
Suara mobil berhenti tepat di depan rumah. Nori kebingungan antara mau membukakan pintu atau memeriksa keadaan Elisa. Dengan cepat Nori pun memutuskan untuk membuka pintu dahulu,
Nori membuka pintu secara perlahan. Pria dengan perawakan tinggi, berjanggut tipis dan kumis yang melengkapi wajah, pria itu berdiri didepan pintu. Matanya terlihat sayu, itu adalah majikannya, ya Skandar!
Nori membelalak melihat pria itu datang kerumah. Sepertinya dia mabuk berat, "Tuan!" Kata Nori sambil menopang tubuh pria itu yang sempoyongan.
"Hai cantik." Gila! Wanita paruh baya pun digoda oleh pria itu, mungkin matanya sudah katarak. Dengan rasa jijik, Nori mulai menjauh dari pria itu.
"Ah maafkan aku, Kupikir tadi kamu adalah Mera hahaha." Skandar benar-benar sudah tidak waras. Kini dia berjalan ke tangga dan naik ke atas sambil memegang pegangan tangga. Entah apa yang akan dia lakukan.
Didalam kamar besar bernuansa coklat itu, Elisa menghentikan isak tangisnya saat suara langkah kaki terdengar di luar pintu. Suara ketukan pintu pun terdengar beberapa kali.
"Adikku," Skandar berteriak sambil terus mengetuk pintu kamar Elisa. Elisa tahu siapa yang datang, inilah saatnya dia membalas kekejaman kakaknya itu. Dengan penuh amarah, Elisa meraih pot bunga kecil yang ada di dekat jendela kamarnya.
Dia berjalan ke arah pintu, pria itu terdengar masih bergumam tidak jelas di depan pintu kamarnya. Elisa menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Dia siap untuk menghantam pria itu dengan pot bunga yang ada ditangannya.
Elisa perlahan memutar kunci dipintunya, dan klik pintu pun sudah tidak terkunci. Elisa membuka pintu dan dia mengayunkan pot itu tinggi. Skandar yang sempoyongan langsung menubruk Elisa sehingga mereka terjatuh ke belakang dan saling tindih.
"Sialan Skandar!" Elisa mendorong Skandar ke sebelah kiri nya. Pot yang tadi ia pegang sudah terlepas dari tangan mulus wanita itu, pria yang kini ada disampingnya tersenyum layaknya orang sinting.
"Kenapa adikku marah? Kamu tidak merindukan kakak?" Skandar mencolek dagu Elisa. Dengan penuh amarah Elisa menatap pria itu tajam.
"Dasar Brengsek! Kapan kamu akan sadar?" Elisa mendaratkan tangannya dipipi kakaknya itu. Benar yang dikatakan orang mengenai stigma pemabuk, saat tidak sadarkan diri mereka bertingkah seperti iblis berwujud manusia. Apapun bisa mereka lakukan, akibat alkohol itu.
__ADS_1
Skandar merasa perih dibagian pipinya, dia menarik kaki adiknya dan menyeret wanita itu mendekat. Sehingga Skandar kini berada diatas wanita itu. Mengetahui pintu kamar masih terbuka lebar, Skandar berjalan kembali ke arah pintu. Elisa dengan sigap meraih pot bunga yang ada dilantai tadi.
Brakk ..
Pot keramik itu berhasil mendarat di kepala belakang kakaknya. Elisa bernafas dengan cepat, dia merasa terguncang dengan apa yang dilakukannya tadi. Untungnya, Skandar masih hidup. Dia hanya terluka dibagian kepalanya sedikit.
Pria itu menunjuk Elisa dan ingin menyerangnya balik.
Nori yang tidak bisa melakukan apa-apa mencoba mencari bantuan orang diluar, saat dia berlari keluar mobil Sky terlihat baru pulang. Dia menghampiri mobil itu dan mengetukkan kaca mobilnya. "Tuan, tolong Tuan." Nori bernafas dengan ngos ngosan. Sky yang baru saja sampai menatap Nori kebingungan dan mengernyitkan dahi.
"Ada apa?" Sky menunggu jawaban pelayannya itu.
"Nona Elisa dan Tuan Skandar terlibat perkelahian. Kumohon, tolong bantu Nona Elisa."
Setelah mendengar ucapan dari Nori, tanpa pikir panjang Sky berlari kedalam rumah. Dia menaiki tangga dan melihat pintu kamar Elisa terkunci. Beberapa kali pria itu, menendang pintu kamar Elisa. Tapi pintu itu terlalu kuat.
