Bukan Gadis Bisu Yang Lugu!

Bukan Gadis Bisu Yang Lugu!
DUA PULUH DUA


__ADS_3

~Jika bulan itu satu-satunya satelit bumi, kalo kamu satu-satunya yang di hati.


FAREL


"Bertunangan?"


"Iya, kami akan menikah beberapa bulan lagi!" ucap Farel.


"……"


"Halo? Hei, akan ku tutup panggilan ini!" ucap Farel.


"Sebentar!" pria itu tiba-tiba bersuara.


"Apa?"


"Kalau memang kau dan Qu… Eh, maksudnya, Arasya bertunangan. Berikan aku undangan pernikahan kalian!" ucap pria itu.


"Untuk apa aku mengundangmu?"


"Untuk meyakinkan diriku!" ucap pria itu.


"Lantas, ku kirim ke mana undangannya nanti?" tanya Farel yang mulai kesal.


"Kirim saja ke jalan xxx!" ucap pria itu.


"Tapi—"


Tut...Tut...Tut..


📞 Call of


"S*al! Siapa orang itu?!" ucap Farel marah.


"Bagaimana jika orang itu menelpon lagi dan menanyakannya pada Arasya? Ini semua akan sulit!"


"Aaaaggghhhhhh!!!" teriak Farel frustasi.

__ADS_1


"Bodoh! kenapa harus bicara seperti itu tadi?" Farel memaki dirinya sendiri.


"Sudahlah, ini sudah terjadi. Aku akan buat ini jadi sebuah kenyataan!" ucap Farel yakin.


Farel cepat-cepat menghapus nomor orang tadi dan memasukkannya ke dalam daftar hitam di ponsel Arasya. Setelahnya, ia menaruh kembali ponsel Arasya ditempat semula sebelum ia pergi dari ruangan itu ke kamar rahasianya.


*****


Tiga hari kemudian. Arasya telah sadar dari pingsan siang ini, saat jam istirahat tiba. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Mengamati dengan seksama dan akhirnya berdiri lalu berjalan keluar kamar. Namun sialnya, ia malah bertabrakan dengan seseorang.


"Arasya? kau sudah sadar?" mendengar suara itu, Arasya mendongak. Ia melihat wajah tampan dari Farel dan mengamatinya.


"Kalan kau sadar?" pertanyaan itu membuat Arasya sadar.


Ia mendorong Farel yang tengah membawa nampan berisi makanan. Namun, Farel tak jatuh. Ia menahan tubuhnya pada kusen pintu. Ia tersenyum dan malah berbicara dengan lembut pada Arasya.


"Arasya, maafkan aku. Hari itu aku sudah salah paham padamu. Aku akan menebusnya bagaimana pun caranya!"


Namun, bukannya Arasya memberi tanggapan. Arasya justru malah pergi begitu saja dengan acuhnya tanpa menjawab ataupun mengeluarkan suara dari mulutnya.


"Arasya, tunggu!"


Farel masih mengikutinya. Ia masih penasaran dengan apa yang hendak di lakukan gadis ini. Biasanya, setelah bangun tidur, para gadis akan membersihkan diri. Namun tidak dengan Arasya. Ia malah langsung pergi tanpa mengganti baju yang sudah tiga hari ini ia pakai. Sedangkan para karyawan memandang Arasya dan Presdir mereka, Farel. Mereka merasa aneh dengan sikap Farel sejak awal. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa yang bahkan belum mendapatkan gelar apapun masuk ke perusahaan ini tanpa wawancara kerja? apalagi langsung mendapatkan posisi Asisten pribadi. Ini sungguh aneh!


"Arasya, kau mau ke mana?" tanya Farel saat mereka sampai di pintu masuk di kantor utama FARD GROUP.


"Queen!!" panggil seorang pria.


Arasya menoleh. Ia tersenyum dan langsung menghampirinya. Sedangkan Farel masih mengikuti Arasya dan bertanya-tanya. Siapa pria itu? kenapa memanggil Arasya dengan sebutan Queen? Ada hal apa yang belum di ketahui oleh dirinya tentang Arasya? Dan kenapa Arasya begitu akrab dan bahagia sekali saat bertemu dengan pria itu?


