
Lucan mondar-mandir di depan kamarnya, perkataan Oliver di kantor membuatnya berfikir, jika seorang pria harus percaya diri dan berani untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Seperti olivers yang terang-terangan mengatakan perasaannya kepada Arzeta. seperti itulah dia harus bertindak
"Mungkin, aku juga harus seperti Tuan Olivier. jika aku tidak pernah mengatakannya, maka sampai kapanpun Olivia tidak akan mengetahui perasaanku," guman Oliver.
"Iya, demi mendapatkan Olivia, aku harus berani mengajaknya kencan. mumpung Tuan lagi kasmaran dengan Arzeta, ku rasa dia tidak akan mempersalahkan kedekatan kami."
Lucan tersenyum dan langsung inisiatif untuk menghampiri Olivia di malam ini.
Dengan segera ia mengganti pakaian santainya dengan pakaian outfit.
Ia berniat menghampirinya rumah Olivia .
***
Olivia berhias diri di dalam kamarnya. Karena sebentar lagi ia akan ikut Nyonya Regina pergi ke arisan sosialita Omanya itu.
Ya, meskipun Olivia tidak menyukai ajakan Nyonya Regina. Namun, ia berusaha untuk berdandan dan berpakaian konglomerat.
Dengan balutan gaun sutra berwarna putih, dan bando yang berwarna senada , Olivia tampak sangat cantik. setelah siap ia keluar dari kamarnya untuk menemui Nyonya Regina.
Turun dari tangga, ternyata Nyonya Regina dan Oliver sudah menunggunya.
Melihat cucunya yang sudah berdandan sangat cantik, Nyonya Regina tersenyum sumringah.
"Aduh cucu Oma cantik sekali, Oma merasa bangga bisa membawa kamu dalam acara ini. Pasti nantinya bakalan banyak yang naksir sama kamu, mereka pasti rebutan untuk menjadikan kamu istri dari anak atau cucu mereka," kata Nyonya Regina, sambil melirik ke arah Oliver.
Olivia tersenyum kecut, sudah dia duga jika ada maksud tertentu, di balik ajakan pergi arisan itu.
"Jadi maksud Mommy mau menjodohkan Olivia ?" tanya Oliver .
"Iya dong, Mommy mau mencarikan jodoh yang terbaik untuk cucu Mommy."
"Tidak Mommy, biarkan Olivia menyelesaikan kuliahnya. Aku gak mau anak ku nikah muda."
Nyonya Regina mengkerucutkan bibirnya.
"Bilang saja kamu takut di langkah oleh anakmu kan? Makanya kamu nggak usah urusin Olivia, urus saja dirimu sendiri. Mommy mau kamu segera menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga."
"Iya, aku juga sudah punya calon."
"Baguslah, jika memang kamu sudah punya calon, kamu bawa calon itu ke rumah kita, secepatnya perkenalkan dengan mommy."
"Iya, Mommy juga sudah kenal kok."
''Ha? siapa?'' tanya nyonya Regina.
"Hehe, nanti saja aku beritahu, sekarang aku mau kencan dulu. Livia Papi pergi dulu ya,'' kata Oliver sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Olivia.
Sementara Olivia hanya cemberut saja.
''Livia, kamu tahu siapa pacar oapi kamu?" tanya nyonya Regina.
Olivia menganggukkan kepalanya.
"Siapa?" tanya Nyonya Regina karena penasaran.
"Arzeta."
"Arzeta?! temen kamu itu?" Nyonya Regina sedikit kaget.
__ADS_1
"Iya Oma, Memangnya kenapa?" tanya Olivia .
"Tidak apa-apa, Ya sudah kalau memang Arzeta yang jadi pilihan papi kamu, Oma tidak masalah, Oma jadi tidak perlu mencarikan calon istri untuknya lagi."
"Iya Oma, karena Livia sudah kenal Arzeta dari kami SMP. Arzeta orangnya baik banget. Semoga Papi dan Zeta berjodoh."
"Iya Sayang, kalau begitu ayo kita pergi."
Nyonya Regina dan Olivia keluar dari rumah.
Saat hendak menghampiri mobil, tiba-tiba mereka melihat ada sebuah mobil yang berhenti, dan mobil itu adalah mobil Lucan.
Mereka pun menunggu sampai Lucan keluar dari mobil.
Lucan melihat ke arah Olivia yang terlihat begitu cantik. Namun ia merasa sedikit kecewa karena sepertinya Olivia hendak pergi bersama Nyonya Regina.
Sebenarnya yang di segani Lucan untuk mendapatkan Olivia bukan lah Oliver, tapi Nyonya Regina.
Dengan langkah ragu-ragu Lucan menghampiri keduanya.
'Selamat malam Nyonya," kata Lucan .
