
Hari ini Olivia memulai hari-harinya dengan penuh semangat. Ia bangun pagi-pagi buta dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus untuk menyerahkan dokumen yang diperlukan sebagai syarat pendaftaran mahasiswa di salah satu kampus favorit di kota itu.
kebetulan Oliver tidak bisa menemani Olivia karena ia berada di luar kota, agar Olivia merasa nyaman dan Olive merasa tenang, ia meminta lucan untuk mengantar Olivia.
Olivia keluar dari kamarnya, Ia berencana memesan ojek online karena dia tahu tidak bisa menemaninya pada hari ini .
Alangkah kagetnya Olivia ketika melihat Lucan sedang duduk di sofa ruang tamu kost an nya.
Melihat kedatangan Olivia, lucan segera berdiri.
"Selamat pagi nona."
"Mas Lucan, kenapa bisa ada di sini?"tanya Olivia heran.
"Tuan Oliver, meminta saya untuk mengantar dan menjemput Anda ke kampus."
"Hehe tidak perlu mas, saya bisa pesan taksi online ."Olivia sedikit sungkan jika harus merepotkan Lucan.
"Oh tidak apa-apa Nona, ini perintah Tuan, dan saya tidak boleh mengabaikannya."
"Ya udah deh."
Keduanya pun beranjak meninggalkan tempat tersebut, Lucan membuka pintu mobil depan untuk Olivia, setelah itu ia membuka pintu mobil untuk dirinya
Mereka masuk ke dalam mobil.
Olivia dan Lucan terlihat begitu canggung. Mungkin karena Lucan tak se ramah Oliver. Olivia jadi sungkan untuk memulai obrolan.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, Olivia sibuk memainkan game Onlinenya, sementara Lucan konsentrasi menyetir, sesekali ia melirik ke arah Olivia.
"Nona, nanti langsung pulang atau ada kegiatan lainnya lagi?"tanya Lucan, pertanyaan itu seketika memecah kesunyian di antara mereka.
"Oh Mas lucan pulang langsung pulang saja. Nanti saya bisa pulang sendiri."
"Tidak apa-apa Nona, Saya akan tunggu nona sampai Anda selesai dengan urusan anda di kampus."
"Tidak usah, Mas. Hari ini saya ada tes jadi saya tidak tahu kapan pulangnya."
"Baiklah kalau begitu setelah saya mengantar Nona, Saya akan kembali ke kantor, dan anda bisa hubungi saya kembali ketika anda sudah selesai menjalani tes, bagaimana?"
"Baiklah, kalau begitu saya simpan nomor kontak nya."
Keduanya saling bertukar nomor telepon. Setengah jam dalam perjalanan, mereka tiba di depan kampus. Olivia keluar dari mobil Lucan.
"Mas Lucan terima kasih ya."
"Sama-sama Nona, jangan lupa untuk menelpon saya sebelum anda pulang! saya bisa dimarahi Tuan jika membiarkan anda pulang sendirian."
"Oke siap!''
Olivia berjalan melewati koridor kampus, Iaa mencari ruangan untuk melakukan tes penerimaan mahasiswa. namun sebuah hal yang tak disangka-sangka ternyata dia bertemu dengan Arzeta.
__ADS_1
"Bukannya itu Zeta?! Zeta!"Panggil Olivia setelah memastikan jika gadis yang berjalan beberapa meter di depannya, adalah sahabatnya sendiri.
Benar saja, gadis itu menoleh ketika Olivia memanggilnya .
Keduanya sama-sama kaget karena bisa bertemu di kampus ini
"Livia !"
"Zeta !"
Keduanya sama-sama berjalan cepat saling menghampiri, kemudian saling berpelukan .
"Kamu kenapa bisa ada di sini? katanya mau keluar negeri?"tanya Olivia
"Kamu juga kenapa bisa ada di sini? daftar di Universitas sini kan mahal . tanya Arzeta tanpa bermaksud menyinggung Olivia.
"Yuk kita cerita di kekas sebelum tes dimulai," ajak Olivia.
"Siapa dulu yang cerita?" tanya Zeta.
"Kamu dulu lah, kenapa kamu nggak jadi kuliah di London?"
Mendadak wajah Zeta berubah.
"Daddy aku di penjara Liv."
"Astaga kenapa bisa?"
Bola mata Olivia berkaca-kaca mendengar cerita sedih dari sahabatnya itu.
"Beruntung Pamanku mau menguliahkan aku, jadi aku kuliah di sini karena bantuan Paman, kalau nggak, aku juga nggak mampu kuliah di sini."
