
~Bayangan buruk bisa hilang. Tetapi, rasa sakitnya akan terus bertahan~
_ARASYA_
PLAK....
Suara tamparan menggema di seluruh ruangan yang gelap itu. Gadis kecil itu di tampar hingga tersungkur dan bibirnya robek. Namun, ia masih bisa sadar. Walaupun penglihatabnya kini sedikit kabur.
Netra gadis itu tertuju pada seorang anak laki-laki yang di sebelahnya tadi.
Anak laki-laki itu sedang terduduk sambil menahan isakan yang hampir saja keluar dari mulutnya. Tak kuasa dirinya, takut melanda hingga membuat tubuhnya bergetar dan membuatnya meneteskan air mata.
Detik berikutnya, pria bertubuh kekar itu meludahi gadis kecil itu.
"Cih.. jangan macam-macam kalian! Atau aku akan bertindak lebih kejam dari ini!" ucapnya lalu melenggang pergi.
"A--apakah, kau baik-baik saja?" tanya anak laki-laki itu sedikit ketakutan setelah pria kekar itu pergi.
"Aku baik-baik saja, kok!" ucap gadis kecil itu.
"Maaf. Gara-gara aku, kau jadi terluka." ucap anak laki-laki itu tertunduk didepan si gadis kecil.
"Apa yang kau katakan? ini sudah resiko. Lagi pula, aku juga sudah terbiasa dengan semua ini!" sarkas gadis itu.
"Kau terlalu baik! ayo, aku bantu untuk duduk!" tawar anak laki-laki itu.
"he'em!" gadis itu mengangguk.
Anak laki-laki itu memapah si gadis kecil itu untuk duduk bersandar di dinding. Setelah itu, gadis kecil itu sedikit melontarkan pertanyaan.
"Siapa dirimu sebenarnya? dan.. dari mana?"
"Aku Arel. Kata ibu panti, dulu aku ditemukan di jalanan saat berusia 1 tahun. Aku sepertinya tersesat waktu itu. Tapi, itu juga kata ibu panti. aku tak tahu pasti!" jawab anak laki-laki itu.
"Jalanan, ya?. emm.. dimana panti asuhan tempat dirimu tinggal?" tanya si gadis.
"Aku tinggal di panti asuhan yang namanya PANTI ASUHAN REAL HOPE."
"Real hope? namanya aneh sekali!"
"iya, kau benar! aku juga tak tahu mengapa dinamai seperti itu!" ucap anak laki-laki itu mengacuhkan bahu.
"Begitu rupanya! Hari sudah larut, lebih baik kita tidur!" ucap gadis itu.
"Tapi, bagaimana lukamu? aku takut, itu akan infeksi!" tawar anak laki-laki itu.
"tidak apa-apa, besok juga kering!" tolak si gadis.
"Beneran?"
"Iya, Arel yang ganteng!" ucap gadis itu mencubit pipi si anak laki-laki.
"ih.. sakit!" ringis anak laki-laki itu.
__ADS_1
"Sudahlah. ayo tidur!" ajak si gadis. Sedangkan Arel, ia mengangguk dan tidur di samping gadis itu.
Malam semakin larut, suasana di gudang kini sudah sangat sepi. Kini, hujan mengguyur tempat itu disertai guntur yang seakan memainkan kilatnya di awan.
Suara guntur yang keras membangunkan Arel hingga membuat dirinya ketakutan. Tubuhnya bergetar, keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
Gadis kecil disampingnya terusik hingga membuatnya terbangun. Gadis itu terkejut, ia langsung memeluk Arel dengan hangat sembari berkata.
"Arel, kamu takut petir?"
"I--Iya!"
"kenapa?"
"Aku dulu terjebak di toilet sekolah dan sedang turun hujan hingga guntur juga bergemuruh. Aku takut sekali karena hanya sendiri."
"Sekarang kau tak sendiri, kan! ada aku, jangan takut! kau, tenanglah!" ucap gadis kecil itu mengusap punggung Arel.
"Arel seneng bisa ketemu sama kamu!" ucap Arel membalas pelukan hangat itu.
Mereka kembali terlelap. Hingga akhirnya, malam yang dingin itu terlewati.
*****
Pagi yang cerah telah dimulai. Cahaya matahari mulai masuk dan mengubah gudang yang gelap menjadi terang hingga mengusik tidur si gadis kecil.
Gadis itu terbangun. Namun, netranya mencari keberadaan Arel. Pasalnya, saat ia terbangun anak laki-laki itu tak ada disampingnya lagi.
