Bukan Istri Pajangan

Bukan Istri Pajangan
Bab 33 - Kebakaran


__ADS_3

Di malam pesta, Sky terlihat sedang bersiap untuk mengenakan tuxedo berwarna merah dengan kemeja hitam di dalamnya. Pria itu nampak sangat segar setelah memotong rambut dan juga janggut disekitar wajahnya. Sedangkan Elisa masih sibuk mencari catatan milik sang ayah yang tiba-tiba saja hilang, padahal dia yakin menyimpannya dengan benar di kamar. Aneh sekali kenapa catatan yang berisikan hal keseharian sang ayah bisa hilang begitu saja.


"Sayang, sudah ketemu?" tanya Sky.


"Belum, aku masih mencarinya!" jawab Elisa sembari membuka berapa kotak.


"Tidak apa lain kali saja, ayo bersihkan dirimu dan pakailah gaun yang cantik!" seru Sky.


"Tapi Tuan, catatan itu penting aku harus segera menemukannya." kata Elisa tanpa menoleh.


Sky melangkah maju ke dalam gudang dan menghentikan tangan Elisa yang masih sibuk mencari catatan milik sang ayah. "Sayang, disini banyak debu biar nanti aku minta Nori mencarinya."


"Bagaimana jika kamu datang kesana lebih dulu? Aku harus bersiap dan akan membutuhkan waktu yang lumayan lama." Elisa mencari alasan lain agar diberi waktu untuk menemukan catatan itu.


"Baik, tapi ingatlah aku tidak ingin kamu masih berkutat di dalam gudang bawah tanah ini. Aku pergi lebih dulu, nanti pak supir yang akan kembali menjemputmu!"


Elisa mengangguk. "Baik, tentu saja."


Setelahnya Sky mengecup.lembut kening Elisa dan memutuskan untuk pergi lebih dulu karena banyak orang yang ia kenal disana, Elisa pun tetap melanjutkan pencariannya sampai menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit. Pandangannya beralih tatkala ia melihat sebuah pita merah familiar yang biasa digunakan untuk mengikat catatan milik sang ayah. "Akhirnya, ketemu!"


Elisa mencoba menarik catatan yang tertindih sebuah tv besar yang ada di gudang. Karena penuh debu, Elisa hampir tidak bisa menahan sesaknya lagi. Namun demi membuktikan ayahnya tidak bersalah ia rela melakukan segalanya dan menahan sakit di dada. Setelah berhasil menarik benda itu keluar, Elisa membacanya langsung dari tanggal yang pernah disebutkan Sky. Namun, dalam catatan tersebut tidak menunjukan ayahnya berada di rumah lama mereka hari itu. Hanya ada catatan yang tertulis 'hari ke dua pindah ke rumah baru!'


"Bukan ayah! Sky pasti salah, aku harus segera memberitahunya." Elisa membuka lagi lembaran selanjutnya yang menuliskan 'Adikku Charly menjaga rumah lama dan mengawasi pemindahan barang.'


"Paman Charly juga di rumah itu saat kejadian? Apakah dia orangnya?" gumam Elisa.

__ADS_1


Namun melihat kepribadian pamannya yang bijaksana rasanya tidak mungkin pria itu yang melecehkan Arabella. Tapi, tidak ada salahnya untuk curiga dan mencari tahu. Elisa dengan semangat berjalan untuk keluar dan memberitahukannya pada Sky. Tapi nasib sial menimpanya, saat hendak berjalan keluar dari gudang, tiba-tiba saja pintu gudang yang memang sudah rusak itu menutup dengan sendirinya dan tidak dapat dibuka lagi. Elisa merasa panik kemudian beberapa kali menggedor pintu dengan cukup keras. "Nori! Tolong buka pintunya!"


Tidak lama, Elisa melihat sebuah kepulan asap mulai masuk ke celah pintu gudang bawah tanah, ia segera turun dan berjalan ke arah jendela kecil yang mengarah ke luar rumah. "Tolong!" ia yakin pasti ada yang tidak beres.


Asap hitam mulai memasuki seluruh gudang, hingga Elisa merasakan sakit di dadanya tidak bisa lagi ia tahan. Ia kesulitan bernapas dan mulai tersenggal-senggal, "Tolong!" ucapnya lagi sembari memegang buku catatan tadi dengan erat.


Di lain sisi Sky yang sudah berada di dalam gedung pesta sedang berbincang dengan beberapa orang yang ia kenal sembari meminum anggur merah. "Tuan Sky, dimana keponakanku?" tanya Paman Charly dengan seringaiannya.


"Paman Charly, Elisa sedang bersiap dan supir sudah menjemputnya ke rumah mungkin sebentar lagi akan sampai."


Seorang pria dengan napas yang berderu berlarian menuju Sky. "Ada apa?" Sky yang tahu ada yang tidak beres langsung mengerutkan alisnya dan mengintrogasi pria itu.


