
Flashback 20 tahun yang lalu.
Oliver dan keluarga tengah menikmati makan siang bersama. Setelah makan siang mereka pun ngobrol bareng.
"Jadi aku ingin kuliah di Inggris saja Mom, mau ambil jurusan management bisnis."
"Betul itu, kamu itu harapan masa depan kami Oliver, daddy sudah tua dan hanya kamu satu-satunya pewaris kami."
"Iya Daddy."
Setelah makan siang bersama di hari minggu itu, mereka lanjutkan perbincangannya di ruang tengah .
Ketika sedang asyik ngobrol membicarakan rencana Oliver selesai sekolah, mereka kedatangan tamu.
"Permisi Nyonya, Tuan," Bi Jumi datang menghadap mereka dengan membawa seorang gadis cantik dengan menggunakan dress klasik motif bunga-bunga besar dan rambut di kuncir dua.
Gadis itu begitu cantik dengan hidung bangir dan bibir yang mungil.
"Ada apa Bi Jum? siapa gadis itu?"
"Gadis ini Raisa, dia keponakan saya. Ayah, ibu dan saudara-saudara meninggal akibat longsor yang menimpa perkampungan mereka Nyonya."
Nyonya Regina menatap gadis itu dari atas sampai akhir.
"Nyonya, saya mohon terima lah keponakan saya bekerja disini. Kasihan dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, seberapa pun gaji yang anda berikan tidak masalah, asal dia bisa tinggal bersama saya saja."
Oliver sejak dari tadi mengamati wajah gadis yang terus saja tertunduk itu, karena penasaran dengan wajah gadis itu. Yang terlihat dari gadis itu hanya jidatnya yang bersih dan batang hidungnya mancung.
"Baiklah saya terima dia bekerja disini."
"Dia masih sekolah?"
"Sudah putus sekolah Nya, rencananya mau sekolah disini saja, biar saya yang membiayai."
"Baiklah, kalau begitu silahkan saja."
Setelah mendengar persetujuan dari nyonya Regina, gadis bernama Raisah itu mengangkat wajahnya. Tampak lah wajahnya begitu cantik dan senyuman menawan.
Bahkan kecantikan Raisa membuat Oliver sedikit membelalakkan bola matanya. Bisa di bilang, Raisa lebih cantik dari siswi favorit di sekolahnya.
Waktu pun berlalu, Raisa mulai menjalani tugasnya sebagai asisten rumah tangga. Dia sangat penurut dan rajin.
Pagi-pagi sekali Raisa menyapu lantai di sekitar kolam berenang. Dari balkon kamarnya Oliver terus saja mengamati gadis itu.
Dengan rambut yang di ikat menyerupai ekor kuda, Raisa semakin terlihat cantik.
Oliver mencari cara bagaimana agar Raisa menghampirinya ke kamar, agar tak terlalu terlihat jika dirinya ingin melihat Raisa dari dekat.
__ADS_1
Oliver tersenyum ia pun menemukan cara.
Oliver pura-pura menjatuhkan handuknya, hingga handuk itu jatuh ke punggung Raisa yang sedang menyapu.
Raisa menoleh ke arah balkon.
"Bawa sini handuk ku!" perintah Oliver dengan dingin.
"Baik Tuan muda."
Raisa melepaskan penyapunya kemudian berjalan menghampiri kamar Oliver dengan membawa handuk.
Tiba di lantai atas Raisa binggung dimana kamar Oliver.
Kreak pintu terbuka.
"Kamar ku disini!"
Raisa langsung menghampiri Oliver untuk menyerahkan handuk tersebut.
Raisa menundukkan wajahnya ketika berhadapan dengan Oliver.
Karena masih penasaran dengan wajah gadis itu, Oliver kembali memikirkan cara bagaimana caranya agar dia bisa mengamati wajah cantik gadis itu.
"Kamu bersihkan kamar aku."
"Iya Tuan muda."
Karena takut membantah, Raisa menyapu-nyapu saja.
Oliver tersenyum sambil mengamati gadis itu.Raisa yang sedang membersihkan meja rias kaget ketika melihat tatapan Oliver mengarah kepadanya. Apalagi saat itu Oliver tengah tersenyum dari pantulan cermin.
Menyadari Oliver mengamatinya, Raisa semakin gugup. Ia terus saja menundukkan wajahnya.