Namun, saat ia semakin dekat dengan Arasya, ia melihat lebih banyak pria keluar dari mobil dimana itu adalah mobil yang dibawa pria itu. Ia dengan cepat menarik Arasya untuk menjauh. Namun, malah di tepis kasar olehnya.


"Apa yang kau lakukan pada Queen kami? jangan sentuh dia!" Pria itu menghadang Farel.


Namun, Arasya nampak acuh dan langsung pergi menuju mobil itu. ia mengambil sesuatu dari dalam mobil. Sebuah blazer langan berwarna Hitam yang panjangnya hingga paha dengan logo bertuliskan "TOUSEND LIGHT" di bagian depan dada sebelah kanan dan sarung tangan hitam. Tak lupa juga ada sebuah bet tangan yang bertuliskan "QUEEN THOUSAND LIGHT ARASYA EMYLIA".


Farel melihat Arasya dengan wajah bingung. Dirinya tiba-tiba tersadar setelah Arasya dan pria itu serta teman-temanya pergi. Setelahnya, ia segera menelpon Jhonson.

__ADS_1


📞Call on


"Jhonson!" panggil Farel


"Ya, tuan?" jawab Jhonson


"Cari tahu tentang segalanya yang berhubungan dengan Thousand Light! aku mau semua keterangannya sore ini sudah di mejaku!" perintah Farel


"Baik, tuan!"


📞Call of


Farel segera pergi ke parkiran dan melajukan mobilnya ke jalan raya dengan kecepatan tinggi. Ia berusaha menemukan mobil yang ditumpangi Arasya tadi. Untung saja ia sudah menghafal platnya, jadi tidak terlalu sulit untuk mencarinya.


Saat dirinya terus berkendara di jalanan, ia tiba-tiba teringat dengan alamat yang di berikan pria itu. Ia curiga dengan apa yang dikatakan pria itu. Untuk menghilangkan rasa curiga nan penasaran yang ia rasakan, ia memutuskan untuk pergi mencari alamat itu.


2 Jam ia melintasi jalanan akhirnya ia menemukan jalan yang di sebutkan pria itu. Namun, ia bingung. Kenapa hanya ada pepohonan tanpa adanya rumah satu pun di sana. Wilayah sepi tanpa adanya bau asap kendaraan maupun polusi yang menyebabkan udara di sana terasa amat segar.


Ia terus melajukan mobilnya tanpa berhenti. Hingga akhirnya, ia menemukan ada seseorang yang tengah duduk di depan sebuah pertigaan di antara hutan itu. Lantas, ia memperlambat laju mobilnya dan berhenti tepat didepan seseorang itu. Ia lalu turun dari mobil dan menghampiri pria itu.


"Maaf, apakah di sini ada perumahan?" tanya Farel sesopan mungkin.


"Tidak!" jawab orang itu.


"Baik, terimakasih!" ucap Farel berjalan kembali ke mobil.


"Di sini hanya ada vila mewah di ujung jalan ini. Vila yang masih terawat dan ramai di kunjungi oleh para remaja laki-laki yang membawa motor. Sepertinya markas geng motor!" ucapan orang itu menghentikan langkah Farel.


Farel menengok dan mengucapkan terimakasih pada orang itu. Setelah itu, ia pergi dan menuju jalan yang di tunjukan orang tadi.


Benar saja, ia menemukan vila itu. Namun, vila itu berbeda dengan yang dikatakan orang yang ia temui di jalan tadi. Vila di depannya itu sangat menyeramkan. Bangunannya memang terlihat besar, megah dan sangat luas. Namun, warna cat yang abu-abu sangat mengerikan. Di tambah dengan pagar hitam didepannya beserta dengan pohon yang mengering. Persis seperti rumah nenek sihir di negri dongeng.


"Ini.... sangat berbeda dengan yang dikatakan orang itu!" gumam Farel.


"Mungkinkah aku salah tempat? Atau ada rumah lain di sini?" gumamnya lagi mulai berpikir.


"Tapi itu tak mungkin. Orang itu bilang kalau ada satu rumah di ujung jalan ini. Berarti hanya ini!"

__ADS_1


"Kalau di pikir-pikir lagi, kenapa aku harus percaya pada orang itu tadi?" gumamnya heran.


"Lebih baik aku berbalik dan mencari alamat itu dijalan yang lain!" ucapnya lalu kembali berbalik.


__ADS_2