
~Siksa dia maka kau akan tahu akibatnya
Tubuh Aljendro bergetar hebat. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi keningnya. Oh, ternyata tangannya juga berkeringat. Ia mendadak menjadi orang bodoh. Setelah mengetahui segalanya.
Hari ini, hari yang akan selalu diingat oleh Aljendro. Tentang bagaimana ia telah menyiksa darah dagingnya yang begitu ia sayangi dan ia cari-cari selama ini. Ia merasa amat berdosa. Ia merasa kalau dirinya adalah ayah yang kejam bagi putrinya.
"My princess... Aku-aku sudah melukainya?~" Aljendro memandangi tangannya dengan gelisah.
Tak lama kemudian, sekertaris pribadinya datang dengan tergesa.
"Tuan, anda tidak apa-apa?" Tanyanya gelisah.
"Mana dia?" Tanya Aljendro tanpa menatap sekertarisnya.
"Nona--nona Arasya... Dia ma-sih dalam per-ja-lanan! Ya, dalam perjalanan kemari!" Ucap sekertarisnya dengan takut.
****
Saat ini, Aljendro tengah menatap kosong ruangan di mana didalamnya terdapat gadis cantik yang telah ia lukai, putrinya—Arasya. Ia merutuki kebodohannya sendiri. Namun, segalanya telah terjadi. Andai ia mengetahui ini dari dulu. Mustahil jika ia melukai Arasya.
Cklak...
Aljendro langsung berdiri.
"Tuan!" Panggil seorang dokter yang keluar dari ruangan.
"Ya?"
"Nona Arasya butuh darah. Namun, golongan darahnya amat sangat langka!"
"Golden Bold?"
"Ba--bagauimana anda tau?"
"Karena dia keturunan keluarga Glosca."
"Cepat, ambil darahku saja! Ambil sebanyak yang princess ku perlukan!" Ucap Aljendro lalu masuk ke ruang tempat pendonoran darah.
Dokter itu mengikuti perintah Aljendro. Setelah mendonorkan darahnya, Aljendro duduk di ruang tunggu. Ia lalu di datangi seorang perawat yang memberikan surat persetujuan operasi besar-besaran.
**** Hospital Jl.***, No.*** , ******* City.
**** Hospital meminta persetujuan dari pihak keluarga/terkait dari pasien:
Nama: Arasya Emilia
Usia : 19 tahun
Diagnosa penyakit: Hemofilia, kebisuan akibat rusaknya pita suara.
Dengan persentase keberhasilan operasi 10%.
Operasi donor mata, perbaikan pita suara, dan operasi penanganan pendarahan.
__ADS_1
Apabila terjadi hal yang tidak diinginkan/kegagalan dalam operasi kami pihak rumah sakit tidak akan bertanggungjawab.
Pihak terkait Kepala operasi
**** Hospital. Jl. ***, No.***, ******** City. Hub. 0156*******3
Ia segera menandatangani surat persetujuan itu setelah membacanya. Dengan gusar ia menunggu operasi di mulai.
Tet...
Lampu merah menyala menandakan operasi akan segera di mulai. Aljendro terus berdoa dalam hati, berharap little princess nya itu akan kembali seperti semula. Princess nya yang ceria.
Tunggu! Aljendro itu tak beragama, kan? Dia Atheis! Lalu, pada siapa ia berdoa?
*****
Detik demi detik berlalu, berkumpul menjadi menit dan menyatu menjadi hitungan jam. 4 jam adalah waktu yang lama. Namun, operasi Arasya belum juga menunjukkan tanda-tanda akan usai.
Bahkan kini waktu sudah menjelang malam. Jarum jam menunjukkan angka PM 08.50. Aljendro menatap gusar ruang operasi dihadapannya yang tak kunjung terbuka. Dengan segala resah, ia berjalan menuju tempat yang di ketahui adalah Smoking area.
"Kau disini ternyata, ayah mertua?" Suara berat seseorang membuat Aljendro menolehkan kepalanya.
"Sialan!" Umpat Aljendro sembari terkekeh.
"Aku benar, kan? Kelemahan kita sama. Kini, orang yang dapat menyelamatkan nyawanya adalah anda!"
"Farel Liofard. Margamu itu yang membuatku benci. Jika dulu ibumu yang menjijikkan itu tak pernah datang, maka Rayyana akan di ada dan my little princess tak akan kehilangan masa kecilnya. Tapi, kau berbeda dari keturunan Liofard yang lain. Kau..." Aljendro menggantung ucapannya.
"Heh! Kalau itu jelas bukan sifatmu." Caci Aljendro dengan kekehan.
