
Keesokan harinya.
Lucan bermaksud menjemput Olivia di kampus. Sebenarnya ia sudah bersekongkol bersama Arzetta.
Arzeta sengaja meminta Oliver untuk bertemu dengan Maminya, agar Lucan bisa menjemput Olivia kampus dan berkencan dengan leluasa. Kebetulan mereka tidak ada kelas, dan hanya Olivia yang masuk karena harus mengikuti ujian susulan.
Lucan berdiri cukup lama, menunggu Olivia keluar dari kelasnya.
Sebelumnya ia sudah mengirim pesan kepada Olivia jika ia saat ini menunggunya di salah satu koridor kampus.
Beberapa saat menunggu, akhirnya Lucan melihat penampakan Olivia dari kejauhan, seketika senyum terbit di bibir Lucan.
Ketika Olivia mendekat, Lucan pun berdiri.
Keduanya saling melempar senyum malu-malu.
"Silahkan Nona," kata Lucan sambil menatap Olivia dengan tatapan sejuta rasa.
Olivia hanya menganggukkan kepalanya.
Keduanya tampak begitu gugup. Baru kali ini mereka berjalan berdua beriringan.
"Nona, ada yang ingin saya bicarakan, bisa kita makan di salah satu restoran."
Olivia sedikit kaget mendengar permintaan Lucan itu. Dia pun menjadi semakin gugup.
Olivia kembali menganggukkan kepalanya seraya mengulum senyumnya.
Tiba di parkiran mereka di kejutkan dengan suara seseorang yang memanggil Olivia .
"Olivia!" Lucan dan Olivia menoleh.
"Bastian!" gumam Olivia
Seketika wajah Lucan menjadi masam ketika melihat Bastian berlari kecil menghampiri mereka
"Hay Liv, pulang bareng gue yuk! gue udah izin sama Oma lu, dan beliau senang sekali jika gue yang akan mengantar kamu pulang."
"Ehm, Maaf ya Bas, gue sudah ada janji sama mas Lucan. kita mau makan siang sama-sama."
"Makan siang sama-sama? Memangnya dia siapa sih Liv? lo kan, calon istri gue, ya gak boleh lah makan siang sama cowok lain," kata Bastian sambil menatap sinis ke arah Lucan.
"Ha, ngak salah dengar? calon istri?'' Olivia berkilah.
"Nyokap gue dan Oma kamu udah sepakat menjodohkan kita. mereka juga menyuruh kita untuk sering pergi bareng biar kita bisa mengenal."
Olivia diam beberapa saat.
"Ayolah Liv, kamu pulang bareng aku saja!" Bastian langsung menarik pergelangan tangan Olivia.
"Ih apa-apaan sih lo maksa banget!" Olivia menepis tangan Bastian, namun cengkraman tangan Bastian tak juga terlepas.
Melihat hal itu, Lucan langsung mengambil tindakan.
"Nggak usah lancang gitu bro! Olivia nggak mau, Jangan dipaksa!"
__ADS_1
"Eh lo jangan ikut campur ya, Memangnya kamu itu siapa! Oma Olivia sendiri yang memintaku untuk menjemput Olivia, jadi kamu jangan ikut campur," kata Bastian sambil menunjuk-nunjuk ke arah Lucan.
Melihat Bastian yang terpancing emosi, Olivia semakin tidak tidak respek pada Bastian.
"Ya sudah, lain kali aja ya Bas gue mau pulang sama Mas Lucan dulu."
"Tapi Liv.. ,"
"Ayo Mas."
Olivia pun berlalu meninggalkan Bastian.
Bastian menatap sinis ke arah Olivia yang berlalu meninggalkannya.
"Lihat saja gue pasti dapatin lo!"
***
Mobil yang dikendarai oleh Lucan perlahan meninggalkan parkiran, saat itu Bastian masih berada di parkiran itu menatap mereka dengan tatapan sinis.
