Bukan Ikatan Cinta Sedarah

Bukan Ikatan Cinta Sedarah
Tinggal di Rumah Oma


__ADS_3

Setelah selesai dengan acara pemberkatan pernikahan Revita dan Oliver mereka pun keluar dari gereja tersebut.


Revita tampak begitu bahagia, sesekali air mata haru menetes di pipinya. Meskipun bagian pinggangnya terasa begitu sakit.


Oliver mendorong kursi roda Revita melewati Altar.


"Sebaiknya kita segera ke rumah sakit lagi, biar mami kamu secepatnya mendapatkan perawatan kembali," kata Oliver .


" Iya Pi, berhubung malam ini malam pertama mami dan papi, bagaimana kalau Livia nginep di kost an Arzeta saja "


"Loh kenapa begitu?" tanya Oliver.


"Livia nggak mau ganggu pengantin baru aja," kata Olivia sambil tersenyum.


"Ya sudah! jangan keluyuran ya," kata Oliver.


"Iya sip deh Pi."


"Lucan kamu jaga Olivia!" titah Oliver.


'Dengan senang hati,' batin Lucan.


Lucan pun mengangguk kan kepala.


Sebuah mobil tiba-tiba menghampiri mereka.


Dan Oliver mengenal mobil itu. Ia pun menunggu sampai pemilik mobil itu turun.


Nyonya Regina turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Setelah itu ia berjalan cepat menghampiri Oliver .


"Apa-apaan kamu Oliver, mau maunya kamu menikah di perempuan penyakitan seperti dia!" cecar Nyonya Regina.


"Mami apaan sih, aku kan sudah bilang kalau aku akan menepati janjiku pada Raisa."


Tapi Oliver, apa Kamu nggak lihat, kamu dan dia itu sangat jauh berbeda. Kamu masih ganteng, masih segar bugar, ngak kayak wanita ini, wajahnya saja sudah keriputan seperti itu."


Olivia membelalakkan bola matanya mendengar hinaan dari nyonya Regina.


" Harusnya kamu bisa dapat perempuan yang lebih baik dari dia!"cecar Nyonya Regina.


'Oma! Sekali-sekali jangan menghina Mami Livia." Olivia menatap sinis ke arah Regina.


Nyonya Regina langsung menoleh ke arah Olivia dan menatapnya dengan lembut.


Nyonya Regina menghampiri Olivia Olivia kemudian menyentuh pipi Olivia dengan telapak tangannya, bola matanya berembun menatap Olivia dengan wajah juteknya.


"Cucu Oma sayang, kita pulang ke rumah Oma yuk. Nanti Oma belikan mobil mewah untuk kamu kuliah. Pokoknya kamu akan jadi tuan putri di rumah oma. Aku sayang sudah menunggu dia pasti senang kehadiran kamu."


"Nggak mau Oma, Livia mau merawat mami, kasihan mami gak ada yang jaga, Papi kan harus kerja," kata Olivia dengan wajah juteknya.


"Iya kamu pergi sebentar saja, tinggallah di rumah Oma selama beberapa hari saja."


Meski kesal dengan Nyonya Regina namun Olivia mencoba mempertimbangkan tawaran tersebut demi menghormati Oliver.


Olivia memalingkan wajahnya ke arah Revita, seperti meminta ijin.


Revita mengangguk lirih.


"Iya Oma, tapi Livia mau jalan-jalan dulu sama Arzeta nanti mas Lucan yang antar ke rumah Oma."

__ADS_1


"Iya Sayang. Kamu harus datang ya Oma punya sesuatu yang spesial untuk kamu."kata Nyonya Regina sambil mengusap pipi Olivia.


"Tapi Livia boleh ajak Arzeta kan?"


"Iya Sayang, ajak siapa saja boleh. Oma tunggu."


"Iya Oma."


Melihat Olivia, kemarahan Regina langsung mereda, ia memang sudah lama merindukan seorang cucu.


Nyonya Regina pun kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan tempat tersebut.


Oliver mengangkat tubuh Revita dan membawanya ke dalam mobil. Setelah itu ia menyimpan kursi roda Revita di bagian belakang mobil. Setelah itu barulah Oliver duduk di samping Revita


"Dah Mami!" Olivia Melambaikan tangannya ke arah mobil yang berjalan perlahan meninggalkan mereka.


Olivia melambaikan tangan sampai mobil itu tak terlihat lagi.


"Udah yuk kita pergi dari sini," kata Olivia.


"Kita mau ke mana Liv?" tanya Arzeta.


"Sebenarnya gue mau mengajak kalian jalan-jalan, tapi gak jadi deh. Kita pulang ke rumah Oma gue saja ya."


"Iya Liv, Oma kamu sepertinya begitu menyayangi kamu. Aku senang sekali, setelah dari kecil hidup menderita, akhirnya kamu menemukan kebahagiaan kamu Liv. Kamu punya Papi yang kaya dan Oma yang sangat menyayangi kamu."


