
~Percaya itu bukan pada manusia, tapi pada dirimu sendiri dan sosok yang membuatmu berdiri.
ARASYA
Satu Minggu sudah Arasya terbaring lemah di brankar rumah sakit. Kini, tubuhnya sudah lebih baik daripada hari-hari lalu. Walaupun ia baru sadar kemarin sore. Kini, Arasya tengah duduk di kursi roda di depan jendela sembari berbincang dengan Zeno sambil memakan sarapannya.
"Gimana keadaan Genk akhir-akhir ini?" tanya Arasya melalui sebuah tulisan dalam buku, lalu ia berikan kepada Zeno sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Genk baik baik aja, kok. Cuma kamu doang yang gak ada , jadi pengen jenguk kamu tapi rumah sakit nggak di izinin kamu." jawab Zeno.
"Kemana TRIO L?" tulisnya lagi.
Ya, TRIO L adalah sebutan bagi Leon, Louise dan Lucky. Kalo ditanya sebabnya, jelas karena huruf depan nama mereka adalah L dan juga keahlian mereka'kan hampir sama.
"Nggak tahu. Tadi Double L cuma pamit mau cari makan sambil jalan-jalan bentar. Kalo Leon katanya mau pergi ke Kantor!" jawab Zeno.
"GOLDWORLD?" tulis Arasya bertanya memastikan.
"I--iya!"
'Aduh, mana lupa lagi. Kan, aku belum cerita sama Arasya kalo aku sama Leon udah punya perusahaan sendiri. Hampir aja keceplosan!' batin Zeno gusar.
"Kapan aku boleh pulang?" tanya Arasya lewat tulisan.
"Kamu ini pikirannya pulang terus! Baru sadar kemarin aja udah minta pulang. Pikiran dong, kemarin-kemarin kamu itu udah mau mati. Sekarang malah mau pulang. Enggak, aku nggak izinin kamu pulang. Kamu harus dirawat satu bulan biar sembuh total! kamu..." ucap Zeno nyerocos tanpa henti.
Arasya yang mendengar ocehan Zeno menutup telinga. Pasalnya, Arasya sudah hafal betul kalau sahabatnya nyerocos pasti diamnya lama. Kalau gak ada yang datang atau menghentikan dia, pasti bakal sampe 2 abad baru diem.
"Zeno, gawat!!" ucap Leon tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan panik.
"Loh, Leon? ada apa?" tanya Zeno mendekati Leon.
"LEZO GROUP ada masalah!" ucap Leon heboh.
"Masalah?"
"Iya!"
"Masalah apa?"
"LEZO GROUP..."
'LEZO GROUP? apa hubungan Zeno dan Leon? kenapa pas Leon sebut LEZO GROUP Zeno jadi cemas? Apa yang mereka sembunyikan?' batin Arasya bertanya-tanya.
"Jadi gitu. Ya udah, ayo kita ke kantor dulu. Arasya, aku tinggal sebentar, ya?! Dah!!" ucap Zeno lalu melenggang pergi bersama Leon.
__ADS_1
'Aneh!' batin Arasya.
*****
Dua jam lalu...
"Apa maksudmu, Felly?" tanya Farel.
"Jadi gini, tuan. Saya seminggu lalu mendengar kabar kalau ada pasien atas nama Arasya Emilia di rumah sakit FARDSTAND. Dan disana ada Presdir Leoni Teonero dan Presdir Zenovia larazia. Jadi, saya menduga nona Arasya adalah teman atau mungkin mitra kerjasama dari Presdir Leon dan Presdir Zenovia." ucap dokter Felly.
"Apakah kamu punya buktinya?"
"Ada, tuan. CCTV dari depan ruangan nona Arasya merekam itu. Saat itu Presdir Zenovia sangat khawatir hingga menangis tersedu-sedu!"
"Saya ada ide. Kamu lakukan apa yang saya suruh sekarang..."
"Baik, tuan!"
*****
Zeno dan Leon kini sampai di LEZO GROUP. Zeno dan Leon turun dengan tergesa-gesa. Namun, sebelum masuk kantor, Zeno melihat ada mobil milik kakaknya, Zevan di parkiran.
"Itu mobil kak Zevan. Kok, ada disini?" ucap Zeno penasaran.
"Iya, mungkin saja Tn. Robert memintanya untuk datang setelah mendengar kabar ini dari internet."
"Iya! aku juga gak tahu gimana caranya berita ini bisa kesebar cepet banget. Padahal setahuku nggak ada yang tahu tentang ini kecuali karyawan LEZO GROUP dan FARD GROUP saja yang tahu. Dan aku juga baru tahu 1 jam setelah berita itu datang, itupun dari Nico!" ucap Leon memperjelas.
"Nicolas Pantson, itu 'kan?"
"Iya, dia itu pemimpin pusat informasi di kantor kita. Jadi dia tahu dengan cepat masalah ini. Yah, walaupun udah agak terlambat, sih!" ucap Leon memasuki ruangan rapat.
"Leon, Zeno. Gimana? Apa kalian udah selidiki siapa orang yang menyebarkan berita ini?" tanya Zevan mengalihkan perhatian dari laptopnya.
"Sementara ini belum. Nico masih mencari tahu siapa yang menyebarkan berita ini!" jawab Leon.
"Kalian harus cepat bertindak. Saham Perusahaan ini bisa anjlok jika rumor ini sampai terdengar di telinga para investor." ucap Zevan memberi peringatan.
