
~Saya yang sekarang adalah wujud nyata dari mimpi apa yang ada di pikiran saya dulu.
ARASYA
2 jam sudah berlalu. Namun, Farel masih belum menemukan alamat pria itu. Ia memutari jalan hingga hutan Namun, tak kunjung ia temukan.
*****
Disisi lain, Arasya bersama pria tadi keluar dari mobil. Ia menuju vila milik Zeno sekaligus markas geng Thousand Light. Di sana, sudah ada Zeno, beserta trio L dan juga para member Thousand Light. Mereka semua berbaris rapi menunggu sang Queen yang di jemput oleh anggota lain.
"Queen, saya mohon undur diri kembali ke barisan!" ucap anggota yang pamit dengan hormat.
Arasya menjawabnya dengan anggukan. Lalu, pria tadi kembali ke barisan bersama pria lain yang menjemput Arasya juga. Setelah para member siap, Zeno membuka pertemuan.
"SELAMAT SIANG, THOUSAND LIGHT!" seru Zeno dengan lantang menggunakan megafon.
"SIANG, KETUA!" jawab pada member.
"HARI INI QUEEN THOUSAND LIGHT SUDAH KEMBALI SEHAT DAN SAMPAI DI SINI DENGAN SELAMAT. UNTUK MENYAMBUT HARI BAIK INI, KITA AKAN MENGADAKAN KOMPETISI BELADIRI DI PUSAT KOTA DENGAN HADIAH HASIL IURAN DAN DANA KAS MINGGU DEPAN. UNTUK PENGUMPULAN UANG IURAN, AKAN DI KUMPULKAN PADA KAPTEN 3, LOUISE DENGAN JUMLAH $20 (Rp.300.000) UNTUK MASING-MASING ANGGOTA!" ucap Zeno.
"SIAP, KETUA!" jawab para member serentak.
"PENGUMPULAN DANA HARI INI HANYA ADA WAKTU 2 JAM SAJA. MENGERTI?!" ucap Zeno sekali lagi.
"MENGERTI!" jawab para member lagi.
Setelah pengumuman, para member berbaris memanjang dan mengumpulkan uang pada Louise selaku kapten 3. Sedang Louise mengumpulkan uang, Lucky, Leon, Zeno dan juga Arasya merundingkan hal lain.
"Ara, apa kau baik-baik saja di sana?" tanya Lucky serius. Arasya menjawabnya dengan anggukan.
"Tapi kau sudah hampir 4 hari tidak kembali. Benar-benar tidak terjadi sesuatu yang buruk, kan?" tanya Zeno.
__ADS_1
"Berdasarkan CCTV mini yang ku taruh di tas, ada beberapa hal mengejutkan yang aku temukan 3 hari lalu!" ucap Leon.
"Hal apa?" tanya Zeno dan Lucky yang penasaran.
"Arasya di tindas. Namun, setelah 1 jam kemudian, tak ada suara selain pecahan gelas dan juga suara beberapa lelaki dan seorang wanita!" ucap Leon.
"Beneran?" tanya Zeno pada Arasya.
Arasya hanya meliriknya. Kemudian, ia berjalan pergi menuju ke arah Louise sembari mengambil selembar kertas serta Lena dan menuliskan sesuatu.
'Aku emang di tindas. Tapi, masalahnya udah di selesain. Kalian gak usah khawatir. Aku bisa jaga diri sendiri!'
Begitulah isi tulisannya. Setelah memperlihatkan itu pada Zeno, Arasya pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Ia mengenakan rok span pendek di atas lutut dengan ikat pinggang berwarna gold dengan ukiran bertulis huruf 'A' dan juga baju kemeja hitam yang di masukkan pada roknya. Ia juga mengikat rambutnya dan memoles bibirnya dengan lip tint berwarna merah muda yang cerah agar tak terlihat pucat. Setelah itu, ia mengenakan sepatu boot hak tinggi berwarna hitam dan juga kaos kaki hitam panjang yang menutupi seluruh kakinya. Sekarang, ia nampak seperti seorang gadis geng yang tomboy namun terlihat sedikit feminim.
Setelah selesai berdandan, ia pergi menaiki mobil Zeno yang sengaja di siapkan untuknya. Ia pergi kembali menuju ke gedung utama FARD GROUP.
