
Arzeta dan Olivia keluar dari kampus setelah selesai mengikuti kuliah. Mereka berjalan bersama ke arah gerbang, saling berbincang tentang kehidupan dan masa depan mereka.
"Huft Olivia, aku benar-benar frustasi."
"Kenapa?"
"Ternyata mencari pekerjaan part time itu begitu sulit, aku mengirim begitu banyak lamaran, tapi tak satu pun mendapat respon positif."
" Memang tidak mudah mencari pekerjaan seperti sekarang ini, bagaimana kalau kamu melamar di kantor Om Oliver saja, biar aku yang rekomendasi kan?"
"Wow, terdengar menarik. Tapi, apakah mereka menerima mahasiswa baru seperti aku?"
"Tentu saja. Sebentar aku telpon calon suami ku dulu."
Olivia meraih handphonenya yang terletak di saku celana, kemudian menelpon Oliver sambil berjalan pelan-pelan
Arzeta mengedipkan mengedipkan matanya Ia sungguh beruntung jika diberi kesempatan bekerja di perusahaan Oliver.
'Ehm semoga saja aku bisa diterima di perusahaan Om Oliver, jadi aku bisa dekat-dekat dengan Lucan,' batin Arzeta.
"Halo Om," sapa Olivia dengan manja.
"Ada apa Sayang?"
"Om, ada kerjaan untuk mahasiswa paruh waktu gak?"
"Ngapain mau kerja sih, sebentar lagi kita sudah menikah dan kamu yang akan jadi Nyonya di perusahaan ini."
"Ih bukan untuk Livia Om tapi untuk Arzeta."
"Oh datang saja ke kantor, atau kamu mau di jemput?"
"Gak, kami naik taksi saja biar cepat."
"Oke hati-hati ya, aku gak mau kejadian kemarin menimpa kamu lagi. Jangan sampai rencana pernikahan kita gagal karena terjadi sesuatu pada kamu."
"Iya om tenang saja."
Setelah memutus sambungan teleponnya, Olivia dan Arzeta memesan taksi online untuk menemui Oliver di kantornya.
Mereka tiba di perusahaan Cakra Buana.
Arzeta takjub dengan bangunan tinggi megah PT Cakra Buana tersebut.
Sambil berjalan melewati koridor Arzetta mengamati desain di dalam gedung Cakra Buana
__ADS_1
"Nggak kebayang Liv, beruntungnya lo punya calon suami pemilik perusahaan sebesar ini," kata Arzeta Seraya mengedarkan pandangannya
"Gua juga nggak nyangka, bener-bener keberuntungan gue saat bertemu dengan om Oliver saat itu, hingga menjalin hubungan seperti saat ini. Kalau Mami nggak memaksa aku waktu itu, aku nggak akan bertemu dengan Oliver."
Tiba-tiba saja Olivia teringat akan Revita .
"Iya, kita nggak tahu bertemu jodoh dengan cara bagaimana.
"Oh iya Waktu pertunangan kamu kemarin,kok aku nggak lihat Mami kamu ?"
"Kami sudah mengirim undangan untuk mami, tapi ya kamu tahu lah mami aku bagaimana. Dia pasti sedang berfoya-foya dengan uang satu miliar yang diberikan Om Oliver dan melupakan undangan dariku."
"Terus, apa nanti pernikahan kalian dia akan datang?"
"Nggak tau lah, aku harap mami aku mau datang di pernikahan aku. Sebenarnya aku kangen sama mami, hanya saja aku takut untuk menelpon dan menanyakan kabar tentangnya."
Telepon sajalah, bagaimanapun dia adalah orang tua kamu, kalau tanpa dia, kamu juga nggak akan bisa terlahir di dunia ini. Jadi seperti apapun mami kamu, kamu harus tetap sayang sama Mami kamu Liv."
"Iya, aku sayang sama mami, cuma aku nggak suka saja sifat dan kelakuannya."
Setelah ngobrol mereka tiba di lantai gedung tersebut.
Keluar dari lift dari kejauhan Arzetta melihat Lucan yang tampak sedang berbicara dengan seorang pria.
"Nona Olivia, silahkan.Tuan Oliver menyuruh saya untuk menyambut kedatangan anda."
"Oh iya terima kasih," kata Arzeta yang langsung melempar senyum termanisnya pada Lucan .
"Silahkan nona."
