Bukan Ikatan Cinta Sedarah

Bukan Ikatan Cinta Sedarah
Menjelang Hari Pernikahan


__ADS_3

Waktu terus berlalu.


Persiapan pernikahan antara Olivia dan Oliver hampir rampung dan seminggu lagi mereka akan mengikrarkan janji sebagai sepasang suami istri.


Oliver dan Olivia kembali mengecek persiapan pernikahan mereka.


Seperti gedung yang akan di gunakan tempat resepsi, sajian hidangan, gaun bahkan souvernir mereka sudah siap.


Keduanya sangat puas dengan persiapan yang di lakukan oleh salah satu WO yang mengurus segala sesuatu, persiapan pernikahan mereka.


"Bagaimana Sayang udah terlihat sempurna bukan ?" kata Oliver ketika melihat dekorasi gedung yang hampir rampung, padahal resepsi pernikahan mereka akan diselenggarakan minggu depan.


Olivia tersenyum melihat sekeliling gedung tersebut.


" Livia benar-benar bahagia Om,dengan persiapan pernikahan kita! Meskipun sulit, kita sudah menyelesaikan semuanya dengan sempurna, kan?"


"Tentu saja, sayang! Karena ini akan jadi pernikahan kita yang akan terjadi seumur hidup, aku akan membuat pernikahan ini akan menjadi pernikahan termegah sepanjang tahun ini. Akan ada tiga ribu tamu undangan yang akan menghadiri pesta kita."


Olivia kembali mengedarkan pandanganya ke arah sekeliling gedung itu dengan wajah yang berbinar.


Terbayang sudah ia akan menjadi ratu dengan gaun pengantin indah berbahan sutra putih dengan mahkota bertahta berlian dan permata yang indah. Bersama Oliver mereka akan berjalan bergandengan tangan menuju pelaminan sambil tersenyum Melambaikan tangannya ke arah tamu yang hadir dalam pesta pernikahan mereka.


Membayangkan hal itu Olivia jadi melamun dan tersenyum-senyum sendiri.


"Hei, melamun ya?" tanya Oliver sambil Melambaikan tangannya ke wajah Olivia.


"Hehe iya Om, Livia sudah membayangkan, bagaimana bahagianya Livia saat mengenakan gaun pengantin dan bersanding di pelaminan nanti."


"Dan aku juga tak sabar untuk berjalan di lorong gereja menuju ke altar kemudian mengadakan ikrar pernikahan kita," kata Oliver sambil merangkul pundak Olivia .


Keduanya saling melempar senyum bahagia.


"Lalu sekarang apa lagi?" tanya Oliver.


"Ehm, aku mau ketemu mami Om, aku kangen sama mami."


"Ya sudah karena waktu kita mendesak dan mulai besok ritual pra nikah kita sudah mulai di lakukan, jadi bagaimana kalau kita pergi sekarang saja."

__ADS_1


"Oke Om."


Setelah memeriksa persiapan pernikahan mereka, Olivia dan Oliver kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju kediaman orang tua Olivia.


***


Setelah perjalanan hampir 1 jam mereka tiba di depan rumah Olivia.


Olivia Merasa kecewa, ketika melihat pintu rumahnya terkunci dengan rapat.


"Yah sepertinya Mami nggak ada di rumah Om. Rumah aja tertutup rapat," keluh Olivia bernada kecewa.


"Oh sebentar ya, perasaan ada nomor telepon Mami kamu saat dia mengirim pesan untuk janjian ketemu kemarin."


Oliver mengkotakatik handphonenya, mencari kontak. Setelah menemukan kontak Revita, Oliver langsung memberikan kepada Olivia.


"Nih, silakan telepon sendiri," kata Oliver


"Olivia sedikit kaget melihat nama yang tertera di layar handphone Oliver. Nama yang diberikan Oliver adalah nama Raisa bukan Revita atau maminya Olivia


"Om yakin, ini nomor telepon mami Livia?" tanya Olivia.


"Tapi kok kasih nama Raisa sih, mami, Olivia, kan namanya Revita."


Oliver tersenyum tipis, sebenarnya ia ingin jujur pada Olivia tentang hubungannya dengan gadis yang bernama Raisa dulu. Namun ia, tak ingin mengganggu rencana pernikahan mereka, jadi untuk sementara Oliver akan merahasiakan sampai rahasia itu terungkap sendiri.