*****
Saat ia sampai di pertigaan tadi, ia melihat mobil sport hitam melaju dari arah yang berbeda dengannya menuju ke arah yang hendak ia tuju pula. Setelah ia mengamati mobil itu, ia seperti melihat seorang wanita duduk mengemudikan mobil itu. Seorang wanita berkacamata hitam dengan lollipop di mulutnya.
"Wanita dalam mobil itu sepertinya sedikit mirip dengan Arasya! Mengikutinya sepertinya juga bukan hal yang sulit!" ucap Farel.
Ia yang amat penasaran itu pun akhirnya memilih untuk mengikuti mobil itu. Setelah diikuti beberapa lama kemudian, pengemudi mobil itu sepertinya sadar telah diikuti dan tiba-tiba menghilang saat Farel lengah.
"Sial, siapa pengemudi itu? Membuat orang penasaran saja!" gumamnya kesal.
"Sepertinya, dia menyadari kalau aku mengikutinya. Ah... itu tidak penting sekarang! Lebih baik, aku kembali saja ke gedung utama FARD GROUP dari pada membuang waktu di sini!" ucap Farel lalu melajukan mobilnya menuju ke FARD GROUP.
Tak berapa lama kemudian, Farel sampai di gedung utama FARD GROUP dan langsung memarkirkan mobilnya. Namun, ia melihat Arasya juga masuk ke dalam dengan pakaian yang sudah di ganti.
"Arasya!" panggil Farel. Arasya menghentikan langkahnya dan menengok.
__ADS_1
"Kau dari mana tadi?" tanya Farel to the point. Arasya mengangkat sebelah alisnya menatap heran Farel.
"Maksudku... Kau tadi pergi kemana? kenapa buru-buru?" tanya Farel lagi.
Arasya tanpa basa-basi langsung menarik tangan farel agar mengikuti dirinya. Para karyawan menatap heran kelakuan Arasya pada Farel. Ada beberapa karyawan juga yang memaki dan menghina Arasya atas tindakannya.
"Arasya, mau kemana?" tanya Farel yang penasaran.
Arasya tidak menjawab pertanyaan Farel dan tetap menarik tangan Farel hingga sampai di lift. Setelah Farel dan Arasya masuk, Arasya menekan tombol menuju lantai 20, ruangan Presdir. Setelahnya, ia menatap Farel yang bingung.
"Arasya, kau ini mau apa?" tanya Farel lagi.
Arasya tanpa basa-basi langsung mendorong bahu Farel hingga terbentur dinding lift. Arasya menempatkan kedua tangan miliknya di samping badan Farel bermaksud untuk membatasi gerakan Farel.
Walaupun tinggi Arasya dan farel terpaut 10 cm saja, Arasya tetap harus mendongak untuk dapat menatap mata elang berwarna biru milik Farel.
"Ar--arasya, kamu, kamu ngapain?" tanya Farel yang gugup.
Arasya mendekatkan wajahnya ke wajah Farel. Sekarang, wajah Farel nampak sangat merah bagikan kepiting rebus. Lalu, Arasya meniup pelan telinga Farel dan itu membuat wajah Farel semakin memerah hingga akhirnya Farel memalingkan wajahnya ke kiri karena malu.
"Falel, Kamyu, saat, mais!" (Farel, kamu, sangat, manis!) ucap Arasya dengan susah payah tepat di telinga kanan Farel.
Farel mengerti maksud dari perkataan Arasya. Saat ia memalingkan wajahnya hendak menatap Arasya, ia di kejutkan dengan kecupan yang di berikan oleh Arasya di pipi kanannya.
Arasya memeluk leher Farel dengan erat agar ia tak melepaskan kecupan yang penuh dengan amarah itu. Namun bagi Farel, sebuah kecupan itu membuat dirinya merasa kalau itu adalah wujud perasaan Arasya.
'Apakah ini berarti kalau Arasya juga menyukaiku?' batin Farel girang.
'Heh, Farel Liofard. Aku kasih kamu kecupan ini sebagai tanda kalau perang balas dendam karena kami merenggut kesucian bibirku dengan me*****nya. Aku bakalan bikin kamu nggak bisa lupain aku dan akhirnya kamu buat diri kamu sendiri gila!' batin Arasya dalam hatinya yang memikirkan rencana.
Ting....
__ADS_1