
Revita saat ini sedang berjuang melawan kanker serviks yang semakin parah. Kanker ini telah menyerang tubuhnya secara menyakitkan dan melumpuhkan. Keadaannya semakin parah setiap harinya, membuatnya merasa putus asa dan kelelahan secara emosional dan fisik.
Revita sering mengalami sakit yang tak tertahankan di area panggulnya. Nyeri ini menjalar ke punggung bawah dan membuatnya sulit untuk duduk atau berjalan. Bahkan untuk melakukan tugas sehari-hari yang sederhana sekalipun, seperti mandi atau makan, Revita harus meminta bantuan orang lain.
Selain rasa sakit, Revita juga mengalami gejala lainnya. Ia sering merasakan kelelahan yang berlebihan, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Karena efek samping dari pengobatan kanker, ia juga mengalami mual dan muntah yang berulang.
Kehidupan sehari-hari Revita juga terpengaruh secara signifikan. Karena kelemahan fisik dan gejala yang dialaminya. Kehilangan kemandirian membuat Revita bergantung pada Olivia.
Meskipun keadaan Revita seperti itu, Oliver tetap mau menikahinya. Setidaknya ia bisa menepati janjinya pada Revita.
Meskipun mendapatkan pertentangan dari kedua orang tuanya pernikahan itu tetap Oliver lanjutkan.
Hari hari berlalu dan kini Oliver menepati janjinya pada Raisa. Kali ini mereka mereka akan menikah di gereja.
Pagi-pagi sekali Olivia menyiapkan Revita untuk bersih-bersih. Di bantu oleh Arzeta, Olivia memakaikan gaun pengantin untuk Revita.
Sementara Arzeta membantu memakaikan Revita wig untuk menutupi rambutnya.
Revita menangis haru saat Olivia menyapu bedak di wajahnya.
"Untuk apa memakai foundation Olivia, make up seperti apapun kita akan membuat Mami terlihat cantik kembali ," tutur Revita sambil meneteskan air matanya.
"Kecantikan itu datang dari hati Mi. Justru Olivia melihat saat ini mami lebih cantik, buktinya Papi mau kan menikah dengan Mami "
"Iya tante, jangan di pikirkan, cantik itu relatif," sahut Arzeta .
Revita hanya bisa tersenyum.
Setelah siap, Arzeta memakaikan kain Veil di kepala Revita. Seketika itu air mata Revita berderai.
Revita teringat bagaimana dulu ia punya impian untuk menikah bersama Olivier dan sekarang hanya menunggu waktu untuk merealisasikannya, meskipun Revita tak bisa menjalani kewajiban sebagai seorang istri, setidaknya ia merasakan tidak dikhianati oleh Oliver,
karena sampai saat ini pun Olivier masih membujang.
Keheningan terjadi beberapa saat.
Kreak ..tiba-tiba terdengar pintu kamar terbuka.
Mereka semua menoleh ke arah Oliver yang tampak gagah dengan kemeja putih dan jas hitam dan dasi kupu-kupunya.
"Sudah siap?" tanya Oliver dengan senyum manisnya.
"Sudah Pi," sahut Olivia .
Oliver menoleh ke arah Revita.
__ADS_1
"Pasti pengantin ku, cantik sekali," kata Oliver ketika hendak membuka kain Veil Revita.
"Eh jangan di lihat dulu dong," cegah Olivia.
"Oh iya," kata Oliver.
Olivia dan Arzeta juga terlihat cantik saat itu. Beberapa saat kemudian Lucan masuk dalam kamar tersebut dan perhatian langsung tertuju pada Olivia.
Secara tak sadar Lucan terus memandangi Olivia, Arzeta yang mengamati gerak-gerik Lucan mulai menyadari ternyata Lucan punya perasaan lebih terhadap Olivia.
"Ayo kita semua pergi dari sini."
Oliver mendorong kursi roda Revita. mereka semua bersiap menuju gereja tempat di mana pemberkatan nikah Revita dan Oliver terjadi.
Revita memang pernah menikah, tapi pernikahan tersebut tidak sah karena tak ada pemberkatan nikah. Lagipula saat menikah ia menggunakan identitas palsu.
