
Beberapa hari telah berlalu, Elisa terlihat begitu membenci Sky, bahkan ia enggan menerima bantuan sekecil apapun dari pria itu. Karena Sky mengalami kesulitan akhirnya ia memanggil Nori ke kota untuk membantunya merawat Elisa yang sebentar lagi akan pulang dari rumah sakit. Sky mempersiapkan segala hal demi kepulangan Elisa, mendekor kamar mereka berdua bahkan Sky berniat untuk tinggal satu kamar dengan istri sahnya itu.
Walaupun, disana masih ada Mera dan Sky masih belum bertindak apapun pada wanita itu karena ia masih sangat menghargainya sebagai teman pertamanya saat tiba di kota dulu. Mera mendengus kesal ketika melihat Sky yang merapikan sendiri kamar Elisa. "Terlihat seperti kamar pengantin, apa kamu lupa soal balas dendammu?"
Sky mendengus kasar dan menoleh ke arah Mera yang bersandar di ambang pintu. "Tutup mulutmu jika tidak ingin aku usir dari rumah ini!"
"Baik-baik, Sky sepertinya kamu sudah kalah dari perasaanmu."
"Bisakah kamu tidak membicarakan hal ini dulu? Elisa baru saja sembuh, aku tidak ingin melihatnya menderita lagi untuk saat ini aku hanya ingin dia terbebas dari pikiran yang membuatnya stress!"
Mera berdecak kagum melihat Sky begitu peduli pada pikiran Elisa. "Lihatlah dirimu! Betapa kamu peduli pada gadis desa itu, betapa kamu kini seperti sudah kehilangan akal karena dirinya! Aku disini mencoba menyadarkanmu atas apa yang telah keluarganya lakukan pada adikmu!"
"Mera!" geram Sky dan menatap wanita itu tajam. "Sekali lagi kamu berbicara, aku tidak akan segan menjahit mulutmu!"
Mera tertawa kecil. "Percuma saja bicara padamu, tapi bagaimana jadinya jika Elisa tahu bahwa kamu menikahinya hanya karena dendam lama? Hmm, apakah menurutmu dia akan memaafkanmu?"
"Sebelum kamu mengatakan itu padanya, aku akan lebih dulu membunuhmu!"
"Lakukanlah Albert!" Mera menantang dan menyeringai jahat ke arah Sky yang terdiam dan tidak melangkah sedikitpun. Ia lebih memilih pergi dan mengabaikan Mera yang sengaja memancing emosinya, ia harus menjemput Elisa dan tidak boleh menunjukan wajah yang suram di depan wanita itu.
Sky langsung bergegas ke rumah sakit, Nori pun baru sampai dan bersiap di rumah untuk memberi kejutan pada Elisa. Sky dan Elisa akhirnya sudah dalam perjalanan pulang ke rumah, Elisa tidak menoleh pada pria itu sama sekali bahkan ia selalu menepis sentuhan dari Sky. Setelah sampai di rumah, betapa terkejut dan bahagianya Elisa saat melihat Nori ada disana. Namun pertemuan itu malah menjadi ajang adu tangisan karena Nori yang tidak kuasa melihat kondisi Elisa yang memprihatinkan.
"Nona, aku akan mengantarmu ke kamar!" kata Nori.
Tidak lama Elisa dan Nori berjalan dan masuk ke kamar, ia terlihat bingung karena kamarnya berubah total dari sebelumnya. Warna cat yang cerah juga furniture yang baru, serta foto pernikahannya dengan Sky yang terpajang pada bagian dinding atas ranjang mereka. "Untuk apa menaruh foto itu disana?"
"Tuan yang memintanya," jawab Nori.
"Turunkan saja! Tidak perlu ada benda semacam itu disini." Elisa duduk di atas ranjangnya dan Nori membantu wanita itu menaikan kakinya untuk diluruskan.
"Kenapa?" Suara berat milik Sky tiba-tiba saja bergabung dengan mereka. Ia melangkah masuk sembari tersenyum halus pada Elisa. "Kamu tidak suka foto yang ini?"
__ADS_1
"Atau kamu ingin memilihnya sendiri?" lanjutnya.
"Tuan Sky cukup, berhenti berpura-pura bahwa hubungan kita harmonis dan baik-baik saja. Aku lelah, lebih baik kamu tinggalkan aku sendiri!"
Sky menghela napas panjang. "Nori, bisakah kamu keluar sebentar?"
"Tentu saja Tuan!"
Setelah Nori keluar dari kamar mereka, Elisa langsung membelakangi Sky dan enggan melihat pria itu. Sky mengelus lembut punggung Elisa, segala perbuatannya memang sulit dimaafkan jadi tidak apa jika Elisa membutuhkan waktu untuk memberinya kesempatan kedua.
"Aku tidak sedang berpura-pura, aku benar-benar ingin memulai kehidupan rumah tangga ini bersamamu.
Elisa, aku salah dengan semua perbuatanku terdahulu. Bolehkah kamu memberiku kesempatan satu kali lagi?"
