
~Penyesalan selalu datang di akhir, kalo di awal namanya pendaftaran.
"Hahahaha!!"
"Lucu, lucu! Lucu sekali... Bwahahahaha!!"
Tawa Aljendro menggelegar di seluruh ruangan hingga membuat semua orang di ruangan itu menatap bingung Aljendro.
"Mustahi!! Hahaha!"
Aljendro terus tertawa tanpa berhenti hingga nafasnya mulai tersengal-sengal.
"Cukup! Saya hanya mengatakan kebenaran, Tuan Aljendro! Believe it or not, I don't care!" ucap Farel lalu pergi dari ruangan itu diikuti oleh Jhonson.
Setelah kepergian Farel dan Jhonson, Aljendro menghentikan tawanya. Ia lalu menatap ke luar jendela dan menyunggingkan senyum smirk.
"Mau main-main? It's okey!" gumam Aljendro membuat suasana ruangan itu menjadi mencekam.
*****
Farel mendatangi sebuah kamar yang di dalamnya terdapat seorang bidadari nakal yang ia cintai. Dengan perasaan senang, ia menghampiri sang bidadari, Arasya yang tengah tertidur lelap. Ia mengusap lembut wajah cantik Arasya kemudian menyelipkan anak rambut ke telinga sang bidadari yang berantakan hingga menutupi wajah cantiknya.
"Honey, you're really charming!" ucap Farel lalu menciumi kening Arasya.
Farel kini semakin berani untuk menyentuh tubuh Arasya, terutama di bagian wajah Arasya.
"Your char, honey!" bisik Farel di telinga Arasya.
Farel lalu menciumi setiap inci wajah Arasya dan berakhir di kedua belah bibir milik Arasya yang tengah tertidur pulas yang sangat menggoda baginya.
Sentuhan hangat dari Farel tak membuat Farel merasakan adanya tanda-tanda Arasya akan bangun hingga akhirnya ia meneruskan aksinya. Ia perlahan-lahan menurunkan ciumannya ke ceruk leher Arasya dan memberikan kid Mark di sana.
Tok... tok... tok...
"Tuan, Klien dari Chinese, tuan Ling Ti Que sudah datang!" ucap Jhonson di balik pintu.
Suara Jhonson membuat farel menghentikan aksinya dan langsung bangkit membenahi penampilannya dan merapikan rambut Arasya. Setelahnya, ia langsung keluar.
*****
PLAK... PLAK... PLAK... PLAK...
Tamparan keras mendarat sempurna di kedua pipi dari gadis cantik yang tengah terbaring dengan keadaan terlentang di atas ranjang dengan kaki dan tangan di ikat di setiap sisi ranjang. Keadaannya sangat menyediakan. Seluruh wajahnya bengkak, namun ia belum sadarkan diri sedari tadi. Bajunya juga sudah tak lengkap lagi, hanya ada beha dan juga CD yang melekat di tubuhnya. Rambutnya acak-acakan dan kusut, disertai luka di setiap inci tubuhnya.
"Tuan, gadis ini belum bangun sejak kemarin sore kita membawanya. Apakah sebaiknya kita paksa dia untuk sadar saja?" tanya seseorang yang tadinya menampar wajah gadis malang itu.
__ADS_1
"Dia amat berharga bagi Farel, kan? Maka dari itu, lebih baik lakukan sesukamu, mainkan dia. Tapi, jangan sampai menghilangkan nyawanya. Mengerti?" ucap pria lain berpakaian serba hitam.
"Siap, mengerti!"
Gadis malang tadi adalah Arasya. Setelah Farel pergi dari kamar tempat Arasya tidur kemarin sore, Aljendro langsung menculik Arasya dan menyiksanya. Namun, Arasya tak menunjukan tanda-tanda akan sadar. Hingga pagi berikutnya tiba.
POV ARASYA
'Au!'
aku meringis kesakitan setelah membuka matakun yang terasa pedih. diriku menatap sekeliling ruangan tempatku terbaring. aku merasakan ada ikatan kuat yang menjerat kedua tangan beserta kakiku. aku berusaha bergerak untuk melepaskan ikatan itu, namun usahaku itu tak membuahkan hasil. Lalu, aku menatap seluruh tubuhku dengan kaget. aku melihat tubuh ku kini yang sudah polos tanpa sehelai benang di tubuhku.
'A--apa ini? Ngapain aku disini?' batinku yang masih syok.
'Payah, kenapa aku bisa di jebak Jhonson? Kenapa kok gak ngehindar pas mau di pukul? padahal jelas banget keliatan gerakan tangannya! Bodoh, emang kok!' batinku terus merutuki kebodohanku.
BRAK...
Suara pintu yang didobrak membuatku terlelanjat kaget. Aku melihat seorang pria masuk membawa sebilah pisau yang terlihat tajam. Aku sangat bingung. Bagaimana jika tubuhku yang tengah polos ini dilihatnya? Bagaimana kalau dia memp*rk*s*ku? Bagaimana kalau—
Pria itu masuk dengan wajah penuh amarah dan tangan yang berlumuran darah.
