
~Berani itu ketika yang lain hanya dapat melihat tapi kamu dapat berbuat.
ARASYA
"Apa yang kau lakukanl padanya!?" Ucap Farel yang tiba-tiba datang.
"Kenapa kau memukulnya? kau mau buat kegaduhan di kantorku? Pergi keluar!" ucap Farel dengan marah.
Sebenarnya, tadi sebelum Farel masuk, wanita itu memaki dan menindas Arasya. Namun, Arasya masih diam karena kepalanya amat pusing waktu itu. Namun, tanpa ia sadari wanita itu mengambil air dalam ember dan menyiramkannya pada tubuh Arasya. Arasya merasa tak terima itu pun langsung menendang kaki wanita itu hingga wanita itu terjatuh dan kepalanya terbentur dinding. Namun, saat itu wanita itu tak pingsan dan kepalanya hanya memar saja. Tetapi, wanita itu tanpa dosa menendang perut Arasya dengan sepatu hak tinggi miliknya yang ia pakai hingga Arasya merasa kesakitan. Dan tak lama kemudian, Farel masuk dan wanita itu berpura-pura pingsan hingga Farel salah paham.
"Bo--bo'oh!" (Bodoh) ucap Arasya dengan susah payah.
Farel terkejut mendengar suara Arasya. Ia tertegun sejenak. Ia lalu tersadar mendengar ringisan dari Arasya. Lalu ia memanggil beberapa karyawan melalui telepon.
'Aagh... sakit banget. Perutku… kayaknya lukanya terbuka lagi!" batin Arsya meringis kesakitan.
"Kau, melakukan apa pada wanita ini? kenapa kau juga kesakitan? apa kau kira kami bodoh? kau membuat kepalanya terluka, kau pasti sedang berakting!" ucap karyawan lelaki yang baru masuk memaki Arasya.
Arasya masih berdiri di depan wastafel memegangi perutnya yang terasa sangat perih dan sakit. Ia tak akan meladeni wanita itu kalau tahu begini endingnya. Farel pergi keluar tanpa melihat Arasya. Ia pergi dari ruangan itu bersama dengan karyawan pria yang menggendong wanita itu. Arasya berjalan tergopoh-gopoh ke arah meja kerjanya untuk mengambil obat dalam tasnya untuk meredakan rasa sakit dan menghentikan darah yang sudah mulai terasa menetes ke area sekitar perutnya.
'Obatnya kemana?… nah, ini ketemu! cepet cari air! air! air! mana, sih airnya?!' batin Arasya.
Ia melihat hanya ada air kopi di meja Farel. Karena terpaksa, ia pun menggunakan air kopi itu untuk meminum obatnya. Namun, setelah selesai minum obatnya, ia malah merasakan hal aneh pada tubuhnya. Perlahan-lahan, pandangannya kabur, tubuhnya jadi panas, dan ia tak sanggup berdiri akhirnya menjatuhkan cangkir kopi itu dan pingsan.
*****
Farel kini berjalan di lorong kantor hendak menuju ruang kesehatan di kantor itu. Ia juga sedang berjalan sambil melamun dan masih terus bergulat dengan pikirannya.
'Aku tidak percaya, orang yang dulu aku tolong malah dengan sengaja menindas karyawan yang aku suruh untuk menjaganya. Kalau saja aku menyuruh seorang wanita lain yang lebih kuat selain wanita ini, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi.' batin Farel.
Drap… Drap… Drap…
Suara langkah kaki seseorang membuat Farel membalikkan badannya dan melihat ke belakang.
__ADS_1
"Jhonson? kenapa kamu disini? saya menyuruh kamu mengawasi Arasya lewat CCTV, kan? kenapa kau tidak awasi? mau potong gaji?" ancam Farel.
"Bu--bukan, huh… begini, tuan! Nona Arasya, Dia, dia pingsan!" ucap Jhonson yang masih ngos-ngosan.
"Dia hanya berakting!" ucap Farel acuh dan hendak meninggalkan Jhonson.
"Tidak, nona Arasya dari tadi di tindas oleh wanita itu! Tapi, saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamar mandi karena tidak ada CCTV di sana!" ucap Jhonson menjelaskan.
"Apa? maksudmu wanita itu hanya berpura-pura?!"
"Benar, tuan!"
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Lucky bilang Arasya baru keluar dari rumah sakit dan seharusnya belum diperbolehkan karena masih lemah! sedangkan dirinya memiliki banyak masalah pada tubuhnya! Bodoh! Kau selalu lambat!" Farel berucap.
