
Waktu pun berlalu dan sebulan sudah semenjak meninggalnya Revita. Namun, kesedihan masih tampak pada wajah Olivia, Olivia masih saja terlihat murung ia selalu menyendiri di dalam kamarnya.
Meski Nyonya Regina dan tuan Gerryl sangat menyayanginya, akan tetapi Olivia masih merindukan sosok kehadiran Revita.
Revita memang pernah jahat dan berbuat semena-mena terhadapnya. Namun tak mengurangi rasa kasih sayang Olivia di hatinya.
"Mami," lirih Olivia sambil memeluk bonekanya air mata menetes di pipinya yang mulus.
Pintu kamar Olivia terdengar di ketuk. Olivia buru-buru menghapus air matanya.
Olivia beranjak untuk membukakan pintu kamarnya.
"Kamu kenapa di kamar terus Liv, Ayo ikut Papi makan malam bersama Oma."
Olivia pun setuju. Akhirnya ia ikut turun bersama Oliver menghampiri meja makan.
Nyonya Regina tersenyum melihat Olivia.
"Akhirnya nampak juga batang hidung kamu Liv. Setiap hari kamu mengurung diri di dalam kamar itu tidak baik loh Livia."
Oliver menarik kursi untuk Olivia duduk.
"Livia sayang, kalau kamu butuh healing atau liburan, bagaimana kalau kita liburan ke luar negri? Siapa tahu kamu bisa melupakan kesedihan kamu."
"Ngak Oma, livia lagi gak ingin pergi kemana-mana."
"Ya sudah. Sarapan di makan dulu."
Mereka pun memulai sarapan mereka.
Sambil sarapan, Nyonya Regina dan Oliver berbincang-bincang.
"Oliver, mommy tahu kamu baru saja kehilangan istri. Akan tetapi, mulai sekarang kamu harus mulai membuka diri untuk bisa menerima perempuan lain untuk menjadi istri kamu."
"Iya Mom, tapi aku mau Livia yang mencarikan jodoh untuk ku," sahut Oliver mencolek dagu Olivia.
Oliver bermaksud untuk mengajak Olivia bercanda agar ia tidak terlalu merasa sedih karena kepergian Revita.
Bukannya merespon candaan Oliver dengan baik, Olivia justru semakin mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa harus Livia yang carikan jodoh untuk Papi ?"tanya Livia ketus.
"Ya karena Papi mau wanita yang akan jadi istri Papi adalah wanita yang bisa menerima kamu dan dekat dengan kamu."
"Alah Bilang saja kamu sukanya daun muda," sahut Nyonya Regina sambil tersenyum melirik ke arah suaminya.
"Ya nggak papa lah Mom, kalau jodoh kan kita nggak tahu," kata Oliver.
Oliver mengamati wajah Olivia yang masih saja terlihat kecut.
Bahkan Olivia terlihat tak selera untuk menyantap sarapannya.
__ADS_1
Olivier meraih selembar roti dan memoleskan selai coklat kemudian ia letakkan roti tersebut di atas piring Olivia.
"Papi tau kamu masih sedih, tapi kamu juga harus makan dan jaga kesehatan kamu, Mami kamu di sana juga pasti akan sedih melihat kamu seperti ini."
"Apa yang dikatakan Papi kamu Olivia, sebaiknya kamu cari kesibukan agar kamu tidak terlalu dalam kesedihan kamu."
"Benar apa yang dikatakan Oma itu Liv, habiskan sarapan kamu, setelah itu papi antar ke kampus," kata Oliver sambil mengusap punggung Olivia.
"Olivia mengangguk."
Mereka kembali melanjutkan sarapan.
"Oh ya, Livia kamu mau nggak ikut Oma gak, ke arisan sosialita Oma. Disana Oma akan perkenalkan kamu dengan cucu-cucu atau anak-anak dari teman sosialita Oma, ya biar kamu punya teman yang sekelas dengan kita. Biar kamu juga suka belanja, suka ke salon merawat diri."
Olivia melirik ke arah Nyonya Regina sebenarnya ia tidak tertarik ajakan Nyonya Regina, hanya saja karena Olivia sudah sering menolak ajakan dari Omanya, dia pun mengangguk setuju.
