
Waktu terus berlalu, Olivia dan Oliver mulai menemukan kebahagiaan mereka dengan menjalin hubungan asmara masing-masing pasangan.
Olivia tetap menjalani aktivitasnya sebagai mahasiswi, sementara Arzeta harus cuti kuliah karena sibuk mempersiapkan pernikahannya bersama Olivier.
Setelah berbulan-bulan menjalani hubungan singkat ,Arzeta dan Olivier mantap untuk menikah.
Dan hari ini adalah hari pernikahan Arzeta dan Olivier. Mereka melakukan pemberkatan pernikahan di gereja.
Arzeta tampak begitu cantik dengan gaun pengantin mewahnya dengan kain veil yang menutupi kepalanya. Dia bersanding dengan sosok tampan yang gagah dan keren.
"Kalian saya nyatakan sebagai pasangan suami-isteri. Silahkan mencium pengantin mu," kata pendeta.
Tepukan tangan meriah terdengar memenuhi ruang itu, Olivia dan Lucan turut bahagia saat Oliver membuka penutup wajah Arzeta dan mencium istrinya itu di hadapan tamu undangan.
Didepan para tamu yang hadir, Oliver dan Arzeta berciuman mesra kemudian menyematkan cincin kejari masing-masing.
"Aku rasanya sudah tidak sabar untuk melakukannya hal yang sama, mencium mu di saksikan jemaat gereja," bisik Lucan ke tepi telinga Olivia .
Olivia tersenyum tersipu.
"Masih lama tau," ucap Olivia sambil memukul lengan Lucan.
Keduanya pun saling melempar senyuman penuh cinta.
Bastian ikut menghadiri acara pemberkatan nikah itu. Sejak tadi ia terus saja memandangi Olivia dan Lucan.
Tatapan matanya penuh dendam, bagaimana tidak? Karena penolakan Olivia, ia jadi malu, karena kalah saing bersama seorang asisten seperti Lucan .
Setelah acara pemberkatan nikah itu, Acara di lanjutkan dengan resepsi.
Arzeta dan Olivier berjalan melewati koridor gereja di dampingi orang-orang terdekat mereka.
Setibanya di luar gedung gereja itu mobil pengantin sudah siap membawa pengantin itu.
Arzeta dan Olivier memasuki mobil sambil melambaikan tangannya kedua pasangan beda generasi itu terlihat bahagia sambil melambaikan tangan ke arah orang-orang sekitarnya.
Setelah masuk kedalam mobil Arzeta kembali melambaikan tangannya.
"Dadah mami sambung!" teriak Olivia saat Arzeta melambaikan tangannya sambil menjulurkan lidahnya ke arah Olivia .Mereka memang masih kekanak-kanakan, beruntung kedunya tetap akur.
Mobil pun perlahan menjauh dari Olivia.
Nyonya Regina menghampiri Olivia .
"Olivia, kamu naik mobil sama Oma saja ya," ajak nyonya Regina yang tidak senang melihat kedekatan mereka.
"Ngak mau Oma, Livia sama mas Lucan saja ya Oma." Olivia langsung menggandeng tangan Lucan .
"Ayo Mas, kita ke gedung resepsi!"
"Permisi Nyonya," ucap Lucan seraya berlalu dari Nyonya Regina
Nyonya Regina menatap sinis punggung Olivia dan Lucan. Sampai saat ini ia masih belum bisa merestui hubungan antara Olivia dan Lucan.
"Ayo Sayang."Lucan membuka pintu mobil untuk Olivia.
Bastian menghampiri nyonya Regina yang berdiam diri sambil menatap Olivia.
"Kamu masih menginginkan Olivia?" tanya nyonya Regina karena menyadari Bastian menghampirinya.
"Tentu saja Nyonya."
"Kalau begitu, kamu harus bisa membuat Olivia membenci Lucan."
'Maksud Nyonya?" tanya Bastian.
Nyonya Regina meminta Bastian mendekat agar ia bisa membisikkan rencana busuknya ke telinga Bastian.
Bastian tersenyum.
"Oh iya harusnya hal itu bisa kulakukan, aku tidak menyangka jika Anda orang yang cerdik nyonya."
Nyonya Regina hanya tersenyum tipis.
"Lakukan saja apa yang ku suruh, ingat jangan sampai Olivia tahu dengan rencana kita."
"Baik Nyonya." Bastian pun tersenyum menyeringai.
