
Malamnya, Elisa, Sky dan Mera sedang makan malam bersama. Semuanya disiapkan oleh Mera demi mencari perhatian pada Sky juga membuat Elisa cemburu. Elisa enggan makan bersama mereka, namun Sky dengan kukuh meminta Elisa untuk tetap berada di meja makan.
"Aku tidak lapar!" Elisa menatap Sky dengan tajam.
"Saya lelah jika harus berdebat lagi denganmu, bisakah sekali saja kamu mendengarkan suamimu? Tetap disini dan makan makananmu!" Sky mendelik ke arah istrinya itu.
Mera yang melihat keributan itu sangat merasa senang, energinya seperti terisi penuh melihat pertengkaran mereka. Setelah selesai menghabiskan makanannya, Elisa kembali ke kamar. Dia mulai merapikan tempat tidur dan melucuti kain putih yang menutup beberapa perlengkapan di kamarnya.
Suara pintu terdorong, bahkan langkah kakinya begitu familiar di telingan Elisa. Sky muncul dibelakang wanita itu dan membantunya merapikan kamar. Tanpa sepatah katapun. Tapi, kemudian Mera kembali mencari perhatian Sky dengan nyelonong masuk dan berusaha membantu Elisa merapikan kamarnya.
"Sayang, lebih baik kamu tunggu di kamar. Biar aku yang membantu istri pajanganmu merapikan tempat tidurnya."
"Aku tidak butuh bantuanmu!" Elisa menyilangkan lengannya di dada.
"Kamu sensitif terhadap debu, jadi biarkan Mera membantumu." Kata Sky sebelum pergi ke kamarnya. Dia menatap agak lama wajah istrinya, anehnya tatapan itu kini terlihat seperti tatapan peduli.
Mera menyeringai jahat, dia mendekat ke arah Elisa dan terus mencoba mengganggunya. "Kamu sensitif terhadap debu? Uhh, baiklah karena aku baik hati, aku akan membantumu merapikannya."
"Tapi aku tidak bisa terlalu lelah, aku harus menghemat energiku untuk malam ini," kata Mera sembari mencondongkan tubuhnya pada Elisa.
Elisa tidak banyak komentar lagi, dia hanya terus fokus menata kamarnya agar nampak lebih rapih dari sebelumnya. Bahkan dia membawa kembali koper yang sudah di bawa ke bawah pagi tadi. Setelah semuanya selesai, Mera pergi dari kamar Elisa dan menemui Sky dikamarnya. Sedangkan Elisa, merebahkan tubuhnya di kasur yang sudah terpasang dengan sprei yang bersih dan nyaman.
Melihat Sky sedang telentang di atas ranjang membuat Mera melakukan hal yang menjadi kesempatan untuknya. Dia tidak ingin melewatkan itu. "Ayo," Mera merayap ke ranjang lalu duduk diatas tubuh Sky.
Pria itu menatap Mera yang berada di atasnya, sejujurnya Mera memang sangatlah seksi dan juga cantik. Tapi sejak awal, Sky memang tidak tertarik padanya. Mayoritas orang di kasino sudah pernah mencicipi tubuh wanita itu. "Kita tidak benar-benar akan melakukannya," Sky menggeleng.
"Jika tidak melakukannya bagaimana bisa membuat wanita itu menderita?" Tanya Mera sambil mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Bersandiwara saja!" kata Sky tidak berminat.
"Setidaknya buat aku puas," Mera menaikan kedua alisnya memohon pada Sky.
"Ck," pria itu langsung menjatuhkan tubuh Mera ke ranjangnya. Dia mengecup tengkuk leher wanita itu dengan perlahan, dan membuat suara mendayu keluar dari mulut Mera.
Elisa yang kamarnya hanya berjarak dua meter dari kamar Sky pun tentunya dapat mendengar suara Mera dengan jelas. Dia bahkan kini menutup telinganya dengan bantal. Sky dengan malas mulai menyelinapkan jari jemarinya ke area bawah Mera. Dengan kasar dia memainkan itu dengan jarinya dan membuat Mera hampir kewalahan karena tindakan Sky.
Derit dari ranjangnya ikut terdengar ke arah kamar istrinya. Bahkan Mera sudah mencapai tujuannya tapi Sky tetap terus menghujam wanita itu dengan jari tangan kekarnya.