Saking gugupnya Raisa, hingga saat beberapa barang-barang yang ada di meja Oliver jatuh dan tak sengaja Raisa memecahkan botol Parfum Oliver.
Botol itu pun menumpahkan cairan parfum dan serpihan kaca yang berserakan di lantai.
Karena kejadian itu Revita kembali panik. Ia buru-buru hendak membersihkan pecahan kaca botol itu, hingga membuat jarinya tertusuk serpihan kaca yang tajam.
Karena takut dimarahi Oliver, Raisa tak memperdulikan tanganya, ia takut karena kecerobohan di usir dan dia tak punya tempat tinggal lagi.
Melihat tangan Raisa berdarah Oliver segera meraih tisu.Oliver menahan tangan Raisa yang masih memunguti serpihan kaca.
"Tangan kamu berdarah."
"Iya Tuan muda, tidak apa-apa, maafkan saya tolong jangan pecat saya," ucap Raisa gugup.
__ADS_1
Oliver merasakan tangan Raisa yang gemetar, saking takutnya di pecat, Raisa sampai meneteskan air matanya.
Oliver menarik tangan Raisa yang berdarah kemudian mencucinya di wastafel.
Oliver mengurut urut jari telunjuk Raisa yang mengeluarkan darah kemudian ia membersihkan tangan tersebut dengan handuk bersih.
Saat membersihkan tangan Raisa, Oliver baru melihat jika Raisa memang cantik.
Keduanya saling memandang dengan dua netra yang saling bertentangan. Keduanya pun saling melempar senyum.
Setelah itu Oliver membalut luka kecil itu dengan plester.
"Ya sudah biar aku yang membersihkan sisanya. Sekarang kamu keluar saja, aku mau berangkat sekolah."
"Terima kasih Tuan muda," kata Raisa.
***
Sejak itu ke-duanya mulai menganggumi. Raisa tak menyangka di balik wajah dingin Oliver, ternyata dia orang yang baik dan berhati lembut.
Semakin hari mereka berdua semakin dekat, bahkan terkadang keduanya pergi kencan saat kedua orang tua Oliver keluar negri atau keluar kota.
Oliver bahkan tak malu mengenal kan Raisa kepada teman-teman tongkrongan dan teman sekolahnya.
Hubungan itu tentu saja tak di ketahui kedua orang tua Oliver. Mereka pandai menyembunyikan hubungan mereka. Di depan orang tua Oliver mereka menjaga jarak dan jika tidak ada orang tuanya, keduanya selalu lengket seperti prangko.
Hingga suatu saat Oliver harus mengatakan hal yang berat pada Raisa tentang kepergiannya keluar negeri.
Mereka duduk di dalam kamar Oliver di malam sebelum keberangkatan Oliver.
"Kau tenang saja, setelah lulus nanti aku akan melamar mu, saat itu aku baru berani bilang pada kedua orang tua ku tentang hubungan kita," kata Oliver sambil menggenggam tangan Raisa sementara satu tanganya lagi mengusap rambut Raisa.
"Ehm, berapa lama kau akan pergi dan kapan kau akan kembali lagi?" tanya Raisa.
"Enam bulan lagi. Dan setiap enam bulan sekali aku akan pulang menemui mu, jadi tunggu lah aku pulang, jangan kemana-mana."
"Ya kalau begitu aku pasti kangen sama kamu," kata Raisa dengan sedih.
Oliver mengangkat dagu Raisa.
"Sini biar aku peluk biar gak kangen."
Raisa merentangkan tangannya menerima pelukan Oliver. Saking kuatnya dorongan Oliver, Raisa sambil terlentang di atas kasur dengan posisi di tindih oleh Olivier.
Keduanya netra mereka saling bertentang hingga menimbulkan debaran -debaran asmara.
Raisa mengusap rambut Oliver dengan penuh kasih sayang, setelah saling menatap, Oliver menyentuh bibir Raisa dengan bibirnya keduanya pun melakukan ciuman panas hingga kebablasan.
__ADS_1
Malam itu keduanya berkali-kali melakukan hubungan intim layaknya suami istri yang sedang melakukan ritual malam pertama.
Ops, bersambung lagi ya reader. Biar seperti ala-ala sinetron gitu 🤣😁