***
Pernikahan Olivier dan Arzeta adalah pernikahan yang begitu mewah dan megah sepanjang tahun ini. Pernikahan ini dihadiri oleh tamu-tamu yang punya kedudukan penting di pusat pemerintahan. Tamu mereka juga dihadiri oleh kerabat dekat dan rekan bisnis Oliver dan nyonya Regina.
Olivia dan Arzeta juga tak lupa mengundang teman-teman kuliah mereka.
__ADS_1
Pesta itu mengusung tema bebas di mana para undangan bebas menikmati hidangan yang tersaji dan juga acara hiburan.
Kedua mempelai pun bebas berkeliaran menghampiri para tamu dan berfoto-foto.
Olivia dan Arzeta pun terlihat akur, mereka terlihat sesekali tertawa renyah saat bercanda bersama teman-temannya dan berfoto bersama.
Di hari itu kebahagiaan tak hanya milik kedua mempelai tapi juga Olivia sebagai putri dan juga sahabat dari kedua mempelai.
Acara resepsi pernikahan berakhir pada pukul delapan malam. Acara resepsi yang sungguh mewah dan megah serta memberikan kesan yang tak terlupakan bagi orang-orang terdekat mempelai.
Setelah acara resepsi Oliver dan Arzeta akan menghabiskan malam pertama mereka di sebuah hotel.
mereka berempat pun bersama-sama menuju lobby gedung, Saat berjalan beriringan Olivia berbisik kepada Arzeta.
"Nanti beritahu pada ku, bagaimana malam pertama mu ya," kata Olivia.
'Haha, tenang saja, apa perlu live streaming?"
"Haha boleh juga."
Olivier yang mendengar keusilan putrinya langsung menjentik telinga Olivia .
"Ihs, apaan sih Papi!" dengus Olivia mengusap telinga yang memerah.
"Hus, kamu masih kecil, jangan ikut campur urusan orang tua!"
"Ih biarin, aku dan Arzeta itu sahabat, tidak ada dusta diantara kami, iya kan Zet?"
"Hih iya, Pi."
"Ih kok kamu panggil Papi aku papi, sih?" dengus Olivia .
"Emangnya kenapa? masa' aku mau panggil suami ku dengan panggilan Om."
"Panggil Mas kek, nanti kalau kamu panggil papi juga, ntar orang kira kita saudaraan."
"Mami aku panggil papi aku juga Papi, ya gak masalah lah, iya kan Papi?" tanya Arzeta pada Olivier.
"Iya Mami," kata Oliver.
Olivia mencebikkan bibirnya, karena merasa cemburu Oliver lebih membela Arzetta.
Mereka pun tiba di lobby gedung.
"Dah Olivia!" seru Arzeta.
"Dah Zeta, jangan lupa live streamingnya ya! " seru Olivia.
"Oke!"
Olivia melambaikan tangannya sampai mobil itu menghilang dari pandangannya.
"Sudah yuk Sayang, aku antar pulang," kata Lucan.
Lucan merasa kepalanya sedikit sakit, karena itulah ia mengajak Olivia untuk segera pulang.
Olivia dan Lucan masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.
sambil menyetir Lucan terlihat menggosok matanya, yang mulai terasa sendu, ia seperti gelisah. Ia duduk sambil meliukkan tubuhnya dalam keadaan menyetir.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Olivia ketika melihat perubahan pada wajah Lucan yang memerah.
Tatapan Lucan pun berubah menjadi tatapan mesum. Tiba-tiba saja Lucan memberhentikan mobilnya di tengah jalan.
"Mas kamu kenapa sih Mas?" tanya Olivia khawatir.
Lucan menggigit bibir bagian bawahnya dengan tubuh yang bergidik. bulu-bulu halus terlihat meremang pada bagian wajah dan tangan Lucan .
Olivia terus memperhatikan keanehan pada kekasihnya itu.
"Liv, sebaiknya kamu telepon supir pribadi kamu Liv."
"Mas Lucan kenapa? kamu sakit?"tanya Olivia yang masih belum mengerti.
Lucan meremas rambutnya. Tubuhnya ia bungkukan, gelora hasrat itu semakin lama semakin kuat..
"Liv, tolong aku Liv, sepertinya ada yang sengaja memberikan ku obat perangsang. Kamu pulang saja Liv, aku tidak mau kamu jadi korban."
Hah? Olivia semakin tidak mengerti.