***
Tiba di lobby rumah sakit. Sudah ada dua mobil yang menunggu kedatangan mereka.
Satu mobil pengantin dan satu lagi mobil yang di bawa Lucan.
Oliver mengangkat tubuh Revita dan membawanya masuk kedalam mobil. Setelah itu mereka pergi dari tempat tersebut.
Sementara Olivia dan Arzeta akan pergi bersama Lucan.
"Tidak, biar Zeta saja duduk di depan"Olivia menolak karena ia tahu jika Arzeta sedang mengincar Lucan.
"Tidak apa-apa liv, kamu saja." Arzeta segera membuka pintu bagian belakang dan duduk di sana.
"Ayo nona silahkan," kata Lucan lagi sambil membuka pintu mobilnya.
Olivia pun masuk ke dalam mobi dan perlahan meninggalkan tempat tersebut.
Didalam mobil pengantin, Revita bersandar sambil menahan rasa sakit pada bagian perut bawahnya. Selain itu ia juga masih merasa sungkan terhadap Oliver.
Oliver menyadari Revita yang terlihat gelisah.
"Kamu kenapa? Apa kamu sakit?" tanya Oliver.
Revita menggelengkan kepalanya.
Oliver kemudian menyentuh telapak tangan Revita. Seketika Revita menoleh.
"Kamu pasti gugup kan Raisa?" tanya Oliver seraya tersenyum manis ke arah Revita yang masih mengenakan kain Veil.
__ADS_1
Revita menganggukkan kepalanya.
"Aku juga gugup, bukankah kita pernah berencana untuk menikah. Aku pernah berjanji pada mu untuk menikahi mu, dan kini sudah aku tepati."
Revita hanya menundukkan kepalanya seraya meneteskan air matanya.
"Iya Olivier, tapi keadaan saat ini sudah berubah, aku dan kita tak lagi seperti dulu," tutur Revita sambil meneteskan air matanya.
"Mungkin suratan takdir sudah tertulis seperti itu Raisa. Hanya dengan kamu aku berjodoh." Oliver memeluk tubuh Revita yang sedang menangis.
Tubuh itu begitu kurus, membuat Oliver menjadi iba.Raisa yang cantik dengan tubuh yang seksi dan montok kini hanya seperti tulang di lapisi kulit.
"Sudahlah Raisa, jangan menangis. Tak ada yang bisa di sesali, semua sudah terjadi dan masih bisa di perbaiki."
Oliver melepaskan pelukannya kemudian menggenggam erat Revita, beberapa saat kemudian keadaan hening.
***
Sepanjang perjalanan Arzeta terus mengamati Lucan yang selalu mencuri pandang ke arah Olivia.
'Ternyata Lucan memang menyukai Olivia, itu bearti aku harus mundur secara perlahan,' batin Arzeta.
Olivia memang menyadari jika sejak tadi Lucan mencuri pandang terhadapnya.
Namun, Olivia pura-pura tidak tahu, demi menjaga perasaan sahabatnya.
***
Keadaan di gereja begitu sakral Oliver dan Raisa baru saja selesai melakukan pemberkatan nikah.
"Dengan Kasih Tuhan aku sah kan kalian sebagai suami istri." ucap pendeta.
Mereka yang menyaksikan upacara pemberkatan tersebut tersenyum.
"Silahkan kalian berdua bertukar cincin pernikahan," kata pendeta itu lagi.
Oliver menyematkan cincin ke jari manis Raisa, begitupun sebaliknya.
Dengan tangan gemetar Raisa menyematkan cincin ke jari manis Oliver.
"Silahkan mencium pengantin mu."
Oliver membuka penutup kain Veil Raisa, meskipun wajah Raisa sangat jauh berbeda dari Raisa yang dulu. Namun Olivier tak merasa jijik sedikitpun.
Revita tersenyum sekaligus haru saat Oliver mencium bibirnya. Setelah itu keduanya pun saling melempar senyum.
__ADS_1
Olivia, Lucan dan Arzeta ikut bahagia menyaksikan pernikahan tersebut.