
Oliver dan Olivia dalam perjalanan pulang.
"Aku sudah memberi kartu namamu pada ibumu, kuharap dia akan menghubungiku nanti setelah ia kembali dari liburannya."
"Baiklah kalau begitu."
"Kalau begitu kita ke mana lagi sekarang? Aku sengaja tidak ke kantor hari ini, agar bisa bersama kamu."
Olivia tersenyum.
" Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu bersama?" tanya Oliver .
"Menghabiskan waktu bersama? Kita mau ke mana Om ?
"Kita beli baju-baju tas dan sepatu baru untuk kamu kuliah terus kita fitting baju untuk pernikahan kita, bagaimana?" tanya Oliver.
Olivia tersenyum." Jadi kita berbelanja lagi nih Om, padahal baru kemarin Om beliin aku baju tas dan sepatu yang mahal."
Oliver tersenyum sambil membelai kepala Olivia yang berada di pundaknya.
"Ya begitulah kalau jadi calon istri seorang pengusaha seperti saya. Setiap hari kerjaannya berbelanja, liburan perawatan tubuh, dan segala aktifitas yang menyenangkan melakukan, apa yang kamu inginkan, bisa kamu dapatkan dengan mudah."
"Ehm kedengarannya menarik Om, pantes aja banyak para gadis yang mau menjadi simpanan Om, Om." Olivia tersenyum polos.
"Nah itu dia, kamu termasuk gadis yang beruntung karena mendapatkan saya," kata Oliver sambil menaikkan turunkan alisnya.
"Hehe."
Olivia semakin erat memeluk Oliver. Keduanya saling tersenyum bahagia.
"Om kenapa ya nama kita hampir mirip ya?" tanya Olivia.
"Ya mungkin karena kita jodoh. pertemuan kita juga nggak pernah disengaja kan?"
"Iya juga ya."
"Aku gak pernah menyangka bertemu dengan om-om tampan kemudian om-om tersebut mengajakku menikah, haha. Rasanya seperti mimpi."
__ADS_1
Dalam mobil keduanya bercanda dan tertawa menikmati saat-saat bersama. Olivia jadi semakin lengket dengan Oliver karena ia begitu merasa nyaman dengan pria tampan yang selalu saja memanjakannya, selain itu Oliver juga bisa jadi teman yang baik yang siap mendengarkan keluh kesahnya dan memberi solusi dari masalah yang ia hadapi.
Dalam perjalanan kembali ke rumah, oliver bercerita tentang rencana masa depan kuliah Olivia. Mereka membahas jurusan yang mungkin diminati Olivia, dan Oliver berbagi pengalaman dan saran tentang dunia perkuliahan.
Tak terasa waktu berlalu dan mereka tiba di satu pusat perbelanjaan.
Mereka memutuskan untuk berkeliling untuk mencari kebutuhan kuliah Olivia terlebih dahulu, meski saat itu Olivia belum mendaftar di Universitas manapun.
Mereka tiba di sebuah toko yang menyediakan perlengkapan sekolah, cukup lama waktu yang dihabiskan keduanya untuk memilah milih perlengkapan kuliah Olivia. Oliver memastikan Olivia membeli semua barang-barang dengan kualitas terbaik.
Setelah itu mereka makan sambil membicarakan tentang rencana pertunangan mereka.
Setelah itu, Oliver dan Olivia memutuskan untuk pergi ke toko perhiasan. Di toko perhiasan Olivia kembali di manjakan oleh Oliver dengan membeli satu set perhiasan emas yang harganya tidak main-main.
Mereka juga mau beli sepasang cincin untuk pertunangan mereka. Masih di hari yang sama, Oliver mengajak Olivia singgah ke sebuah butik untuk fitting baju pengantin.
Meskipun belum ada rencana menikah untuk tanggal pastinya, Oliver yakin tak akan ada yang menghalangi pernikahan mereka nantinya.
Olivia begitu senang dan antusias mencoba berbagai gaun pengantin. Bahkan mereka memesan desain khusus untuk pesta pernikahan dan upacara pemberkatan pernikahan mereka nanti.
Puas berbelanja Oliver kembali mengajak Olivia makan di restoran mewah. harian itu Olivia dimanja oleh Oliver dan hal itu menumbuhkan perasaan yang lebih terhadap Oliver.
***
Olivia keluar dari kamarnya dengan memunculkan senyum manis di wajahnya, rambutnya tergerai indah dengan keriting yang sempurna. Gaun merah mempesona yang ia kenakan membuatnya tampak seperti seorang ratu. Makeup yang dibuatnya dengan hati-hati menyempurnakan penampilannya, mempertegas mata indahnya yang mencuri perhatian Oliver setiap kali mereka bertatap mata.
