Bukan Ikatan Cinta Sedarah

Bukan Ikatan Cinta Sedarah
Rencana Menikah


__ADS_3

"Silahkan masuk, Olivia." nyonya Regina berusaha untuk bersikap ramah.


"Iya terima kasih Oma."


Oliver dan kedua orang tuanya membelakan bola matanya ketika Olivia memanggil nyonya Regina dengan sebutan Oma.


Seketika keadaan menjadi hening


Menyadari kesalahan yang ia lakukan, Olivia segera mengkoreksinya "Eh maksudnya Mama, hehe."


Nyonya Regina memutar bola matanya ke segala arah.


"Ayo Sayang, salaman dengan Mommy dan Daddy ."


"Oh iya." Olivia bersalaman dengan Nyon Regina dan tuan Gerryl.


Setelah itu mereka duduk di sofa yang ada di ruang tamu sebelum menikmati makan malam.


Olivia duduk di samping Oliver. Sementara nyonya Regina dan suaminya duduk saling menghadap mereka.


Olivia terus saja tersenyum ke arah kedua orang tua Oliver, karena ia tengah mengingat skenario yang di berikan Oliver kepadanya di dalam mobil tadi.


"Olivia, sudah lama kamu mengenal Oliver?" tanya Nyonya Regina.


"Sudah tiga bulan Om,.. eh mommy." Olivia menelan salivanya karena hampir saja dia melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya.


"Gak apa-apa panggil Oma juga gak apa-apa, memang seharusnya usia seperti saya sudah punya cucu kok," kata Nyonya Regina sambil melirik ke arah Oliver .


"Gak mommy. Saya kan calon istrinya Oliver, mana pantas saya memanggil mommy dengan sebutan Oma," kata Olivia kemudian ia tersenyum nyengir.


Oliver melirik ke arah Olivia , mereka pun saling lirik-lirik kan.


'Akhir bocah ini bisa juga diandalkan,' batin Oliver.


Nyonya Regina menatap lekat ke arah Olivia .


"Olivia, orang tua kamu siapa namanya, dan bekerja dimana mereka?"


Olivia seketika menjadi gugup dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh nyonya Regina tersebut.


Olivia mengusap-usap kedua telapak tangan sambil tetap tersenyum, karena binggung harus menjawab apa, meski Oliver sudah menyiapkan jawaban untuknya, itu karena Olivia tidak pernah berbohong.


"Sayang gak usah gugup gitu dong." Oliver menggenggam salah satu tangan Olivia yang terasa dingin.


Seketika genggaman tangan Olivier membuat hangat tangan Olivia, hingga membuatnya begitu merasa nyaman


Keduanya saling pun melempar senyum.Sementara Nyonya Regina masih menunggu jawaban Olivia.


"Mami saya namanya Revita, mommy," jawab Olivia singkat.


"Terus ayah kamu, siapa namanya dan apa pekerjaannya?"


"Ehm Mami dan Papi saya sudah bercerai sejak saya berada dalam kandungan. Katanya Mami, papi saya kawin lagi dengan perempuan lain dan sekarang saya juga sedang mencari keberadaan papi saya," tutur Olivia dengan polos, karena dia lupa dengan skenario yang sudah dipersiapkan oleh Oliver nya.

__ADS_1


Hm, Oliver hanya tersenyum kesal seraya melirik ke arah Olivia .


Olivia baru menyadari kesalahannya setelah melihat reaksi yang tidak sedap dari nyonya Regina .


"Hehe, maaf om lupa," ucap Olivia dengan hanya menggerakkan bibirnya tanpa suara.


"Baiklah Olivia, karena Oliver sudah memperkenalkan kamu sebagai calon istrinya, besok atau lusa saya akan adakan pertemuan keluarga untuk memperkenalkan kamu dengan keluarga besar saya."


Olivia dan Oliver cukup kaget mendengar rencana nyonya Regina itu.


"'Setelah perkenalan Keluarga kami akan menemui orang tua kamu secepatnya, karena saya tak ingin hubungan kalian hanya sekedar suka-suka saja. Saya ingin kalian secepatnya menikah!" kata Nyonya Regina dengan penuh penekanan.


Olivia membelalakkan bola matanya.


'Astaga! Bagaimana ini,' batin Olivia seketika ia menjadi panik.


Lagi-lagi Oliver menggenggam tangan Olivia agar ia tidak panik, membuat kecemasan pada Olivia berangsur hilang.


Setelah berbagai pertanyaan yang di lontarkan oleh nyonya Regina, mereka pun di persilahkan untuk menikmati makan malamnya.


***


Olivia tidak begitu menikmati makan malam tersebut, Karena ternyata semua tak semudah yang ia bayangkan.


Olivia binggung bagaimana caranya memberi tahu Revita jika orang tua Oliver akan melamarnya.