"Ada Tuan," Nori berlari ke gudang mencari alat berat untuk mendobrak pintu.
Skandar dengan brutal menyerang Elisa dan menamparnya beberapa kali. Dia sekarang berada tepat diatas Elisa. Entah perbuatan apa yang akan dilakukan iblis satu itu. Perlahan dia membuka pengait celananya. Dia menarik dress vintage Elisa sehingga bagian lengannya robek. Elisa menjambak rambut pria itu, tapi dibalas pukulan yang membuatnya pusing.
Elisa dengan penglihatan yang samar masih mencoba melawan dan memberontak. Bahkan kamarnya sudah terlihat berantakan karena dia melempari Skandar dengan barang-barang itu. Lambat laun, matanya terpejam. Pukulan Skandar membuatnya tidak sadarkan diri. Disisi lain, Sky masih mencoba membuka pintu, kini Nori datang membawa linggis dan menyerahkan pada Sky.
Trang trang.
__ADS_1
Suara antara gagang pintu dan linggis berbunyi, Skandar menyingkapkan pakaian adiknya sehingga pakaian dalam Elisa kini terlihat.
Brakk...
Akhirnya gagang pintu kamar Elisa terlepas, Sky langsung masuk dan melihat pemandangan gila didepannya. Dengan cepat Sky memukul pria itu dengan linggis. Skandar pun pingsan seketika, melihat pakaian Elisa yang tersingkap Sky langsung merapikannya. Dia mengangkat Elisa dengan gaya bridal.
Nori masuk dengan wajah cemas, dia menangisi kondisi Elisa. Bagaimana bisa seorang kakak mencoba memperkosa adiknya sendiri. Tak sadar, air mata Sky ikut berjatuhan. Yang dia bayangkan sekarang adalah dia sedang menggendong Ara ditangannya.
Luka itu membuatnya menangis, Sky membawa Elisa ke kamar tidurnya dan membaringkan dia disana. Nori dengan sigap membawa baju ganti untuk Elisa serta air hangat untuk mengompres luka-luka Nona nya.
Sky menatap Elisa dengan datar, melihat baju wanita itu yang compang-camping membuat pria itu merasa kasihan padanya. Sky duduk dikursi yang menghadap ke Elisa, lalu kembali menatap langit-langit dan menekan kedua matanya yang terasa perih.
Dia mengingat adiknya lagi, dia tidak bisa bayangkan bagaimana adiknya saat itu. Dia merasa sudah menjadi kakak yang gagal bagi Ara. Karena dia tidak disampingnya, adiknya mengalami pelecehan seperti tadi. Sky mengepalkan tangannya keras, rasanya dia ingin sekali membunuh Skandar. Tapi dia tidak bisa melakukannya sekarang, alih-alih membunuhnya lebih baik Sky melaporkannya pada kepolisian.
Sky meraih telepon rumah disamping meja tempat tidurnya, pria itu menekan nomor polisi lalu melaporkan kejadian secara detail. Elisa masih belum sadarkan diri, Nori sudah menelepon dokter untuk datang ke kediaman Michigan. Mungkin tidak lama lagi akan segera tiba.
Sky berjalan keluar dari kamar, pria itu tidak bisa terus menerus melihat kondisi Elisa yang seperti itu. Dia mencoba menenangkan diri dengan mencari udara segar malam diluar rumah. Seperti biasa, dia duduk dikursi pekarangan rumah. Lalu mengeluarkan lintingan rokok yang ada disaku celananya. Sky menyalakan koreknya dan mendekatkan ke arah rokok yang sudah ada dibibirnya itu.
Dia mengesap pelan sambil memejamkan mata, pria itu mengeluarkan asapnya beriringan dengan melebarnya mata pria itu. Tak butuh waktu lama. Petugas kepolisian dan dokter yang mereka hubungi datang hampir bersamaan. Sky berdiri dan menyapa kepala polisi yang sudah dia kenal itu.
"Selamat malam Tuan Sky, aku menerima laporanmu." Kepala Polisi itu menjabat tangan Sky yang terulur padanya.
"Tangkap orang yang ada dilantai 2, dia berusaha memperkosa calon istri saya." katanya sambil mengesap rokoknya lagi.
__ADS_1
...****************...
...****************...