"Sekarang tuh dunia terbalik, dulu aku yang hidup senang dari kecil berlimpah harta, tapi sekarang harus berusaha mengais rezeki sendiri." Arzeta menambahkan.


"Iya Zet, hidup ini memang seperti roda yang berputar."


'kamu ikut aku ya Zet, ke rumah Oma, meskipun Oma terlihat baik, tapi kan aku masih merasa dia itu orang asing. Dan rasanya aneh saja dulu aku datang ke rumah itu sebagai calon menantu oma, sekarang aku datang ke rumah itu sebagai cucunya. Jujur aku malu Zet."


"Ya sudahlah Liv, semua ini terjadi begitu saja, jika enggak ada kejadian seperti ini mungkin kamu nggak akan pernah bertemu dengan Papi kamu."


"Mas Lucan, tolong antar Livia ke rumah Oma ya."


"Iya nona," kata Lucan sambil membukakan pintu untuk Olivia.


Arzeta terus mengamati gerak gerik Lucan. Tatapan Lucan sangat berbeda terhadap Olivia.


Zeta harus membuka pintu mobil sendiri. Setelah semuanya berada di dalam mobil mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut.


***


Tak ada pembicaraan di dalam mobil, keadaan hening. Hingga tak terasa lima belas menit mereka pun tiba di rumah kediaman keluarga Oliver.


Arzeta terkagum-kagum dengan tempat tinggal Omanya Olivia. Meskipun dirinya dulu tergolong kaya.Namun, masih tidak setara dengan kekayaan keluarga Olivia.


"Mas Lucan, masuk dulu yuk," ajak Olivia sambil melepaskan sealbealt nya.


"Lain kali saja Nona. Jika butuh jemputan anda bisa hubungi saya."


"Ya sudah makasih ya."


"Sama-sama."


Olivia dan Arzeta turun dari mobil tersebut secara bersamaan. Mereka berdua bergandengan tangan menghamipiri pintu masuk.


"Permisi!" ucap kedunya.

__ADS_1


Baru saja berada di pintu rumah, Olivia di sambut ramah oleh Nyonya Regina dan tuan Gerryl.


"Olivia, sayang Oma pikir kamu akan jalan-jalan dulu baru singgah ke sini jadi Oma belum siapkan hadiahnya."


"Iya Oma, Livia pikir lain kali saja jalan-jalannya."


Olivia menghampiri tuan Gerryl yang tersenyum ke arahnya.


Kemudian ia mencium tangan Olivia.


Tuan Gerryl mencium pipi Olivia dengan haru, sepertinya ia begitu menyayangi Olivia.


"Kamu tinggal di sini ya Livia, temani Opa," pinta Tuan Gerryl.


"Iya tapi tidak bisa setiap hari, Livia harus merawat mami."


"Tidak harus setiap hari, yang penting sering-sering datang ke sini temui opa, opa sudah tua, Opa mau di temani cucu Opa menjalani masa tua Opa," kata tuan Gerryl sambil menatap Olivia dengan tatapan berembun.


" Iya, Opa." Olivia jadi terharu.


"Ya sudah sekarang kamu istirahat dulu, yuk Oma tunjukkan kamar kamu."


Nyonya Regina menuntun Olivia, menuju tangga kemudian mereka berjalan menghampiri sebuah ruangan.


Nyonya Regina membuka kamar Olivia.


"Silahkan beristirahat ya," kata nyonya Regina sambil mengusap pundak Olivia .


Pintu kamar di buka Olivia, keduanya menjadi begitu kaget karena melihat kamar tersebut begitu besar dengan desain yang mewah seperti kamar hotel .


"Ya ampun Livia, kamu beruntung sekali punya kakek dan nenek yang menyayangi kamu!"


"Iya aku juga nggak nyangka Jika mereka bisa menerima kehadiranku."


"Kamu pasti bahagia Olivia, karena tak hanya kakek dan nenek kamu saja yang sepertinya menyayangi, kamu ada seseorang lagi sepertinya menyayanginya kamu."


"Seseorang lagi, siapa? Papi aku? atau Mami aku?" tanya Olivia


"Bukan tapi mas Lucan," lirih Arzeta .


"Mas Lucan ?!"


"Iya, Mas Lucan sepertinya dia menyukai kamu."Arzeta menatap ke arah Olivia. Membuat Olivia tak enak hati.


"Tenang saja, aku takkan merebut mas Lucan dari kamu, tenang saja."


"Ngak apa Olivia, aku justru berfikir jika mas Lucan menyukai kamu, aku bersedia mundur kok."


"Kenapa begitu?"


"Karena mas Lucan menyukai kamu dan aku rela kok Liv, dari pada cinta ku bertepuk sebelah tangan."


"Ah sudahlah, jangan bicara itu lagi. Waktunya kita bersenang-senang dulu."


Olivia memeluk Arzeta.


"Apapun yang terjadi kamu tetap sahabat aku Liv," kata Arzeta.


"Iya Zet, kita akan tetap bersahabat apa pun yang terjadi."

__ADS_1


Keduanya pun saling memeluk erat.



__ADS_2