Bukan Ikatan Cinta Sedarah

Bukan Ikatan Cinta Sedarah
Berita Duka


__ADS_3

Setelah pemberkatan pernikahan di gereja, Oliver membawa Revita ke rumah sakit. Namun, saat di perjalanan Revita merasakan sakit yang luar biasa pada bagian perut dan pinggang nya.


Karena tak sanggup lagi menahan perasaan sakit itu, Revita bersandar pada tubuh Oliver.


Oliver mengira jika hanya ingin Revita bermanja-manja dengannya. Oliver pun merangkul Revita.


Namun, dugaan Oliver itu salah karena ia mendengar suara rintihan Revita yang mengadu kesakitan.


"Aw sakit sekali!" rintih Revita dengan lirik sambil menangis.


Oliver yang kaget, segera menoleh ke arah Revita.


"Raisa? Kamu kenapa?" tanya Oliver yang panik.


Revita tidak menjawab pertanyaan Oliver, ia semakin sibuk mengeluh kesakitannya.


"Pak sopir percepat laju mobilnya, kita harus sampai di rumah sakit secepatnya!"


"Siap Tuan!"


Mobil yang membawa mereka melaju menuju rumah sakit dan hanya sekitar 10 menit Mereka pun tiba.


Mobil langsung menuju ke unit gawat darurat, karena saat itu Revita sudah Kehilangan kesadarannya.


Oliver mengangkat tubuh Revita kemudian meletakkannya di atas bed Hospital, setibanya di ruang UGD, Revita langsung mendapatkan penanganan.


Cukup lama Revita diperiksa oleh dokter spesialis yang menangani penyakit kankernya.


"Bagaimana keadaannya dokter?" tanya Oliver.


"Sepertinya penyakit itu sudah menyerang pada bagian ginjal dan juga kelenjar getah bening pasien."


"Lalu apa yang bisa saya dilakukan untuk menyelamatkannya?"


"kami tidak bisa melakukan tindakan pembedahan karena kondisi pasien, begitupun dengan kemoterapi. Kondisi pasien saat ini sangat lemah dan Saya khawatir tubuhnya tidak kuat merespon obat-obatan saat kemoterapi. Jadi kami hanya melanjutkan pengobatan yang sebelumnya."


Olivier terdiam sambil menatap dokter.


"Jadi tidak ada tindakan lanjutan untuk mengobati penyakitnya, apa yang bisa dilakukan, ya paling tidak ia tidak merasakan kesakitan."


"Kami hanya bisa memberikan obat pengurang rasa nyeri dan juga obat-obatan yang bisa memperkuat daya tubuh tahan tubuhnya, hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan pasien."


" Kalau begitu saya permisi,"kata dokter itu sambil berlalu meninggalkan Oliver.


Oliver menatap kepergian dokter itu. Kemudian ia memandang ke arah Revita.


Oliver mengusap kepala Revita hingga Revita kembali tersadar.


Oliver tersenyum. Ia begitu merasa iba terhadap Revita sampai bola matanya berembun ketika melihat Revita.


"Dimana aku?" tanya Revita dengan ekspresi ketakutan, sambil mengedarkan pandangannya.

__ADS_1


"Kau di rumah sakit."


"Di rumah sakit?"


Revita melihat pakaian yang dikenakannya sambil menelan salivanya .


'Oh, ternyata hanya mimpi."


"Mimpi apa?' tanya Oliver.


"Tadi aku bermimpi aku dibawa ke sebuah tempat yang begitu terang saking terangnya aku sampai tidak bisa melihat. Tempat itu begitu sunyi dan sepi seperti tidak ada apapun di sana.Aku jadi ketakutan , aku berusaha berteriak. Namun, suaraku tidak sampai. Aku takut kembali ke tempat itu lagi."


"Sudahlah itu tidak akan terjadi, sekarang kau sudah sadar dan Sebentar lagi kau akan dibawa ke ruang perawatan mu."


"Iya."


"Kau ingin makan sesuatu?" tanya Oliver.


"Iya aku ingin makan sop iga. Aku lapar sekali."


"Baiklah akan ku telepon seseorang untuk membelikan iga sapi untukmu."


"Aku juga ingin makan nasi dan jus tomat." Revita menambahkan lagi.


"Baiklah, ada yang lagi yang ingin kau makan?" tanya Oliver.


Oliver berusaha menahan air matanya melihat Revita. Setelah berbulan-bulan dirawat di rumah sakit baru kali ini Iya meminta makanan dan minuman.