"Iya Selamat malam, kamu mau mencari Oliver ya?"
"Ehm iya Nyonya. Apa Tuan ada?"
Lucan memang berencana langsung ingin mengatakan maksudnya untuk mendekati Olivia kepada Oliver terlebih dahulu, sebelum dia mendekati Olivia .
"Sayang sekali Lucan, Oliver sudah pergi."
"Oh ya sudah, kalau begitu terima kasih Nyonya," kata Lucan dengan penuh hormat.
Matanya pun mencuri-curi pandang ke arah Olivia yang memang terlihat sangat cantik di malam itu.
Mobil Nyonya Regina tiba di sebuah rumah mewah. Saat itu parkiran rumah tersebut hampir penuh dengan deretan mobil-mobil mewah.
Mobil berhenti di depan teras rumah, nyonya Regina dan Olivia pun turun dari mobil tersebut dengan langkah anggunnya.
"Ayo Sayang, kita masuk."
Olivia dan Nyonya Regina masuk kedalam rumah tersebut. Seketika mereka mendapatkan sambutan hangat.
Beberapa wanita paruh baya melambaikan tangannya ke arah Nyonya Regina.
"Ke sana yuk Olivia."
Mereka berjalan menghampiri kumpulan para sosialita itu.
Di antara kerumunan para sosialita, ada juga kerumunan anak-anak muda, mereka terdiri dari tiga orang cowok dan hanya satu cewek yang seusia dengan Olivia.
Olivia terus saja menggandeng tangan Regina. Karena ia merasa sungkan sekali berada di tempat itu.
'Eh Nyonya Regina saya pikir nggak jadi datang," kata seorang wanita yang duduk di samping nyonya Regina.
"Jadi dong. agak terlambat biasalah menunggu cucuku siap-siap."
Wanita itu melirik ke arah Olivia.
"Oh jadi dia Olivia, cucu anda yang ingin anda jodohkan dengan Putra saya?"
Olivia membelalakkan bola matanya.
__ADS_1
"Apa dijodohkan?"
"Iya, yang mana lagi, aku kan cuman punya satu cucu, karena itulah saya ingin menjodohkannya dengan putra anda si Bastian itu."
Olivia mengkerucutkan bibirnya.
"Oh iya, Livia sayang perkenalkan, ini tante Ratna."
Olivia dan Ratna saling melempar senyum kemudian Olivia bersalaman dengan tante Ratna.
Tante Ratna mengamati Olivia dari atas sampai bawah sambil tersenyum.
"Kamu cantik sekali Olivia, sangat serasi dengan Bastian."
Olivia hanya tersenyum tipis mendengar pujian dari tante Ratna itu.
"Bastian!" tante Ratna memanggil seorang pria yang sedang bicara dengan beberapa orang pria muda.
Bastian pun menghampiri.
"Iya Ma, ada apa?" tanya Bastian.
"Ini loh, perkenalkan. Dia Olivia, gadis yang ingin mama dan Tante Regina jodohkan dengan kamu."
Bastian menoleh ke arah Olivia sambil tersenyum.
"Hay, aku Bastian." Bastian menyodorkan tangannya.
"Olivia," sahut Olivia sambil mengulurkan tangannya.
Keduanya pun saling melempar senyum. begitu juga dengan Nyonya Regina dan tante Ratna.
"Bastian, kamu ajak Olivia ngobrol ya, biar kalian saling mengenal mengenal," perintah tante Ratna.
"Oh iya dong Ma. Ayo Olivia, aku perkenalkan kamu dengan teman-teman aku."
Olivia mengangguk, sebenarnya ia masih tidak percaya diri jika bergaul dengan kaum tajir itu.
Olivia dan Bastian pun menghampiri kumpulan orang muda itu dan mereka pun terlibat obralan seru.
***
Setelah beberapa Jam, acara pun selesai dan masing-masing mereka bersiap untuk pulang.
Bastian dan Olivia menghampiri Nyonya Regina.
"Liv, sudah malam yuk kita pulang," ajak Nyonya Regina.
"Maaf Tante Boleh nggak Olivia aku saja yang mengantarnya pulang, siapa tahu bisa bertemu dengan papinya Olivia," kata Bastian.
Mendengar ucapan Bastian Nyonya Regina tersenyum lebar.
"Tentu saja boleh, harusnya kamu sering-sering ke rumah agar bisa semakin dekat dengan Olivia."
"Oh iya itu sudah pasti Tante."
"Ya sudah kalau begitu kamu antar olive pulang biar saya pulang dengan sopir."
"Iya Tante, terima kasih kalau begitu."
Karena sudah mendapat izin Bastian pun mengantar Olivia pulang.
__ADS_1
bersambung dulu ya gengs Maaf author baru up. maklumlah harus bagi waktu 🙏🥰