
Pada hari ini , Livia dan Oliver akan melakukan pemberkatan nikah di gereja . Di dalam sebuah ruangan Olivia duduk di meja rias, kamar itu adalah kamar pengantin yang nantinya akan mereka pergunakan untuk melewati malam pertama mereka.
Ruangan itu di dekorasi begitu apik, di dalam ruangan penuh dengan bunga-bunga segar yang harum semerbak.
Olivia tampak duduk di kursi rias dengan gaun pengantinnya yang begitu mewah, karena kerlap kerlip gaun pengantin di bagian dadanya itu adalah kilauan permata yang indah.
Matahari menyinari ruangan dengan cahaya hangatnya, menggambarkan betapa spesialnya momen ini baginya. Tim rias yang terampil dan profesional bekerja dengan hati-hati, menciptakan riasan yang sempurna yang akan menyoroti kecantikan alami Olivia. Mereka menyentuh kulitnya dengan lembut, membuatnya tampak berkilau dan bersinar seperti bintang di langit malam.
Sementara itu, para penata rambut dengan hati-hati menyisir dan merapikan rambut panjang Olivia. Mereka merangkai rambutnya dengan mahir, menciptakan gaya yang elegan dan manis untuk hari spesialnya ini. Setiap helai rambut diatur dengan seksama agar terlihat sempurna saat ia berjalan di lorong gereja nanti.
Di seberang ruangan, beberapa bunga-bunga cantik diatur oleh para dekorator. Bunga-bunga mawar putih, melati, dan baby's breath terlihat sebagai hiasan utama di sekitar kamar tersebut Aroma harum bunga-bunga itu mengisi ruangan dan menciptakan atmosfer yang romantis, terbanyang sudah bagaimana sepasang pengantin itu akan menikmati malam pengantin mereka di ruang tersebut.
Revita tersenyum melihat Olivia yang tampak begitu cantik setelah di rias.
"Kau cantik sekali Liv, sudah pasti Om Oliver akan tergila-gila padamu," bisik Arzeta.
Olivia tersenyum seraya berbisik di telinga Arzeta.
"Kau juga cantik, sudah pasti mas Lucan akan terpesona pada mu di hari ini."
"Ehm, masa' sih." Arzeta tersipu dengan wajah yang merona.
"Apa kau yakin suatu saat aku bisa mendapatkan dia?" tanya Arzeta.
"Yakin sekali, kau cantik begitu, laki-laki mana yang bisa menolak pesona mu," kata Olivia lagi.
Mendengar sanjungan dari temannya, Arzeta semakin salah tingkah. Ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Lucan .
Olivia dan Arzeta terlihat begitu bahagia, sambil di rias keduanya bercanda dan tertawa.
Namun tiba-tiba saja ekspresi wajah Oliver berubah.
"Livia, kamu kok tiba-tiba terlihat sedih sih?"
Olivia menarik nafas panjang.
"Sampai saat ini Mami gak pernah menghubungi aku. Ku rasa dia juga tak akan datang di pesta pernikahan ku nanti."
__ADS_1
Setetes bulir bening menetes di pipi Olivia .
'Sudahlah mungkin Mami kamu sedang berada di luar kota, jadi dia gak tahu tentang pernikahan kamu."
"Iya mungkin juga, tapi aku ingin mami melihat bagaimana bahagianya aku saat ini. Aku ingin memperlihatkan pada mami betapa cantiknya aku hari ini, dengan di rias seperti ini aku jadi sangat mirip dengannya, aku ingin mami bangga karena aku menikahi pria mapan yang bertanggung jawab," ucap Olivia dengan suara yang parau karena menahan perasaan sedih dan kecewanya.
"Sudahlah Liv, nanti setelah kamu selesai di rias, aku akan foto kamu, biar kamu gak akan kehilangan momen kebahagiaan kamu Liv. Sudahlah jangan sedih lagi ya, nanti di kiranya om Oliver kamu gak bahagia lagi dengan pernikahan ini."
Olivia tersenyum, mereka pun melanjutkan riasan wajah Olivia.
Sementara pengantin wanita sedang bersiap, di ruang yang berbeda, pengantin pria juga bersiap untuk hari bahagianya kali ini. Oliver bercanda tawa dengan para sahabatnya yang hadir untuk memberikan dukungan sebelum janji suci itu dilakukan. Mereka berbicara tentang betapa cantiknya Olivia dan betapa beruntungnya Oliver dapat mempersunting gadis secantik Olivia di usia Oliver yang tak lagi muda saat ini.