Mereka berjalan beriringan menuju ruangan kerja.
Di depan pintu masuk ruang tersebut terdapat tulisan" Ruangan CEO' yang membuat Arzeta semakin merasa bangga bisa masuk kedalam ruangan pemilik perusahaan tersebut.
Pintu terbuka, senyum manis dan ramah Oliver Seketika menyapa mereka dengan aneka hidangan dan minuman yang sudah siap di atas meja.
"Silahkan Sayang," kata Oliver seraya menepuk sofa yang ada di sampingnya.
Mereka mendaratkan bokongnya secara bersamaan, Olivia duduk di samping Oliver.
Oliver mencium pipi kiri dan pipi kanan Olivia sebagai bentuk kasih sayangnya.
Setelah duduk Olivia merebahkan sedikit tubuhnya bersandar pada tubuh kekar Oliver.
"Om, jadi bagaimana. Arzeta bisa kerja sambil kuliah kan?" tanya Olivia dengan manja.
__ADS_1
"Bisa, untuk sementara kamu saya berikan tugas untuk jadi asisten Lucan," kata Oliver sambil memainkan rambut Olivia.
Senyum Arzeta semakin lebar.
"Hah, bukannya mas Lucan itu asisten Om? kok dia bisa punya asisten lagi?"
"Memanya kenapa? gak apa-apa lah."
Arzeta tersenyum semakin lebar, Ingin rasanya ia berjingkrak jingkrak sambil memeluk Olivia untuk mengungkapkan terima kasih yang sangat besar kepada sahabatnya tersebut.
Sebenarnya Oliver sudah tidak membutuhkan karyawan baru, hanya saja untuk menghormati Olivia, dia bersedia menerima Arzeta. Arzeta sengaja di tempatkannya menjadi asisten Lucan, karena Oliver bisa melihat sepertinya Arzeta menyukai Lucan.
"Wah terima kasih Om," kata Olivia sambil memeluk pinggang Oliver .
"Sama-sama Sayang." Oliver membalas pelukan Olivia kemudian mencium pucuk kepalanya.
"Iya kalau begitu silahkan di makan, saya pesan makanan sebanyak ini spesial untuk kalian berdua," kata Oliver.
Arzeta tersenyum sambil menikmati hidangan tersebut, Ia merasa bahagia melihat Olivia yang bahagia dengan calon suaminya. Selain itu dia juga merasa senang karena bisa bekerja dan bisa dekat dengan Lucan.
***
Revita datang ke rumah sakit sendirian dengan perasaan campur aduk antara khawatir dan secercah harapan untuk sembuh.
Ia sudah menyiapkan segala sesuatunya mulai dari mental, fisik dan kebutuhan selama di rumah sakit, karena hari ini dirinya mulai menjalani menjalani kemoterapi untuk penyakit kanker serviksnya.
Setiap kali dia datang ke klinik, dia merasa tegang dan sedikit takut dengan prosedur yang akan dilalui, apa lagi ia kini harus berobat sendiri dan di rawat sendiri.
Revita menemui dokter yang sudah membuat janji kepadanya, kemudian dokter mengarahkan Revita untuk melakukan persiapan sebelum kemoterapi itu dimulai.
Sebelum prosedur kemoterapi di mulai, Revita diminta untuk melepas pakaian dan mengenakan baju khusus yang diberikan oleh petugas medis, Revita dirawat di ruangan kemoterapi.
Setelah siap, prosedur kemoterapi pun di lakukan.
Revita duduk di atas tempat tidur dengan posisi setengah berbaring, dia merasa sedikit tidak nyaman dengan jarum yang dimasukkan ke dalam vena.
Sekitar setengah jam prosedur kemoterapi pun selesai dan Revita mulai merasakan efek sampingnya.
Efek samping yang pertama adalah perasaan mual dan lelah yang luar biasa, membuatnya sulit untuk tetap bangun dan beraktivitas sepanjang hari.
Revita juga merasakan kehilangan selera makan hingga membuatnya semakin tak berdaya.
Meskipun dalam keadaan yang tidak kondusif dan membutuhkan seseorang untuk merawatnya. Namun Revita tak ingin memberitahu siapa pun tentang keadaannya.
Revita menjalani hari-hari sulitnya seorang diri sambil berjuang melawan sel kanker yang kini bersarang di dalam tubuhnya.
__ADS_1