Bukan Ikatan Cinta Sedarah

Bukan Ikatan Cinta Sedarah
Impian Olivia


__ADS_3

Matahari bersinar dengan cerah pagi ini hingga membangun seorang insan yang masih tertidur mendengkur dalam keadaan tertelungkup.


Oliver mulai membuka matanya, karena cahaya matahari yang membias di kamarnya begitu menyilaukan.


Secara perlahan, Oliver membuka matanya dan melihat ke arah sekelilingnya.


Oliver perlahan bangkit dengan kepala yang masih terasa berat, ia mengucek-ucek matanya untuk memperjelas pandangannya.


Oliver mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan dan ia menyadari jika saat ini ia berada di ruangan pribadinya.


Oliver mengusap wajahnya dengan kasar, tak sengaja ia melihat jas hitam dan kemeja putih yang ia gunakan di hari pernikahannya.


"Ternyata ini bukan mimpi," gumam Oliver.


Bola mata Oliver berputar ke segala arah, perasaannya kembali gelisah. Oliver kembali memikirkan apa yang telah terjadi antara dirinya, Olivia dan Revita .


"Ternyata Olivia adalah darah daging ku. Apa yang terjadi pada Olivia saat ini. Apa mungkin dia masih syok dan marah padaku."


Oliver meraih handphone yang masih berada di saku jasnya semalaman.


Ia pun mencoba untuk menghubungi Olivia. Ia takut terjadi sesuatu pada Olivia karena perbuatan Revita.


***


Pagi-pagi sekali Olivia membantu Revita bersih-bersih. Karena saat itu Revita kesulitan untuk bergerak, Olivia mengelap wajah dan tubuh Revita dengan air hangat.


Kemudian menggantikan Revita pakaian, dengan telaten Olivia merawat Revita, sehingga membuat Revita semakin menyesal.


Bola mata Revita selalu saja berembun ketika melihat ketulusan dari Olivia.


Setelah itu ia menyuapi Revita makan bubur yang sudah disediakan dari rumah sakit


Olivia menyendok bubur itu kemudian mendekatkan ke mulut Revita.


Namun Revita menggelengkan kepalanya.


"Mami harus makan, jika tidak, kondisi Mami akan semakin memburuk."


"Mami nggak mau menyusahkan kamu, karena kalau Mami makan, nanti, pasti akan muntah.


"Semoga saja tidak Mami, bukankah dokter sudah memberikan obat lambung untuk mami."


Olivia kembali memaksa Revita untuk makan, dan akhirnya Revita bisa makan meski hanya beberapa suapan saja.


Handphone Olivia bergetar di atas nakas.


Olivia meraih handphone tersebut. Namun, saat ia mengetahui jika Oliver yang menelponnya, Olivia segera meletakkan handphone tersebut.


"Siapa yang menelpon Liv?"tanya Revita curiga.


"Bukan siapa-siapa Mi."


Olivia lanjut menyuapi Revita. Namun, handphone itu terus menyala dan bergetar. Karena kesal, Olivia menonaktifkan data selulernya.


Entah kenapa tiba-tiba perasaan Olivia berubah seratus delapan puluh derajat, ia kini membenci Oliver, karena menyangka Oliver jika Oliver adalah biang dari masalah yang ia dan Revita hadapi sejak dulu. Olivia mengira jika Oliver pria brengsek yang memanfaatkan keadaan hingga dirinya harus terlahir tanpa Ayah dan membuat dirinya mendapatkan julukan anak haram oleh teman-temannya.


Karena Oliver juga, Revita sampai harus menjadi wanita penghibur demi menghidupi dirinya, itulah yang ada di pikiran Olivia saat ini.


***

__ADS_1


Oliver terus mencoba menghubungi Olivia, namun teleponnya tidak diangkat oleh Olivia.


Oliver masih mencoba menghubungi Olivia, dan tiba-tiba saja, nomornya sudah di luar jangkauan, padahal baru beberapa detik yang lalu, masih aktif.


"Kemana perginya Olivia, apa jangan-jangan Regina membawanya pergi!'


Oliver mulai berpikiran tentang Revita. Oliver melirik ke arah jam dinding dan waktu masih menunjukkan pukul delapan pagi.


Oliver masuk ke dalam kamar mandi setengah jam kemudian ia keluar dari kamar mandi tersebut.


Setelah siap Oliver menghubungi Lucan .


"Halo Tuan," sapa Lucan di sambungan teleponnya.


"Lucan, tolong kamu cari keberadaan Olivia di kost-an Nya, sementara saya akan mencarinya di rumahnya yang ada di luar kota."


"Maaf tuan, nona Olivia saat ini sedang di rumah sakit karena merawat ibunya yang menderita kanker."


"Menderita kanker?''


"Iya setelah dari gereja, Olivia pulang ke rumahnya yang ada di luar kota. Namun, karena kami khawatir dengan keadaannya, kami pun menyusul. kebetulan saat kami datang keadaan nyonya Revita sangat memprihatinkan, bahkan beliau kesulitan untuk bergerak saat itu."


Oliver cukup kaget mendengar penuturan dari asistennya itu.


"Kalau begitu dimana Revita dirawat?"


"Rumah sakit Harapan, Tuan."


"Baiklah saya akan segera ke sana sekarang."


