
~Lemah itu ketika ada yang butuh namun kamu hanya mampu melihat tanpa menyentuh.
ARASYA
"Wah .... Ara, kamu benar-benar cantik menggunakan pakaian ini!" ucap Zeno terkagum-kagum dengan penampilan Arasya.
Arasya melihat ke arah kaca. Riasan yang natural, jas biru dongker dengan rok yang sama dan kemeja putih dengan dasi kupu-kupu yang berwana biru dongker terlihat sangat cocok di pakai oleh Arasya. Rambut yang tergerai dengan pita yang mengikat rambut di samping telinganya. Imut, anggun, dan sangat elegan, kata yang cocok untuk mewakili rasa kagum pada penampilan Arasya.
'Cantik, sih ... cuma kalo ini agak terlalu kebesaran. Gak papa, deh. Yang penting nggak ketat!' batin Arasya.
"Zeno, supir sudah siap!" teriak Leon dari luar ruangan.
"Baik, kami segera datang!" balas Zeno.
"Ayo, sudah siap." ucap Zeno sembari membawa Arasya keluar.
"Nanti kalo di sana, Kamu jangan bikin Presdir Farel marah, jangan bikin rusuh di sana, jangan lakuin apapun sesuka kamu, jangan pernah mau kalo disuruh yang aneh-aneh, jangan bantah yang diperintah Presdir Farel, jangan lupa makan siang, obatnya juga diminum, jangan—"
Arasya mendengar celotehan Zeno yang terlalu banyak itu membekap mulut Zeno. Ia menatap tajam Zeno yang berusaha melepas bekapannya. Tak terasa, parkiran sudah didepan mata. Arasya segera melepas bekapan tangannya dari mulut Zeno.
"Ara sudah sampai! lihat itu, Lucky! dia sangat cantik!" ucap Leon memuji Arasya.
"Iya, cocok dengannya!" ucap Lucky terkagum-kagum.
"Ini, ada laptop dan beberapa flashdisk kosong dan juga satu ponsel beserta kartu ATM elektronik di dalam ponsel itu! Ini akan berguna nantinya!" ucap Leon sembari memberikan tas hitam pada Arasya.
"Ara, jangan keluarkan suara kamu sedikit pun kalo itu bukan hal yang mendesak. pokoknya kamu telpon aku kalo ada apa-apa, deh!" ucap Zeno setelah tas itu diterima Arasya.
Arasya mengangguk, ia masuk mobil dan menutup pintu mobil dengan keras. Para sahabatnya melambaikan tangan pada dirinya. Namun, wajah Lucky nampak muram dan tak ceria seperti biasanya.
'Lucky, dia kenapa?' batin Arasya.
*****
__ADS_1
Mobil hitam yang mewah melintasi jalan menembus keramaian. Mobil berisikan seorang Presdir tampan dengan balutan jas warna hitam corak garis-garis dan kemeja merah maron dengan dasi hitam yang melingkar di lehernya. Ditambah kaca mata bingkai perak bertengger cantik di hidungnya. Wajah tampan itu menampakkan senyuman yang membuat sang supir terheran-heran dengan bosnya itu.
"Jhonson, bawa semua berkas yang harus saya periksa di atas meja saya. Nanti kamu persiapkan satu pasang bangku untuk tempat sekertaris saya. Dan kamu akan saya naikkan gaji 15% jika bisa jaga sekertaris saya nanti!" ucap Farel saat sudah sampai di dalam ruangannya.
Ia merasa sangat senang. Setelah hampir setengah bulan ia mencari Arasya, akhirnya kini ia akan bertemu dengan Arasya. Lama ia tak melihatnya, ada rasa rindu walau sedikit di hatinya. Ia merasa kalau dirinya sudah jatuh cinta pada Arasya saat ia bertemu untuk pertama kalinya dengan Arasya di restoran waktu itu. Sejak saat itu, ada perasaan ingin melihat dan membawa pulang gadis cantik itu. Namun, ia tak menyangka bahwa gadis itu memiliki banyak sekali masalah hingga dirinya tak mungkin dapat memilikinya. Asal dapat melihatnya tiap hari ia sudah sangat bahagia.
Cklak …
"Pagi, Presdir! Nona Arasya sudah sampai di pintu masuk hendak menuju kemari!" ucap seseorang karyawan pria yang baru saja masuk.
"Biarkan dia kemari. Jangan ada yang menyambut dirinya!" ucap Farel.
Farel memutar kursi kebesarannya yang ia duduki saat ini ke arah jendela di belakangnya. Diam-diam ia mengangkat bibirnya tersenyum, menunggu seseorang yang mulai mengisi hatinya.
