
Suasana masih begitu panas, antara Sky maupun Harry tidak ada yang ingin mengalah dalam ucapannya. Sampai saat terdengar suara panggilan masuk dari ponsel Sky, ia menerima panggilan tersebut dan mendengarkan ucapan seseorang disana dengan jelas. Mata Sky membulat, ketika ia hendak pergi dari sana ia tertahan oleh Harry yang terlihat begitu penasaran. "Dimana Elisa?" tanyanya pada Sky, kemudian pria itu mengibaskan tangan Harry yang menahannnya.
Sky bergegas melaju dengan mobilnya tanpa memedulikan Harry, sedangkan Harry meminta anak buahnya membawanya mengikuti Sky dari belakang. "Ikuti pria itu!"
Sembari menyetir mobilnya dengan cepat, Sky meraih sebuah senapan panjang untuk berburu yang ada di bawah kursi penumpang. Ia meraih senapan itu kemudian menyimpannya di kursi sebelahnya. Napasnya berderu dan matanya memicing tajam seolah ingin membunuh seseorang, ternyata telepon yang baru saja ia terima tadi adalah dari Jack pria yang kini menyandera Elisa.
Dia meminta Sky untuk datang ke gudang obat terlarang jika ingin menyelamatkan nyawa istrinya itu. Tanpa pikir panjang tentu saja Sky bergegas kesana, belum lagi pikirannya memang sedang berkecamuk. Bagaimana jika bayi yang ia ragukan memang benar buah cintanya dengan Elisa tentu saja ia akan sangat menyesal jika sesuatu yang buruk terjadi pada mereka.
Sesampainya di depan gedung, dengan membabi buta Sky menembakan setiap orang yang menghalangi jalannya. Ia menerobos masuk dengan mudah, Jack dan anak buahnya di dalam benar-benar ketakutan mendengar suara tembakan yang cukup keras berulang kali. Sky sebagai pria yang sangat ahli dalam memegang senapan, tentu saja membuat mereka gentar. Sedangkan Elisa masih tidak sadarkan diri dan darah masih terus mengalir dari area bawahnya.
Jack yang tahu dirinya dalam bahaya segera mencari jalan pintas untuk kabur dari Sky. Ia dan kedua anak buahnya berhasil lolos, saat Sky masuk ke dalam ruangan kumuh itu ia melihat Elisa yang sudah terlihat pucat dan membiru, tangannya terikat begitupun kakinya.
"Elis!" Sky berlari kemudian menjatuhkan senapannya sembarangan, ia menyentuh lembut wajah Elisa yang sudah terasa dingin. Sky bergemetar, ia hanya takut sesuatu terjadi pada Sang Istri dan ia tidak sempat meminta maaf padanya. "Elisa, aku akan mengeluarkanmu dari sini! Bertahanlah!"
Tidak lama tangan Sky digenggam erat Elisa yang setengah sadar. "Percayalah, bayi ini buah cinta kita."
"Ssh.. Kamu terlalu lemah, jangan banyak berbicara. Aku percaya itu malaikat kecil kita, aku akan segera membawamu ke rumah sakit!"
Sky membuka ikatan Elisa kemudian mengangkat Elisa ke dalam pelukannya ia merasa sakit di dada ketika melihat Elisa tidak jauh berbeda dengan adiknya dahulu. Darah bercucuran dari area bawahnya dan hal itu membuat lutut Sky terasa lemas tidak berdaya. Sky membawa Elisa ke dalam mobilnya kemudian bergegas ke rumah sakit. Sedangkan Harry, berhasil mencegat Jack dan dua anak buahnya dari jalan pintas. Ia menghajar Jack dan membawanya untuk diamankan agar tidak kabur.
Harry melihat kejadian lokasi dimana Elisa di sekap, ia begitu terkejut saat melihat darah bergelinang. Ia bahkan menyalahkan dirinya sendiri karena membiarkan Elisa sendirian. Ia mengepal tangannya erat, ia tidak akan membiarkan Jack hidup dengan damai bahkan ia bertekad untuk merebut Elisa dengan cara apapun dari Sky.
__ADS_1
Di ruangan rumah sakit, semua alat untuk menyokong hidup Elisa terpasang. Dokter mengatakan bahwa keadaannya sangat kritis dan kemungkinan bayinya tidak akan selamat. "Tuan, sepertinya kandungan Nona Elisa tidak bisa diselamatkan!"
