
"Lo kenapa apa liv?" tanya Arzeta, ketika melihat perubahan wajah Olivia .
"Mami gue meninggal, hiks." Olivia berlutut seakan tak kuasa menahan beban tubuhnya sambil menangis ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Hiks, Mami kenapa mami harus pergi secepat ini."
Arzeta juga kaget dengan berita yang di sampaikan oleh Olivia tersebut. Selain itu, dia juga kasihan melihat Olivia yang baru saja merasakan kebahagiaan setelah memilki orang tua yang lengkap.
Hiks, masih terdengar tangis pilu Olivia yang memenuhi ruangan itu. Arzeta mematikan televisi yang menyala membiarkan Olivia menangis selama beberapa saat. Setelah beberapa saat barulah Arzeta ikut berlutut memeluk Olivia.
"Sabar ya Liv, nyokap lo pasti bahagia saat ini karena sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Saat ini nyokap lu berada dalam lindungan Tuhan dan dia tidak merasakan sakit lagi."
"Iya, Tapi kenapa harus secepat ini.Padahal baru saja Mami dan Papi menikah dan mereka belum sempat menikmati waktu bersama. Hiks kasihan banget Mami. Harusnya tadi aku temani mami di rumah sakit."
"Iya Liv, tidak ada yang tahu takdir. Yang terpenting tadi kita sudah melihat bagaimana bahagianya Mami kamu, mungkin selama ini, kita tidak sadar jika sebenarnya mami kamu sudah tidak kuat menahan rasa sakit karena penyakit yang di deritanya. berdoa saja agar Mami kamu tenang di sisinya."
Olivia terdiam, Seraya mencerna kata kata yang keluar dari bibir Arzeta.
Memang benar akhir-akhir ini kesehatan Revita semakin menurun, bahkan sang ibunda sudah tidak bisa makan dan minum.
"Hiks, iya. Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang, Aku mau lihat mami untuk yang terakhir kali hiks."
"Iya Ayo."
"Apa perlu aku hubungi Mas Lucan untuk menjemput kita?"
"Sudahlah nggak keburu, kita naik taksi saja."
Arzeta dan Olivia bergegas meninggalkan kamar tersebut, mereka berjalan cepat menuruni anak tangga. Ketika tiba di lantai dasar mereka bertemu dengan Nyonya Regina
"Olivia Sayang kenapa kamu menangis ?"tanya Nyonya Regina
"Mami meninggal dunia. Oma. sekarang Livia mau ke rumah sakit."
"Apa meninggal dunia?"
"Iya Oma."
"Ya sudah kalau begitu pergi sama Oma saja ya, Oma beritahu Opah dulu."
"Iya Oma."
Nyonya Regina memberitahu suaminya, tentang meninggalnya Revita.
Setelah itu mereka bersiap menuju rumah sakit
Sepanjang perjalanan di rumah sakit Olivia terus saja menangis tanpa henti berkali-kali iya memanggil Revita.
"Hiks, mami Padahal kita baru saja dekat akhir-akhir ini. Maafkan Olivia yang sempat membenci mami, hiks."
__ADS_1
Kata-kata itu terus saja keluar dari bibir Olivia ketika ia menangis.
Arzeta dengan sabar mengusap punggung Olivia menenangkan sahabatnya itu.
Sekitar 30 menit kemudian mereka tiba di rumah sakit dan langsung menghampiri Oliver yang masih berada di ruang perawatan.
Mereka berempat masuk ke dalam ruang perawatan dan saat itu suster masih memeriksa keadaan Revita
"Mami!" tangis Olivia, Seraya berjalan cepat menghambur memeluk tubuh Revita yang sudah terbujur kaku.
Revita tampak cantik dengan senyum di wajahnya.
"Mami kenapa secepat ini Mami meninggalkan Olivia," tangis Olivia sambil mengguncang tubuh Revita
Oliver segera menghampiri Olivia
"Tenanglah Olivia, Mami kamu sudah pergi dengan damai, lihatlah wajahnya yang tersenyum itu," ucapnya sambil mengusap punggung Olivia.
"Hiks, Mami. Kenapa tidak menunggu Olivia saja.Hiks."
Oliver menarik tubuh Olivia membawakan dalam pelukannya
"Sudahlah Liv, kita tidak tahu apa yang dirasakan Mami, mungkin saja dia tak kuat menahan rasa sakit dari penyakitnya. Mungkin Tuhan lebih menyayanginya karena tak ingin ia merasakan sakit lebih lama. "
Hiks, Olivia terus menatap wajah Revita.
