnya. Rambut panjang yang tergerai berantakan dan mata yang merah berair membuat dirinya makin tak tega dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
Ia kembali membawa Arasya ke dalam pelukan hangatnya. Membiarkan sahabatnya menumpahkan segala rasa sakitnya. Membiarkan pundaknya menjadi sandaran bagi sahabatnya. Ia mengusap lembut punggung Arasya untuk meredakan isakannya.
******
Sudah sekian lama Leon dan yang lainnya menunggu. Mereka nampak risau dengan keadaan Arasya tadi. Pasalnya, Arasya tadi tiba-tiba menangis dengan tersedu-sedu di pelukan Zeno saat baru datang.
Cklak...
Pintu terbuka yang menampakkan Zeno yang menatap mereka dengan tatapan yang gusar.
"Ara sudah tidur! kalian bisa masuk sekarang!" ucap Zeno lalu melenggang pergi.
Leon dan yang lainnya mengikuti Zeno dari belakang. Setelah sampai diruang tamu, mereka menatap pilu Arasya yang tertidur di kursi sofa dengan tampilan yang berantakan.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Ara, Zeno?" ucap Leon memberanikan diri bertanya.
"Aku juga tak tahu. Sepertinya, ia sangat tertekan!" jawab Zeno sembari mendaratkan bokongnya ke kursi sofa.
"Bagaimana mungkin ada hal yang membuat Ara seperti itu? aku tidak percaya!" ucap salah satu dari mereka.
"Ya, kau benar, Louise!" ucap yang lain.
Louise Here Houvel dan Lucky Here Houvel. Lelaki kembar yang merupakan sahabat Arasya selain Zeno dan Leon.
"Hm... Apa yang kau katakan benar! Sekarang, lebih baik kita pindahkan Ara ke kamarnya dulu. Baru pikirkan cara agar kita lebih cepat menemukan penyebab Ara yang membuatnya seperti ini!" ucap Lucky.
Semua menyetujuinya. Mereka membawa Arasya ke dalam kamar yang biasa ditinggalinya saat menginap di vila Zeno.
Mereka semua memiliki kamar masing-masing di vila ini. Mereka juga biasa menginap di vila saat ada acara kumpul-kumpul ataupun acara lainnya.
Setelah meletakkan Arasya di kamarnya, mereka langsung keluar dan melanjutkan diskusi hingga larut malam. Setelah larut, mereka menginap dan tidur di vila mewah 3 lantai milik Zeno.
*****
Pagi sudah menyapa. Sang surya tak henti-hentinya memancarkan cahaya terang yang menyinari bumi hingga tampak lebih berwarna dan lebih indah. Cahaya yang memberi kehidupan bagi para makhluk bumi separti Arasya yang merupakan cahaya petunjuk dan pemberi kehidupan di Genk TOUSEND LIGHT.
__ADS_1
Pagi ini juga, Arasya sudah kembali seperti sebelumnya. Ia tampak segar dan tidak nampakkan wajah sedihnya seperti tadi malam.
Hari ini, adalah hari Minggu. Hari berkumpulnya anggota Genk TOUSEND LIGHT yang dipimpin Arasya (Queen) dan Zeno(Ketua), serta Leon(kapten 1), Lucky (kapten 2) dan Louise (kapten 3) sebagai wakilnya. Sebuah Genk yang memiliki lebih dari 300 anggota yang memberikan rasa aman pada masyarakat dan kerap kali membantu polisi memecahkan kasus serta menangkap buronan. Genk ini dibuat 2 tahun lalu oleh mereka berlima setelah lulus SMA.
"SELAMAT PAGI PARA MEMBER TOUSEND LIGHT GENK!!" ucap Zeno menggunakan speaker yang menggema di markas mereka.
"PAGI, KETUA!" jawab para anggota.
"BAIKLAH, KITA MULAI AGENDA KEGIATAN HARI INI. PERTAMA-TAMA, KITA AKAN MELAKUKAN PATROLI SECARA BEREGU YANG MASING-MASING REGU DIPIMPIN OLEH LEON, LOUISE, LUCKY, SAYA, SERTA QUEEN KITA, ARASYA!!"
"LALU, KITA JUGA AKAN PERGI KE BEBERAPA PANTI ASUHAN!!"
"SETELAH ITU, KITA AKAN MELAKUKAN PELATIHAN DAN JUGA UJIAN KOMPUTER SERTA BELA DIRI. KALIAN PAHAM??!!" ucap Zeno lagi.
"PAHAM, KETUA!!!" Jawab mereka semua bersama.
Acara mingguan mulai berjalan. Semuanya menjalankan rencana sesuai agenda.
*****
Siang hari yang terik membuat para pekerja di sebuah mansion mengeluh karena lelah. Pasalnya, sejak kemarin tuan mereka terus membuat tempat itu penuh dengan barang yang berserakan serta kekacauan yang terjadi di setiap sudut mansion. Mansion emperor adalah sebuah mansion mewah di seluruh kota S, bahkan negri Shu. Mansion yang pagi kemarin masih tampak rapi di dalamnya, sekarang telah berubah seperti tempat bekas peperangan.
Farel, laki-laki yang kini tengah terduduk di sebuah kursi taman dengan pemandangan yang indah dan secangkir teh yang menemani. Ya, walaupun kini sudah siang.
Farel yang jarang pulang ke mansion dan lebih sering tinggal di apartemen, hanya menempatkan 5 pelayan beserta satu kepala pelayan untuk membersihkan mansionnya. Dulu tak ada Farel tak terlalu sering dibersihkan. Dan sekarang, hah… kasihan mereka.
Apalah daya para pelayan di mansion mewah itu, mau melawan tak berani tak melawan takut lelah dan mati. Mereka terjebak didalam kekacauan mansion, dan tuan mereka malah duduk dengan santainya setelah membuat kekacauan. Mereka yang hanya berenam mau membersihkan mansion 4 tingkat yang luas. Ah… ini sungguh siksaan. Tak apa sore maupun malam baru selesai, asalkan mereka ada gaji dan tempat tinggal untuk sekarang, mungkin mereka masih kuat.
HAI, PARA READER!!
DUKUNG TERUS NOVEL INI DENGAN CARA:
- LIKE AND KOMEN
- SERTA VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.
__ADS_1
BIAR AUTHOR LEBIH SEMANGAT UPDATE.
PAPAY!!😁😁