Elisa memejamkan matanya sejenak, ia masih tidak terima karena harus kehilangan bayinya karena pria ini. "Jika kamu tidak mengusirku dan bayi kita, mungkin dia masih hidup dengan nyaman di sini!" Elisa mengelus kembali perutnya.
"Aku tahu, aku salah. Aku akan membalaskan dendamu pada pria itu, aku akan mencarinya dan membunuhnya dengan kejam!"
"Tidak perlu! Aku tidak ingin hidupmu dipenuhi kebencian yang mendalam. Walau aku merasa sedih dan tidak terima, setidaknya anak itu tahu bahwa lahir kedunia lebih menyakitkan daripada tidak lahir sama sekali."
"Aku tidak tahu, aku hanya butuh waktu." Elisa tetap tidak bergeming, entah kenapa ia berharap Sky tidak menyerah padanya. Ia hanya ingin melihat perjuangan Sky yang lebih untuknya.
"Aku pasti akan memberimu waktu selama yang kamu butuhkan!" Sky ikut merebahkan tubuhnya di belakang Elisa, mengeratkan pelukannya pada perut wanita itu dan mengelusnya lembut. Elisa hanya berharap, andai saja perlakuan ini ia dapatkan saat Sky mengetahui kehamilannya. Tapi, semua ini sudah terjadi dan tidak bisa ditarik kembali.
"Berjanjilah padaku.." kata Elisa.
"Hm, apa?" Sky membenamkan wajahnya pada tengkuk leher Elisa.
"Saat kamu berada dikondisi seperti waktu itu lagi nanti, pilihlah anak kita. Aku tidak apa jika harus merelakan hidupku demi malaikat kecil kita."
"Sssh! Jangan bicara apapun lagi!" Sky menggeleng. Mana mungkin ia akan membiarkan hal itu terjadi lagi, jika kehamilan membuat Elisa menderita maka ia tidak akan pernah membuat itu menjadi nyata. Siapapun tidak boleh mengambil Elisa darinya bahkan anak mereka sendiri.
__ADS_1
"Elisa.."
"Aku rasa... Aku.."
"Mencintaimu.."
"Mungkin, ini terdengar sangat terlambat dan mungkin kamu akan mengira bahwa aku mengatakannya karena merasa bersalah padamu. Tapi setelah berhari-hari, sejak membiarkanmu pergi bersama mantan brengsekmu itu aku menjadi takut kehilanganmu."
Elisa terdiam dan tidak menjawab apapun, saat Sky melihatnya ternyata Elisa sudah terlelap tidur. Ia berdecak kemudian merebahkan tubuhnya kembali di samping Elisa. Padahal nyatanya, Elisa mendengar ucapan Sky ia mendengar ungkapan cinta yang mendadak itu.
Terdengar membahagiakan namun nyatanya begitu menyesakkan bagi Elisa, bagaimana tidak setelah apa yang ia lalui setelah apa yang ia rasakan dan perlakuan Sky padanya. Perbuatan kejam Sky terbayang-bayang di benaknya. Entah apa yang kini ia rasakan, rasanya hanya hambar tanpa getaran apapun.
Keesokan paginya, Elisa merasakan sebuah kecupan hangat membasahi pipinya bahkan tengkuk lehernya. Tidak luput juga tangan kekar itu mengelus perut dan menerobos masuk ke dalam bagian atas piyamanya. Elisa membuka matanya perlahan, kemudian mengibaskan tangan Sky yang ada pada tubuhnya. "Kamu membangunkanku dari waktu istirahatku yang berharga!"
"Maaf, aku sangat merindukanmu sampai tidak bisa menahannya!" kata pria itu sembari mengendus aroma tubuh khas baru bangun tidur Elisa.
Setelah terbangun, Elisa berharap bahwa Sky akan mengatakannya lagi. Ia harap, Sky mau mengungkapkan perasaannya lagi secara terbuka. "Apa ada hal yang aku lewatkan semalam?"
"Tidak!" kata Sky sembari mengeratkan pelukannya.
"Tuan, aku tidak ingin ada wanita lain selain Nori di rumah ini. Jika kamu ingin kesempatan ke dua, aku harap kamu tidak segan untuk membawa pergi simpananmu keluar."
"Mera?"
"Siapa lagi jika bukan dia."
Sky tertawa kecil kemudian mengangguk. "Tentu saja, sesuai dengan permintaanmu tapi hal ini tidak akan kulakukan secara percuma."
"Apa maksudmu?"
"Kamu harus melayaniku setiap malam setiap hari selama yang aku inginkan!" Sky menyunggingkan senyuman khasnya sembari mengelus lembut pipi istrinya.
__ADS_1
Hal itu membuat Elisa memutar bola matanya kesal. "Aku baru saja pulih, kamu sudah ingin menjadikanku budak seksmu lagi?"
"Tidak, tentu saja aku ingin kesehatan istriku membaik terlebih dahulu!" Sky mengelus lembut pucuk rambut Elisa dan mengecupnya kemudian segera beranjak keluar dari kamar. "Aku harus melaksanakan tugas yang kamu minta." katanya sembari menyeringai.