
Raisa menangis tergugu di tempat tidur dengan penuh penyesalan setelah memberikan sesuatu yang berharga yang ada pada dirinya.
Melihat penyesalan Raisa, Oliver pun memeluk Raisa dari belakang.
"Jangan menangis Raisa, aku akan bertanggungjawab apa yang akan terjadi pada mu nanti."
Setelah di bujuk oleh Oliver, Raisa sedikit tenang.
Keesokan harinya Oliver pergi meninggalkan Raisa. Oliver meminta Raisa untuk menunggunya sampai kembali.
***
Tiga bulan setelah kepergian Oliver, Raisa mulai merasakan mual-mual.
Uek! Uek! Raisa muntah muntah di kamar mandi. Ia mencuci Wajahnya di wastafel.
Suara muntah-muntah Raisa itu terdengar sampai ke telinga asisten rumah tangga mereka.
Salah satu dari mereka menghampiri Bi Jumi.
"Bi Jumi, aku lihat keponakan mu itu muntah-muntah terus setiap pagi, wajahnya juga pucat. Apa kamu gak curiga?"
Bi Jumi syok. "Maksudnya apa?"
"Jangan-jangan si Raisa hamil lagi."
Bi Jumi seketika membelalakkan bola matanya.
"Iya, Bi Jumi. Coba kamu tanyakan saja pada keponakan mu itu, nanti dia bisa bikin masalah untuk kamu."
"Iya juga."
Bi Jumi menghampiri Raisa di dalam kamarnya.
Bruk.. suara pintu membuat Raisa menjadi kaget.
Saat itu Raisa terlihat menangis tergugu sambil memintal ujung kemejanya
"Raisa! apa benar kamu itu hamil?" tanya Bi Jumi.
Raisa semakin jadi menangis.
Hiks hiks.
Melihat Raisa hanya menangis, Bi Jumi yakin jika tuduhan terhadapnya itu benar.
"Jadi benar kamu hamil?!" tanya Bi Jumi bernada tinggi.
"Saya gak tau Bi."
"Eh Raisa, sekarang bibi tanya sama kamu, apa kamu sudah pernah berhubungan dengan seorang pria?"
Raisa semakin menundukkan wajahnya.
__ADS_1
Ia semakin jadi menangis karena ketakutan.
"Raisa?! bibi tanya siapa yang telah menghamili kamu?" tanya Bi Jumi dengan nada yang lebih tinggi.
Raisa semakin ketakutan.
"Ayo katakan! siapa yang menghamili kamu?!"
Hiks, Raisa menangis semakin kencang.
Bi Jumi masih menatap Raisa dengan bola mata yang melotot.
Bingung, takut sedih dan tak tahu apa yang harus ia lakukan saat itu. Ia sedih sekaligus bercampur jadi satu.
"Ayo Raisa! sampai kapan kamu menyembunyikannya!"
Raisa menatap Bi Jumi dengan bibir gemetar
"Hiks, Tuan- Tuan muda Oliver," tutur Raisa dengan sisa Isak tangisnya.
Seketika bola mata Bi Jumi dan beberapa asisten rumah tangga yang lainnya membelalak dengan sempurna.
"Apa?! tuan muda Oliver?"
"Iya Bi." tutur Raisa dengan bibir gemetar.
Mereka semua begitu syok. Tidak ada yang menyangka, karena hubungan Raisa dan Oliver tidak pernah terendus sekali pun.
Tiba-tiba terdengar suara lantang dari seorang wanita.
Keadaan semakin menegangkan. Nyonya Regina mengedarkan pandangannya menyapu setiap sudut ruangan.
Melihat kedatangan Nyonya Regina, Raisa semakin menundukkan wajahnya mencoba menahan tangisnya.
"Ada apa ini ?! kenapa Raisa menangis?"tanya Nyonya Regina, sambil menatap tajam satu persatu semua orang yang ada di sana.
Keadaan Hening beberapa saat mereka tidak tahu harus bagaimana.
"Ayo jawab!" kalian semua tuli bentak Nyonya Regina.
Mau tak mau salah seorang asisten rumah tangga memberitahu kepada Nyonya Regina
"Anu Nya, si Raisa mengaku jika dirinya dihamili tuan muda Oliver."
"Apa?! "
Nyonya Regina membelalakkan bola matanya.
Matanya langsung menerjang ke arah Raisa dan membuat gadis itu semakin ketakutan.
Dengan langkah kaki cepat Nyonya Regina masuk ke dalam kamar menghampiri Raisa.
Tanpa bertanya lagi Nyonya Regina menampar pipi Raisa.
__ADS_1
Plak! plak !
