
Oliver berdiri di depan cermin sejak setengah jam yang lalu. Dia menyisir rambutnya dan mengkoreksi "apa saja yang kurang terhadap penampilannya saat ini.
Oliver ingin memberikan kesan yang terbaik pada orang tua Olivia, sehingga dia sangat memperhatikan penampilannya.
Oliver mengenakan kemeja biru dongker dengan celana dan blazer hitam, dengan penampilannya yang sangat formal itu, ia berharap bisa meyakinkan ibunda Olivia, jika Ia adalah pria yang mapan bisa bertanggung jawab untuk putrinya .
Selain penampilan fisik, Oliver juga mempersiapkan dirinya secara mental.
Dia membaca beberapa artikel tentang Bagaimana caranya melamar seorang gadis, Maklum saja usianya hampir menginjak kepala empat, Oliver belum pernah melamar seorang gadis sama sekali. Dan hari ini ia benar-benar menjadi gugup sekaligus bahagia.
Perkenalan singkat antara ia dan Olivia tak mengurungkan niat mereka segera membina rumah tangga, entah kenapa bisa bersama Olivia, Oliver merasa nyaman dan ia bersemangat untuk memperjuangkan Olivia.
Setelah memastikan penampilannya cukup oke ,Oliver turun dari kamarnya menghampiri kedua orang tuanya di ruang tamu.
Sambil berjalan Oliver terus saja bersiul menandakan hatinya sangat bahagia saat itu . Melihat pakaian yang digunakan oleh Oliver saat itu Nyonya Regina yakin jika Oliver untuk bekerja .
"Oliver kamu mau ke mana?" tanya Regina.
"Hari ini aku mau ke rumah Olivia Mommy, untuk melamar Olivia."
Nyonya Regina tersenyum, Ia ikut bahagia mendengar kabar tersebut.
Iya pergi lah, Semoga Tuhan memberkati perjalanan kalian.
"Makasih Mommy, doakan semuanya bisa berjalan lancar."
"Iya ," kata Nyonya Regina
Oliver Melangkah dengan mantap menuju garasi mobilnya. Setelah membawa mobilnya keluar dari garasi, Oliver mulai menghubungi Olivia melalui sambungan teleponnya. Beberapa kali menghubungi Olivia, Oliver menjadi kesal, karena sambungan telepon yang tak pernah jawab oleh Olivia .
Sekitar setengah jam perjalanan, Oliver tiba di kosan Olivia. Ia langsung menghampiri pintu kamar Olivia
Tiba di kamar, Olivia Ia langsung mengetuk pintu kamar tersebut.
Olivia terbangun ketika mendengar ketukan pintu Ia melirik jam di dinding kamarnya.
"Astaga, aku lupa, hari ini ada janji sama Om Oliver!" Olivia bergegas bangkit dari di tempat tidurnya
Kemudian ia menghampiri pintu.
***
Beberapa saat kemudian Olivia akhirnya keluar dari kamar dengan mata mengantuk dan rambut yang berantakan, Namun Oliver menyambut dengan senyuman.
__ADS_1
"Baru bangun kamu?''tanya Oliver dengan lemah lembut.
Olivia hanya tersenyum nyengir.
"Maaf Om, aku lupa, Om, tunggu saja di ruang tamu ya, setengah jam lagi aku siap," kata Olivia sambil menutup pintunya.
"Dasar!" dengus Oliver menggerutu.
Namun, ia mengerti dengan tabiat Olivia yang masih kekanak-kanakan. Olivia baru saja lulus SMA. Oliver sudah mempertimbangkan sebelumnya bagaimana sifat kekanak-kanakan Olivia, dia harus lebih pengertian karena umur mereka memang jauh berbeda.
Dia mengerti bahwa kekanakan dalam diri Olivia adalah bagian dari pertumbuhan dan bahwa dirinya juga pernah melewati masa tersebut.
Oliver menunggu di ruang tamu selama setengah jam Setelah itu mereka berangkat .
Olivia dan Oliver memang seperti pasangan yang serasi, chemistry keduanya begitu kuat. Mungkin karena wajah mereka yang juga mirip.
Olivia tak lagi sungkan untuk menggandeng tangan Oliver, karena saat ini mereka adalah sepasang kekasih.
"Om, kalau mami, aku nggak setuju dengan hubungan kita, dan memaksa aku untuk balik ke rumah itu bagaimana Om?"
