
"Tidak perlu heran Tuan, Silakan duduk kembali," kata Revita sambil menarik kursi di hadapan Oliver.
Oliver masih menatap lekat kearah Revita yang terlihat santai.
"Raisa kau? apa kau ibu kandung dari Olivia ?"
Revita mengambil sebatang rokok kemudian menyulut api ke rokoknya.
Oliver menatap heran ke arah wanita yang hampir 20 tahun tidak bertemu dengannya. Wanita itu sudah jauh berbeda dengan gadis lugu yang pernah dia kenal dulu.
Revita menghembuskan rokok dari mulutnya sambil mengangkat lututnya ke atas paha, hingga memperlihatkan pahanya yang putih dan mulus itu.
Revita seolah ingin menunjukkan kepada Oliver betapa nakalnya gadis polos itu sekarang.
"Kau belum menjawab pertanyaan dari ku Raisa! Apa benar kau ibu kandung dari Olivia?"
"Santai, duduk dulu, tidak usah panik begitu."
Revita mengeluarkan sesuatu dari tasnya sebuah foto pernikahan antara dirinya dan seorang pria.
Oliver menatap foto pernikahan antara Revita dan seorang pria itu.
"Jadi Olivia itu memang anak kandung mu? dan Olivia anak dari pria yang menikahi mu ini?"
"Tentu saja," jawab Revita singkat sambil menghembuskan asap rokoknya.
"Lalu kenapa Olivia sendiri tidak tahu tentang ayah kandungnya?"
Revita menyunggingkan senyum tipis sambil menarik asap rokok lebih dalam kemudian menghembuskan kembali.
"Karena aku tidak mau saja, aku membenci ayah Olivia."
Oliver terdiam sambil menatap wajah Revita.
"Lagi pula pernikahan kami terjadi secara diam-diam dan tak ada surat menyuratnya."
"Apa dia pernah melihat foto ini?" tanya Oliver Sambil menyodorkan foto tersebut kepada Revita .
"Tentu saja."
"Apa dia pernah bertanya siapa nama ayahnya?"
"Yah dia sering bertanya tentang ayahnya, tapi aku tak mau meladeninya."Revita menarik dan menghembuskan asap rokok dengan cepat.
"Kenapa kau begitu kejam terhadap putri mu sendiri? kau ingin menjualnya, kau tak pernah memberikan kasih sayang mu kepadanya dan kau tak membiarkan dia tahu siapa ayah kandungnya."
Revita menyunggingkan senyum tipis lagi, sambil menghembuskan asap rokok ke udara.
"Dia sudah bercerita banyak kepada mu ya? Jadi kau begitu simpati terhadapnya dan ingin menikahinya?" tanya Revita sambil menatap Oliver .
__ADS_1
"Tidak aku mencintainya," kata Oliver sambil menatap Revita.
Revita tersenyum sambil menahan tawa kecilnya. Di mematikan puntung rokoknya dengan menekan ke asbak.
"Apa bisa kau ulangi ucapan mu tadi?" tanya Revita.
"Aku mencintai Olivia," Jawab Oliver singkat.
"Haha, kau pernah mengatakan seperti itu pada ku dulu, iya kan? atau kau sudah lupa tuan muda?"
Oliver meredupkan pancaran sinar bola matanya.
"Baiklah masa lalu biarlah masa lalu, Olivia itu putri ku, jika kau ingin menikahi kau harus membayar uang sebesar satu miliar, bagaimana?"
Revita kembali menarik sebatang rokok dari bungkusannya, kemudian menyalakan api ke puntung rokok tersebut, ia seolah tak perduli jika saat itu Oliver tengah menatapnya.
"Begitukah kau menghargai putri mu?"
"Sudahlah tuan muda, jangan sok suci. Aku hanya minta satu miliar, itu tidak banyak bagimu kan?" Revita kembali menghembuskan asap rokoknya, menyesapnya dengan cepat dan menghembuskan dengan cepat pula, seperti ada kegelisahan di hatinya.
