Bukan Ikatan Cinta Sedarah

Bukan Ikatan Cinta Sedarah
Tanggung Jawab


__ADS_3

Revita dan Olivia tiba di rumah mereka. Setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi, mereka keluar dari mobil itu secara bersamaan.


Ketika hendak melangkahkan kakinya keluar dari pintu mobil, tiba-tiba Evita merasakan sakit kepala, pandanganya mulai berkunang-kunang.


Revita bersandar pada pintu mobil, karena sepertinya ia tidak kuat untuk berjalan.


"Mami!" Olivia mengangkat gaun pengantinnya, kemudian berjalan menghampiri Revita.


"Mami, Mami kenapa?"


"Tidak apa-apa, kepala Mami terasa pusing saja."


"Sudahlah Mami, ayo kita masuk, Mami harus istirahat."


Olivia membopong tubuh Revita membawanya masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di dalam rumah, Olivia menemukan koper Revita yang berdiri di depan pintu.


Olivia kembali membopong Revita menuju kamarnya.


"Mami Istrihat ya, Olivia ganti baju dulu."


Olivia membantu Revita untuk berbaring di tempat tidur. Setelah itu dia keluar dari kamar tersebut kemudian menghampiri kamarnya.


Olivia bergegas melepasnya gaun pengantinnya, dan menggantikan bajunya dengan baju yang baru.


Setelah itu Olivia keluar dari kamarnya menghampiri koper Revita.


Olivia memeriksa apa ada rekam medis untuk mengetahui penyakit Revita.


Ada beberapa hasil rontgen. Ada juga sekantong obat-obatan.


Olivia membuka koper tersebut dan menemukan baju-baju kotor Revita.


"Ya Tuhan, kasihan sekali Mami, semua bajunya kotor-kotor begini."


Olivia membawa pakaian kotor itu ke tempat pencucian. Setelah itu dia menghampiri Revita di kamarnya.


"Aduh!" Revita meringis kesakitan sambil mengusap bagian perut bawahnya.


"Mami? mami kenapa?" tanya Olivia sedikit panik melihat Revita yang sepertinya kesakitan.


"Tidak apa-apa Liv, hanya saja bagian perut bawah mami masih terasa sakit."


"Kalau begitu Mami istirahat saja ya. Olivia masak sesuatu untuk mami, setelah itu mami minum obat."


Revita mengangguk, matanya menatap Olivia dengan tatapan berembun.


"Olivia, kamu gak dendam sama Mami? mami kan jahat sama kamu selama ini. Saat kamu sakit, mami gak pernah merawat kamu," Bola mata Revita berembun sambil mengusap wajah Olivia .


"Kenapa harus dendam, cuma Mami yang Olivia miliki di dunia ini, semua orang pernah melakukan kesalahan Mami. Jadi jangan terlalu di pikirkan," tutur Olivia sambil meneteskan air matanya.


"Terima kasih Olivia."


"Iya Mami."


''Olivia masak dulu Mi."


"Iya,"Revita menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


***


Olivia tak lagi memikirkan pernikahan yang batal, ia berusaha menyibukkan diri dengan memasak dan mencuci pakaian serta membersihkan rumahnya yang sepertinya sudah lama tidak di bersihkan.


Ketika tegah sibuk mengerjakan tugasnya, tiba-tiba ada suara panggilan telepon.


Olivia masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil handphonenya.


"Halo," sapa Olivia.


"Liv, loh dimana?" tanya Arzeta.


"Gue sudah pulang ke rumah. Mami gue sakit Zet."


"Iya tapi lo gak apa-apa kan?''


"Iya gak apa-apa, gue mau fokus merawat mami gue, Zet."


"Ya sudah, gue sama mas Lucan nih. Gue kesana ya, sekalian mau melihat keadaan mami lo, Liv."


'Iya terima kasih Zet."


Olivia dan Arzeta saling menutup teleponnya.


***


Setelah selesai memasak dan berberes rumahnya. Revita membawa sepiring nasi untuk Revita.


"Mami! makan dulu ya."


Revita membuka matanya, kemudian menoleh me arah Olivia .


Olivia membantu mengangkat tubuh Revita.


'Aduh Liv, punggung mami sakit sebaiknya mami rebahan saja."


"Ya sudah Mami. kalau begitu. Mami berbaring saja. biar Livia yang menyuapi mami."


Olivia menyuapi Revita .


Baru satu suapan Revita sudah mual-mual.


"Udah Liv, mami mau muntah, tolong ambilkan baskom."


Olivia berlari ke arah dapur untuk mengambil baskom, dengan baskom itu ia menadah muntahan Revita.


Setelah membersihkan Revita. Olivia menyuapi Revita kembali.