"Olivia, kamu tinggal dimana sekarang?"


"Di kost an Mommy."


"Sepertinya Olivia gak bisa Mommy," sahut Oliver.


'Loh kenapa?"


"Karena dia sibuk kuliah.Lagi pula Olivia pasti tidak nyaman tinggal di tempat yang baru, karena dia kan baru mengenal mommy."


Olivia tertunduk.


'Tapi mulai dari sekarang, Olivia harus biasakan diri untuk tinggal di sini, karena setelah menikah, Kalian juga tinggal di sini, kan?"


"Iya tapi gak sekarang. Kasian olivia, biar saja dia tinggal di kostan nya." Oliver terus memberikan alasan agar Olivia tidak tinggal serumah dengan kedua orang tuanya.


"Ya sudah, jangan lupa bilang sama orang tua kamu jika dalam beberapa hari ini kami akan melamar kamu. Kamu juga harus mempersiapkan diri untuk jadi istri Oliver," kata nyonya Regina dengan tegas.


Olivia benar-benar kehilangan selera makanya.


Agar Olivia tidak merasa tertekan dengan tuntutan nyonya Regina , Oliver sengaja mengajaknya pulang lebih cepat. Setelah berpamitan pada kedua orang tua Oliver, mereka berdua langsung pulang.


***


Oliver membawa laju mobilnya dengan kecepatan sedang agar mereka bisa mengobrol.


"Bagaimana ini Om, sepertinya Oma bener-bener ingin kita nikah?"

__ADS_1


Oliver tersenyum.


"Memang kamu gak mau yah nikah sama Om?"


"Ih Om bagaimana sih katanya cuma pura-pura."


"Iya cuma pura-pura, tapi setelah saya pikir-pikir kenapa kita tidak menikah sungguhan saja? lagi pula saya bujangan dan kamu masih gadis, sah sah saja kan." Oliver coba membujuk Olivia.


"Ih Om bagaimana sih, kita ini kan baru kenal. Lagi pula aku kan gak cinta sama Om. Om juga umurnya jauh dari aku."


"Haha, cinta itu bisa hadir setelah menikah.Lagi pula kebanyakan wanita itu lebih memilih pria yang jauh lebih tua darinya dan mapan."


"Ehm, kenapa begitu?"


"Karena pria yang dewasa dan mapan akan membuat kamu lebih nyaman, lebih pengertian."


"Hm yang benar Om?"


"Benar, coba saja sini." Oliver menarik Olivia ke dalam pelukannya. Di usapnya pundak Olivia.


Olivia diam sambil sambil menikmati kehangatan Oliver . Hembusan pria dewasa di pucuk kepalanya seperti memberikan kehangatan yang selama ini ia dambakan. Maklum saja Olivia memang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari Revita .


Sambil menyetir Oliver mengusap punggung Olivia. Sesekali dia mencium pucuk kepala Olivia, membuat gadis itu terbuai.


"Bagaimana Sayang, kalau kita menikah saja? Kamu akan hidup tenang dan nyaman bersama saya. Kebutuhan kamu akan saya penuhi dan saya bukan tipe pasangan yang banyak menuntut."


Ehm Olivia berpikir lagi, ia teringat akan Maminya yang memang sudah berencana menjualnya sejak lama.


'Apa aku terima saja ya lamaran Om Oliver, dari pada aku di jual mami kepada pria hidung belang. Kalau aku memiliki suami, mami tak akan bisa mengatur hidup ku lagi.Lagi pula Om Oliver berjanji mau menguliahkan aku,' batin Oliver .


Olivia menggigit ujung kukunya, sambil menarik nafas panjang, aroma mas kulin yang lembut dari pria itu tercium jelas membuat perasaan semakin nyaman dan hangat.


"Bagaimana Livia, kamu mau gak jadi istri saya?"


"Ehm, kalau om mau melamar Livia, apa Om bersedia membayar mahar yang mahal?"


"Maksudnya?"tanya Oliver.


Olivia bangkit kemudian menatap Oliver dengan lekat.


"Om, kalau aku boleh jujur, sebenarnya saat aku bertemu dengan Om, saat itu aku sedang melarikan diri dari mami aku."


"Melarikan diri? kenapa?"


"Aku mau di jual sama Mami Om hiks, keperawanan aku mau dihargai setatus lima puluh juta, hiks."


"Hah, ibu kamu mau menjual kamu?"


"Iya Om."


"Baiklah, besok kita temui mami kamu, biar saya yang bicara padanya. Saya akan bayar berkali-kali lipat agar dia mau merestui pernikahan kita, bagaimana?"


"Hiks, iya Om terima kasih."

__ADS_1


Olivia kembali memeluk Oliver.


__ADS_2