"Yang sabar ya Zeta, hidup ini itu seperti roda yang berputar. Ada kalanya kita berada di atas dan ada kalanya kita sudah ada di bawah."
"Kamu benar live dan saat ini tuh aku merasa bikin titik terbawa dalam hidupku. Rencananya Aku mau kerja sambil kuliah biar bisa membantu meringankan beban orang tuaku."
"Kamu mau kerja dimana?"tanya Olivia .
"Masih belum tahu. Aku mau selesai tes masuk Universitas dulu, baru aku mau cari kerja, lumayanlah buat bayar kos sama kebutuhan sehari-hari."
"Oh iya, kalau kamu butuh kerja nanti aku bilang sama Om Oliver."
"Om Oliver? Om Oliver itu siapa Liv?"
"Om Oliver itu calon suami aku, Dia seorang CEO dia punya perusahaan punya beberapa pabrik yang tersebar di seluruh Indonesia jadi rasanya sangat, mungkin, kamu akan dapat pekerjaan di perusahaanmu."
Arzeta sedikit kaget mendengar penuturan Olive
"Liv, maafin gue bukannya gue berfikir macam-macam, Gue cuman pengen tahu .Lo jadi simpanan bos ?" tanya Arzeta dengan hati hati, agar tak menyinggung perasaan Olive.
Olivia tersenyum, mendengar pertanyaan Arzeta .Tak sedikitpun Ia tersinggung.
__ADS_1
Olivia meraih saku jaketnya mengeluarkan handphonenya.
Arzeta begitu kaget melihat handphone Olivia yang berharga puluhan juta
Beberapa saat kemudian Olivia menunjukkan sesuatu di layar ponselnya .
"Nih kamu lihat, ini foto aku dan keluarga besar Om Oliver.Om Oliver memang sudah berumur, tapi dia masih lajang."
Bola mata Arzeta berbinar ketika melihat foto pria tampan yang penuh kharismatik sedang memeluk Olivia dari belakang dan mereka dikelilingi orang-orang yang terlihat bahagia .
"Dia Om Oliver ? wah ganteng banget Liv. Aku juga mau juga di lamar kalau ada om tajir yang ganteng dan keren seperti ini."
Olivia memutar bola mata malasnya segala arah.
"Kamu pikir gampang Apa dapat om-om saja seperti Om Oliver, gue termasuk yang beruntung."
"Haha iya Liv."
"Oh ya kemarin Lu pernah pinjaman gue duit 10 juta kan ?"
"Nggak gue nggak pinjamkan lu, gue kasih lu."
"Ya udah kalau begitu, Gue bagi lo duit. mana nomor rekening lo, gue kirim sekarang."
"Untuk apa Liv?"
"lo pasti butuh duit kan? mami lu sakit? papi lu dipenjara? lu juga kuliah dibayarin, Ayo sekarang berikan nomor rekening lu!"
Arzeta memberikan nomor rekeningnya dan Olive langsung mentransfer uang senilai 15 juta.
"15 juta liv?!" Arzeta kaget ketika melihat notifikasi m-banking di handphonenya.
"Tenang aja, nggak usah kaget begitu, gua setiap bulan dikirim 50 juta sama Om Oliver."
"Gila belum jadi istri aja sudah segitu uang jajan lu di kasih sama Om Oliver, apa lagi kalau udah nikah."
"Olivia tersenyum nyengir."
Olivia dan arzetta saling mengobrol hingga tes pun di mulai. Dan selama beberapa jam berikutnya Olivia keluar dari ruang kelasnya bersama Arzeta.
Seperti janjinya pada Lucan, ia segera menghubungi Lucan untuk menjemputnya.
Sambil menunggu Lucan datang, Olivia berencana untuk mengajak Zeta menikmati bakso yang ada di seberang jalan.
Ketika hendak menyeberang tiba-tiba saja seorang pengendara motor menabrak mereka berdua. Olivia terlempar beberapa meter. Sementara Arzeta hanya tersenggol karena dia sempat mengelak. Pengendara motor itu langsung kabur meninggalkan tempat tersebut.
Olivia tergeletak tak sadarkan diri dengan hidung yang mengeluarkan darah..
Berapa orang langsung berhamburan menghampiri Olivia ada juga yang menolong Arzetta.
Keadaan Olivia begitu mengkhawatirkan ia langsung dilarikan ke rumah sakit saat itu juga.
__ADS_1