
~Menyerah hanya akan menambah kesan buruk pada dirimu!~
______ARASYA______
Disebuah gudang tua yang gelap, gadis malang yang tengah pingsan duduk dengan tangan terikat di pojok gedung itu.
Tempat yang gelap dengan penerangan yang minim, serta banyaknya debu dan kotoran yang menempel di lantai.
"Bos! apa yang harus aku lakukan pada wanita ini?" ucap seseorang di gudang itu.
"Terserah! Tetapi, jangan sampai ia keluar dari gudang itu, sebelum aku memberimu perintah. Kau juga boleh menikmati tubuhnya! Karena setelah itu, aku yakin dia tak akan sanggup hidup dengan menanggung aib!" ucap seseorang dalam telepon.
"Baik, bos!" ucap seseorang di gudang itu.
Suara percakapan orang itu mengusik Arasya. Perlahan, ia membuka matanya.
'Kepalaku! aws.. sakit sekali!' batin Arasya.
'Eh? aku dimana? dan siapa orang itu? Kenapa aku disini?' batin Arasya kebingungan.
Tiba-tiba, Arasya mengingat kejadian saat ia diculik.
'Owh! payah! aku diculik! parahnya lagi, aku diikat tali sekuat ini! dan mulutku juga diikat! huuuh.. bagaimana cara melepasnya?' batin Arasya.
Arasya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru gudang untuk mencari Banda yang dapat melepaskan ikatan tali itu.
'itu ada pecahan kaca! Tetapi, jauh sekali! Semoga saja, tidak ketahuan' batin Arasya berharap.
Perlahan-lahan, Arasya mendekati pecahan kaca itu.
'Sedikit lagi, ayoo! Ya! dapat!' batin Arasya kegirangan.
__ADS_1
Arasya mendapatkan pecahan kaca itu. Tetapi, tiba-tiba saja ada yang memanggilnya dan itu membuatnya terkejut. Ia cepat-cepat langsung menyembunyikan pecahan kaca itu dibelakangnya.
"Hei, nona. Kau, sudah sadar rupanya!" ucap orang itu mendekat.
'Aku harus lepas dari sini!' batin Arasya sembari mencoba memotong tali yang mengikat tangannya.
Orang itu terus mendekat dan langsung jongkok memegang dagu Arasya lalu mengangkatnya.
"Nona. Kau, sangat cantik. Mari, temani aku bermain sebentar!" ucap orang itu menatap Arasya dengan tatapan menggoda.
'Cih.. dirimu itu bahkan tak berhak menyentuhku. dasar b*****n!' batin Arsya yang marah.
'Akhirnya, lepas juga. Aku akan memberimu pelajaran dasar b*****k!' batinnya lagi.
"Nona, kau tahu kalau aku ini bisa membunuhmu? jadi, Jangan memberontak, ya!" ucap pria itu dengan nada lembut tapi sangat mengerikan sambil mengeluarkan pisau dan menempelkannya di dagu Arasya.
'Dia! Sekarang, bagaimana aku bisa kabur?' batin Arasya yang mulai gelisah hingga wajah nya pucat.
Sambil memegang pisau, pria itu mencoba membuka baju Arasya. Tetapi, saat baju Arasya hendak dibuka. Tiba-tiba saja, Arasya menendang bagian intim pria itu hingga pria itu terjungkal dan merintih kesakitan.
"Sial!" umpat pria itu.
Dengan cekatan, Arasya bangkit dari duduknya dan menendang pria itu lagi hingga pisau yang dipegangnya terlempar. Tetapi, pria itu dapat bangkit dan langsung mendorong Arasya hingga ia terbentur dinding. Darah bercucuran dari pelipis gadis itu. Pria itu mengambil pisau dan bersiap untuk menusukkan pisaunya ke tubuh Arasya. Untung saja, Arasya masih sempat menangkisnya dengan tendangan.