Oliver keluar dari kamarnya kemudian ia berjalan cepat menuruni anak tangga Setibanya di lantai bawah, Oliver dihadang oleh Regina.


"Mau mencari keberadaan Olivia," jawab Oliver ketis.


"Iya Oliver, bawa saja Olivia kemari, biar dia tinggal di sini bersama kita, bagaimanapun dia adalah cucu mommy kan."


Oliver menatap Nyonya Regina selama beberapa saat, kemudian langsung pergi meninggalkan nyonya Regina.


Nyonya Regina merasa kesal dengan tingkah Oliver.


"Oliver! Bisa tidak ya k lau Mommy bicara, kamu tidak usah pergi! Mommy belum selesai bicara! dasar tidak sopan!"


Karena masih kesal dengan Nyonya Regina, Oliver terus saja melangkah tanpa mempedulikan panggilan Nyonya Regina.


Oliver bergegas menaiki mobilnya dan segera menuju rumah sakit Harapan. Sesaat setelah dia tiba di rumah sakit , Oliver segera menghampiri ruang perawatan Revita .


Kreak... pintu ruangan tersebut terbuka.


Olivia dan Revita seketika menoleh ke arah pintu. Mereka cukup kaget dengan kedatangan Oliver.


Olivia menundukkan wajahnya yang terlihat kesal, ketika Oliver menghampirinya.


Oliver pun duduk di samping Olivia dan langsung berhadapan dengan Raisa.Oliver merasa iba melihat perubahan drastis pada Raisa, Raisa terlihat lebih tua dari usiamya, kulitnya begitu kendur hingga seperti keriput.


Revita juga menatap sinis Oliver selama beberapa saat kemudian membuang wajahnya.


"Bagaimana keadaan mu Raisa, kenapa kau tak pernah bilang jika kau menderita kanker?" tanya Oliver.


"Mau apa Om datang kemari?'' Sahut Olivia sinis, kemudian ia membuang wajahnya dan menundukkan pandangannya.

__ADS_1


"Olivia, kau marah padaku?" tanya Oliver sambil mengangkat dagu Olivia .


Olivia menepis tangan Oliver .


"Sebaiknya Om segera pergi, karena tak ada yang mengharapkan kehadiran om disini," ucap Olivia dengan ketus.


"Olivia, aku tahu kau pasti marah dan salah paham, tapi sejujurnya aku tak pernah tau jika Raisa hamil, ini cuma kesalahan pahaman saja. Olivia maafkan aku."


Olivia diam sambil menyilang kedua tangannya ke dada.


"Olivia, Seandainya aku tahu, kau adalah putriku, tentu Kejadian ini takkan terjadi."


Oliver memeluk Olivia dari belakang.


"Lepaskan Om! karena om, mami dan aku menderita dari kecil.


"Tidak Olivia, semua ini salah paham. Aku sudah ingin bertanggung jawab terhadap mami kamu waktu itu, tapi Aku justru mendapat kabar, jika Raisa Saat itu pulang ke kampung halamannya, dan menikah dengan tunangannya. Aku juga kecewa saat itu."


Olivia masih terus memalingkan wajahnya, enggan untuk melihat ke arah Oliver.


"Olivia, semua sudah terjadi dan apapun keadaannya Kau adalah putriku dan aku sangat menyayangi mu. Semua yang terjadi mungkin tak bisa diperbaiki tapi setidaknya kita bisa membuat keadaan lebih baik."


"Sebagai bentuk pertanggungjawaban ku terhadap mommy kamu, aku siao menikahinya, kita akan rawat mami kamu sampai sembuh," tutur Oliver dengan hati-hati.


Mendengar ucapan Oliver hati Olivia mencair, matanya menatap Oliver berembun.


"Benarkah Om?"


"Iya Nak, kita akan jadi keluarga yang utuh, kita bisa berikan perawatan yang terbaik untuk Mami kamu. Kamu mau kan?" tanya Oliver sambil merentangkan tangannya.


Tentu saja Olivia mau, dia begitu ingin memiliki keluarga yang utuh.


Olivia langsung menghambur memeluk Oliver.


"Benar ya Om,"


"Iya Sayang, apa pun akan ku lakukan demi kebahagiaan kamu," kata Oliver sambil mengusap punggung Olivia .


Keduanya pun mengurai pelukan. Olivia menatap wajah Revita yang sudah basah dengan air mata.


"Mami, mau kan?"


"Tidak Olivia, mami tidak pantas untuk papi mu, mami terlalu kotor," kata Revita.


"Oliver menggenggam tangan Revita. Aku sudah pernah berjanji padamu, apapun yang terjadi padamu aku akan bertanggungjawab. Dan berikanlah aku kesempatan untuk bertanggung jawab," kata Oliver sambil menatap iba pada Revita .


"Please Mami, livia ingin Keluarga yang utuh."


Revita menerawang langit-langit kamarnya.


Mungkin dia tak punya waktu banyak untuk mewujudkan impian Olivia, karena dokter memang menvonis Revita tidak akan berumur panjang.


Karena ingin mewujudkan keinginan Olivia yang ingin memiliki keluarga utuh,Revita pun menyetujui pernikahan itu.


"Ia pun mengangguk kepalanya."


"Asik! akhirnya Olivia bisa punya keluarga yang utuh!"kata Olivia sambil memeluk Oliver dan Revita secara bergantian.


Revita dan Oliver saling memandang dan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2