"Hey, Princess Quenny Lisaya Glosca!" Sapa pria itu sembari menatap diriku.
Aku membalas tatapannya dengan wajah bingung. Antara aneh dan curiga. Takut dan waspada.
Perkataan pria itu semakin membuatku bingung. Entah darimana ia mendapatkan informasi yang ngawur ini. Aku jadi merasa kalau dia orang gila.
"Tubuhmu indah, princess!" ucap pria itu lalu menaiki tubuhku.
Mataku terbelalak melihatnya berusaha melecehkanku. Kamvret, aku tak bisa bergerak! Kenapa ada aja tali sialan ini, sih!!
"Princess, izinkan diriku menikmati tubuhmu!" ucap pria itu lalu langsung menusuk mataku dengan pisaunya.
Mataku seketika terasa panas, perih, sakit sekali. Aku membuka mulutku hendak berteriak, namun suaraku tak dapat dikeluarkan. Aku merasakan tubuhku sudah sangat sakit kala pria itu mulai menjamah tubuhku. Seketika itu pula, aku tiba-tiba kehilangan kesadaran ku setelah diriku merasakan pisaunya menusuk perut dan juga dadaku hingga aku pingsan dan tak sadarkan diri lagi.
POV END
"Aljendro, ini bukti kalau dia adalah anakmu! jangan pernah sakiti dia! saya yakin jika anda menyakitinya, anda akan merasakan sakit seperti apa yang pernah saya rasakan!" ucap Farel memberikan sebuah amplop coklat berisi hasil tes DNA antara Aljendro dengan Arasya.
"99,98%? Tipuan macam apa yang kau gunakan?" Tanya Aljendro dengan wajah yang sinis.
"Seperti yang saya katakan kemarin. Percaya atau tidak, aku tidak peduli!" ucap Farel.
"Aku bisa percaya kalau aku melihat tesnya langsung!" ucap Aljendro dengan seringainya.
__ADS_1
Aljendro lalu memanggil asisten pribadinya dan menyuruhnya untuk mengambil sempel Arasya untuk melakukan tes DNA. Setelahnya, Mereka pergi ke rumah sakit terdekat dan melakukan pemeriksaan.
"Aljendro, jika dia adalah putrimu. Berjanjilah atas nama mendiang istrimu untuk tidak akan menyakitinya kapanpun itu!" ucap Farel dengan serius.
"Heh, bocah sepertimu tau apa? Aku lebih tau anakku dari pada dirimu!" ucap Aljendro.
Mereka menunggu hasil tes DNA itu. Hingga pagi hari baru dapat dikeluarkan oleh pihak rumah sakit.
"Tuan, ini hasil tesnya!" ucap dokternya sembari memberikan sebuah amplop.
Aljendro menerima amplopnya dan membukanya.
'99,98% kecocokan DNA dan di nyatakan sebagai anak dan ayah?'
Aljendro terkejut setengah mati. Ia tak menyangka hasilnya akan benar-benar sama seperti yang tertulis di atas kertas yang diberikan Farel tadi.
"Sekarang, anda percaya, tuan Aljendro?" tanya Farel pada Aljendro yang mematung.
Aljendro mematung dan masih merutuki kelakuannya pada putrinya. Ia lekas tersadar dan langsung memanggil asisten pribadinya.
"Cepat, lepaskan dia dan bawa dia kenar. Kau suruh dokter untuk merawat dia dengan intensif. Jangan sampai ada bekas luka di tubuhnya sedikitpun! Dan juga, jangan katakan ini pada siapapun!" ucap Aljendro dengan gelisah.
Asistennya langsung melaksanakan perintah tuannya. Sedangkan Farel yang mendengarkan perkataan Aljendro menyimpulkan bahwa dalang dari hilangnya Arasya adalah Aljendro.
Farel mencekal baju Aljendro hendak memukulnya. Namun, para penjaga Aljendro menahannya.
"Kau menculik Arasya, kan?!" tanya Farel dengan nada yang super dingin. Namun tak digubris oleh Aljendro
"Jawab!!!" teriak Farel.
"Aljendro, kemarin aku sudah memperingatkan dirimu. Jika ada sesuatu yang terjadi padanya, aku tak akan memaafkan dirimu, Aljendro!" ucap Farel menekan kata-katanya.
Aljendro masih berdiri mematung tanpa ekspresi. Ia masih berkutat dengan pikirannya. Sedangkan Farel sudah mulai meredakan amarahnya.
"
TRING... Ting, Ting, TRING...
Ponsel Aljendro berbunyi, ia lekas mengangkat teleponnya setelah mengetahui bahwa itu adalah asistennya.
📞 Call on
"Apa?"
"...."
__ADS_1
"A--ap--apa?!"
Prak...