Bukan Gadis Bisu Yang Lugu!

Bukan Gadis Bisu Yang Lugu!
DELAPAN BELAS


__ADS_3

~Jika cahaya dariku tak mampu menyinari mu, maka biarlah hangat ku temani nafasmu.


LOUISE


"Sudah, kita tanya Ara saja!" ucap Lucky.


Zeno, Leon, Louise dan Lucky melihat ke arah Arasya yang masih duduk di kursi roda. Menunggu jawaban yang menentukan nasib LEZO GROUP ke depannya. Bimbang tidak dirasa oleh Arasya. Namun, melihat wajah para sahabatnya yang mendukung apapun keputusannya, membuatnya menyunggingkan senyum yang manis.


Arasya mengangguk, mengisyaratkan kalau dirinya setuju untuk bekerja bersama Farel. Zeno dengan berat hati berucap pada Arasya.


"Apa yang kau lakukan? Kalau mau kerja sama aku aja. Aku gak mau kasih kamu ke siapa-siapa! Kalo kamu di apa-apain sama Presdir Farel gimana?" ucap Zeno nampak khawatir.


"Tyidyak!" (tidak) ucap Arasya mengusap wajah Zeno lembut.


"Kalau kau demi diriku bisa seperti ini, apa yang berharga di hidupku lagi selain dirimu?" ucap Zeno memeluk Arasya.


"Leon, Lui, Luis, Van, Om, Tan!" (Leon, Lucky, Louise, Zevan, om, Tante!) ucap Arasya seraya mengusap punggung Zeno.


Arasya dan Zeno tengah berdebat tentang masalah itu. Namun, berbeda dengan Louise dan Lucky yang melongo mendengar suara Arasya. Mereka nampak tak percaya dan akhirnya mereka menanyakan ini pada Leon yang tersenyum biasa-biasa saja.


"Ara, bisa bicara?" tanya Lucky.


"Benar. Zeno menceritakan segalanya tentang waktu itu. Waktu dimana ia menemukan Ara, sang ratu!" ucap Leon tersenyum.


"Ngomong apa, sih! jangan ngelantur, dong!" ucap Lucky yang kesal.


"Aku gak ngelantur! Masuk dulu, nanti aku cerita semua!" ucap Leon mendahului Doble L.


"Ck, apaan, sih. Ngomong tinggal ngomong, apa susahnya? kenapa pindah tempat?" ucap Lucky menggerutu.


Leon menghampiri Arasya dan Zeno lalu menyuruh mereka juga masuk agar para pekerja tak melihat adegan memalukan Zeno itu. Kan, bisa hilang reputasi Zeno!


Sedangkan Louise, ia juga berjalan masuk dengan ear phone di telinganya yang masih mendendangkan lagu.


*****


"Hapus berita pembatalan kontrak kerjasama itu!" perintah Farel pada Jhonson.

__ADS_1


"Baik, tuan!" hormat Jhonson


Jhonson keluar dari ruang pribadi Farel. Sedangkan Farel, ia tengah duduk dengan secangkir kopi hangat dan buku ditangannya serta ear phone di telinganya dan kacamata yang bertengger di hidungnya. Dasi yang kendur dan rambut yang acak-acakan, membuat dirinya terlihat seperti seorang Presdir tampan yang cool dan sangat-sangat menggoda bagi para wanita yang melihatnya.


Tok..tok..tok..


"Maaf, tuan. Ada berkas yang harus di tandatangani oleh anda!" ucap seorang karyawan wanita yang masuk.


"Taruh di atas meja!" ucap Farel dingin.


"Baik!"


Karyawan itu pergi sambil mencuri-curi pandangan dari sang Presdir. Namun, Farel menyadari hal itu dan langsung membuka suara.


"Mau lirik sampai kapan?"


"Maaf, Presdir. Saya salah, saya tidak akan mengulanginya lagi!" ucap karyawan itu dengan takut.


"Jhonson!"


"Turunkan gajinya 20% dan hapus bonus tahunan untuknya!" ucap Farel tanpa melihat mereka.


"Baik!"


"Satu lagi, jangan pernah suruh karyawan wanita untuk masuk!" ucap Farel lagi.


"Baik, tuan!"


"Presdir, saya mohon jangan turunkan gak saya! saya sudah tidak punya uang untuk membayar biaya hidup adik saya! saya mohon!" ucap karyawan wanita itu yang bersujud di depan Farel.


"Jhonson!" panggil Farel.


"Baik!"