"Iya suster silahkan di bawa saja," kata Oliver.
Hiks, tangis Olivia semakin pecah ketika melihat Suster itu membawa jenazah sang ibunda.
Mami! hiks tangis Olivia, tubuhnya bergetar karena lemas. Olivia tak sanggup melihat keperkasaan Revita yang akan di bawa ke rumah duka.
Olivia sudah tak sanggup lagi berjalan karena kakinya sudah tak kuat menahan beban tubuhnya, Olivia begitu lemas, untung saja ada Oliver yang selalu merangkulnya.
Baru beberapa langkah, Olivia sudah sudah tidak kuat, seketika pandangan menjadi gelap.
'Olivia !" Beruntung Oliver segera menyambar tubuh Olivia .
"Olivia Sayang!" Nyonya Regina berteriak ketika melihat Oliva pingsan.
Saat tak sadarkan diri pun Olivia masih menyebut nama Maminya.
Dengan segera Oliver membawa Olivia ke tempat yang aman, Olivia di banringkan di atas sofa.
Oliver menepuk-nepuk Pipi Olivia .
"Olivia, Ya Tuhan dia pasti syok," kata Olivier sambil mengusap kepala Olivia
Beberapa saat kemudian Lucan tiba di kamar tersebut.
__ADS_1
"Lucan kebetulan ada kamu.''
"Iya Tuan," Lucan perlahan menghampiri Oliver.
"Saya ada urusan, saat ini maminya Olivia akan di bawa kerumah duka yang ada di rumah sakit ini. Jadi kamu gendong Olivia ya, bawa dia ke ruang UGD, saya takut anak saya kenapa-kenapa."
"Siap Tuan!"
"Zeta, tolong jaga Olivia ya."
"Iya Om."
"Mommy dan Daddy, ikut aku saja. Aku gak mengerti mengurus seperti ini,"kata Oliver.
"Iya."
Oliver mendorong kursi roda tuan Gerryl mereka bertiga menuju rumah duka.
Sementara Lucan mengangkat tubuh Olivia. Sesekali Arzeta melirik ke arah Lucan yang terus menatap wajah Olivia.
Arzeta semakin yakin jika Lucan memang menyukai Olivia.
Setelah berjalan melewati lobby akhirnya mereka tiba di ruang UGD.
Olivia langsung di tangani ruang UGD dan langsung sadar setelah suster mencium kan minyak kayu putih ke hidungnya.
Kelopak mata Olivia menerjab-nerjab setelah itu Olivia mengedar pandangan ke segala arah.
"Hiks, Mami gue dimana Zet?" tanya Olivia .
"Mami kamu sudah meninggal Liv, kamu yang sabar ya. Mami kamu juga pasti sedih melihat kamu seperti ini," ucap Arzeta sambil mengusap rambut Olivia.
"Hiks, gue nyesel Zet! gue nyesel, ini pasti karena gue, makanya Mami tuh pergi secepat ini, hiks."
"Lo jangan menyalakan diri sendiri Liv, itu sudah takdirnya."
"Tidak Zet, dulu saat mami sering memukul aku! aku sering menyumpahi biar dia cepat mati, hiks. Saat itu aku benci banget sama Mami, hiks. Sekarang saat aku menyayangi mami, mami malah pergi, aku nyesel Zet, hiks nyesel banget!" Olivia menangis kembali dengan penyesalan yang teramat sangat.
"Mami hiks maafkan Olivia! Olivia sayang Mami. Olivia sayang mami," tubuh Olivia berguncang dengan tangis yang menjadi-jadi.
"Hiks, sabar Liv."
"Hiks, maafkan Livia mami. Livia Sayang Mami, hiks." Olivia terus menangis, ia seperti merasa bersalah atas kepergian Revita.
Pelajaran berharga.
Semarah apa pun kita sama orang, sebaiknya tidak mendoakan keburukan untuknya, karena hati manusia mudah bolak-balik saat dia sudah berubah baik terhadap kita, kita akan menyesal karena pernah berdoa untuk keburukannya, apa lagi dia adalah seorang ibu 😭🙏
Sorry author baru up, karena kesehatan sempat menurun 🙏😁
__ADS_1