Oliver tidak dapat menahan kekagumannya saat melihat pasangannya. Ia terpesona dengan kecantikan yang dimiliki Olivia. Seperti api dalam hatinya yang semakin terbakar, ketika sedang bersamanya. Ia menyadari betapa beruntungnya bisa membanggakan Olivia sebagai calon istrinya nanti.
"Sungguh,aku belum pernah melihat wanita seperti bidadari, terkecuali saat ini," kata Oliver sambil tersenyum dan menggenggam tangan Olivia erat-erat.
Olivia tersenyum manis, bibirnya bergerak kecil " Ehm om terlalu berlebihan." Olivia tersenyum dengan wajah yang merona.
Sementara Oliver tak henti-hentinya ia tersenyum seraya mengagumi kecantikan wanita yang ada di hadapannya.
"Ayo kalau begitu kita langsung saja, aku sabar memperkenalkanmu pada keluarga besar ku."
"Ayo Om, tapi kenapa ya aku jadi gugup."
__ADS_1
"Tidak usah gugup kan aku akan selalu bersamamu dan menggandeng tanganmu," kata Oliver sambil mengganti tangan Olivia.
Setiap orang yang lewat memperhatikan mereka, meskipun Oliver sudah berumur. Namun kharismatik membuatnya terlihat pantas bersanding dengan gadis muda seperti Olivia .
Mereka pun masuk kedalam mobil dan pergi dari tempat itu.
***
Hari ini di rumah keluarga besar Oliver sudah berkumpul keluarga besar Oliver dan juga rekan rekan bisnisnya. Mereka sengaja datang untuk melihat gadis mana yang beruntung, yang bisa mendapatkan hati Oliver.
Para tamu begitu menikmati hidangan sambil berbincang-bincang dan bercengkrama. Mereka masih menunggu hadirnya sang calon menantu keluar Gerryl.
"Selamat malam semuany !" sapa Oliver yang baru saja tiba di depan pintu .
Seketika mereka berdua jadi pusat perhatian. Semua mata tertuju pada pasangan yang berjalan sambil bergandengan tangan dengan senyuman yang tak lekang di bibir mereka.
Sebagian keluarga Gerryl senang melihat calon istri Oliver yang begitu anggun dan cantik di malam ini.
Oliver membawa Olivia ketengah keluarga besarnya, kemudian memperkenalkan Olivia dengan seluruh anggota keluarga yang hadir. Setelah itu Oliver memperkenalkan Olivia dengan beberapa sahabat dan kerabat yang juga hadir di malam itu.
Mereka ikut bahagia mendengar rencana Oliver yang hendak melepaskan masa lajangnya dalam beberapa bulan kedepan. Karena hal itulah yang mereka tunggu-tunggu sejak lama. Beberapa orang sahabat Oliver bahkan sudah memiliki anak gadis. Dan hanya Oliver yang belum menikah antara mereka.
Setelah berkenalan dan bercengkrama dengan para sahabatnya. Oliver memperkenalkan Olivia kepada beberapa orang asistennya, salah satunya adalah Lucan dan juga Silvia yang juga menduduki posisi cukup penting di perusahaan Oliver.
Ketika menghampiri lucan, pria itu menatap Olivia tak berkedip, pria muda itu seperti tersihir dengan kecantikan dan senyuman manis Olivia. Meskipun begitu, Lucan tahu memposisikan dirinya. Ia terus menundukkan wajahnya agar tak memandang ke arah Olivia.
Setelah perkenalan singkat antara Lucan dan Olivia. Mereka berkenalan dengan Silvia.
Silvia merasa terkejut melihat calon istri Oliver yang jauh lebih muda dan lebih cantik darinya, dalam hati mulai timbul perasaan cemburu dan kesal karena merasa telah kehilangan kesempatan untuk memiliki Oliver.
Meskipun, antara dirinya dan Oliver tak pernah berkomitmen apapun. Namun, Silvia sudah pernah bersumpah pada dirinya sendiri jika suatu saat nanti ia akan membawa Oliver ke jenjang pernikahan.
Setelah memperkenalkan Olivia pada Silvia, Oliver kembali membawa Olivia bertemu dengan tamu-tamu lainnya .
Silvia menatap tajam ke arah Oliver dan Oliver yang tampak mesra dan bahagia saat bercanda tawa dengan tamu-tamu lainya.
'Dasar gadis ingusan, lihat saja apa yang aku lakukan padamu! akan ku pastikan pernikahan kalian batal ! dan Oliver akan meninggalkan mu begitu saja, haha' batin Silvia sambil tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Jika Silvia menatap Olivia dengan tatapan penuh kebencian, berbeda dengan Lucan. Pria muda itu hanya bisa melihat senyum Olivia dari kejauhan sambil tersenyum.