Sky terdiam, tapi apapun akan ia lakukan untuk menyelamatkan istrinya. "Lakukanlah yang terbaik, aku hanya ingin istriku kembali sehat!"
"Baik kami akan melakukannya semaksimal mungkin."
Dua jam berlalu, Sky masih tidak bisa berdiam diri di rumah sakit. Ia begitu mengkhawatirkan keadaan Elisa, baru kali pertama ia merasa hal seperti itu selain pada adiknya Arabella. Tanpa dia sadari, rasa cinta itu mulai muncul bahkan ia berjanji pada dirinya sendiri saat Elisa terbangun nanti ia akan memperlakukannya dengan baik dan melupakan dendam masalalunya.
Paman Sam datang menemui Sky yang sedang kalang kabut, pria tua itu menepuk pundak Sky berkali-kali dan menyemangatinya. Sky menangis tanpa suara, hanya air matanya yang bercucuran deras. Setelah Elisa berhasil melewati masa kritis, ia bersumpah akan mencari Jack dan menghabisinya dengan cara yang paling kejam.
"Sabar nak! Doakan saja!" kata Paman Sam.
Paman Sam lagi-lagi menepuk pundak Sky. "Aku mengerti, berjanjilah setelah ini lupakan dendammu dan bahagiakan wanita malang itu. Di dunia ini, ia hanya memilikimu suaminya. Kamu yang seharusnya melindungi dan mengayominya, jangan lagi membuatnya bersedih."
"Aku berjanji paman, aku akan menyerahkan seluruh hidupku padanya."
Tidak lama dokter keluar dari ruangan operasi, Sky dan Pamannya langsung berdiri menghampiri. Senyuman halus tergurat dari wajah sang dokter. "Nona Elisa sudah melewati masa kritis!"
Helaan napas lega terdengar dari kedua pria itu, mereka saling berpelukan dan bersyukur atas kabar baik yang didengar. Dari kejauhan Harry pun ikut bahagia dan tenang mendengar kabar Elisa, setelahnya ia pergi dan menjauh dari rumah sakit.
Setelah melewati masa pemulihan, Elisa di bawa ke ruang rawat inap. Sky tidak lama datang membawa sekuntum bunga yang indah, ia tersenyum merekah pada Elisa dan menghampiri wanita itu dengan penuh kelembutan. Elisa masih belum tahu, bayinya sudah tiada entah apa yang akan terjadi jika ia mengetahui bahwa bayi itu sudah dikeluarkan dari rahimnya.
__ADS_1
"Aku membawakan bunga yang cantik sepertimu," Sky mengelus lembut pucuk rambut Elisa. Namun sikap wanita itu begitu dingin, ia mengabaikan Sky dan bunga pemberiannya.
"Aku tidak butuh," katanya dengan ketus.
"Elis, tolong maafkan aku. Berikan aku kesempatan ke dua untuk menebus semua kesalahanku padamu!"
"Bayi ini, adalah milik kita." Ketika menoleh lagi ke arah Sky, Elisa sudah dibanjiri air mata ia mengelus lembut perutnya dan mencoba menjelaskan hal sebenarnya pada Sky.
"Aku tahu, aku percaya."
"Tapi, kenapa rasanya sangat kosong!" Setelah menyadari tiada denyut apapun di perutnya Elisa membulatkan pandangannya pada Sky.
"Tidak ada hal buruk yang terjadi padanya ’kan?" tanya wanita itu.
"Elis, dengar! Demi keselamatanmu, aku harus menyutujui bayi itu dihilangkan!"
Elisa mendelik tajam ke arah Sky dan memukul dada pria yang ada di depannya itu dengan kencang. "Kenapa kamu tega? Bayi itu adalah anakmu! Apa kamu masih tidak percaya? Setelah apa yang telah aku lalui karenamu? Tuan, kamu benar-benar iblis!"
Sky menahan tangan Elisa. "Elisa, kumohon dengarkan. Ini semua demi keselamatanmu, aku tidak akan membiarkan apapun menghalangi kesehatanmu. Aku percaya bayi itu milik kita, jika kamu sangat menginginkannya aku bisa melakukannya lagi untukmu!"
"Brengsek! Keparat! Iblis! Menjauh dariku!" pekik Elisa.
__ADS_1