"Nah begitu baru cucu Oma." Nyonya Regina begitu senang karena ia punya rencana untuk Olivia.
***
Selesai sarapan, Oliver bermaksud mengantar Olivia ke kampus.
Mobil Oliver berhenti di depan gerbang kampus Olivia dan di sana ia melihat Arzetta sudah menunggu.
Dari kejauhan Arzeta sudah melambaikan tanganya ke arah Olivia, dan dibalas lambaian tangan juga oleh Olivia.
Arzeta terlihat begitu senang melihat Olivia yang kembali kuliah setelah hampir sebulan libur.
"Livia pergi dulu Pi," kata Olivia sambil mencium punggung tangan Oliver.
Olivier mengecup pucuk kepala Olivia.
"Jangan sedih lagi ya, nanti kalau sudah pulang hubungi Papi, Papi jemput kamu."
"Nggak usah, Livia mau ikut ke kantor Papi saja sama Arzeta, biar kami naik taksi saja, Pi"
"Eh gak boleh, biar papi yang jemput kamu, kalau Papi nggak sempat Papi akan suruh Lucan untuk menjemput kamu."
"Iye deh," jawab Olivia lirih.
"Kalau begitu jangan cemberut gitu dong."
Olivia menyunggingkan senyum tipisnya.
"Dah Pi, Livia ke kampus dulu."
"Iya Nak."
"Hay Liv, akhirnya kamu kuliah juga," cetus Arzeta di depan mobil mereka.
"Iya bosan gue di rumah."
__ADS_1
Oliver tersenyum. Ia melihat ada ketulusan di hati Arzeta terhadap Olivia.
"Zeta, Om titip Olivia ya!" seru Oliver.
"Oh iya Om tenang saja." Arzeta mengacungkan jempolnya.
Oliver terus memantau pergerakan Olivia dan Arzeta.
Arzeta terlihat bersemangat sekali mengajak Olivia berbicara dan bercanda.
Selama ini Oliver tahu jika Olivia memang hanya punya teman dekat yakni Arzeta, mereka berdua terlihat kompak dan terlihat begitu tulus.
Setelah Olivia lagi tampak di pandangan matanya Oliver pun bergegas pergi meninggalkan kampus tersebut.
***
Oliver tiba di kantornya dan segera menuju ruangannya.
"Lucan ada skedul hari ini?"
"Oh hari ini tuan ada meeting dengan tuan Abraham jam sepuluh pagi."
"Oh ya sudah, klau gitu nanti kamu hubungi Olivia, dia ke kampus hari ini. Kalau saya tidak sempat, kamu jemput mereka dan bawa mereka ke kantor ya."
Lucan langsung tersenyum. Ia sangat senang mendapatkan tugas yang berhubungan dengan Olivia.
"Siap Tuan."
"Ya sudah saya masuk dulu."
"Silahkan Tuan."
Oliver masuk kedalam ruangannya..
Sejak tadi ternyata Sinta terus memperhatikan Oliver.
"Ehm, sepertinya mulai dari sekarang aku harus gencar mendekati Oliver sebelum ia mendapatkan calon istri kembali," guman Sinta sambil tersenyum menyeringai.
"Beruntungnya sampai saat ini penyebab kecelakaan Olivia tidak diketahui, jadi aku masih bisa deket-deket dengan Oliver."
Sinta berdiri sambil membawa berkas kemudian ia berjalan menghampiri ruangan Oliver.
Sinta masuk kedalam ruang tersebut.
"Permisi Pak."
Oliver melirik ke arah Sinta yang berjalan dengan langkah anggunnya. Pakaian yang begitu minim membuat Oliver memalingkan wajahnya.
"Letakkan diatas meja saja laporannya. Setelah itu kamu keluar saja. Nanti saya periksa," kata Oliver sambil membuka laptopnya.
Seketika wajah Sinta jadi cemberut. Telah meletakkan berkas itu di atas meja Sinta keluar dari ruangan Oliver dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Huh, semakin sombong saja dia. Lihat saja jika dia menolak ku, aku sakiti Olivia," batin Sinta.