Bukan Ikatan Cinta Sedarah

Bukan Ikatan Cinta Sedarah
Jatuh Sakit


__ADS_3

Revita berada di sebuah kamar bersama pelanggan setianya yang merupakan seorang pengusaha.


Revita berbaring terlentang setelah melepaskan semua penutup tubuhnya dan siap melayani pria paruh baya itu.


Akh! Revita menjerit ketika senjata pria itu masuk kedalam goa sempit miliknya.


Laki-laki itu tak perduli dengan teriakan Revita, ia terus saja menyerang Revita dengan gerakan cepat.


"Akh! lepaskan Tuan Randy! Sakit!" teriak Revita.


Semakin Revita berteriak, pria itu malah semakin kuat menghentakkan senjatanya.


"Sudah Berhenti!' teriak Revita sambil menangis terisak-isak sambil memukul dada bidang dari pria itu.


Jeritan dan tangisan Revita tak membuat pria itu berhenti, dia pikir apa pun yang terjadi pada Revita, itu bukan urusannya, yang terpenting dia bisa menuntaskan hasratnya.


Karena tak kuat menahan rasa sakit, Revita lalu pingsan bertepatan dengan pria itu yang sudah mencapai puncak klimaksnya.


Pria itu mencabut singkongnya dan mendapati bercak darah.


"Sialan ternyata dia sedang menstruasi!"


Pria itu membersikan tubuhnya di kamar mandi, kemudian ia memakai pakaiannya dan meninggalkan uang sebesar 500 ribu untuk membayar jasa Revita. Padahal Revita memasang tarif 5 juta untuk sekali kencan.


Meskipun baru saja mendapatkan uang satu miliar dari Oliver, Revita tetap melakukan tugasnya, ia ingin menyimpan uang yang banyak untuk hari tuanya. Karena dia yakin tak ada yang akan mengurusinya setelah ia tua dan tak lagi bekerja.


Revita terbaring tak sadarkan diri dengan wajah yang pucat dan bagian intim yang berdarah.


***


Beberapa hari ini Revita hanya terbaring, ia merasakan sesuatu yang berbeda pada dirinya. Sejak melayani pelanggan terakhirnya, Revita memutuskan untuk beristirahat.


Tubuhnya terasa begitu lemas, tak bergairah karena tak memiliki selera makan.


"Nyonya, makanlah."

__ADS_1


Asisten rumah tangga Revita menghampirinya dan membawa makanan ke dalam kamar.


"Bawa saja makanan itu kembali aku sedang tidak berselera untuk makan!"


Asisten rumah tangga itu pun kembali membawa makanan yang sempat dibawanya dan keluar dari kamar tersebut.


Revita menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan yang merawang jauh entah kemana.


Namun, tiba-tiba ia merasakan sakit pada bagian perut dan pinggangnya, yang membuat lamunannya terhenti.


Revita bangkit karena merasa mual, Ia berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah di sana.


puas muntah-muntah, Revita segera mencuci wajahnya.


"Sepertinya aku hamil," ucapnya lirih sambil melihat pantulan wajahnya pada cermin wastafel.


Untuk menghindari sesuatu yang tak di inginkan, Revita bermaksud memeriksa ke bidan.


Meskipun tubuhnya begitu lemah, Revita menguatkan diri untuk pergi ke salah satu klinik terdekat.


Revita menyetir mobil sambil sesekali meringis merasakan sakit pada bagian perutnya.


"Akan ku gugurkan bayi ini jika aku hamil, cukup sekali aku mengurus anak haram seperti Olivia."Revita berbicara pada dirinya sendiri.


Tiba di klinik ia langsung mendaftar pada bagian pemeriksaan kandungan.


Revita masuk ke dalam ruang dokter kandungan setelah mengantri.


Ia duduk di hadapan dokter tersebut.


"Ada keluhan ibu?" tanya dokter itu pada Revita.


"Akhir-akhir Ini saya sering merasa mual dan muntah, bagian bawah perut saya juga terasa sakit dan ada pendarahan di bagian organ intim saya. Saya ingin memeriksa Apakah saat ini saya hamil?"


"Baiklah Ibu sudah berapa lama anda merasakan hal itu?'

__ADS_1


"Sekitar 3 hari yang lalu dokter."


"Kalau begitu Silakan berbaring ibu, kita lakukan pemeriksaan USG."


Revita berbaring kemudian Seorang perawat memberikan gel pada bagian perut Revita dengan tranduser dokter memeriksa di bagian perut Revita.


"Anda tidak hamil ibu."


"Tidak hamil? Lalu kenapa saya merasakan ciri-ciri seperti orang yang ngidam dokter?"tanya Revita sedikit cemas.


"Untuk mengetahui penyebabnya, bisa dilakukan uji pap smear ibu. Silakan mendaftar ke bagian pendaftaran, nantinya ibu akan diarahkan untuk melakukan pengujian pap smear."


"Ehm baiklah dokter."


Setelah diarahkan oleh dokter kandungan itu, Revita melakukan tes pap smear saat itu juga. Hanya saja hasil tes pap smear itu keluar setelah 1 minggu melakukan tes.


***


Seminggu ini Revita merasa tubuhnya semakin lemas. Meskipun begitu, ia tetap memaksakan dirinya untuk ke klinik karena ingin mengetahui hasil dari pap smear yang ia lakukan.


Revita merasa gugup dan gelisah saat menunggu hasil pemeriksaan dari dokter.


Ketika dokter memberikan hasil pemeriksaan, suasana semakin tegang. Revita merasa jantungnya berdebar kencang dan perasaan takut mulai menghampirinya. Ia merasa dunia seakan berhenti berputar sejenak, dan semua pikirannya hanya terfokus pada kata-kata dokter.


"Dari hasil tes pap smear yang Anda lakukan, dengan sangat menyesal kami mengatakan jika anda positif menderita kanker leher rahim dan anda harus segera melakukan pemeriksaan lanjutan dan pengobatan sedini mungkin."


Revita membelalakkan bola matanya, seketika suasana menjadi semakin suram. Revita merasa seperti terjatuh ke dalam jurang yang dalam, dan perasaan sedih serta keputusasaan mulai menghampirinya. Ia merasa takut akan masa depannya dan bagaimana penyakit ini akan mempengaruhi hidupnya.


***


Tubuh Revita semakin lemas, hampir saja dia tak bisa berdiri berdiri, tak terasa bulir bening menetes di pipinya.


Ia tak menyangka, kini penyakit mematikan itu sebentar lagi akan menggerogoti dirinya.


Mulai hari ini Revita memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, dan mulai fokus dengan pengobatan yang ia jalani untuk selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2