
Revita melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, meskipun tubuhnya gemetar dan kepalanya yang terasa pusing.
Sesekali ia melirik ke arah jam tanganya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi dan itu berarti waktunya tinggal setengah jam lagi untuk membatalkan pernikahan antara Olivia dan Oliver.
***
Terdengar gemerincing bel gereja yang menandakan acara pemberkatan nikah akan dimulai. Dekorasi dalam gereja terlihat begitu indah bunga-bunga segar yang dipasang di setiap sudut ruangan.
Para tamu yang hadir telah memenuhi bangku-bangku gereja yang tersusun rapi. Sebuah denting piano mengalun diiringi oleh suara merdu seorang penyanyi solo.
Mobil yang membawa Olivia tiba di depan gereja.
Ada sekitar enam orang bridesmaids yang mengikuti Olivia turun dari mobil.
Langkahnya yang pelan dan lembut diiringi oleh suara musik yang semakin haru. Olivia berjalan di lorong tengah dengan perasaan gugup dan haru sosoknya seketika mencuri perhatian semua yang hadir.
Saat Olivia tiba di depan Oliver, mereka saling memandang beberapa saat.
Olivia membalas senyuman Olivier, begitupun dengan nyonya Regina dan tuan Gerryl yang ikut bahagia di moment kali ini .
Mereka begitu terharu, akhirnya kini Olivier menemukan pelabuhan hatinya untuk mengukir janji se hidup semati.
kedua mempelai itu mulai menyalakan lilin.
Pelayan gereja memberikan petunjuk kepada mereka untuk berlutut dan mendoakan pernikahan mereka. Suasana gereja menjadi hening.
Saat ritual pertama mereka lakukan, tiba-tiba terdengar kaki cepat menghampiri pintu masuk gereja.
Bruak!!
"Hentikan pernikahan ini!" teriak Revita dengan nafas yang terengah-engah dan langsung berlutut karena kakinya tak mampu menahan berat tubuhnya lagi.
Jantung Revita berdetak dengan kencang dengan nafas yang terengah-engah pandangan yang mulai kabur.
"Hentikan pernikahan ini," lirih Revita karena tiba-tiba saja suaranya tak bisa keluar.
Seketika semua orang memandang ke arah pintu .
Begitupun dengan kedua calon mempelai.
__ADS_1
"Mami," guman Olivia sambil meneteskan air matanya. Orang yang ia tunggu-tunggu kedatangannya akhirnya tiba juga.
"Mami!" panggil Olivia dengan senyum merekah di bibirnya.Namun, senyum Olivia itu seakan tertarik kembali ketika melihat Revita sedang menangis tersedu-sedu sambil berlutut.
Hiks, hiks tangis terdengar memecahkan keheningan dan kesakralan tempat tersebut.Revita sambil berupaya bangkit setelah berlutut. Namun kalinya yang gemetar tak mampu untuk menahan beban berat di tubuhnya.
Regina dan Gerryl menatap tajam ke arah perempuan yang menangis di ujung koridor.
Mereka coba mengingat-ingat siapa wanita itu.
Dan ketika ingatan mereka pulih, kedua orang tua Oliver kaget sekaget- kagetnya.
"Daddy dia adalah Raisa! Ops, nyonya Regina menutup mulutnya sambil membelalakkan bola matanya karena kaget."
"Memangnya kenapa dengan Raisa?"
Keadaan masih hening, mereka semua masih menunggu reaksi Revita selanjutnya.
Olivia dan Oliver menghampiri Revita yang sepertinya tidak mampu berjalan, sementara para tamu tetap berada di posisi mereka masing-masing sehingga keadaan gereja tersebut masih hening.
Olivia semakin mempercepat langkah kakinya menghampiri Revita yang hanya menangis dengan tubuh masih tergeletak di lantai.
"Mami ! mami kenapa?" tanya Olivia sambil membuka penutup wajahnya ketika sudah berada di hadapan Revita .
Revita menatap wajah Olivia dengan mata penuh sesalan dan air mata yang mengalir tanpa henti. Dia merasakan kesedihan yang begitu dalam, menyayat hatinya dengan luka yang tak terobati. Betapa sakitnya, ia tidak bisa menahan rasa sesal yang membanjiri pikiran dan perasaannya seperti saat ini.
Saat melihat wajah Olivia, Revita teringat pada masa-masa sulit yang pernah mereka jalani bersama.
"Olivia! maafkan mami Olivia, hiks " tangisnya lirih sambil mengusap pipi Olivia.
Olivia meraih telapak tangan Revita yang menyentuh bagian pipinya kemudian ia menciumi telapak tangan tersebut.
"Iya Mami, terima kasih karena sudah datang di pernikahan Olivia," kata Olivia dengan berurai air mata haru dan bahagia.
Mendengar ucapan Olivia tersebut tangis Revita semakin kencang membuat mereka semua keheranan
Oliver masih duduk setengah berjongkok menahan tubuh Revita.
"Tidak Olivia, kamu tidak boleh menikah dengan Oliver hiks, karena dia adalah ayah biologis mu hiks."
__ADS_1
Seketika bola mata Olivia terbelalak begitu pun dengan Oliver, kericuhan terjadi karena para tamu undangan juga ikut kaget dan bertanya tentang ucapan Revita tersebut.
Arzeta dan Lucan juga ikut kaget mendengar penuturan tersebut.
Tubuh Olivia masih berguncang ia seakan tak percaya dengan ucapan Revita tersebut.
Tangan Oliver yang menahan tubuh Revita juga ikut gemetar.
"Raisa! apa maksudnya semua ini, bukankah kau pernah bilang jika Olivia adalah anak dari pernikahan kamu dengan pria itu?!"
Arzeta menghampiri Olivia, ia takut terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.
"Hiks, hiks Aku berbohong, aku sengaja ingin menghancurkan keluarga mu Oliver! aku membenci kau dan keluarga mu sampai mendarah daging sehingga aku juga membenci kelahirannya."
Tubuh Olivia semakin terguncang dengan dada yang terasa begitu menyesakan, semesta suasana gereja tak lagi kondusif. Nyonya Regina dan Tuan Gerryl menghampiri mereka.
"Apa-apaan kau ini Raisa? apa yang sebenarnya kau inginkan?'' tanya nyonya Regina .
Revita menatap nyalang ke arah Regina .
"Iya Nyonya! dialah cucu mu yang tak pernah kau akui itu!" tunjuk Revita ke arah Olivia .
Nyonya Regina melihat ke arah Olivia dengan perasaan yang sesal.
"Jadi benar dia adalah cucuku?" tanya Nyonya Regina dengan dada yang terasa sesak.
Olivia sudah tak mampu menahan kecambuk di batinnya seketika ia pun menjerit.
"Akh! kenapa ini bisa terjadi mami?! kenapa tidak bilang pada Oliv mami, apa salah Oliv pada mami, hiks."
Revita bangkit Kemudian menyeret lututnya agar bisa memeluk Olivia .
"Hiks, maafkan mami Olivia ! maafkan mami," tangis Revita penuh sesal.
Keadaan kembali hening hanya terdengar suara sesal Revita dan Olivia.
Sementara Oliver tertunduk, dengan dada yang terasa terhimpit beban berat.
Bersambung dulu ya, author galau nih gara-gara kontraknya di tolak, makanya ganti judul 😁
__ADS_1