
Kesunyian sebelumnya di gereja, menjadi kegaduhan yang di penuhi suara isak tangis, baik dari regina maupun dari Revita dan juga Olivia.
"Maafkan mami Olivia!" tangis Revita dalam pelukan Olivia.
Meskipun perih, Olivia memilih untuk ber besar hati.
"Iya Mami, kalau begitu kita pulang saja." Olivia sudah tak mampu menahan amarah dan perasaan malunya untuk tinggal lebih lama di tempat itu.
Ia malu pada semua orang, bahkan dengan Olivier. 'Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada ayah biologis ku sendiri,' batin Olivia.
Tak hanya merencanakan resepsi pernikahan yang megah dan mewah, mereka bahkan merencanakan akan berbulan madu keliling dunia, bukan kah itu sangat menjijikkan.
Mengingat semua kenangan manis dan romantisnya yang pernah ia lalu bersama Oliver membuat Olivia semakin tertekan.
Olivia dan Arzeta membantu Revita untuk berjalan menuju mobil mereka. Sambil berjalan melewati altar Revita dan Olivia masih menangis. Keduanya masuk kedalam mobil tanpa ada yang mencegah kepergian mereka.
Mobil Revita melaju meninggalkan gereja itu.
Olivia duduk termenung seraya meneteskan air matanya. Sambil menyetir Revita melirik ke arah Olivia.
"Maaf kan Mami Nak, ucap Revita dengan tulus," harusnya Mami tidak membiarkan kalian menjalin hubungan sejauh ini."
Olivia merasakan getaran tangan Revita , ia pun baru menyadari perubahan drastis yang terjadi pada Revita.
Wajah Revita terlihat begitu pucat dengan bibir biru dan kulit yang mengering.
Olivia segera menghapus tetesan air matanya. Sekarang pikirannya terfokus pada keadaan Revita yang sepertinya tidak sehat.
"Mami, apa yang terjadi pada Mami?" tanya Olivia.
Revita masih melanjutkan perjalanan dengan mengemudikan mobil, meskipun tangan dan tubuhnya gemetaran.
"Mami menderita kanker Serviks dan selama enam bulan mami sudah menjalani beberapa kali kemoterapi."
"Kanker Serviks?'' tanya Olivia sambil membelalakkan bola matanya.
Olivia segera menghapus sisa-sisa air matanya, berusaha untuk melupakan kejadian yang baru saja terjadi, ia lebih mengkhawatirkan keadaan Revita .
Olivia menatap Revita dengan bola mata yang berpendar.
"Iya Olivia, mungkin usia mami tak akan lama lagi."
Revita kemudian melepaskan wig yang menutupi sebagian kepalanya yang botak.
Olivia semakin kaget, air matanya berurai begitu saja.
"Hiks, Mami, Kenapa mami tidak bilang pada Livia jika mami mengidap penyakit ganas ini?" Olivia langsung memeluk Revita.
"Karena mami hanya ingin sendiri. Dengan kesendirian mami bisa merenung apa yang sebenarnya telah terjadi dalam hidup ini Olivia."
__ADS_1
Hiks, masih terdengar tangis Olivia.
'Kamu tidak tahu bagaimana sulitnya mami menjalani hidup sendiri, bagaimana beban hidup membuat mami gelap mata Olivia," dengan tangan gemetar Revita mengusap rambut Olivia.
Sambil menyetir Revita menceritakan bagaimana ia bisa sampai mengandung Olivia dan apa yang terjadi padanya hingga ia bisa terjerumus di lembah hitam.
"Mami memberikan kamu nama Olivia, agar mami selalu ingat siapa laki-laki yang membuat kamu terlahir di dunia, saat kelahiran kamu mami sempat mengalami baby blues sindrom. Beberapa kali mami mencoba bunuh diri karena gak tahu harus kemana membawa kamu."
"Baby Blues sindrom sebenarnya bisa hilang jika mendapatkan dukungan keluarga, tapi stress yang mami alami justru membuat mami semakin depresi. Semua orang menghina kamu dan mengatakan kamu anak haram, belum lagi masalah ekonomi, beberapa rentenir sudah menagih hutang-hutangnya, belum lagi membeli susu untuk kamu, karena mami tak bisa menyusui, hiks." Air mata Revita berderai derai menceritakan masalah yang menimpanya.
"Bahkan setelah di rawat di rumah sakit jiwa karena depresi, mami kembali harus merawat kamu dan tak bisa meninggalkan kamu. Sebenarnya mami bisa saja memberikan kamu pada orang lain atau menitipkan kamu di panti asuhan. Namun, entah kenapa mami gak percaya jika orang lain yang merawat dan mengurus kamu. Mami pun memilih untuk tetap menjaga kamu, meski harus menjajakan cinta demi menyambung hidup sehari-hari."