"Yang ku lihat darimu adalah bagaimana kau meyakinkan diriku bahwa dia adalah princess kecilku. Kasih sayang yang kulihat dan kekhawatiran itu untuknya di matamu nyata adanya." Ucap Aljendro dengan nada datarnya pertanda ia sedang serius.
"Lampu hijau, nih??" Tanya Farel menaik-turunkan alisnya.
"Cih.."
Aljendro pergi dari Smoking area meninggalkan Farel bersama dengan senyuman yang sangat langka itu.
*****
Operasi Arasya telah selesai sejam yang lalu. Aljendro mendonorkan sekitar 3 kantong darah dari tubuhnya untuk putrinya yang belum sadarkan diri. Untuk itu, beberapa hari ke depan ia harus memakan makanan berprotein tinggi. Ck, sebenarnya ia tak menyukai daging, telur, susu, dan sebagainya. Dan sekarang ia harus memakannya. Sial!
Sedangkan Farel, kini ia tengah duduk termenung di dalam kamar VVIP dimana Arasya berada. Hingga akhirnya ketukan pintu menyadarkannya dari lamunan.
Tok... Tok... Tok...
Cklak...
"Tuan!" Panggil seorang lelaki berjas hitam dengan kacamata hitam pula.
"Ya?" Jawab Farel tanpa menengok.
"Pelakunya sudah dapat dilacak, Tuan!"
__ADS_1
"Siapa?"
"Dia... Dia dari keluarga...—"
"Aku sudah tau. Jangan lanjutkan!" Ucap Farel dengan wajah yang mulai memerah karena marah.
"Saya pamit, Tuan!" pamitnya.
Setelah pria itu keluar, wajah Farel benar-benar berbeda. Bukan hanya wajahnya, bahkan auranya saja sudah berbeda. Sangat berbeda.
"Aku tak akan mengampunimu kali ini. Aku bukan dia, bocah ingusan itu. Aku, dewa penghancur." Ucap Farel dengan dingin.
Hawa di sekelilingnya berubah. Andai hawa itu berwarna, pasti terlihat hitam pekat.
"Ck... Akan aku bunuh mereka. Tenang saja, Jane!" Ucap Farel menyeringai sembari memandang wajah pucat Arasya.
Beberapa saat kemudian, Farel beranjak dari duduknya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Arasya, mengecup keningnya lama, lalu tersenyum tulus.
"Kau harus bangun. Kau harus menikahi kami, Jane atau... Arasya! Hihihi" ucap Farel disertai seringai mengerikan.
Ia lalu melenggang pergi. Menuju tempat dimana ia akan menjadi dewa penghancur.
*****
"Tuan, ini ada yang hendak menemui Nona!" ucap seorang suster.
"Siapa?" tanya Farel.
"Mereka mengaku sebagai teman nona!"
"Izinkan mereka masuk!"
"Baik!"
setelah Suster tadi pergi, 4 orang remaja masuk. Zeno, Leon, Louise dan Lucky. Mereka datang menjenguk Arasya, sang Queen Thousand Light.
"Tuan Liofard, kenapa anda tak memberi kabar pada kami tentang teman kami? Bukankah kami sudah mengatakannya? atau anda pura-pura lupa?" Ucap Zeno langsung nyerobot.
"Benar. Kami sudah menghubungi anda selama 1 Minggu ini. kenapa anda tak menjawab panggilannya?" Ucap Louise dengan tatapan tajam.
"Ya, maaf. Saya memang tidak lupa, tapi ayahnya tak mengizinkan siapapun bertemu dengannya. Sangat posesif, kan? Tapi itu adalah sifat seorang ayah yang sebenarnya. Menjaga putri kecilnya." ucap Farel menatap wajah Arasya.
"Sok bijak!" gumam Louise.
"Beruntung kalian. Aljendro sekarang tengah pergi, jadi kalian selamat!" ucap Farel.
"Aljendro? Mafia dunia bawah itu ayah Ara? Sungguh? Bukankah—"
"Tidak. Arasya dulu di culik dan di jual saat menginjak 4 tahun oleh anak dari orang yang telah dibunuhnya. Dan orang itu juga yang menyebabkan Arasya seperti ini. Aljendro mencarinya selama ini. Namun, kalian tanpa sadar menghalangi pencariannya." Ucap Farel menjelaskan.
"Jadi selama ini Ara itu bukan anak ilang biasa. Pantes... saya sempet heran dengan kecerdasannya!" ucap Leon yang membuat Zeno memukul pundaknya kuat.
Farel tersenyum, ia melihat ketulusan dari hati teman-teman Arasya. Namun ia melihat tatapan berbeda dari Louise yang menatap Arasya puja. Seperti seorang yang sedang menyukai seorang gadis.
__ADS_1