
Pulang dari kampus Olivia dan Zeta dijemput oleh Lucan.
Dari kejauhan mereka berdua melihat Lucan yang bersandar pada mobilnya.
"Tuh, mas Lucan jemput kita Liv. Perhatian banget ya, dia sama kamu?"
"Ah itu juga paling karena Papi yang minta."
"Tapi seriusan Liv, sepertinya mas Lucan itu menyukai kamu, mungkin dia masih cari kesempatan untuk mengatakannya padamu. lagi pula kamu kan sedang berduka, dia sering menanyakan tentang kamu loh Liv, saat kami kerja bareng."
"Ah biarkan sajalah, gue belum kepikiran pacaran, masih sedih gue."
"Ya elah liv, justru lo tuh harus move on sesegera mungkin. Nikmatin masa remaja lo."
"Iya bawel!" Olivia melotot ke arah Arzeta.
Mereka pun berhenti bicara ketika jarak antara mereka dan Lucan sudah semakin dekat.
Lucan tersenyum ke arah Olivia, membuat Olivia juga ikut tersenyum.
"Silahkan Nona." Lucan membuka pintu untuk Olivia .
Sementara Arzeta dia membuka pintu mobil itu sendiri.
Mereka duduk masing-masing, selama di perjalanan tak ada satupun di antara mereka yang membuka obrolan.
Jadi sepanjang jalan mereka hanya diam.
15 menit di perjalanan mereka pun tiba di gedung perkantoran. Lagi-lagi Sebelum turun Lucan membukakan pintu mobil untuk Olivia.
"Silahkan Nona," kata Lucan sambil tersenyum menatap Olivia .
"Terima kasih." Olivia pun membalasnya dengan tersenyum pula.
Keduanya pun tertunduk malu, setelah saling melempar senyum itu.
Hmm.
Arzeta sengaja berdehem karena keduanya hanya diam, mungkin karena grogi.
"Yuk Liv, kita naik yuk."
Arzeta dan Olivia berjalan bergandengan tangan.
Mereka pun memasuki lift untuk sampai ke ruangan Olivier.
Setibanya di ruang Oliver, Olive langsung masuk ke dalam ruangan itu.
"Hay Sayang baru pulang ya?" sapa Oliver ketika Olivia mendaratkan bokongnya di sofa.
"Iya Pi."
"Maaf ya tadi Papi nggak bisa jemput karena ada meeting."
'Nggak apa-apa."
"Kamu sudah makan Liv?"
"Belum Pi, Livia nggak nafsu makan."
"Lah kenapa begitu?"
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama, ajak Arzeta juga."
Mendengar nama sahabatnya diajak Olivia pun setuju.
"Ya sudah, ayo kita keluar." Oliver beranjak dari tempat duduknya menghampiri Olivia.
Oliver merangkul pundak Sang Putri.
__ADS_1
Mereka keluar dan menghampiri meja Arzeta yang tengah sibuk.
"Arzeta!" Panggil Oliver sok manis.
Arzeta langsung menoleh dan tersenyum ke arah mereka.
"Iya Om ada apa?" tanya Arzeta.
"Makan siang yuk," ajak Oliver.
Hati Arzeta pun berbunga-bunga.
"Kita berdua saja Om, makan siangnya?" tanya Arzeta malu-malu.
"Gak bertiga sama Olivia, klau mau makan berduaan, nanti makan malam saja," kata Oliver seraya menaik turun kan alisnya.
Sontak saja Olivia dan Lucan menoleh ke arah Oliver.
"Hm, Papi mau modus sama temen Livia kan?" tanya Olivia dengan bola mata yang melotot dan berkacak pinggang.
Oliver tersenyum kecil.
"Apa salahnya."
'Wah gak bener nih Bos,' batin Lucan sambil tersenyum.
Sementara Arzeta jadi salah tingkah.
"Ya sudah yuk. Kita makan bertiga. Lucan jangan iri ya jika saya mengandeng dua cewek cantik dan muda," kata Oliver sambil meletakkan kedua tangannya di pundak Olivia dan Arzeta.
Sinta yang melihat hal itu langsung menyunggingkan senyum sirik nya.
Mereka pun pergi bertiga menuju restoran terdekat di kantor dengan berjalan kaki.
Sepanjang melewati koridor Oliver merangkul pundak kedua gadis itu.
Olivia yang menyadari perubahan Oliver melirik Oliver dengan sinis.
Olivia tak menjawab, ia hanya terlihat kesal. Sebernarnya ada sesuatu yang ingin ia bicarakan kepada Oliver .
Setelah tiba di restoran, mereka memesan makan siang.
Arzeta pamit ke kamar mandi, meninggalkan mereka berdua.
Olivia menatap sinis ke arah Oliver.
"Kenapa sih Liv, Papi perhatian wajah kamu dari tadi cemberut saja?" tanya Oliver sambil mencubit pipi Olivia.