Beberapa saat di dalam mobil keadaan hening.
Sesekali Lucan melirik ke arah Olivia yang terlihat bete.
"Nona, Apa benar dia itu calon suami Anda?" tanya Lucan .
Olivia langsung melototkan bola matanya.
"Maaf saya lancang." Lucan mengkoreksi ucapannya.
"Kita jadi makan siang kan Nona?" tanya Lucan .
Olivia mengerucutkan bibirnya.
" Masih di tanya, aku sudah lapar tau."
"Hehe. Kirain sudah nggak nafsu makan."
Keduanya pun saling melempar senyum.
"Oh ya, tadi katanya mau ngomong apa?"
"Ehm, sebenarnya aku mau ngomongnya nanti setelah kita makan."
"Hah kenapa begitu?"
"Ya karena, orang yang sudah kenyang perasaan yang pasti akan lebih tenang."
Lucan kembali tersenyum sambil melirik Olivia.
"Hihi benar juga ya, tapi aku penasaran. omongin saja sekarang."
Lucan melirik Olivia sekilas, kemudian tersenyum lagi.
"Nanti sajalah, kita tenangkan cacing di perut kita dulu, setelah itu baru kita bicara dari hati ke hati."
__ADS_1
"Ya terserah saja lah."
Jantung Lucan berdetak kencang, Ia memang membutuhkan nutrisi dari makanan agar siap menerima respon yang di berikan oleh Olivia .
Tiba di restoran mereka pun memesan makanan.
Sambil makan Lucan mencoba untuk menjalin keakraban bersama Olivia , dengan mengajaknya berbincang.
Lucan banyak bertanya tentang kuliah yang di jalani Olivia. Mereka pun terlihat asik mengobrol.
Tak berapa lama makanan pun tersaji dan mereka berdua terlihat begitu menikmati makanan mereka.
Setelah makan, Lucan memperkuat hatinya untuk mengungkapkan perasaan pada Olivia.
Lucan menatap Olivia seraya tersenyum membuat Olivia menjadi nervous.
"Kenapa sih tersenyum seperti itu?" tanya Olivia.
Bukannya menjawab Lucan kembali tersenyum. Senyum Lucan yang mempesona itu membuat Olivia jadi semakin salah tingkah.
Beberapa saat keadaan hening.
"Nona, bolehkah saya mengatakan sesuatu. sebelumnya maafkan saya jika saya lancang."
Olivia mencoba menahan dirinya, sekarang Ia bisa menebak apa yang akan dikatakan Lucan .
"Iya katakan saja," kata Olivia.
Deg deg kedua wajah mereka mulai memerah dengan detak jantung yang berdebar kencang.
Lucan kembali menatap Olivia dengan tatapan berbinar, membuat Olivia semakin salah tingkah.
"Nona, saya sejujurnya menyukai anda."
Hehm. Olivia mengangkat sedikit kepalanya menatap Lucan beberapa detik, kemudian menundukkan wajahnya.
Lucan menarik nafas panjang untuk mengatur kata-kata yang akan diucapkannya.
"Sejujurnya saya sudah jatuh cinta pada anda, sejak pertama kali melihat anda."
Olivia semakin gugup, ia tak bisa menyembunyikan perasaannya yang bahagia.
Hati Olivia berbunga-bunga. Namun, ia berusaha untuk bersikap tenang untuk menjaga image.
"Saya sadar siapa diri saya, tapi saya tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan kesempatan berada di hati anda."
Olivia menundukkan wajahnya karena gugup. Sementara Lucan semakin menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Nona, saya tahu jika ungkapan cinta saja tidak cukup. Bersediakah nona memberi kesempatan kepada saya untuk membuktikan jika saya sungguh-sungguh mencintai nona?"
Deg ..
Jantung Olivia berdetak kencang.
'Ya Tuhan aku harus bagaimana?' batin Olivia.
__ADS_1