"Iya."


Beberapa saat kemudian datang seorang suster yang membawa Revita ruang perawatannya.


Sekitar setengah jam pesanan Revita pun datang.


Dengan sabar Oliver menyiapkan Revita makan.Revita sangat bersemangat sekali makan saat itu. Satu porsi sop iga dan nasi, habis ia makan tanpa ada keluhan.


Wajahnya pun dibanjiri oleh keringat karena metabolisme tubuhnya mulai bekerja.


"Kau tampak segar setelah makan yang banyak," kata Oliver sambil mengusap keringat yang membanjir kening dan wajah Revita.


"Iya aku lapar sekali. Sudah berapa lama aku tidak selera makan dan entah kenapa hari ini makan yang banyak."


"Kalau begitu minumlah jus pesananmu,' kata Oliver Seraya memberikan jus tomat pada Revita.


Lagi-lagi Revita meminum jus tomat itu sampai habis, dia terlihat begitu puas dan kenyang.


"Kau ingin makan sesuatu lagi?" tanya Oliver


"Tidak Aku ingin istirahat saja."


"Baiklah kau istirahat saja mungkin kau kelelahan," kata Oliver sambil mengusap kepala Revita.

__ADS_1


Sementara Revita tertidur,Oliver membuka pakaiannya karena ia merasa gerah dan ingin segera mandi.


Oliver meninggalkan Revita beberapa saat untuk mandi. Sekitar setengah jam, ia kembali memakai pakaian sehari-harinya agar lebih santai.


Olivier melirik jam dinding waktu menunjukkan pukul 4 sore. Perutnya terasa begitu lapar karena dia tidak sempat makan siang.


"Sebaiknya aku pesan makanan saja. Oh ya aku bangunkan saja Raisa, siapa tahu dia ingin makan sesuatu."


Oliver menghampiri Revita yang masih tertidur lelap.


"Raisa, bangun Raisa! Aku ingin membeli makanan, apa kau Ingin menitip sesuatu?" tanya Oliver sambil mengguncang pelan tubuh Revita .


Setelah beberapa kali mengguncang tubuh Revita, tetap saja tak mendapatkan reaksi, bahkan Revita tidak bergerak sedikitpun.


Hal itu membuat Oliver kaget sekaligus panik.


"Raisa bangun! Raisa! Raisa bangun Raisa!" Panggil Oliver berkali-kali sambil menepuk kedua pipi Raisa dengan pelan.


Oliver semakin panik karena Raisa tetap tak bereaksi Ia pun menekan tombol darurat yang ada di dinding.


"Raisa! bangun Raisa!"Oliver masih terus mencoba untuk membangunkan Revita. Dia semakin kuat mengguncang tubuh Revita. Namun, Revita tetap tidak bereaksi.


Beberapa saat kemudian dua orang suster datang menghampiri ruangan Revita, Suster itu memeriksa keadaan Revita.


***


Olivia dan Arzeta sedang berada di kamarnya sedang bercanda dan tertawa sambil menonton film kartun kegemarannya.


Namun, tiba-tiba tawa Olivia berhenti. Ada sesuatu yang terasa menusuk di hatinya, Olivia pun meringis kesakitan bagian dadanya.


"Liv, lo kenapa?" tanya Arzeta ketika melihat perubahan wajah Olivia yang sangat signifikan.


"Nggak tahu, tiba-tiba dada gue terasa nyeri."


"Masuk angin tuh! lo telat makan kali, " kata Arzeta sambil mengunyah biskuit yang diberikan Nyonya Regina untuk mereka berdua.


"Mungkin saja, sejak Mami di rumah sakit, aku jadi nggak selera makan.Aku kasihan melihat Mami yang nggak bisa makan."


Tiba-tiba mereka berdua mendengar suara getaran handphone Olivia yang terletak di atas meja.


Dengan malas-malasan Olivia meraih handphonenya itu. Dilihatnya panggilan telepon itu dari Oliver.


Setelah itu ia mengusap layar handphonenya untuk menerima panggilan.


"Halo."


"Olivia ! Kamu ke rumah sakit sekarang juga Mami kamu sudah meninggal dunia!" suara Oliver terdengar sedih pada parau.


Bola mata Olivia seketika membelalak sempurna, tubuhnya membeku hingga handphone itu terjatuh dari genggamannya.


"Mami! hiks."

__ADS_1


__ADS_2