
Malam berlalu dan Elisa enggan berbicara dengan Sky. Walaupun pria itu terdengar bolak-balik di pintu kamarnya, ia tetap tidak bisa menerjang masuk saat pintu itu dibiarkan terkunci oleh Elisa. Keegoisan Sky membuat Elisa muak, bagaimana bisa pria itu meminta perceraian disaat ia pikir hubungan mereka kembali membaik setelah malam yang panjang kemarin.
Kali ini, kondisi tubuhnya juga sangat lemah namun jika Sky memang masih memutuskan ingin bercerai darinya, apa boleh buat ia tentu tidak akan menghalangi langkah pria itu.
Keesokan paginya, Sky berinisiatif untuk membuatkan Elisa sarapan sederhana yaitu sepiring telur dadar dan alpukat potong dengan taburan lada juga garam sedikit. Sky membawa makanan yang sudah ia siapkan dengan penuh perhatian itu ke kamar Elisa.
Setelah berjalan ke depan pintu, Sky mengetuk pintu secara perlahan. Bagaimanapun wanita ini sedang mengandung anaknya, ia harus bisa menekan rasa bencinya pada Elisa demi malaikat kecil yang kini hidup di dalam rahim istrinya. "Elisa, aku menyiapkan sarapan untukmu."
"Tidak perlu, perutku tidak enak jika harus dipaksakan makan di pagi hari seperti ini!" sahut Elisa di dalam kamar.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa!" Sky mendengus kesal, susah payah ia membuat sarapan untuk wanita itu namun tidak dihargai sama sekali.
Sebenarnya, Elisa juga tidak berniat seperti itu namun kondisi tubuhnya memang sangat aneh setelah mengandung. Ia benar-benar tidak bisa memasukan sedikit makanan pun ke perutnya bahkan meminum air putih saja rasanya ia mual. Belum lagi, hormon yang membuat ia selalu kesal terhadap Sky ini sedikit merepotkannya.
"Sayang, ayo kita harus segera ke Kasino!"
"Lepas! Jangan menyentuhku!" terdengar suara Mera dan Sky di depan pintu Elisa. Wanita itu mendengus kesal dan menggenggam spreinya erat.
"Cih, jika tidak suka kenapa tidak mengusir wanita itu!" gumam Elisa sembari beralih menatap jendela kamarnya.
Beberapa jam berlalu, Elisa baru merasakan lapar. Tapi ia sedang ingin memakan kue kesukaannya kue yang terbuat dari gandum dan campuran keju yang langsung dibuat susu segar dari peternakan. "Huh, permintaanmu aneh sekali nak!"
Tidak lama, terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah pintu kamar. Karena Elisa kira itu adalah Sky akhirnya ia beranjak dari tempat tidur dan tidak akan segan meminta dibelikan kue kesukaannya. Tapi, saat pintu kamarnya terbuka yang ia lihat hanyalah seorang pria berambut keriting dengan tinggi sekitar enam kaki dengan membawa bingkisan dan bunga di tangannya. "Tuan Harry? Ada apa kamu datang kesini?"
__ADS_1
"Aku dengar kamu sakit, aku membawakanmu bunga dan juga kue kesukaanmu!"
"Kue?" seketika raut wajah Elisa terlihat senang. Bak pucuk dicinta ulam pun tiba, apa yang ia mohonkan kini sudah datang tepat di depannya. Tapi, jika Sky tahu hal ini tentunya pria itu akan merasa curiga dan pastinya menambah masalah untuk hubungan mereka. Sekalipun Elisa ingin kue itu tapi ia tidak akan mengorbankan lagi hubungannya dan Sky.
"Tuan, mohon pergi! Kamu bawa saja semua bingkisan yang kamu bawa, aku tidak membutuhkannya. Jika suamiku pulang dan melihatmu disini tentunya dia tidak akan senang, bisa saja dia melukaimu lagi. Aku tidak ingin melihat keributan lain di rumah. Aku mohon!"
Harry tersenyum manis, ucapan Elisa salah ia artikan Harry pikir Elisa bersikap seperti itu karena dia sangat peduli padanya. Harry menarik tangan Elisa dengan lembut dan menggenggam keduanya. "Kamu tidak perlu khawatir! Aku tidak akan takut padanya. Jika kamu ingin pergi, aku akan membawamu!"
"Tuan!" Elisa mendelik tajam. Tapi satu gebrakan meja mengejutkan keduanya, tatkala kedua orang itu menoleh dan melihat Sky sudah berada di ujung tangga dan melihat mereka dengan tajam.