*****
Jam makan siang sudah tiba. Namun, Arasya masih disibukkan dengan banyak sekali tumpukkan berkas di atas mejanya. Banyak karyawan yang lalu lalang masuk dan keluar dari ruangan Farel itu. Mereka rata-rata datang untuk mengantarkan dokumen yang akhirnya dikerjakan oleh Arasya. Yah, semakin lama semakin bertambah pekerjaannya.
Arasya menggeleng. Ia memberikan sebuah berkas dokumen pada Farel. Menyuruh Farel agar menandatangani berkas itu.
"Sudah aku tandatangani. Kamu ikut aku makan di kantin!" ucap Farel berdiri dari kursinya.
Arasya lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Ia juga menunjukkan sebuah tulisan dalam kertas.
"Aku belum selesai! kau pergi saja!"
"Tidak, aku disini adalah bos-nya! kau itu bawahan, jadi menurut-lah!" perintah Farel setelah membaca tulisan tadi.
Arasya lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Ia tak mau makan dengan orang yang menurutnya adalah orang brengsek itu. Lalu, ia duduk kembali di bangkunya dan melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
"Huh… Terserah dirimu!" ucap Farel lalu melenggang pergi dari ruangan itu.
Arasya menghembuskan nafas lega, akhirnya orang yang membuat dirinya tak nyaman pergi juga. Ia lelah di tatap terus oleh Farel dari tadi. Hingga akhirnya dirinya tak nyaman bekerja dan tak berkonsentrasi.
__ADS_1
'Sebanyak ini, mungkin malam ini harus lembur! Hari pertama kerja yang sangat melelahkan!' batin Arasya.
*****
"Zeno, berita yang kemarin itu sekarang nggak ada di situs pencarian web. Sepertinya Presdir Farel sudah menepati janjinya!" ucap Leon senang setelah melihat laptopnya.
"Baguslah. Tapi… Ara belum sembuh total, jika ia telat makan, maka penyakit pada lambungnya akan kambuh. Apalagi jika dia tak meminum obatnya. Ia bisa pingsan dan keadaannya akan memburuk!" ucap Zeno khawatir.
"Benar. Tapi, aku juga heran, kenapa Presdir Farel menginginkan Ara?"
"Entahlah, aku juga tak tahu itu!"
*****
Pukul 03.00 PM, Gedung utama FARD GROUP.
Ruangan Presdir
'Capek banget… Mana belum selesai… bentar lagi waktu pulang, gimana ini masih tinggal beberapa. Tapi, kan belum makan! kalo Zeno tahu pasti langsung marah!' batin Arasya setelah merenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal.
"Kenapa kau tidak menyelesaikan pekerjaanmu? apakah kamu mau bermain-main di sini? ini FARD GROUP, perusahaan besar. Aku bisa memecat dirimu kalau kau tidak becus bekerja!" ucap seorang wanita yang ditugaskan Farel untuk mengawasi Arasya saat dirinya rapat.
Arasya hanya membalasnya dengan anggukan. Ia sangat tidak ingin bekerja di tempat yang sama dengan Farel, apalagi kalau ada yang membuatnya marah. Takutnya ilmu beladiri-nya akan keluar. Kan, gawat!
Wanita itu berdandan layaknya seorang wanita penghibur dengan pakaian ketat serta dandanan yang menor. Apalagi wanita itu dari tadi hanya duduk bolak balik dari meja ke kursi hingga sofa yang biasa diduduki Farel. Bahkan wanita itu dengan berani mencium foto Farel yang semulanya terpampang tapi di meja.
Arasya mengerjakan seluruh berkas di mejanya. Namun, tak henti-hentinya wanita itu terus mengusik dirinya dengan ocehan-ocehan yang membuat kepala Arasya pusing. Untungnya, tak lama setelah itu Arasya sudah selesai dengan pekerjaannya.
Hingga akhirnya, tiba-tiba saja muncul rasa sakit di perutnya yang membuat dirinya merasa mual. Ia berlari ke kamar mandi dan akhirnya memutahkan seluruh isi perutnya hingga ia lemas. Wanita itu menyadari apa yang di lakukan Arasya, tapi malah memaki dan menuduhnya hamil anak pria asing.
Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Farel masuk. Saat ia melihat ruangan itu, ia tak menemukan Arasya. Namun, ia mendengar suara dari kamar mandi yang membuatnya penasaran.
"Arasya!!!" teriak Farel menghampiri Arasya.
__ADS_1