Bukan Istri Pajangan

Bukan Istri Pajangan
Bab 1 : Taruhan


__ADS_3

..."Aku bisa saja tak sejalan dengan orang-orang di sekitarku. Namun bagaimana jadinya jika aku tidak sejalan dengan orang yang menjadi pendamping hidupku."...


Setelah pertengkaran hebatnya yang kesekian kali, Elisa mengurung diri di kamar seperti biasa. Dia menghirup inhalernya dengan baik, jika tidak, mungkin dia akan kehabisan napas.


Dia teringat, kali pertama bertemu dengan pria yang kini menjadi suaminya. Albert Sky.


......................


Disebuah ruangan Kasino, sekumpulan bandar sedang berkumpul untuk berjudi disana, terlihat ketegangan diruangan itu. Sungguh menyesakkan, asap rokok dimana-mana. Dentingan suara gelas pun terdengar.


Dua orang sedang saling menatap sambil memperhatikan kartu yang ada ditangan mereka, salah satu dari mereka menyeringai puas. Sedangkan yang satunya terlihat gelisah tidak karuan. Mereka membuka perlahan kartunya, pria yang gelisah tadi mendengus lalu menutup kartunya kembali.


"Sial!" Pria itu membatin.


Lawan mainnya tersenyum kecut, dia sudah tahu kali ini dia pasti akan menang lagi. Setelah semua hutang-hutang pria itu padanya, Apalagi yang akan dia pertaruhkan? Sedangkan harta kekayaannya sudah terkuras habis. "Kamu pasti kalah lagi? Ayo! Buka kartunya!"


Pria itu lari dan berniat kabur, tetapi ajudan lawannya terlalu cepat sehingga dia berhasil di bekukan. "Keparat! Mau kemana kamu?" Lawan mainnya menghampiri pria itu, sambil menekan dagu nya.


"Hei, Skandar! Kamu kira bisa kabur dari saya hah?" Ucap pria itu sambil mendorong dahi Skandar.


"Pilihlah! Nyawa kamu atau serahkan rumah dan peternakanmu! Sebagai jaminan semua hutang yang sudah kamu pinjam pada saya!" pria yang menjadi lawan Skandar adalah Albert Sky, pria berbadan kekar yang tingginya sekitar 190 sentimeter itu tertawa jahat.


"Oke! Ambil saja rumahku dan segala isinya. Dari yang bergerak dan tidak bergerak!"


Lawan mainnya berhenti sejenak, mencoba mencerna apa maksud dari yang bergerak dan tidak bergerak. "Baiklah, kebetulan suasana hati saya sedang baik hari ini. Jadi, ajudan lepaskan saja si brengsek ini! Tapi, sebelum itu kamu harus menanda tangani perjanjiannya disini!" Albert memberi Skandar selembar kertas kosong.


Dia meminta Skandar untuk mengisi perjanjian yang dia buat tadi, lalu menandatanganinya. Senyum puas terukir di bibir pink Albert Sky. Pria Eropa yang terkenal dingin dan kejam. Beruntungnya Albert, karena kecanduan Skandar terhadap judi, dia dengan mudah menghancurkan pria itu. "Cepat lepaskan aku brengsek!" pungkas Skandar.


"Sialan! Kamu pikir dengan menyerahkan semua itu, sudah melunasi semua hutangmu? Saya hanya sedang bersikap baik, sehingga saya anggap kita impas sekarang!" Kata Albert sambil menoyor kepala pria itu. Albert Sky pun melepaskan Skandar, dia membiarkan pria itu kabur entah kemana. Padahal rumah dan peternakan yang dijadikan taruhan oleh Skandar masih jauh dari kata cukup untuk membayar semua hutang-hutangnya.


Albert Sky, adalah seorang bandar judi terhebat dikotanya. Dahulu pria itu hanyalah seorang budak biasa. Namun, karena hasil dari kegigihannya, sekarang dia bisa mencapai puncak kekayaan dan sosial tertinggi di kotanya seperti sekarang.

__ADS_1


Albert atau akrab dipanggil Sky, diusianya yang menginjak 38 tahun, masih belum ada minat untuk memiliki istri. Ini semua didasari karena trauma masa lalunya. Tragedi yang menbuatnya menjadi pria dingin dan kejam.


Rumah Skandar yang Albert dapatkan dari hasil perjudian itu terletak disebuah desa yang jika di hitung jaraknya bisa memakan waktu sekitar lima jam perjalanan. Disana, hidup seorang gadis adik dari Skandar yang bernama Elisabeth, dia berusia 28 tahun. Dia adalah seorang kutu buku dan jarang sekali tampil keluar rumah. Yah, selain pergi kepesta yang dilaksanakan oleh ketua sosialita di kotanya.


Dia sering menghabiskan waktunya dipeternakan, membantu memerah susu, berkebun bahkan sampai menanam bibit sayuran dengan para pekerjanya. Apa jadinya jika dia tahu, mengenai pertaruhan yang kakaknya buat. Dia pasti akan kecewa dan marah besar. Terlebih, dia termasuk bagian dalam taruhan itu.


Keesokan paginya, Sky segera pergi ke wilayah rumah Skandar. Dia bahkan tidak tahu kemana si brengsek itu pergi. Selama 5 jam di perjalanan, akhirnya Albert Sky pun sampai. Dia memasuki wilayah rumah itu dengan hati-hati. Suasana disana terlihat sunyi. Tapi semua barang-barang atau apapun yang terlihat disana terlihat sangat rapih.


Tidak lama, seorang pelayan menghampirinya dan menyapa Albert dengan senyuman. "Selamat pagi Tuan, Anda mencari siapa?" tanya pelayan itu.


