
Mobil Bastian tiba di rumah.
"Aku turun dulu ya Bas. Terima kasih sudah mengantarku."
"Kamu nggak suruh aku mampir dulu Liv?" tanya Bastian.
Olivia tersenyum kecil.
"Lain kali aja ya Bas, ini sudah malam, aku mau istirahat," tolak Olivia sambil menguap.
"Oh iya tidak apa-apa."
Olivia hendak membuka pintu mobil, namun ia ditahan oleh Bastian.
"Biar aku yang bukain Liv." Bastian buru-buru membuka mobilnya kemudian berjalan memutar, setelah itu ia membuka pintu mobil untuk Olivia.
Saat yang bersamaan mobil Oliver tiba di garasi.
"Itu siapa Liv?" tanya Bastian ketika Oliver membuka pintu mobilnya.
"Itu papi aku."
"Wah kalau begitu kebetulan dong, aku bisa kenalan sama Papi kamu."
"Iya silakan saja."
Melihat Olivia dan seorang pria berdiri di depan teras rumahnya, Oliver segera menghampiri mereka.
"Selamat malam Om," Kata Bastian sambil menyodorkan tangannya.
"Selamat malam juga, kamu temannya Olivia?" tanya Oliver ramah.
"Iya Om, kami diperkenalkan dengan oleh Tante Regina di acara arisan."
"Maaf ya Bas, kamu ngobrol aja sama papi aku, aku masuk dulu," kata Olivia.
"Oh iya Liv, tidak apa-apa."
"Ya sudah gue tinggal dulu ya, Bas."
Olivia pun berlalu dari Bastian dan juga Oliver.
"Ayo Bas, silahkan masuk, kita ngobrol di dalam saja," kata Oliver.
Bastian pun masuk kedalam rumah tersebut.
__ADS_1
Mereka pun ngobrol di ruang tamu, sementara Olivia langsung menuju kamarnya.
Olivia tidak terbiasa tidur larut malam, Karena itulah sejak di jalan beberapa kali ia menguap karena menahan kantuk.
Setelah bersih-bersih sebentar di kamar mandi, Olivia mengganti bajunya dengan piyama, setelah itu ia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ketika hendak mematikan lampu tidurnya, Olivia melihat layar handphonenya menyala.
Dengan malas-malasan, Olivia mengangkat telepon yang ternyata dari Arzeta.
"Halo selamat malam Olivia," sapa Arzeta. Nada bicara Arzetta terdengar begitu bahagia.
"Tumben pakai ngucapin selamat malam. Biasanya mulut lu cerotes aja."
" Hahaha, Gue lagi bahagia tahu!"
"Bahagia kenapa? lu dilamar bokap gue?" tanya Olivia ketus.
"Ih lo kok tau sih?"
"Ya tahu lah!" Sahut Olivia dengan ketus kembali.
"Ih kok lo kayaknya nggak seneng gitu sih Liv, lu nggak setuju ya, kalau gue nikah sama bokap lu?"
"Ehm gue bukan yang nggak setuju Zet, ntar kalau lu jadi ibu sambung gue lu galak-galak lagi ke gue, sok jadi emak-emak, terus kalau lu galak-gala gitu ,ya gue mau curhat sama siapa? kan gue cuma punya teman elu doang."
"Haha, ya gak lah pea'. Waktu gue jadi teman-teman lo, ya kita akan seperti teman, waktu jadi nyokap lu, ya gua akan jadi nyokap lu, tapi jangan kaget kalau gue lebih bawel. Haha."
"Nah loh."
"Ya udah to the poin aja lu nelpon gue mau ngapain?" tanya Olivia.
" Ngak ngapa-ngapain sih, gue cuma mau cerita saja sama lo, kalau tadi gue di belanja banyak banget Liv, sama bokap lu. Ada baju untuk kuliah, ada baju pesta, gua dibeliin tas, sepatu, dan perhiasan juga, pokoknya banyak deh. pokoknya gue seneng banget malam ini, gue di manja-manja ama bokap lo . jadi makin cinta gue. Hehe."
"Puas-puasin deh lu, nikmatin duit tuh sugar daddy ya. Udah lu manfaatin jangan sampai aja lu tinggalin bokap gue ya, mampus gue kerjain lo!"
"Yey, tak mungkin lah Liv, gue mau ninggalin bokap lu. Bokap lu tuh aset tahu, haha."
" Dasar matre!" dengus Olivia.
"Eh ngomong-ngomong tadi mas Lucan ke rumah lu ya?"
"Iya, kenapa?"
"Tadi dia bilang ke gue, sebenarnya dia mau ngajak lu jalan Liv, mau izin langsung sama bokap lu, tapi katanya bokap lo juga nggak ada."
"Iya tadi dia ada ke rumah, pas kebetulan Oma ngajakin gue ke arisan gengs sosialitanya. terus yang lebih parahnya lagi gue udah mau dijodohin sama Oma."
__ADS_1
"Di dijodohin?! Trus lo mau liv?"
'Belum dijodohin sih, cuman diperkenalkan saja."
"Terus menurut lo cowoknya gimana?"
"Nggak tahu ya, tapi gue lihat si Bastian itu agresif, masa baru pertama berkenalan gue udah diperkenalkan dengan temannya sebagai calon istrinya, terus dia nganterin gue ketemu bokap gue, nggak tahu apa yang mau diomongin nya sama bokap gue."
"Cakep ngak Liv, hehe ?"
"Ya Cakep lah, terus kalau cakep lu mau ngapain?" tanya Olivia ketus.
"Ngak ngapa-ngapain sih, kasihan aja sama mas Lucan."
Oh, kirain lo mau jadikan gebetan lagi."
"Haha ya enggak lah Liv, negatif thinking aja lo! tapi gue perhatiin, lo akhir-akhir ini kayaknya sensi banget sama gue, Liv."
"Gak tau ya, pokoknya akhir-akhir ini tuh mood gue gak bagus banget. sejak nyokap gue meninggal, gue rasanya sedih banget, gue merasa kehilangan banget Zet," suara Olivia mulai terdengar parau.
"Iya sabar ya Liv, gue ngerti makanya gue nggak ambil hati, mau muka lu kecut seperti cuka, gue juga nggak ambil hati. Kadang gue ngomong sering lo cuekin, gue juga nggak ambil hati."
"Iya Zet, Terima kasih ya atas pengertian lo. semoga setelah lu nikah sama bokap gue persahabatan kita juga nggak akan berubah."
"Iya tenang aja lo. kita akan buktikan ke orang-orang, nggak semua ibu tiri itu cuma cinta sama ayahnya, hehe."
"Iya! dah ah gue mau istirahat Zet, besok lagi ya kita bicaranya."
"Oke, met malam Liv."
"Iya Selamat malam."
***
Setelah menelpon Olivia Arzeta kembali menelpon Lucan.
"Jadi Olivia, mau di jodohkan sama Omanya?!" tanya Lucan.
"Iya Mas, sebelum semuanya terlambat, mendingan kamu segera melamar Olivia, daripada menyesal di kemudian hari," kata Zeta memanasi.
"Okelah Zet, makasih ya atas informasinya."
"Sama-sama Mas."
Lucan menyimpan teleponnya di atas nakas.
__ADS_1
"Besok, aku harus bisa mengatakan niat ku untuk melamar Olivia. Aku gak perduli meski jabatan ku jadi taruhannya."
Bersambung