"Habis papi itu genit, Papi mau modus kan sama Arzeta?"
"Memang kenapa, apa salahnya?" jawab Oliver dengan santai.
"Aduh Papi, gak bisa apa Papi cari gadis lain saja, gak usah Zeta. Zeta itu temen Oliv."
"Bagus dong, justru kalau Papi mau cari pasangan, Papi maunya yang dekat sama kamu."
Bibir Olivia kembali mengkerut.
Benar kata Oma Papi aja yang sukanya daun muda.
"Haha, nggak masalah lah, yang penting kan Papi gak main-main. Papi serius mau nikah, biar kamu punya adik gitu." Oliver mengaduk aduk es cendol Olivia kemudian meminumnya.
"Ih ini punya Livia, Pi." Olivia menarik gelasnya.
"Pelit banget sama orang tua."
"Biarin!"
Olivia kembali membuang wajahnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Arzeta kembali, dan mereka berdua berhenti membicarakan Arzeta.
Makan siang itu berlangsung khidmat. Olivia terlihat begitu menikmati makan siangnya. Namun sedikit terganggu dengan sikap sahabat dan Papinya itu.
Mereka berdua semakin menunjukkan gelagat aneh.
Arzeta menjadi tersipu-sipu karena sejak tadi Oliver terus saja memandangi dengan tatapan yang tak biasa.
"Ehm, modus saja terus!" Sindir Olivia.
"Ih ada yang cemburu nih ye" sahut Oliver.
Olivia memalingkan wajahnya. Sebenarnya dia tidak masalah jika Oliver dan Arzeta terlibat hubungan asmara.
Hanya saja akhir-akhir ini mood Olivia memang sedang tidak baik, karena itulah wajahnya selalu masam.
***
Selesai makan siang mereka kembali ke ruangannya masing-masing.
Arzeta kembali ke mejanya yang berada di samping Lucan , sementara Oliv dan Oliver masuk kedalam ruangan CEO.
Olivia mendaratkan bokongnya di sofa, begitupun Olivier yang kembali ke kursi kebesarannya.
Beberapa saat kemudian Sinta datang menghampiri ruangan tersebut.
"Permisi!" ucap Sinta sambil berjalan berlenggak lenggok memasuki ruangan.
Olivia menatap sinis ke arah Sinta. Entah kenapa ia tidak menyukai wanita itu sejak pertama melihatnya.
"Oh ya pak Oliver, ini ada undangan pernikahan putranya Tuan Damian," kata Sinta Seraya tersenyum manis.
Sinta berharap Oliver akan mengajaknya pergi ke pesta pernikahan itu. Karena itulah Sinta menunggu sampai Oliver selesai membaca undangan tersebut.
"Sinta, silakan Kembali ke tempat kamu," kata Oliver Seraya menutup undangan itu Dan meletakkan hujannya kembali.
'Sialan nggak ada berbasa-basi sedikitpun, kupikir Oliver akan mengajakku ke pesta Putra tuan Damian, aku harus tahu, siapa yang akan menjadi partner nya nanti,' Batin Sinta.
Akhirnya Sinta keluar dari ruangan itu dengan wajah yang masam kembali.
***
Waktu menunjukkan pukul 04.30 sore dan itu berarti jam kerja mereka sudah berakhir.
Olivia dan Oliver keluar dari ruangan, kemudian Oliver menghampiri Arzeta.
"Zet, kamu bisa temani Om ke pesta pernikahan ini nggak?" tanya Oliver sambil memberikan undangan tersebut kepada Arzeta
Arzeta meraih undangan sambil tersenyum tersenyum.
'Siapa yang gak mau di ajak ke pesta bersama duda kaya dan tampan,' batin Arzeta.
"Iya Om."
"Kalau begitu nanti malam om jemput ya, biar kita bisa pilih baju pesta untuk kamu. Tapi ingat jangan ajak Oliv, nanti dia bisa mengacaukan rencana kita," kata Oliver seraya melirik ke arah Olivia.
"Uh bilang saja mau ngajakin Zeta, kencan," dengus Olivia.
Oliver merangkul putrinya.
Lucan dan Arzeta tersenyum mendengar ucapan Olivia.
"Ih kok kamu tahu sih?!"
"Memang iya, dasar Papi yang genit, awas saja temen ku Papi PHP in."
"Gak lah, yuk Zet. Om antar pulang, sepertinya om sudah dapat lampu hijau dari putri Om."
Arzeta hanya tersenyum dan tertunduk, ya mau bagaimana lagi. Rasanya sayang menolak ajakan kencan duda keren seperti Oliver. Apalagi dia sudah tahu jika Oliver pria yang baik hati dan bertanggung jawab.
__ADS_1
'Yes, kau ambil gebetan ku, ku ambil Papi mu,' batin Arzeta.