Olivia semakin erat memeluk Revita. Mendengar kisah Revita, ia yakin jika Revita sebenarnya sangat menyayanginya, mungkin karena Revita memiliki gangguan bipolar.
***
Sementara Oliver dan nyonya Regina saling menatap, kericuhan masih terdengar di dalam gereja, kejadian itu seketika menjadi gosip hangat sehingga membuat para tamu bersemangat untuk bergosip ria.
Ada juga ikut prihatin dalam masalah ini.
Oliver menatap tajam ke arah Regina selama beberapa saat, kemudian Oliver juga pergi meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan kacau.
***
Oliver mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tanpa arah dan tujuan. Karena tak tahu harus kemana, Ia pun menepi di sebuah taman kota yang begitu sepi.
Oliver keluar dari mobil kemudian membanting pintu mobil dengan keras.
Dengan langkah kaki yang gontai, Oliver berjalan menyusuri jalan setapak di taman itu.
Wajah Olivier beringas, seperti di penuhi amarah dan harus ia tumpahkan saat itu juga .
Masih terngiang-ngiang di telinganya bagaimana Revita mengatakan jika Olivia adalah darah dagingnya.
Sambil berjalan cepat Oliver menutup telinganya, agar kata-kata Revita tidak mengaung-ngaung di telinganya.
'Dia adalah cucu yang tak pernah kau akui Nyonya!'
Oliver semakin mempercepat langkah kakinya menuju danau di ujung taman, langkah kaki Oliver semakin cepat dan akhirnya berlari.
Tiba di ujung Danau Oliver melepaskan cincin tunangannya kemudian membuangnya ke danau
"Akh!" teriakan Oliver menggema di tempat yang sunyi dan sepi itu.
Seketika Oliver berlutut sambil memandangi hamparan air danau.
Tak terasa bulir bening menetes di pipinya.
"Bagaimana bisa, aku jatuh cinta dan hampir menikahi anak ku sendiri, hiks."
__ADS_1
"Akh!" Oliver kembali menjerit sampai suaranya habis
Oliver menundukkan kepalanya sambil meneteskan air matanya.
Dengan tubuh yang terguncang Oliver mengingat kejadian masa lalunya.
Flashback.20 tahun yang lalu.
Saat ia pulang setelah enam bulan berada di luar negri pulang ke rumahnya ia sengaja tak memberitahu siapa pun tentang kedatangannya.
Kaki Oliver begitu cepat memasuki rumahnya, Oliver segera berlari menuju kamar Raisa dengan sebuah totebag.
Oliver mencari keberadaan Raisa. Namun ia tak mendapati Raisa.
Oliver pun menghampiri para asisten rumah tangganya.
"Bi Raisa dan Bi Jumi di mana?" tanya Oliver.
Ketiga asisten rumah tangganya itu saling memandang.
"Raisa dan Bi Jumi pulang kampung tuan muda."
"Pulang kampung ? Kapan mereka akan kembali?"
"Sepertinya tidak akan kembali tuan muda, karena Raisa sudah menikah dan Bi Jumi memilih untuk tinggal bersama Raisa di kampungnya."
Seketika totebag yang ditenteng Oliver terlepas begitu saja.
"Apa Raisa menikah?"
"Iya tuan muda, beberapa bulan yang lalu tunangan Raisa menjemputnya kemari dan mungkin saat ini mereka sudah menikah."
Saat Oliver menanyakan tentang Raisa kepada para asisten rumah tangganya, mereka kompak menjawab jika Raisa pulang kampung dan menikah dengan tunangannya.
Oliver pun percaya-percaya saja, karena tak hanya satu orang yang mengatakan hal itu padanya, semua asisten rumah tangganya mengatakan hal yang serupa.
Sejak mengetahui Raisa menikah, Oliver jarang pulang, bahkan saat perayaan natal dan hari besar, Regina dan Tuan Gerryl lah yang datang menghampiri Oliver.
Oliver menutup kisah cinta singkatnya bersama Raisa dan menjadikan hal itu sebagai pengalaman yang bearti dalam hidupnya.
Flashback off.
****
Oliver meneteskan air matanya, ia merasa dunia begitu kejam karena mempertemukan dirinya dan Olivia dalam situasi yang salah.
Atau dirinya yang tak menyadari jika perasaan Sayangnya, cinta kasihnya terhadap Olivia adalah ikatan batin yang di salah artikan.
Oliver menangis tergugu, ingin rasanya berteriak dan mencari seseorang yang patut disalah kan.
__ADS_1
Bersambung