Tak lama kemudian, Olivia selesai berdandan seseorang memakaikan kain Veil di atas kepalanya dengan mahkota kecil. Olivia menatap wajahnya di depan cermin rias.
Kecantikan Revita saat muda seperti terefleksi pada wajah Olivia. Membuat Olivia semakin sedih.
Olivia memang pernah mengira jika Revita bukanlah ibu kandungnya mengingat perlakuan buruk yang selalu di terimanya. Namun, jika ia berkaca pada pantulan cermin, ia dan Revita begitu mirip. Terkadang Olivia bingung apa yang membuat Revita begitu membencinya.
"Oliv, sudah siap?" tanya Arzeta sambil menepuk punggung Olivia .
Olivia mengangguk. Arzeta memegang kamera untuk mengambil beberapa fose Olivia yang tersenyum memperlihatkan kebahagiaannya.
Selesai melakukan pengambilan gambar secara singkat , wajah Olivia di tutup dengan kain Veil.
Olivia dan Arzeta pun berangkat ke gereja. Begitupun dengan Olivier.
Meski berada di rumah yang sama, mereka naik mobil yang berbeda dan mereka akan di pertemuan kan di gereja.
***
Keadaan Revita sudah lebih membaik setelah hampir dua minggu di rawat. Tubuhnya juga sudah mulai berisi dan rambut-rambut mulai tumbuh.
Untuk menutupi botak pada kepalanya Revita menggunakan wig. Meskipun dokter menyatakan kepada Revita mulai membaik.Namun wajah Revita tampak begitu pucat. Wajahnya juga terlihat kendur karena terlalu kurus.
Revita mulai membereskan barang-barangnya sendiri. Ia mulai memasukkan pakaiannya satu persatu ke dalam koper.
Setelah semua siap, Revita keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Selama beberapa hari di rumah sakit tak ada satu orang pun yang datang menjenguknya.
Revita datang sendiri di rumah sakit, pulang pun ia sendiri. Sebenarnya dokter belum memperbolehkan Revita pulang karena berbagai alasan kesehatan. Namun, karena Revita sudah bosan menjalani hari-hari seorang diri di ruang perawatan, ia pun memutuskan untuk pulang.
Setelah melewati lift, tibalah Revita di lobi rumah sakit, dua minggu yang lalu Revita masih ingat di mana ia memarkirkan mobilnya.
Dengan langkah tertatih dan tangan yang gemetar Revita menarik kopernya membawa koper itu menuju parkiran mobil.
Revita memasukkan barang-barangnya ke dalam koper setelah itu ia masuk ke dalam mobil dan meluncur menuju rumah kediamannya.
Sekitar setengah jam Revita tiba di rumah,waktu menunjukkan pukul 08.30 pagi.
Turun dari mobil, Revita menurunkan kopernya.
Revita masih merasa pusing dan Ia ingin segera beristirahat seteribanya di rumah.
Tangan Revita gemetar membuka kunci rumah. Ketika pintu rumah terbuka. Kaki Revita terasa menginjak sesuatu.
Revita menoleh ke lantai dan menemukan sebuah undangan.
Revita meraih undangan itu membacanya.Seketika Revita membelalakkan bola matanya ketika melihat nama kedua mempelai di dalam undangan tersebut, air mata pun perlahan menetes di pipinya.
"Hiks, tidak! aku tidak boleh membiarkan mereka menikah!"
Dengan langkah cepat Revita keluar dari rumahnya, kemudian ia kembali menutup pintu rumah dan menuju mobil.
Saat itu juga Revita langsung tancap gas. Sesekali ia melihat dimana lokasi pernikahan Oliver dan Oliva.
"Hiks, Bodohnya Aku merestui hubungan mereka, harusnya aku tak melakukan ini meski aku begitu membenci keduanya. Harusnya aku katakan jika Olivia adalah darah daging Oliver! Kenapa aku bodoh sekali !" Revita begitu menyesali kebodohannya.
Berkali - kali ia memukul setir untuk meluapkan kekesalannya pada dirinya sendiri.
Sambil menyesali keputusannya Revita semakin melajukan mobilnya menuju gereja dimana pemberkatan nikah Olivia dan Oliver berlangsung.
Berhasilkah Revita ?
Bersambung. Jangan lupa dukung buat outhor ya reader minimal jempol lah ya
__ADS_1
🤣🤣🙈