Bukan Ikatan Cinta Sedarah

Bukan Ikatan Cinta Sedarah
Seseorang Dari Masa Lalu


__ADS_3

Olivia terbangun dan mendapati Oliver dan Arzeta sedang berbincang. Di kesempatan seperti ini Oliver banyak bertanya tentang Olivia pada Arzeta tentang keseharian Olivia .


Melihat Olivia sadar, Oliver langsung mengalihkan perhatiannya pada Olivia.


"Om Livia kenapa?"


"Kamu tadi ditabrak pemotor dan tak sadarkan diri."


"Ehm begitu ya Om, kepala Livia sakit Om."


Oliver memijit kepala Olivia menunjukan kasih sayangnya.


"Livia tadi mau makan bakso ya. Saya sudah bawakan bakso untuk kamu."


"Iya Om suapin ya Om."


Oliver dengan hati-hati,menyuapi Olivia.


"Duh baik banget ya Om Oliver , perhatian banget sama Olivia,' batin Arzeta.


Seharian itu Oliver menjaga Olivia dan dia tak meninggalkan Olivia samasekali, bahkan Oliver juga tak sempat pulang ke rumah dan hanya meminta seorang asistennya untuk membawakan dia pakaian ganti.


***


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, Revita mulai membuka matanya, dia sudah setengah hari tertidur akibat obat penenang yang ia minum.


Revita bangkit kemudian memeluk lututnya sambil mencoba mengingat apa yang menyebabkan dirinya harus meminum obat penenang itu.


"Oliver," lirihnya.


Seketika kenangan masa lalu itu membuat kepalanya terasa sakit.


Akh! Revita berteriak begitu keras, hingga menggema dan memecah kesunyian malam itu, sambil menelungkup kan kepalnya pada celah lutut dan dadanya, setelah itu keadaan kembali hening.


Revita tersenyum kembali dengan senyuman lebar, seperti senyum kemenangan.


"Oliver, dia datang untuk melamar Olivia. Haha. Bagus, Itu berarti aku harus bisa memanfaatkan situasi ini."


Revita meraih bungkus rokoknya kemudian mengambil sebatang rokok kemudian menyalakan api untuk membakar ujung rokok itu.


Sesekali bibirnya mengukir senyum jahat, senyum licik yang begitu berhasrat untuk membalas dendam.


Sambil menghembus dan menarik asap rokoknya ke udara, Revita memutar otaknya bagaimana caranya memberikan balasan dengan cara yang terbaik untuk seseorang yang pernah begitu menyakitinya.


Haha, haha Revita tertawa kecil di lanjutkan dengan tawa yang terbahak-bahak.


Seperti ada sisi lain pada dirinya yang menguasai jiwa dan pikirannya saat itu.


***

__ADS_1


Keesokan harinya.


Oliver mengaduk bubur hangat untuk Olivia.


"Makan dulu Sayang," kata Oliver sambil menyuapi Olivia.


Dengan semangat Olivia membuka mulutnya ia merasa begitu bahagia karena mendapat perhatian dan kasih sayang dari Oliver .Olivia teringat ketika tinggal bersama Revita. Saat dirinya sakit, Revita tak pernah peduli, dia hanya memberikan obat dan segelas air setelah itu meninggalkan dirinya sendiri di kamar, hingga dirinya sembuh sendiri.


Dering ponsel Oliver berbunyi. Oliver langsung meraih handphone yang berada di atas nakas.


Oliver mengamati sebuah nomor yang tak di kenal.


"Halo," sapa Oliver.


"Selamat pagi tuan Oliver Gerryl."


Deg.... jantung Oliver berdetak seperti detak jam dinding. Ada desiran aneh saat mendengar sapaan lembut dari seseorang yang berada di sambungan teleponnya. Ia sepertinya tidak asing dengan suara itu.


" Saya Maminya Olivia ," sambung Revita ketika suasana terasa hening.


"Oh jadi anda Maminya Olivia ."


Olivia langsung menoleh ke arah Oliver , ia langsung melambaikan tanganya ke Oliver seraya memberikan isyarat bibir untuk tak memberitahu pada maminya, jika saat ini dia berada di rumah sakit untuk menjalani perawatan.


Oliver mengerti dan ia menganggukkan kepalanya.