"Baiklah kalau begitu, aku transfer setengahnya dulu."
Oliver mengutak-atik handphonenya beberapa saat kemudian terdengar suara notipikasi dari m banking Revita.
Revita tersenyum melihat jumlah saldo yang masuk." Terima kasih, Olivia beruntung sekali mendapatkan anda," kata Revita sambil tersenyum tipis.
"Oke, terima kasih Tuan, dengan tulus saya ucapkan selamat berbahagia bersama Olivia," kata Revita sambil mengulurkan tangannya kepada Oliver.
Oliver menjabat tangan Revita, tanpa bicara apa-apa.
Revita tersenyum menyeringai ke arah Oliver sebelum pergi meninggalkan Oliver sendiri.
***
Arzeta menghampiri kamar Olivia.
Di depan kamarnya Ia melihat Lucan duduk di kursi tunggu, saat itu Lucan terlihat sedang sibuk dengan laptopnya.
"Selamat pagi Mas Lucan, bisa bertemu Olivia ?" tanya Arzeta ramah.
Lucan menoleh seraya tersenyum dengan senyuman yang begitu menawan hingga memperlihatkan dua ginsul dan lesung pipinya, yang membuat jantung Arzeta berdetak kencang.
"Oh iya silahkan."
"Terima kasih."
Arzeta masuk kedalam ruangan Olivia sambi membawa buah-buahan.
Dilihatnya Olivia yang masih tertidur.
__ADS_1
Arzeta meletakkan buah-buahan itu diatas nakas, hingga terdengar oleh Olivia dan membangunkan nya.
Olivia membuka matanya secara perlahan.
"Selamat pagi Livia, Sayang."
"Eh elo Zet, kapan datangnya?"
"Baru saja, tadi om Oliver minta gue menemani kamu, katanya kamu mau mandi."
"Hooh gue lemes banget Zet, gak mungkin juga Om Oliver temani gue ke kamar mandi kan."
Arzeta membantu Olivia bangkit dan duduk.
"Ya sudah gue siapkan kebutuhan untuk lo mandi ya Liv."
"Iya Zet, maaf ya gue merepotkan lo."
"Gak apa-apa Liv, namanya juga kita sahabat."
Setelah siap, Arzeta membantu menopang tubuh Olivia dan membawanya ke kamar mandi. Karena kaki dan tangan Olivia sebelah kanan cedera, Arzeta jadi membantu Olivia mandi.
Setelah selesai mandi, Arzeta juga membantu Olivia menggunakan pakaian di kamar mandi.
Setelah itu mereka berdua keluar dari kamar mandi dan saat yang bersamaan Oliver tiba di kamar tersebut.
"Sudah mandi?"tanya Oliver.
"Sudah Om."
Oliver menghampiri Olivia kemudian mengangkat tubuhnya, sementara Arzeta memegang standar infus.
Oliver membaringkan Olivia ke atas tempat tidur.
Ada berita bahagia yang ingin saya sampaikan kata Oliver sambil tersenyum.
"Berita bahagia apa om?" tanya Olivia.
"Mami kamu sudah merestui pernikahan kita," kata Oliver dengan senyum manis yang terbit di wajahnya.
"Syukur lah, jadi gak akan ada lagi yang menghalangi pernikahan kita Om?"Olivia terlihat begitu bahagia.
Oliver menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Wah selamat ya Liv, aku juga ikut bahagia." Arzeta memeluk Olivia karena ikut berbahagia atas beri gembira tersebut.
"Baiklah karena ibu kamu sudah setuju dan dia merestui hubungan kita, besok saya akan segera urus persiapan pernikahan kita, jadi begitu kamu sembuh kita akan langsung menikah," kata Oliver sambil menggenggam erat tangan Olivia.
Mereka tampak bahagia sekali dengan rencana pernikahan tersebut.
__ADS_1