Jhonson seakan mengerti apa yang diinginkan tuannya itu mengangguk dan memanggil penjaga untuk membawa karyawan wanita tadi keluar dari ruang pribadi Farel.


Farel yang dari tadi masih menatap bukunya itu nampak tak fokus membaca. Ia ingat apa yang dikatakan karyawan wanita tadi. Ia jadi teringat pada seseorang yang sangat ia jaga dulu. Adiknya, seseorang yang paling berharga baginya yang merupakan saudara kembarnya. Ia hanya punya kenangan masa kecil, tidak saat dewasa. Karena adik kembarnya itu kini tengah bersenang-senang di dunia lain tanpa merasakan sakit lagi.

__ADS_1


*****


Matahari kini sudah kembali ke tempat dimana ia ditakdirkan. Sama seperti Arasya, kemanapun ia pergi berusaha menjauh dari Farel, ia sudah terikat takdir dan akan tetap bertemu. Cepat atau lambat pasti bertemu.


Bulan purnama dengan taburan bintang yang mengiringinya, membuat bulan nampak lebih istimewa dan bersinar di antara beribu bintang. Deburan angin yang membuat jiwa terasa tenang, Menyapu surai gadis jenius ini.


Senyum yang terluas d iwajah cantikanya ditengah sinar rembulan yang nampak sangat menawan.


Di jendela rumah sakit, kamar VVIP No.1002. Arasya duduk sendirian tanpa terdengar suara. Ia mengingat kenangan Arel, anak laki-laki yang membuat malam mengerikan itu ia lewati dengan teman. Usaha telah ia kerahkan untuk mencari Arel. Namun, tak ada hasil walau sedikit pun. Hanya ada secercah ingatan dan harapan yang ia ingat saat ini. Rasanya, banyak sekali orang yang pergi dari hidupnya perlahan-lahan. Arel yang membuat dirinya tenang waktu itu dengan wajah tampan dan mata biru laut yang cantik.


Tunggu, biru laut! Ya, biru laut hanya dimiliki orang keluarga FARD, kan? Rumor mengatakan, anak laki-laki keluarga FARD adalah titisan dari dewa Poseidon, sang dewa laut. Itu berarti.. Arel yang ku kenal adalah titisannya! Berarti masih kerabat Farel? kenapa farel, sih!? dia itu bajingan! Kalo gitu mendingan nggak dibiarin gitu aja Arel pergi. Gini caranya aku mana bisa ketemu Arel kalo Farel musuhku?!


*****


Lelahnya.. semua yang aku pikirkan entah benar atau tidak. Intinya, kalau Arel benar-benar anak keluarga FARD, pasti dia nggak akan dibuang, kan? Dia gak bakal hidup di panti asuhan REAL HOPE!


Capek, ah mikirin ini. Mendingan tidur dari pada mikirin kemungkinan yang kagak jelas asalnya.


*****


"ARA!! CEPET BANGUN! KAMU HARU BERANGKAT PAGI!" teriak Zeno.


Arasya terperanjat kaget karena teriakan dari Zeno yang menggema di seluruh duduk ruangan kecil itu.


"Mandi, ganti baju, pake parfum sama jangan lupa keramas biar wangi! nanti aku dandanin kamu biar cantik!" ucap Zeno dengan semangat.


Arasya melangkah gontai ke dalam kamar mandi. Ia malas sekali untuk mandi!


*****


Berbagai merek pakaian, parfum, make-up dan berbagai aksesoris memenuhi ruangan itu. Mata Arasya hampir membulat sempurna melihat semua itu setelah keluar dari kamar mandi.


"Cepetan sini! Jangan sampai telat!" ucap Zeno sembari menyeret tangan Arasya.


'Kemarin gayanya nangis-nangis kayak gak rela gitu. Lah.. sekarang? malah nyuruh cepet-cepet. Dasar aneh!' maki Arasya di dalam hati pada Zeno.


Dengan malas, ia mengikuti apa yang diperintahkan sahabatnya yang ia pikir gila itu. Bagaimana tidak? wajahnya sudah sangat tidak nyaman karena terlalu banyak menggunakan make-up. Dan juga, pakaian yang ia gunakan beserta perhiasan dan pernak pernik lainnya membuatnya semakin tak nyaman. Mau marah pada Zeno tapi kasihan karena sudah bersusah payah melakukan persiapan yang gila ini. Tapi, bagaimanapun, niatnya hanya membantu Zeno. Jadi, apa yang terjadi selanjutnya bukan urusannya.

__ADS_1


__ADS_2