"Saya mendengar dari asisten rumah tangga saya Jika Anda berniat untuk melamar Olivia benar begitu ?" suara Revita dibuat mendesah-desa seperti suara wanita malam saat merayu pelanggannya


"Oh iya nyonya, Ada yang ingin saya bicarakan kepada anda. Apa bisa kita bertemu ?"tanya Oliver


"Tentu saja tuan. Bagaimana kalau hari ini kita bertemu di jam 10 pagi, nanti saya kirim alamatnya ."


"Baik nyonya, saya akan datang jam 10.00 pagi."


"Oke kalau begitu sampai jumpa."Revita langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Oliver menyimpan handphonenya kembali ke atas nafas kemudian melanjutkan menyuapi Olivia bubur.


"Mami bilang apa om ?"


"Katanya dia mau bertemu nanti jam 10.00 pagi."


"Itu saja?'' tanya Olivia karena tak yakin


"Iya itu saja."


"Om ,jangan bilang kalau aku dirawat di rumah sakit. Om juga jangan pernah memberitahu di mana alamat kosanku."


"Tenang saja, mamimu nggak akan pernah macam-macam Selama ada aku .

__ADS_1


"Baiklah Om, kalau begitu Livia jadi tenang, semoga saja dengan kepergian Livia ,mami jadi sadar, karena dia akan hidup sendiri .Mami selalu menyalahkan kelahiran Olivia, menganggap Olivia ini sebagai beban dan Olive sering sekali jadi sasaran empuk kemarahan mami, saat ia sedang bermasalah dengan seseorang."


"Iya, jika Mami kamu setuju dengan pernikahan kita, aku akan berikan uang kepada Mami kamu setiap bulannya agar dia berhenti dari pekerjaan kotornya itu. Dia bisa hidup Enak meski tanpa bekerja," tutur Oliver sambil kembali menyuapi Olivia .


Seketika bola mata Olivia berembun mendengar kepedulian Oliver terhadap Maminya. Seperti apapun Revita, dia tetap menyayangi Revita .


"Terima kasih ya Om. Livia beruntung bisa bertemu dengan pria yang baik dan bertanggung jawab seperti Om."


Olivia merentangkan tanganya untuk memeluk Oliver .


Dengan hangat, Oliver memeluk kekasihnya yang manja itu.


Setelah beberapa saat keduanya mengurai pelukannya. Keduanya saling melempar senyum.


"Ayo makan lagi ya, setelah itu minum obat kamu, biar cepat sembuh."


Oliver kembali menyendok bubur ke mulut Olivia kemudian memberikan obat-obatan yang sudah tersedia di atas nakas.


***


Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Oliver sudah siap untuk berangkat menuju tempat pertemuan dengan calon mertuanya.


Saat itu Olivia masih tertidur lelap.


Oliver tak mau mengganggunya karena itu, dia menulis pesan pada selembar kertas dan menempelkannya di atas nakas.


Nanti jika Olivia bangun, dia akan menemukan kertas itu dan Olivia akan tau jika saat ini Oliver akan bertemu dengan Maminya.


Sebelumnya Oliver sudah meminta Lucan untuk berjaga-jaga di depan pintu kamar perawatan Olivia .


Dengan hati-hati, Oliver membuka dan menutup pintu kamar tersebut agar Olivia bisa beristirahat dengan tenang. Setelah bicara sebentar pada Lucan, ia langsung pergi menemui orang tua Olivia .


****


Mobil Oliver tiba di depan sebuah cafe pada pukul 9. 45. Oliver heran kenapa Maminya Olivia memintanya bertemu di cafe tersebut.


Cafe yang di datanginya itu dulunya tempat nongkrong Oliver dan teman-teman gengs motornya saat ia masih SMA dulu.


Oliver tersenyum ketika mengingat kenangan manis di cafe, dengan langkah kaki yang mantap ia menuju sebuah meja tempat mereka janjian.


Oliver duduk beberapa saat di memesan minuman sambil menunggu kedatangan tamunya.


Plok... plok ..suara hentakan heel berbenturan lantai, terdengar menghampiri Oliver membuat pria tampan itu langsung menoleh ke arah seorang wanita yang berdiri di depannya.


Seketika jantung Oliver berdetak kencang ketika melihat siapa wanita yang hadir.


Wanita yang ada di hadapannya itu mengukir senyum dibibirnya yang merah merekah,sambil membuka kaca mata hitam yang menutupi bulu matanya yang lebat dan lentik itu.


"Masih ingat saya tuan Oliver Gerryl?"tanya Revita dengan senyum elegannya.

__ADS_1


Pertanyaan itu membuat Oliver terdiam seribu bahasa dengan bola mata yang terbelalak karena kaget.


__ADS_2