
Lucan dan Olivia berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang, setelah hari yang menyenangkan bersama.
Lampu hijau sudah mereka dapatkan, kini tinggal menunggu ACC dari nyonya Regina.
Dalam perjalanan pulang, Lucan terus saja menggenggam tangan Olivia
Meskipun mereka resmi menjadi sepasang kekasih, keduanya masih merasa malu dan gugup.
Olivia terus saja memalingkan wajahnya kearah jendela karena tidak sanggup di tatap oleh Lucan.
"Kok diam saja Liv?" tanya Lucan seketika memecahkan kesunyian diantara mereka.
"Habisnya mau ngomong apa?"
"Ya ngomong apa sajalah, tanyain kek sekolah dimana dulunya, sudah pernah punya pacar belum."
"Ah gak penting lah itu."
"Bener Liv, gak penting lah masa lalu, yang penting masa depan aku sudah ada kamu."
Lucan meraih tangan Olivia kemudian menciumnya dengan mesra.
Olivia hanya bisa tertunduk dan tersipu malu.
"Dari tadi kamu aku ajakin ngobrol kok cuma jawab sepatah dua patah saja sih Liv."
"Ya habisnya mau ngomong, Mas."
"Ngomong apa sajalah Liv, sebentar lagi kita sampai Nih. Aku rasanya gak mau pisah sama kamu secepat ini Liv, sayangnya aku harus kembali ke kantor, bagaimana klau nanti malam kita ngedate lagi?"
"Aku sih mau aja Mas, tapi harus izin Oma dulu. Kamu tahu sendiri kan Oma sudah punya calon suami untuk aku."
"Biar aku yang izin sama Oma kamu Liv."
"Kamu berani, Mas?" tanya Olivia .
"Berani dong. Gunung ku daki, Lautan pun kan ku seberangi, bila ku miliki Olivia pujaan hati," kata Lucan sambil mencolet dagu Olivia .
"Hah! Mas Lucan, bisa saja gombalnya."
"Gak gombal kok Liv. Ini serius, aku belum pernah jatuh cinta, aku orang yang introver, jadi sangat sulit menemukan orang yang benar-benar nyaman, tapi jika aku sudah merasa nyaman aku akan perjuangkan sampai mati."
Olivia tersenyum karena terkesan dengan kata-kata Lucan .
"Aku mau lihat ya Mas buktinya, biasanya cowok itu kan kalau mau lagi dapetin saja baik-baik, sayang sayang, sudah di dapetin malah disia-siakan."
"Iya kita lihat saja Liv."
__ADS_1
Mobil Lucan tiba di depan rumah Nyonya Regina.
Saat itu nyonya Regina ternyata sudah menunggu mereka.
Nyonya Regina melipat kedua tangannya di dada, tatapan matanya sinis ke arah Olivia dan Lucan yang baru saja keluar dari mobil.
Lucan dan Olivia berjalan menghampiri Nyonya Regina.
"Selamat siang Nyonya, saya mengantar Olivia."
"Iya terima kasih kalau begitu." jawaban Nyonya Regina terkesan sinis.
"Olivia, Ayo masuk ada yang ingin Oma bicarakan."
Olivia menoleh ke arah Lucan .
"Mas, aku masuk dulu ya."
"Iya silahkan."
Lucan pun kembali ke mobilnya dan meninggalkan rumah mereka.
Regina dan Olivia berjalan beriringan memasuki rumah.
"Oma dengar tadi kamu menolak diajak pulang sama Bastian?"
"Iya Oma kebetulan tadi mas Lucan sudah menjemput Livia duluan."
"Tapi oma, mas Lucan itu bukan sekedar asisten Papi. Livia dan Mas lucan sudah jadian," ucap Olivia dengan tegas.
Seketika bola mata Nyonya Regina membelalak hingga hampir keluar mendengar pengakuan dari cucunya itu.
"Olivia ! Oma sudah menjodohkan kamu dengan pria terbaik, kamu malah pilih asisten papimu?! dia itu nggak satu level dengan kita Olivia. Oma bisa malu kalau cucu satu-satunya punya pacar dengan asisten Papinya sendiri."
"Tapi Oma, Mas Lucan itu baik. lemah lembut, perhatian dan orangnya nggak neko-neko, beda sama Bastian yang sepertinya keras kepala."