"Mami makan lagi ya," kata Olivia sambil menyuapkan sendok ke mulut Revita.


"Tidak Liv, mami gak bisa makan. Setiap makan pasti muntah."


"Kalau mami gak makan, nanti mami tambah sakit Mi."


Olivia memaksa Revita untuk kembali makan. Namun, setiap menelan makanannya tak selalu merasa mual dan muntah.


"Sudah Mami bilang, Mami nggak bisa makan dulu Liv, penyakit kanker serviks itu membuat nafsu makan Mami tersumbat, sistem pencernaan Mami oun juga terganggu."


"Kalau begitu Mami harus diinfus Mi, jika tidak, itu akan memperparah kondisi mami. Bagaimana kalau kita ke rumah sakit sekarang?" tanya Olivia.

__ADS_1


"Sebenarnya, dokter juga melarang Mami untuk pulang hari ini karena proses pengobatan mami belum selesai, tapi mami memutuskan untuk pulang. Dan ternyata benar mami harus pulang untuk membatalkan pernikahan kamu."


tit...tit... beberapa saat kemudian terdengar klakson mobil di depan pintu


"Kebetulan ada Arzeta dan mas Lucan Mi, kita di rumah sakit biar cepat sembuh. Livia gak mau terjadi sesuatu pada mami."


Olivia bergegas keluar dari kamarnya menghampiri pintu.


Kreak... pintu terbuka Arzeta dan Lucan sudah berada di depan pintu.


"Liv, gimana keadaan mami lo?"tanya Arzeta.


"Sepertinya mami gue harus dibawa ke rumah sakit, tubuhnya semakin lemah, karena ia tidak bisa makan."


"Yah sudah, kita bawa saja kerumah sakit nona," kata Lucan.


"Iya, sepertinya begitu. Kalian masuk dulu, aku mau beres-beres."


Arzeta dan Lucan masuk kedalam rumah, mereka pun duduk di sofa ruang tamu. Sementara Olivia membereskan barang-barangnya dan barang-barang Revita. Setelah siap mereka membawa Revita ke rumah sakit.


Karena Revita merasa bagian perut bawah dan pinggangnya sakit dan tak bisa bergerak. Lucan membantu mengangkat tubuh Revita dan membawanya ke dalam mobil.


Mereka pun berangkat menuju rumah sakit. Selama kurang lebih satu jam perjalanan, mereka ptiba di rumah sakit dan Revita langsung di rawat.


Dari siang sampai malam Arzeta dan Lucan menemani Olivia. Hingga jam besuk selesai barulah mereka pulang.


***


Nyonya Regina mondar-mandir di depan pintu rumahnya, ia begitu mengkhawatirkan Oliver.


Mereka sudah berusaha menghubungi Oliver melalui sambungan teleponnya hampir ratusan kali, tapi tidak diangkat oleh Oliver.


Nyonya Regina juga menanyakan kepada Lucan tentang keberadaan Oliver. Namun, Lucan juga tak mengetahui keberadaannya.


Beberapa saat kemudian, Oliver tiba di rumahnya dalam keadaan kacau. Kedatangan sudah di tunggu nyonya Regina dan suaminya.


Oliver berjalan sempoyongan menghampiri pintu rumahnya


"Oliver!" panggil nyonya Regina, seketika ia merasa lega ketika melihat kedatangan Oliver.


Oliver menghampiri Nyonya Regina dengan tatapan tajam penuh amarah.


"Oliver, kenapa kamu mabuk-mabukan seperti ini Nak?"


"Ini semua karena Mommy! Mommy sudah berbohong tentang Raisa! lihatlah apa akibatnya!" Bola mata Oliver melotot menatap Regina dengan nafas yang menderu deru.


"Iya Oliver, "tapi apa yang Mommy lakukan itu semua untuk kebaikan kamu Oliver, Mommy tidak mau kamu sampai menikahi perempuan kampung seperti Raisa, karena dia tak pantas untuk kamu!" Nyonya Regina mengusap dada Oliver agar putranya itu menjadi tenang, tapi Oliver menepis tangannya itu. Bola mata Oliver melotot dan memerah memandangi Regina dengan geram.


"Oliver, setiap orang tua pasti ingin yang..."


"Sudah cukup Mommy! aku tak butuh penjelasan Mommy! aku akan menikahi Raisa seperti janji ku padanya dulu, untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mommy itu!"


Nyonya Regina membelalakkan bola matanya.


"Oliver ! mommy tidak setuju!" bentak Nyonya Regina .


'Terserah!" Oliver berlalu meninggalkan Nyonya Regina.


"Oliver ! Oliver "

__ADS_1


Oliver berlalu meninggalkan Regina tanpa mempedulikan panggilannya.


__ADS_2