"Sky hentikan," kata Mera terengah.
Pria itu tidak mendengarkan seruan Mera, dia malah terfokus pada kemungkinan bahwa Elisa sedang merasa panas karena mendengar permainan itu. "Sky! Aw!" Mera menjauh dari Sky, dia menepis tangan pria itu.
"Kamu benar-benar tidak mendengarkanku." Protes Mera mendapati area bawahnya terasa sakit. Sky melihat Mera dengan dingin, kemudian dia pergi ke kamar mandi dan mencuci tangannya beberapa kali dengan sabun.
"Hei! Kenapa sikapmu dingin? Aku berniat membantumu untuk membuat wanita itu menderita. Tapi kenapa malah aku yang menderita."
"Tidur saja, aku mengantuk!" Sky langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Sedangkan Mera mendengus kesal, dia berjalan ke arah sofa di dekat jendela kamar Sky lalu tidur disana. Elisa yang sudah menyadari bahwa suara bising yang mengganggu itu tidak ada lagi, akhirnya menyingkirkan bantalnya dari kepala.
Dia menghela napas panjang, dia duduk lalu meraih segelas air putih yang sudah dia siapkan sendiri. Dia menepuk dadanya, "sesak," kata Elisa menahan sakit. Kemudian meraih inhaler dan menghirupnya.
Keesokan paginya, Elisa terbangun lebih dulu dari kedua orang itu kali ini dia menyiapkan sarapan yang sederhana yaitu roti panggang dengan selai kacang. Mera turun setelahnya, dia menemui Elisa dengan membawa sebuah kipas tangan dan mengibaskan ke arah dirinya. "Sarapan apa?"
"Roti," jawab Elisa dengan singkat.
"Hanya ini?" Mera menaikan sudut alis kirinya.
__ADS_1
"Terserah kamu mau makan apa, aku membuatkan ini untuk suamiku." Elisa menaruh roti yang sudah dia siapkan di meja makan. Tidak lama, Sky pun datang.
Mera dengan cepat menyambut Sky, "sayang, kamu pasti lelah semalam, mari sarapan dulu!"
"Tentu, terimakasih," jawab Sky sembari mengecup tangan Mera.
Elisa mendengus pelan, dia memalingkan wajahnya dari mereka berdua. "Tuan Sky, aku ingin pulang." kata Elisa menatap Sky agak lama.
"Ini rumahmu, saya tidak akan mengizinkanmu pergi kemanapun," Sky yang sudah hampir menggigit rotinya pun mengurungkan niatnya dan menjatuhkan roti itu kembali ke piring.
"Ada Mera yang menjagamu, kurasa kamu tidak butuh aku" Elisa menyeringai sinis.
"Tapi, kamu yang berstatus sah sebagai istri saya!" Sky menatap Elisa dengan tajam.
"Kak Elisa, bukankah kita bisa hidup rukun? Aku akan membantumu melayani suamimu, juga beberapa hal lain." Mera merangkul lengan Elisa dengan cepat.
Elisa dengan penuh jijik melepaskan rangkulan Mera. "Menjauh dariku!" seru Elisa. Sky melihat keberanian Elisa, ada sedikit rasa kagum dihatinya. Namun dia tidak suka karena Elisa terlihat semakin arogan di hadapannya.
"Apa ini yang di ajarkan orang tuamu?" Sky menyinggung kedua orang tua Elisa.
"Kenapa kamu selalu membawa seseorang yang tidak ada kaitannya dalam hubungan ini!" Elisa hampir melewati batas kesabarannya.
"Jika kamu tidak ingin saya menganggap orang tuamu gagal dalam mendidikmu, maka dari itu kamu tetap diam dan patuhlah atas setiap ucapanku!" Sky berdiri dan memicingkan matanya ke arah Elisa.
"Terserah kamu saja, bukannya ada dan tiadaku tidak ada bedanya bagimu? Kenapa kamu kukuh mempertahankanku dirumah ini saat aku tidak mau berada disini!" Elisa meninggikan nada bicaranya.
Seseorang yang mulai dia kagumi hampir hilang dihatinya. Sky mengangkat tangannya tinggi dan siap untuk menampar Elisa. Namun, dia berhenti, ada sesuatu yang menahannya. Bahkan, Sky belum sadar bahwa hatinya lah yang enggan melakukan itu pada Elisa.
__ADS_1