Olivia segera menghubungi nomor telepon tersebut, ia tidak terlalu mempersalahkan nama yang diberikan Oliver di kontak teleponnya


Olivia mencoba menghubungi Revita beberapa kali, namun tak pernah mendapat jawaban.


"Yah Kenapa sih, Mami nggak mau angkat telepon ini? apa memang Mami benar benar membenci aku?"dengus Olivia sambil menyerahkan handphone Oliver kembali.


"Sudahlah Sayang, Mami kamu lagi sibuk kali."


"Ya sudah Om, kalau begitu Livia, selipkan sajalah undangannya di bawah pintu, jadi nanti kalau Mami datang, dia bisa melihat undangan itu."


'Iya terserah kamu saja Sayang."

__ADS_1


Keduanya pun turun kemudian menghampiri pintu rumah, Olivia menyelipkan sebuah undangan pernikahannya dan berharap Revita akan menghadiri resepsi atau pemberkatan nikah mereka.


Setelah menyelipkan undangan itu dibalik celah pintu, mereka berdua pulang, karena besok mereka sudah memulai prosesi pranikah. Dan Olivia juga sudah mulai dipingit dan tidak boleh keluar dari rumahnya.


***


Revita berada di sebuah ruangan setelah selesai menjalani prosedur kemoterapi untuk yang ketiga kalinya. Ruangan tersebut terlihat steril dengan dinding putih dan peralatan medis yang tersusun rapi di sekitar tempat tidur Revita. Cahaya lampu begitu terang menyilaukan, akan tetapi tak mampu membuat hati Revita yang suram menjadi ceria dan bahagia.


Revita terbaring lemah di tempat tidur, wajahnya pucat dan mata lelah. Tubuhnya terasa lemas dan kehilangan energi setelah menjalani prosedur yang melelahkan. Rambutnya yang dulu indah dan panjang, kini rontok dan hanya tersisa beberapa helai yang lemah.


Revita bersandar ada sandaran tempat tidur sambil melihat ruangan sebelah yang disekat dinding Kaca.


ruangan tersebut adalah ruang pasien yang juga sama menjalani proses kemoterapi, dalam keadaan setengah krisis, mereka memang berada di ruangan khusus untuk perawatan intensif selama beberapa saat .


Bulir bening menetes di pipi Revita. Ketika melihat pasien di kanan dan kirinya.


Meski mereka dalam keadaan sakit dan menderita. Namun, mereka selalu tersenyum karena orang-orang terdekat selalu datang menghampiri dan memberi dukungan, sementara dirinya hanya sendirian, tak ada teman, tak ada yang datang untuk memberinya semangat, apalagi berbagi kisah bahagia dengannya, hingga bisa membuatnya tersenyum.


Perawat dengan lembut mendekati Revita, membantu mengangkatnya untuk duduk.


"Kita keluar dari ruang ini ya Ibu, nantinya ibu akan dipindahkan ke ruang perawatan kembali."


"Oh ya Ibu, apa Ibu sudah menyelesaikan administrasi di rumah sakit?" tanya Suster itu sambil mendorong kursi roda Revita.


"Iya, suster, berikan saja bill nya, nanti saya yang bayar,"kata Revita


"Memangnya Ibu tidak punya keluarga? Bu harusnya ada seseorang yang menjaga Ibu selama perawatan di rumah sakit, Jadi jika Ibu Butuh sesuatu, ada yang membantu Ibu. "


Revita terdiam sambil meneteskan air matanya tiba-tiba saja ia teringat akan Olivia


Hanya Olivia lah yang ia miliki di dunia ini, meskipun Olivia tak diharapkan kelahirannya.


Mereka tiba di ruang perawatan Revita sebelumnya.


Tibanya di ruang perawatan itu suster kembali membantu Revita untuk naik dan berbaring di atas tempat tidurnya.


Setelah tugasnya selesai, Suster itu kembali membawa kursi roda, dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Revita seorang diri.

__ADS_1


Dengan bola mata yang sendu Revita menatap langit langit kamarnya, sambil mengingat-kejadian 20 tahun yang lalu.


Flashback... nya di episode selanjutnya ya gengs....


__ADS_2