"Aku akan bersikeras agar Mami kamu setuju. Kamu tenang saja,saya akan perjuangkan kamu, bagaimana pun caranya."
Oliver tersenyum.
"Saya ada bawa sekotak perhiasan untuk Mami kamu semoga saja dia senang dengan pemberian dari calon menantunya ini," kata Oliver sambil menyerahkan sekotak perhiasan pada Olivia.
"Mami aku memang mata duitan Om, dia pasti senang apalagi kalau Om memberinya uang yang banyak, pasti dia tambah seneng. Apapun akan dia lakukan termasuk menjual keperawanan anak gadisnya asal dia bisa mendapat uang yang banyak ." Olivia mengkerutkan bibirnya, karena ia begitu sedih menang nasibnya yang malang karena memiliki Ibu seperti Revita.
"Iya tega sekali dia melakukan itu sama kamu, jangan-jangan kamu hanya anak angkatnya. Jangankan manusia, binatang saja, sayang sama anaknya, lalu kenapa mami kamu tidak sayang sama kamu?"
"Ya aku juga nggak tahu Om, bisa jadi aku ini hanya anak angkat, karena sejak dulu dia tak pernah memberiku kasih sayang seperti seorang ibu."
"Dia berharap, dengan membesarkan ku, dia bisa memanfaatkan ku, dia bisa menjual ku nanti, untuk bisa menggantikan apa yang sudah ia berikan selama ini pada ku."
Wajah Olivia tertunduk karena begitu sedih.
Melihat Olivia yang terlihat sedih, Oliver langsung merangkul Olivia dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Tenang saja, selama kamu bersama saya, saya akan berikan cinta dan kasih sayang yang tak pernah kamu dapatkan selama ini," kata Oliver sambil mencium pucuk kepala Olivia .
Gadis itu semakin mengelayut manja di pelukan Oliver, sesuatu yang begitu ingin ia rasakan sejak lama, yaini sebuah pelukan hangat penuh kelembutan dan kasih sayang.
Mendengar penuturan Olivia , Oliver yakin jika Olivia adalah anak pungut dari wanita yang mengaku sebagai ibu kandungnya.
__ADS_1
***
Sekitar 1 jam perjalanan mereka tiba di depan rumah Olivia mobil Oliver memasuki pekarangan ruko dua lantai tersebut.
Jantung Olivia berdetak kencang karena ia takut jika Revita tidak menerima lamaran Oliver.
Mereka turun dari mobil kemudian berjalan bergandengan tangan.
Olivia menyadari tak biasanya pintu rumahnya itu tertutup, Olivia pun curiga jika Revita sedang tidak berada di rumah .
Benar saja seorang asisten rumah tangga keluar dari pintu rumahnya dan hendak Mengunci pintu itu kembali .
Wanita paruh baya itu kaget melihat kehadiran Olivia bersama seorang pria dewasa.
"Bi Jum, di mana Mami?"tanya Olivia.
"Nyonya Revita sedang berlibur bersama teman kencannya ke bali Neng."
Olivia dan Oliver saling melempar pandangan.
"Neng Olivia, ke mana saja? Nyonya, mencari Neng sampai berhari-hari. "
"Oh ya Bi, pinjam kunci rumahnya sebentar Livia, ingin masuk untuk mengambil sesuatu."
"Iya silahkan saja Neng." wanita paruh baya itu menyerahkan kunci rumahnya kepada Olivia.
Olivia masuk ke dalam rumah dan membiarkan Oliver bersama dengan asisten rumah tangganya itu di luar rumah.
"Maminya Olivia sudah tinggal lama di sini Bi?" tanya Oliver kepada wanita itu
"Sepertinya sudah lama, saya baru 2 tahun ini bekerja dengan nyonya "
"Bibi setiap hari ke rumah Ini kan ?"
"Setiap hari, saya harus datang membersihkan rumah ini! meski Nyonya sedang tidak ada di rumah."
"Kalau begitu ini kartu nama saya ,jika nyonya Revita pulang,beri tahu dia jika saya adalah calon suami Olivia. Beliau bisa menghubungi saya untuk janjian bertemu."
"Oh iya, Nanti saya sampaikan."
"Baik terima kasih ya Bi."
"Sama-sama."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Olivia keluar dari rumah itu, dan mereka pun pergi meninggalkan rumah tersebut tanpa bertemu dengan Revita .