"Tuan, rumah kebakaran! Nona Elisa masih ada di dalam dengan Nori!"


Tanpa pikir panjang Sky mendorong pria itu dan merebut kunci mobil, ia mengemudi bak orang kesetanan. Ia tidak peduli apapun lagi selain keselamatan Elisa, tidak butuh waktu lama lima menit ia sudah sampai di rumah yang kini tengah dipenuhi oleh tim pemadam kebakaran. Sky mencoba menerobos namun para petugas melarangnya masuk.


"Persetan dengan bahaya apapun, istriku ada di dalam! Dia ada di ruang bawah tanah dan terjebak disana!"


"Tuan kami mohon tenang dulu!"


"Apa kalian akan merasa tenang jika yang berada di dalam adalah istri kalian? Lepaskan, aku harus mencarinya!"


Tidak lama Sky melihat seorang petugas kebakaran membawa Nori yang sudah terkulai lemas. Ia semakin cemas karena Elisa masih belum diselamatkan, saat para petugas lengah Sky langsung berlari ke dalam kobaran api menuju gudang bawah tanah. "Sayang! Apa kamu mendengarku? Elisa bertahanlah!"


Sky menendang pintu yang terkunci beberapa kali, namun usahanya gagal. Tidak lama kobaran api mulai mengecil dan seorang petugas membantunya mendobrak pintu gudang. Hanya dengan satu kali tendangan bersama pintu gudang langsung terbuka, asap yang mengepul di bawah menghalangi pandangan Sky yang kini hanya terfokus untuk mencari Elisa. "Elisa!"

__ADS_1


Di sudut ruangan dekat jendela kecil, Elisa tergeletak tidak berdaya. Tanpa sadar Sky menangis kemudian membawa Elisa keluar, dan catatan yang sebelumnya di tangan Elisa terjatuh ke sisa api yang masih membara. Dengan tangisan dan tubuh yang begitu lelah, Sky membawa Elisa ke petugas rumah sakit yang datang. Karena kondisi Elisa yang sungguh berat, akhirnya ia dilarikan ke rumah sakit.


Dokter mendeteksi napasnya telah berhenti karena asap yang mengepul sudah terlalu lama terlebih Elisa memiliki penyakit asma. "Selamatkan istriku!" kata Sky kukuh.


"Tuan tunggu disini, kami akan menanganinya!"


Selama satu jam dokter mencoba menyelamatkan Elisa, syukurlah wanita itu sudah melewati masa yang kritis. Sky menyesal karena lagi-lagi Elisa harus menderita karenanya. Sky menunggu Elisa sembari terus memegang tangan wanita itu. "Sayang kumohon bangun!"


Setelah lima jam tidak sadarkan diri akhirnya mata Elisa perlahan terbuka, pertama kali hal yang dia lakukan adalah tersenyum halus pada Sky. "Aku membaca catatan itu, ayahku.." ucapannya terpotong.


"Sssh, kamu masih lemah kumohon jangan mengatakan apapun. Sekarang tidak ada hal yang lebih penting selain dirimu!"


"Ayahku pindah sehari sebelum kejadian itu!"


Sky mengangguk beberapa kali. "Terimakasih aku percaya padamu. Tapi jika kamu melakukan ini lagi hanya untuk membuatku senang, aku akan sangat merasa bersalah dan tidak akan memaafkan diriku sendiri.


Aku mencintaimu Elisa, jangan pernah mengorbankan apapun lagi!"


Elisa mengangguk dan kembali beristirahat. Kondisinya yang sangat parah membuat ia harus dirawat selama satu bulan. Dan selama itu, hanya Sky dan Nori yang bergantian menjaga Elisa. Bibi Jane dan Paman Charly hanya datang sekali untuk menjenguknya.


"Apa ada hal yang ingin kamu makan?"


Elisa menggeleng pelan. "Tidak ada, aku hanya ingin cepat pulang memakan masakan Nori."


Sky tersenyum halus, selama merawat Elisa pria itu tidak lagi bekerja menjadi bandar. Ia menyetujui keinginan Elisa untuk menggapai impiannya membangun rumah kembali beserta peternakan dan perkebunan yang luas. "Aku juga ingin segera memberikan kejutan untukmu, walau rumah ini tidak sama persis dengan yang dulu. Tapi aku harap kamu senang, karena aku membangunnya di tanah yang sama."

__ADS_1


"Aku pasti akan senang, apalagi melihat pengorbananmu seperti ini."


Tidak lama seorang perawat datang untuk melepas selang infusan dari Elisa, kini ia bisa pulang kembali ke rumah yang telah dibangun lagi menggunakan tabungan sky selama bekerja. Bahkan ia menjual rumahnya yang berada di kota hanya untuk membeli beberapa hewan ternak dan bibit tanaman. "Akhirnya, kamu bisa pulang ke rumah!"


__ADS_2