"Jangan menyentuh milikku!" Sky mendekat dan mengibaskan tangan Harry dari Elisa. Ia segera meraih kerah kemeja pria itu dan menyeretnya keluar rumah.
"Tuan, kumohon jangan melakukan kekerasan!"
Sky menyeret Harry keluar rumah, ia menginjak-injak tubuh pria itu dengan sekuat tendangannya. "Katakan, apa itu anakmu?"
"Brengsek, jawab aku!"
Sky terus menginjak-injak pria itu hingga babak belur, tapi raut senang dan tawa ringan terdengar dari mulut Harry. "Anak? Maksudmu Elisa hamil?" Harry ingin mengambil kesempatan langka ini, walaupun dia tahu jelas bahwa anak itu pastilah anak Sky dan bukan miliknya tapi melihat perlakuan Sky bak iblis di matanya ia akan mengambil kesempatan ini untuk membawa kabur Elisa.
"Benar! Akhirnya, kesayanganku mengandung anakku. Aku tidak sabar membawa mereka berdua dan hidup bahagia."
"Keparat!" satu kali tendangan membuat Harry terkapar pingsan di halaman depan yang dipenuhi bunga mawar hasil rawatan Elisa.
__ADS_1
Dengan napas yang berderu, tatapan tajam seperti ingin memakan orang hidup-hidup Sky berjalan masuk ke dalam dan menghampiri Elisa. Ia menarik lengan wanita itu dengan kasar dan menyeretnya keluar.
"Tuan, kumohon dengarkan penjelasanku! Tuan, jangan begini!" Elisa menangis tersedu melihat Sky yang hilang kendali lagi. Tapi, tangisan itu tidak menyentuh nurani Sky, ia tetap menyeret Elisa dan mendorongnya hingga menindih Harry.
Seketika Harry terbangun dan memeluk Elisa, karena ia khawatir wanita itu terluka.
"Ah sungguh pemandangan yang menjijikan, tidak ingin bercerai tapi memilih menanam benih orang lain di rahimmu. Kamu sungguh munafik Elisa! Percuma saja aku mencoba berubah nyatanya aku tetaplah monster kasar dimatamu benarkan?"
Dengan menggenggam erat rumput di tangannya Elisa melemparkan itu tepat ke arah Sky. "Benar! Kamu tidak lebih dari sekedar monster jahat dan keji yang berani melalukan hal kejam pada istri dan anakmu! Lebih baik anak ini tidak memiliki ayah sepertimu!"
"Kamu berani mengatakan anak haram itu adalah anakku?" Sky mendekat dan menekan rahang Elisa dengan keras.
"Lepaskan wanitaku! Jika kamu tidak menginginkannya, cukup lepaskan!" Harry duduk dan menyibakan tangan Sky dari Elisa.
"Cocok sangat cocok! Pria tidak tahu diri dan wanita tidak tahu malu, baiklah aku merestui hubungan kalian! Silahkan angkat kaki dari rumahku!"
Elisa menatap Sky dengan penuh kebencian, ia tidak menyangka Sky akan melakukan hal sekeji ini pada dirinya dan anak mereka. Ia tidak akan pernah memaafkan Sky atas hal ini. "Mari, Tuan!"
Elisa membantu Harry untuk bangun, keduanya memutuskan untuk pergi dari rumah Sky. Tapi, Elisa tidak berniat untuk ikut Harry. Ia hanya ingin menyendiri untuk saat ini, kemanapun asal ia merasa tenang dan damai. "Tuan, aku rasa kita berpisah sampai disini."
"Elisa, kamu mau pergi kemana? Kumohon ikutlah aku, aku sudah mendengar dari pria kejam itu bahwa kamu sedang hamil."
"Tuan, aku hanya ingin sendiri. Kumohon, jangan khawatirkan aku. Jangan pedulikan aku, aku hanyalah seseorang dari masalalumu dan kamu pun begitu, aku harap setelah ini kamu tidak pernah muncul lagi diantara kehidupanku dan Tuan Sky!"
__ADS_1
Harry tertegun mendengar ucapan Elisa, ternyata sekalipun Sky kejam namun pria itu sudah terpahat begitu dalam di hati wanita yang begitu ia cintai dulu. Tidak ada hal lain lagi selain menghormati keputusan Elisa, Harry mengangguk dan berpisah dengan Elisa di ujung jalan.