"Ya iyalah dia baik sama kamu, Kamu kan anak bosnya, lagi pula kamu itu dimanfaatkan oleh Lucan, Olivia!"
"Lucan pasti hidup senang lah jika bisa menikah dengan kamu, makanya segala cara dia lakukan untuk mendapatkan kamu!" cecar Nyonya Regina.
"Oma! tapi aku benar-benar gak sreg sama Bastian."
"Gak sreg bagaimana?! Sudahlah kamu dengar kata Oma, Oma ini menyayangi kamu Livia, kamu jangan seperti Papi kamu yang susah diatur itu. kalau kamu ikuti perintah Oma, apapun yang kamu mau, Oma akan berikan, bahkan seluruh aset yang Oma miliki akan jatuh ke tangan kamu nantinya.
Olivia lirik Nyonya Regina dengan lirikan yang sinis.
"Sudah, kamu siap-siap nanti malam kedua orang tua Bastian akan datang kemari. Mereka ingin membicarakan tentang lamaran kamu."
__ADS_1
''Hah, kok secepat itu sih Oma?! tapi hubungan aku sama Mas Lucan sudah diketahui oleh Papi, dan Papi juga setuju."
"Alah papi kamu kan sama saja seleranya rendahan. yakinlah Olivia Apa yang Oma, berikan ini yang terbaik untuk kamu."
Seketika wajah Olivia menjadi cemberut. Ia langsung naik ke kamarnya.
***
Oliver dan Arzeta tak sungkan lagi menunjukkan kemesraan mereka. Bahkan seluruh karyawan perusahaan Cipta Buana, sudah tahu rencana pernikahan mereka.
Begitupun dengan Sinta.
Kecemburuan Sinta semakin menjadi-jadi. Karena ia sering memergoki Oliver dan Arzeta makan siang bersama.
Dan hari ini Sinta kembali memergoki Arzeta dan Olivier di dalam ruangannya.
Melihat kemesraan mereka, Sinta tidak jadi masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Aku benci sekali dengan kamu Oliver, sudah sejak lama aku mendekati kamu tak pernah sekalipun kamu hargai, malah kamu memilih gadis ingusan teman putrimu sendiri. Lihat saja pernikahan kalian pasti akan batal!" Sinta berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
***
Setelah mengantar Arzeta pulang, Olivier kembali ke rumahnya, rupanya kedatangan Oliver sudah tunggu oleh Nyonya Regina.
"Selamat sore mom, dad!" Olivier menyapa kedua orangtuanya.
"Olivier! Mommy mau membicarakan sesuatu!"
Oliver mendaratkan bokongnya di sofa di hadapan dua orang tuanya.
"Ada apa Mom?"
"Oliver, mulai sekarang Mommy minta kamu untuk mengawasi asisten kamu itu! Jangan biarkan dia mendekati Olivia."
Maksud mommy Lucan ?"
"Iya jangan biarkan anak kamu dekat dengan asisten kamu itu. Bisa-bisa Olivia dimanfaatkan sama Lucan."
"Aduh mommy, aku sudah terlanjur setuju dengan hubungan antara Lucan dan Olivia."
"Apa? kamu itu sama saja Oliver!"
Mommy, aku sudah kenal baik Lucan dan pria yang baik dan sopan. dari sebelum aku bertemu Olivia, Lucan memang bersikap baik, tidak pandai mabuk-mabukan, tidak pandai mengkonsumsi yang aneh-aneh. dia juga anak yang penurut."
"Ah sudahlah, Kamu itu ya memang susah dibilangin. nanti malam kedua orang tua Bastian datang melamar Olivia, Mommy rasa kamu harus terima lamaran mereka. Daripada anak gadis mu jatuh ke tangan yang salah."
"Mommy nggak bisa maksa gitu. Jangan paksakan kehendak Mommy terhadap Olivia. Mommy sadar nggak sih, ya itu dari kecil sudah menderita. jadi aku nggak mau putri ku merasa tertekan, biarkan Olivia memilih jalan hidupnya sendiri! " pungkas Oliver sambil berlalu meninggalkan Nyonya Regina.
__ADS_1
Regina hanya bisa melotot kan bola matanya.
"Dasar ayah dan anak sama saja!" dengus Nyonya Regina.