Hiks, Raisa senakin jadi menangis sambil memegang kedua pipinya yang terasa perih.
"Dasar tidak tau diri! berani-beraninya kau bilang jika putra ku yang menghamili mu!"
Nyonya Regina menjambak rambut Raisa hingga membuat Raisa meringis ketakutan.
Bola mata Nyonya Regina melotot seperti hendak keluar.
"Kau berani berbohong tentang putra ku?! Kau pikir Oliver selera dengan gadis kampung murahan seperti mu?!" kata Nyonya Regina sambil menarik rambut Raisa semakin kuat.
"Ampun nyonya! saya tidak berbohong, saya dan tuan muda memang pernah melakukannya sebelum dia berangkat ke luar negri."
Regina semakin emosi.
'Jika anda tidak percaya tanyakan saja pada tuan muda nyonya."
Raisa masih gemetar, ia berusaha melawan ketakutan demi sebuah kebenarannya.
"Kau! berani!" Regina mendorong Raisa dengan kuat hingga tubun Raisa membentur dinding.
Raisa menatap wanita itu dengan bibir yang gemeteran.
"Sekarang juga kau pergi! aku tidak mau kau ada disini!"
"Tapi Nyonya, jika Raisa pergi bagaimana dengannya, bagaimana dengan nasib anak yang ada di kandungannya, Raisa sudah tidak punya apa-apa lagi, bahkan di kampung pun dia tak punya tempat tinggal lagi!" sahut Bu Jumi.
"Aku tidak peduli! Sekarang juga dia harus pergi! dan kau Bi Jumi, kau juga harus pergi dari rumah ku! kalian berdua harus pergi dari rumah ini secepatnya!"
Akhirnya Raisa Dan Bi Jumi pulang ke kampung halamannya.Namun, masalah yang dihadapi Raisa tidak begitu saja selesai, setelah ia pulang ke kampung halamannya .
Para warga menolak kehadiran Raisa dan anak haramnya. Bi Jumi akhirnya mencarikan seorang pemuda untuk bisa menikahi Raisa.
Karena saat itu Raisa belum memiliki kartu identitas, Bi Jumi menggunakan identitas kakaknya Raisa yang bernama Revita untuk mengurus pernikahan mereka.
Dengan sangat perasaan sedih dan hati yang hancur Raisa pun terpaksa menikah dengan seorang pria yang tidak ia kenali. Ia memakai identitas kakaknya, agar mereka bisa melangsungkan pernikahan.
Ternyata pria yang menikahi Raisa bukanlah pria baik-baik .
Iya membawa Raisa ke kota kemudian Raisa dipaksa melayani lelaki hidung belang, meski dalam keadaan hamil. Raisa yang tidak mau bekerja sebagai wanita penghibur kembali melarikan diri dari suaminya.
Kehidupannya jadi semakin berat ketika ia mengandung Olivia. Karena mengandung Olivia, dia tidak bisa bekerja dan mencari uang. Raisa juga harus bersembunyi dari kejaran suaminya yang ingin menjadikannya wanita penghibur.
Raisa bisa mengumpulkan barang-barang bekas untuk makan dan biaya kehidupannya sehari-hari.
Bahkan ketika melahirkan ,Raisa tidak punya uang sama sekali. Raisa berhutang pada salah seorang bidan agar bisa melahirkan. Setelah melahirkan, Ia juga tak bisa bekerja karena tak ada yang menjaga Olivia.
Tekanan demi tekanan yang Raisa jalani, membuatnya stress, hingga ia pernah di rawat di rumah sakit kejiwaan selama setahun, selama Raisa di rawati Bi Jumi yang menjaga Olivia.Namun tak beberapa lama Bi Jumi meninggal dunia, dan Raisa terpaksa mengambil Olivia kembali.
Olivia yang masih bayi, masih berumur 1 tahun, tentu tidak bisa ditinggalkan untuk bekerja. Karena itulah Revita terpaksa menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka serta untuk membeli susu Olivia.
Hal itulah yang membuat kebencian Revita pada Olivia, seakan Olivia adalah beban hidup baginya. Selain itu ia juga membenci keluarga Oliver, karena keluarga Oliver lah yang membuat hidupnya seperti ini. Bahkan Oliver tak pernah mencari keberadaannya. Raisa rasa telah ditipu.
__ADS_1
Stress memikirkan beban hidup ,serta tekanan dari warga yang selalu mem bullynya membuat watak Raisa berubah menjadi Revita. Ia jadi lebih mudah marah dan tempramental. Karena itulah Revita sering mengkonsumsi obat penenang untuk mengontrol emosinya.