"Akh! Liv tolong aku Liv, aku gak bisa mengendalikan perasaan aku! akh! Kamu pergi dari sini Liv!" Lucan berteriak.
Hasratnya sudah bergelora-lora. Lucan mencoba menahan perasaannya.
__ADS_1
"Mas kamu ini ngomong apa sih?!"tanya Olivia.
"Liv, kamu pergi saja Liv! Aku gak kuat kalau harus menahan lebih lama."
Lucan merasakan sekujur tubuhnya panas, karena gairah hasrat yang terpendam.
Meskipun begitu Lucan tak mau menatap Olivia, dia takut berbuat khilaf.
Karena Olivia merasa aneh,Olivia menelpon sopir pribadinya.
Ia juga enggan meninggalkan Lucan.
mobil Bastian berhenti di belakang mobil Lucan .
Bastian segera menghampiri mobil dan mengetuk pintu mobil .
Tok tok
"Olivia, buka pintunya!" seru Bastian sambil mengetuk-ngetuk pintu mobil.
Olivia heran kenapa Bastian bisa berhenti.
Olivia membuka kaca jendela mobilnya.
"Ada apa Bas?" tanya Olivia.
"Kamu tidak apa-apa kan Liv?"tanya Bastian pura-pura cemas.
"Gak papa,"
Olivia mulai menaruh kecurigaannya pada Bastian.
"Ayo kamu pulang sama aku liv, daripada kamu pulang sama dia nanti kamu jadi korbannya."
"Korban apa?"tanya Olivia heran.
Sementara Lucan masih terus mengerang menahan panas dingin tubuhnya karena di landa syahwat.
"Ayolah Liv, kamu tidak lihat seperti apa dia, aku tadi lihat meminum pil perangsang. Aku takut dia nekad melakukan sesuatu yang tak di inginkan," kata Bastian memberikan alasan.
"Gak mau! Aku tahu ini pasti rencana kamu kan?!" Olivia berbalik menuduh Bastian.
"Kok kamu bilang rencana aku sih Liv?" tanya Bastian gugup.
"Iya kalau ini bukan rencana kamu kenapa kamu tahu mas Lucan minum obat perangsang?"
Bastian semakin gelapan menjawab pertanyaan Olivia .
"Pokoknya kamu harus ikut aku Liv, jangan sampai kamu jadi korban."
"Gak! aku nggak mau meninggalkan dia sendiri di sini!"
"Tapi Liv, ini sangat berbahaya, ayolah kamu lebih aman pulang bersamaku."
"Gak !aku gak mau!"
Bastian pun tidak bisa memaksa Olivia. Ia kembali ke dalam mobilnya. Untuk memastikan keadaan Olivia tetap aman, Bastian mengawasi mereka dari dalam mobil.
Lucan menangis sambil mengusap wajah dan menjambak rambutnya, perasaannya benar-benar tersiksa saat itu karena tak bisa melampiaskan hasratnya.
Olivia tetap setia menunggu Lucan. Ia takut Lucan akan berbuat nekad dan melakukan tindakan pelecehan terhadap gadis lain karena tak kuat menahan hasratnya, dia tak mau kekasih itu mendapatkan masalah besar.
Lucan terus menangis, mengerang serta menjambak-jambak rambutnya, karena frustasi.
"Hiks, pergi saja Liv, tinggalkan aku sendiri."
"Tidak Mas, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu."
Olivia tetap ngotot bersama Lucan di dalam mobil itu.
Beberapa saat kemudian sopir Oliver datang, Olivia membawa Lucan ke sebuah klinik untuk menghilangkan reaksi obat perangsang yang tak sengaja ia minum.
Dengan bantuan medis Lucan berhasil mengatasi efek dari obat tersebut meskipun dia sampai kehilangan kesadarannya.
Dengan kejadian seperti itu, Olivia sen6akin yakin cintanya terhadap Lucan.
Meskipun Lucan berada dalam tekanan syahwatnya, Lucan tetap berusaha menahan hasratnya demi menjaga kehormatan Olivia.
Olivia menatap wajah Lucan yang pucat, di usapnya wajah tampan itu.
"Kamu tenang saja Mas, akan aku adukan hal ini kepada Papi dan aku tahu siapa dalang di balik semua ini," kata Olivia sambil mengusap rambut Lucan.
Olivia memberanikan diri mencium pipi pujaan hatinya itu, kemudian ia tersenyum.
__ADS_1
Lucan meremas rambutnya