"Maaf, tuan!" Jhonson hanya tertunduk sambil mengikuti langkah Farel yang menuju ruangan Presdir.
BRAK…
Pintu di buka keras oleh Farel. Ia terkejut melihat bahwa Arasya tengah pingsan dengan darah yang mulai menetes dari perutnya dan juga kopi dan obat yang tergeletak.
"Jhonson, selidiki semuanya! jangan tinggalkan barang bukti sedikitpun!" ucap Farel dengan wajah suram.
Jhonson mengiyakan dan pergi dari ruangan itu. Farel melihat wajah Arasya yang amat cantik natural. Ia berniat membuka baju Arasya agar lukanya dapat ia bersihkan segera. Namun, tiba-tiba saja dokter datang dan itu ternyata adalah Felly.
"Apa yang terjadi, tuan?" tanya Felly yang langsungung memeriksa tubuh Arasya.
"Aku tak tahu!" ucap Farel.
"Saya melihat gejala pada tubuhnya. Sepertinya, ia diberi obat yang dapat membuat si pengguna terangsang. Tapi, sepertinya dia juga meminum obat pereda nyeri dan juga obat untuk menghentikan pendarahan. Jadi obat ini tidak akan bereaksi. Namun, tetap menimbulkan efek samping, ia akan tertidur sangat lama bahkan hingga berhari-hari." ucap dokter Felly menjelaskan.
"Baiklah, kau urus dia sampai dirinya sadar. Aku ada urusan!" ucap Farel hendak pergi.
"Tunggu, efek obat ini akan bertahan lama. Tuan harus mencari seseorang untuk membantunya meringankan efeknya. Kalau tidak, itu akan berbahaya bagi tubuhnya!" ucap dokter Felly.
__ADS_1
"Maksudmu, aku harus melakukan hal 'itu' padanya?" tanya Farel heran.
"Bukan hal 'itu'. Tetapi, ini hanya sebuah ciuman yang membuat efeknya tak terlalu terasa dan tidak berbahaya."
"Tapi, Presdir. Anda bisa cari orang lain untuk melakukannya!" lanjut dokter Felly.
"Nanti aku pikirkan. Kau obati lukanya dulu, aku tak mau melihat setetes darah ada di tubuhnya!" perintah Farel lalu pergi.
"Baik!"
Felly tersenyum melihat wajah cantik alami dari Arasya. Wajah itu memerah, tubuhnya menggeliat tak nyaman karena obatnya sudah mulai bereaksi.
"Aku berharap, Farel akan bahagia denganmu, gadis manis!" ucap Felly.
Ia lalu membuka baju Arasya. Membersihkan lukanya, menghentikan pendarahan dan juga mengganti baju Arasya. Disaat Felly hendak memakaikan pakaian baru ke baju Arasya, Farel tiba-tiba masuk.
"Presdir Farel?"
"Bagaimana keadaannya?" tanya Farel sembari menutup pintu.
"Sudah mendingan!" ucap Felly.
'Kesempatan bagus!' batin Feli tersenyum jahil.
"Eh? kau masih memakaikannya baju? aku akan keluar kalau begitu!" ucap Farel malu. Sebenarnya, Farel tadi masuk tanpa melihat ke arah Arasya maupun Felly. Jadi, ia tak tahu kalau Felly tengah mengganti pakaian Arasya.
"Jangan pergi! Saya mau ke toilet, tuan. Jadi, tolong gantikan bajunya. Kalau tidak, tolong panggilkan seseorang untuk mengganti pakaiannya. Kalau dibiarkan terlalu lama, takutnya akan masuk angin dan sakit lagi!" ucap dokter Felly.
"Apa? Tapi—"
"Saya mohon, tuan! Saya sudah tidak kuat menahannya!" ucap dokter Felly memelas.
"E--em... Baiklah, kau jangan lama-lama!"
__ADS_1
"Siap!" ucap dokter Felly girang.
Felly dengan cepat pergi ke kamar mandi di luar kamar itu. Dalam hatinya, ia sangat girang, namun juga ada rasa sesak yang samar-samar terasa. Karena Felly yang ada urusan dengan perutnya, dengan terpaksa Farel memasang baju Arasya. Wajahnya memerah, malu. Walau ia sebenarnya dekat dengan banyak wanita, ia tetap tak pernah melakukan hal yang berlebihan pada siapapun. Bahkan, nafas buatan di hotel waktu itu adalah pertama kalinya bagi Farel.