"Mereka pasti menduga, kalau FARD GROUP membatalkan kerjasama ini karena kemampuan LEZO GROUP kurang dalam bidang pembangunan taman di pusat kota. Mereka tahu kalau FARD GROUP tidak akan membatalkan kerjasama dengan suatu perusahaan tanpa adanya alasan." lanjutnya.
"Kalian tahu, kan. Seperti apa standar perusahaan yanh bekerjasama dengan FARD GROUP?" tanyanya.
"Iya, kami akan berusaha untuk ini!" ucap Leon yakin.
Zeno merasa gusar. Ia rasa, sekarang ini tak ada yang bisa melacak keberadaan orang yang menyebarkan berita ini. Nico saja belum menemukannya, sedang ia adalah seorang hacker ternama. Bagaimana orang lain bisa mengetahuinya?. Namun, seketika ia teringat pada sahabatnya yang memiliki otak komputer, Arasya. Ia lalu mengusulkan agar Arasya dibiarkan tahu agar dapat membantu.
__ADS_1
"Kak Zevan, Leon. Bagaimana kalau kita minta bantuan pada Ara? Dia adalah ahli komputer! dia pasti tahu cara yang tercepat untuk mencari pelaku yang menyebarkan berita ini!"
"Ara? bukankah dia masih di rumah sakit?" tanya Zevan ragu.
"Iya, tapi dia sudah mendingan. Mungkin dia bisa membantu!" ucap Zeno semangat.
"Zeno, bukankah dirimu juga sering bermain komputer dan membajak akun perusahaan lain? kenapa yang ini tidak bisa?" tanya Zevan lagi.
"Aku tak se—pandai Ara! ia akan menemukan akun asli dan tempat pelaku kurang dari lima menit!"
"Coba saja dulu!" ucap Zeno lagi.
"Terserah kalian. Aku hanya datang untuk membantu kalian membujuk Presdir Farel agar tidak membatalkan kerjasama ini. Bukan mengatasi masalah berita!" ucap Zevan lalu kembali fokus pada laptopnya.
"Baik, aku akan pergi menemui Arasya. Leon, kamu disini urus masalah lain!" ucap Zeno memerintah. Lalu, ia melenggang pergi setelah Leon menjawab perintahnya dengan anggukan.
*****
Di taman rumah sakit, Arasya dan Lucky sedang tertawa renyah karena lelucon dari Lucky. Sedangkan Louise, ia tengah membaca buku dengan tenang di bawah pohon yang agak jauh dari tempat Arasya dan Lucky. Namun, tiba-tiba saja Zeno datang sambil berlari meneriakkan nama Arasya yang membuat mereka semua kaget dan mengalihkan pandangan mereka ke arah Zeno.
"ARA!!"
'Zeno?' batin Arasya.
"Ara! huh..hah.. Aku--aku butuh.. huh.. ban--bantuan.. kamu!" ucap Zeno dengan nafas tersengal-sengal.
"Zeno, ada apa ini? ngapain kamu lari-lari?" tanya Lucky penasaran.
"Ada masalah penting yang harus aku katakan sama kamu, Ara!" ucap Zeno setelah menyetabilkan nafasnya.
"Masalah penting apa?" tanya Lucky.
"Adalah pokoknya. Ayo Ara, aku mau bicara empat mata sama kamu!" ucap Zeno mendorong kursi roda Arasya.
Arasya nampak bingung. Untung saja ia tak meninggalkan buku dan pena yang ia bawa sejak tadi untuk berkomunikasi. Karena penasaran dengan apa yang terjadi, ia menuliskan sejumlah pertanyaan yang tertuju kepada Zeno.
"Masalah apa? Apa aku bisa membantu? Apa hubungan kamu dan Leon dengan LEZO GROUP?"
"Oke, aku ajak kamu ke LEZO GROUP sekarang. Nanti aku jelasin apa yang terjadi." ucap Zeno uang belum membaca tulisan Arasya.
Mereka masuk ke dalam mobil. Di perjalanan, Zeno menceritakan segala apa yang terjadi. Mulai dari hubungannya dengan LEZO GROUP, kenapa dan kapan ia membentuknya, serta masalah yang terjadi hingga bantuan yang diperlukan. Arasya mengerti, ia mengangguk dan mengiyakannya.
Sesampainya ia di Perusahaan LEZO GROUP, ia segera dibawa masuk ke ruangan rapat. Lalu, ia diberikan laptop dan berita itu. Dengan cekatan, ia mengetikkan tangannya di papan keyboard hingga membuat Zevan ternganga melihat keahlian dari gadis 19 tahun yang dijuluki si otak komputer itu.
'Ternyata kemampuannya sangat besar! pantas saja ia begitu dibanggakan oleh ayah dan Zeno!' batin Zevan.
__ADS_1
Beberapa saat Arasya terjun ke dunia komputer, akhirnya ia menemukan apa yang dicari. 4 menit, hanya 4 menit waktu yang ia butuhkan. Ia memberitahukan apa yang ia dapat dari pencariannya. Ternyata, dalang dari berita ini hingga tersebar luas tak lain adalah musuh atau saingan bisnis dari LEZO GROUP. Setelah itu, mereka semua menghembuskan nafas lega. Kini, satu masalah sudah teratasi. Tersisa satu masalah lagi, yaitu membujuk Presdir Farel untuk menggagalkan pembatalan kerjasama ini.