Tetapi, pria itu berlari dan menusukkan pisau itu tepat di perut Arasya hingga Daras segar mengalir deras dari tubuh gadis itu. Tak sampai disitu saja, pria itu langsung menendang Arasya. Dan lagi, Arasya terlempar jauh. Arasya bangkit dengan menahan rasa sakit di tubuhnya. Kini tubuh Arasya dipenuhi oleh darah.
Pria itu mendekat lagi. Tetapi, kali ini Arasya membalik posisinya hingga ia mendapat celah untuk menyerang pria itu dan mengambil pisau ditangan pria itu lalu menusuknya. Tak berhenti disitu saja, Arasya bahkan terus menendang dan menusukkan pisau itu berkali-kali ke tubuh pria itu hingga pria itu tak berdaya.
Setelah melihat pria itu terkapar tak berdaya, ia langsung pergi keluar dari gudang yang gelap itu. Sambil menahan rasa sakit ditubuhnya, darah segar masih mengalir dari pelipis dan juga perutnya yang tertusuk pisau.
'Arasya, kau harus bertahan sebentar lagi. Tunggu ada orang yang lewat, jangan tutup matamu!' batin Arasya menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
Ia terus berjalan di jalan yang sepi itu. Ia sudah kau berjalan dari gudang itu, tetapi tak ada satupun kendaraan yang melintas di jalan itu. jangankanTubuh Arasya sudah sangat lemas, bahkan pandangannya kini perlahan mulai kabur. Ia akhirnya duduk di pohon besar yang berada dipinggir jalan karena sudah terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan.
Tak lama ia duduk, mobil mewah berwarna hitam nampak diujung jalan hendak melintas. Dengan segera, Arasya berjalan ketengah untuk menghadang mobil itu. Tetapi, saat mobil itu sudah dekat, Lutut Arasya terasa lemas dan akhirnya, ia jatuh terduduk di atas aspal.
Mobil mewah itu berhenti dan keluarlah seorang pria berpakaian rapi dengan jas berwarna hitam.
"Ada apa dengan dirimu? apa sekarang orang mencari uang dengan menipu sepertimu?" tuduh pria itu lalu berjongkok.
'apa? aku tidak pernah menyangka akan dikatai penipu dengan keadaanku yang sekarang. tetapi, tak ada orang yang melintas sedari tadi selain dirinya! aku harus meyakinkannya agar ia mau menolongku!' batin Arasya.
Arasya mendongak. Buram, itulah yang Arasya rasakan pada penglihatannya. Orang itu bahkan tak berbicara. Arasya langsung memegang tangan orang itu dan menuliskan sesuatu ditangan orang itu menggunakan darah yang ada ditangannya.
"Apakah kau, gadis pelayan di restoran AR?" tanya pria itu setelah melihat manik coklat terang milik Arasya.
Arasya mengangguk dan ia menunjukan tulisan yang ia buat di tangan pria itu.
"SOS? kau, butuh bantuan?" tanya pria itu.
'Apakah pria ini tak melihat luka di tubuhku?' batin Arasya bertanya-tanya.
"Kau, ingat aku?" tanya pria itu memegang bahu Arasya.
"Astaga!! kau, terluka begitu parah! ada luka tusukan juga di perutmu! Dan lukanya sudah kotor! dahimu juga berdarah! apa yang kau, rasakan sekarang?" ucap pria itu panik.
Pria itu langsung menggendong Arasya menuju mobilnya ala bride styl. Arasya hampir saja kehilangan kesadarannya. Tetapi, pria itu menepuk pipi Arasya hingga Arasya terbangun lagi.
"Jangan tutup matamu! aku akan mengantarmu ke rumah sakit! aku mohon jangan tutup matamu!" ucap pria itu.
Arasya tersenyum ia memegang pipi orang itu hingga meninggalkan bekas darah di pipi orang itu. Tak lama kemudian, Arasya tak sadarkan diri.
"Hei!! jangan tutup matamu! bangun! Astaga!! bagaimana kalau dia tidak bangun? aku harus cepat menuju rumah sakit!" ucap pria itu.
__ADS_1
Pria itu mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit sambil memeluk Arasya.