"Saya ingin bertemu pemilik rumah." Sky tersenyum dengan karismanya yang menawan.


"Maaf, tapi Tuan Skandar sedang tidak ada dirumah." jawab pelayan itu.


"Saya tahu dia tidak ada dirumah, saya ingin berbicara dengan siapapun yang ada dirumah ini. Tolong panggilkan!"


"Maksud Anda, Nona Elisa? Tapi, dia jarang menerima tamu orang asing. Jika boleh saya tahu, anda siapa?"


Pelayan itu membelalak, dia membuka mulutnya sedikit. "Itu tidak mungkin, anda tidak boleh sembarangan Tuan! Lebih baik anda pergi sekarang!" Pelayan itu mendorong Sky.


Albert Sky dengan sigap menahan tangan kecil itu dengan cepat. "Saya tidak terbiasa berurusan dengan orang sepertimu. Jadi, jangan buang waktu saya. Panggilkan nonamu atau saya akan meratakan semua lahan ini!"


"Saya akan melaporkanmu ke polisi!" Seru Nori si pelayan.


"Ada apa ini?" Seorang wanita dengan rambut coklat menghampiri Albert dan Nori.


"Pria ini, dia mengatakan hal yang tidak masuk akal Nona!" 


Albert Sky menyerahkan selembar kertas perjanjian yang dibuat dia dan Skandar, kakak dari Elisa.


"Kakakmu mempertaruhkan rumah ini dan, " Albert mendekatkan diri ke arah Elisa dan berbisik pada wanita itu. Elisa membeku, ini pertama kalinya seorang pria berani mendekatinya. "Segala isinya!" Albert Sky tertawa kecil, dia menunduk sembari mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"Tidak, kakak ku tidak akan mungkin mempertaruhkan satu-satunya peninggalan keluarga kami!" Elisa melotot ke arah Sky.


Pria keji itu tertawa lagi, dia memanggil pengacara yang ikut di mobilnya. "Perjanjian ini resmi, dibuat dengan kesadaran Skandar sendiri."


Elisa bagai tersambar petir disiang hari, kakinya terasa lemas. Pelayan tadi langsung menolongnya yang hilang keseimbangan. "Nona.."


Elisa mencoba mengatur napasnya, dia merasa sesak. Elisa mempunyai asma, jadi setiap kali dia terkejut atau panik dia akan merasakan sesak didadanya. Nori langsung berlari ke dalam rumah dan mengambilkan inhaler untuk Elisa. Sesaat dia kembali dan meletakan alat itu dimulut majikannya. Elisa menarik napas panjang dan menghirup benda itu.


"Kamu baik-baik saja?" Albert mencoba mendekati Elisa.


Elisa mengibaskan tangan Albert Sky yang terulur kepadanya. "Berani sekali kamu berniat mengambil alih peninggalan keluargaku! Sampai mati pun aku tidak akan keluar dari sini!" Elisa menatap Albert tajam.


"Saya tidak memintamu untuk keluar dari rumah ini, karena kamu termasuk dalam taruhannya!" katanya sembari menyeringai jahat.


"Nonaku bukan barang! Dasar anda bajingan! Hentikan omong kosong mu!" Nori berusaha mendorong Albert Sky lagi namun, dengan satu tangannya Sky menahan pelayan itu. "Kamu juga termasuk!" katanya sembari menunjuk pelayan itu.


Elisa dan Nori langsung masuk kedalam rumah. Mereka memutuskan untuk membicarakannya di dalam sesuai hukum yang ada. "Hentikan! Mari kita bicarakan ini di dalam!"


Albert Sky mengangguk, mereka berbincang dengan pengacara yang Albert bawa. Putusan akhirnya, Elisa akan tetap tinggal disana tapi, kepemilikan rumah itu bukan lagi milik keluarganya melainkan milik Albert Sky sekarang.


Sky juga akan tinggal disana, diruangan khusus yang akan dibangun disamping rumah utama. Dia akan menempati itu sewaktu-waktu dia menginginkan ketenangan. "Bertemanlah dengan saya!" Sky mencondongkan tubuhnya sembari menyeringai, dia mengulurkan tangannya. Elisa hanya menatap datar tangan itu. Dia tidak berniat berteman dengan Sky.


"Apa yang kamu harapkan, dari seseorang yang kamu ambil rumahnya? Pertemanan? Cih!" Elisa menatap Albert tajam, sambil menepis tangannya.


"Secara teknis, saya tidak mengambil rumah ini secara paksa. Saya hanya mengambil apa yang sudah menjadi hak saya." Sky tersenyum jahat. Pria itu duduk dikursi dengan menyilangkan kakinya. Elisa hanya menatapnya benci. Tapi dia lebih membenci Skandar. Bisa-bisanya pria itu menjadikan dirinya dan rumah peninggalan orang tuanya bahan taruhan.


Sekarang dia tidak tahu dimana keberadaan Skandar. Pria itu benar-benar menghancurkan hidup adiknya sendiri. Betapa sedihnya Elisa, dia harus tinggal dengan orang asing yang dia tidak kenal. Bahkan bisa dibilang musuh kakaknya. Elisa langsung kembali ke kamarnya dan tidak mempedulikan Sky yang masih disana. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


Dia menangis sambil meraih foto kedua mendiang ibu dan ayahnya. Tidak ada yang bisa dijadikan sandaran baginya, selama ini Skandar hanya bisa menghabiskan uang mereka. Semua peternakan Elisa lah yang mengurus, sekarang Dia harus dihadapi dengan kenyataan pahit. Bahwa rumah itu, bukan lagi miliknya, peternakan itu juga.


"Brengsek kamu Skandar!" Dia membatin sambil mengeratkan pelukannya pada guling.

__ADS_1


__ADS_2