Gadis itu berusaha bangkit dan berjalan mencari keberadaan Arel, anak laki-laki yang semalam bersamanya. Tak ada tanda-tanda orang yang ada di sekitarnya. Tempat itu sunyi, benar-benar sepi.
*****
Siang sudah tiba. Panasnya sang Surya membuatnya lelah karena berjalan seharian mencari arel bahkan belum sempat mengisi perut kecilnya sejak semalam.
Di bawah pohon, ia berteduh. menenangkan perut sembari menghilangkan rasa lelah. Namun, belum lama ia duduk suara gaduh dari balik pohon membuatnya penasaran.
"Hei, cepat sedikit! anak itu akan bangun!" ucap pria bertubuh besar dengan kulit hitam yang ditaksir usianya sekitar 30 tahunan.
"Ish.. makannya, cepat buka pintu mobilnya!" ucap pria lainnya yang merupakan ayah Jane.
Kedua pria itu tengah berkutat dengan pekerjaan mereka. Karung besar berisi seorang anak laki-laki, Arel yang tengah dimasukkan ke dalam mobil bak terbuka dalam tumpukkan buah yang tertutup terpal plastik.
Sedangkan Jane, dia sedang mengamati apa yang dilakukan dua pria itu. Menurut firasatnya, dalam karung itu ada sesuatu yang berharga, hingga membuat mereka membawanya dengan hati-hati.
Tanpa pikir panjang, Jane yang sudah lama menunggu, mendekat kearah mobil itu dan perlahan masuk ke bak.
'Untung saja mereka itu tak mengetahuinya' pikirnya.
Setelahnya, mobil itu melesat jauh hingga menembus jalanan yang ramai di tengah kota.
Didalam bak, Jane berencana membuka karung itu. Namun, belum sempat ia buka, seseorang muncul dari dalam.
*****
__ADS_1
TOK..TOK..
Pintu terbuka, menampakkan beberapa maid yang membawa nampan berisi makanan dan juga pakaian serta obat-obatan.
Mereka masuk, tanpa membangunkan gadis cantik yang tertidur lelap dalam kasur king bed itu.
"Hei, bangun! Nona Arasya?" ucap seorang pria bertubuh tegap, Farel.
Arasya terperanjat kaget, dan langsung terduduk setelah bangun.
Para maid beserta Farel ikut kaget karena Arasya tiba-tiba saja bangun dan terduduk.
"Kalian, pergilah!" titah Farel.
"Baik!" jawab para maid lalu mengundurkan diri.
Setelah para maid pergi, Farel menatap Arasya yang masih dengan wajah shock dan keringat bercucuran di pelipisnya dengan nafas terengah-engah.
"Kau sangat kaget, ya?" tanya farel yang khawatir.
Arasya lantas menggeleng. Ia masih berkutat dengan pikirannya.
'Mimpi itu lagi!' pikirnya.
Melihat Arasya yang masih belum tersadar dari lamunannya, ia menepuk pelan pundak Arasya. Alhasil, Arasya tersadar.
Arasya menatap pria didepannya yang kini masih menatapnya dengan wajah khawatir. Arasya lantas tersenyum. Tak ada yang pernah mengkhawatirkan dirinya selain Zeno dan Leon, sahabatnya.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Farel.
Arasya menjawabnya dengan anggukan dan disambut dengan senyum sumringah oleh Farel.
"Baiklah. Aku hanya ingin meminta maaf kepadamu karena tiba-tiba memindahkanmu ke apartemenku!" ucap Farel.
Arasya tiba-tiba saja terkejut. Ia melihat sekelilingnya.
'Benar, tempat ini bukan yang semalam!' pikir Arasya.
"Eemm.. aku ada acara penjamuan makan malam di hotel dengan kolega bisnis. Apakah-kamu-mau-ikut?" ucap Farel dengan gugup.
Arasya menaikkan sebelah alisnya, menatap heran Farel. 'Mengapa harus mengajaknya? Apakah tak ada wanita lain?' pertanyaan itu kini berada di benaknya.
"Se--sebenarnya, tak ada yang membuatku nyaman. ja--jadi ha--hanya dirimu saja, apakah kamu mau?" tanya Farel sekali lagi.
Arasya lantas merenung dan berpikir, lalu, ia mengangguk setuju. Seketika, wajah farel berbinar dan langsung senang hingga berteriak kegirangan.
"Hore!! akhirnya, kau setuju! aku tak akan diejek lagi!" ucapnya senang.
Arasya tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakan pria tampan yang membuatnya sempat terkagum.
****
Silakan tulis komentar dan beri like ya..
__ADS_1
Jangan lupa tekan tanda love di bawah untuk tambah ke favorit.