
Sesampainya di depan rumah, Elisa langsung keluar dari mobil. Diikuti oleh Harry dibelakangnya, dia mengetuk pintu beberapa kali. Bahkan beberapa pegawainya langsung menyapa wanita itu dengan sumringah. Pintupun terbuka seiring terlihatnya seorang wanita paruh baya dengan rambut memutih memegang knop pintu.
"Ah yaampun, Nona Elisa." Nori langsung memeluk Elisa dengan erat, dia menangis, begitupun dengan Elisa.
"Aku merindukan mu Nori," ujar Elisa.
Harry tertawa manis memperlihatkan lesung pipi yang dia miliki. "Tuan Harry," Nori melepas pelukannya, dia menatap Elisa kebingungan.
"Harry yang mengantarku," jawab Elisa sembari menyeringai.
"Tolong siapkan dia minuman!" lanjut wanita itu.
"Tentu, mari masuk kalian pasti lelah."
Keduanya masuk ke dalam dan duduk di sofa ruang tamu. Dimana ada potret besar kedua orwng tua Elisa dulunya. Tapi, kenapa sekarang tidak ada lagi, Elisa mengerurkan dahi dia mencoba mencari Nori ke dapur. "Nori, kenapa foto kedua orang tuaku tidak ada?"
"Maafkan aku, aku hanya menjalankan perintah dari tuan Sky. Foto itu kusimpan di kamarmu, Nona." Nori sembari menyiapkan minuman untuk kedua tamunya.
Elisa mendengus pelan, setidaknya foto itu masih ada dirumahnya dan tidak terbuang. Dia membantu Nori membawa minuman itu ke ruang tamu.
"Silahkan diminum," Elisa mendekatkan minumannya ke dekat Harry.
"Terimakasih," jawab Elisa.
Elisa duduk di depan pria itu, dia merasa sangat canggung berduaan seperti ini dengan mantan kekasihnya.
"Kamu yakin tidak ingin menerima tawaranku? Aku bisa membantumu dengan memberikan harga yang fantastis pada pria itu, aku bisa membeli rumah ini dan peternakanmu lagi."
Elisa menggeleng, "karena aku tidak bisa menjanjikan apapun. Aku tidak ingin kamu melakukannya, aku akan mencari jalan dengan caraku sendiri. Jadi, kamu tidak perlu khawatir."
Harry mengangguk, "baiklah, aku menghargai keputusanmu. Apapun itu, semoga kamu menemukan jalan terbaik."
"Terimakasih Harry, dan Aku turut bersedih atas perceraianmu." Elisa meraih cangkir yang berisikan teh itu dan mengesapnya.
"Tidak perlu bersedih, aku bahagia karena telah bercerai dari wanita itu." Harry menyeringai, dia ikut meminum minuman yang sudah disediakan.
"Kenapa?"
"Dia berselingkuh dan aku menjadikan alasan itu untuk bercerai dengannya." Harry tertawa kecil.
__ADS_1
Tidak lama terdengar suara hentakan sepatu masuk ke dalam rumah Elisa. Pria berbalut jas hitam dan di dampingi seorang wanita dengan kipas yang tidak pernah terlepas dari tangannya. "Elisa!" Seru wanita itu.
"Halo bibi," jawab Elisa sembari tersenyum tipis.
"Tuan Harry? Kamu disini?" Paman Charly menghampiri keduanya yang kini berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Ya Tuan Charly, saya mengantar Elisa."
"Wah, Elisa dimana Tuan Sky? Kenapa bukan dia yang mengantarmu?" Paman Charly terlihat kebingungan.
"Dia yang memintaku mengantar Elisa," jawab Harry berbohong. Elisa menatap lurus ke arah pria itu.
"Oh syukurlah kalau begitu, kamu tahu kan jika ada orang yang tahu bahwa kamu istri tuan Sky pergi bersama mantan kekasih-m" ucapan Paman Charly terpotong oleh Elisa.
"Paman, aku tidak ingin kamu bahas itu sekarang. Aku senang bertemu denganmu, kuharap paman baik-baik saja. Ada keperluan apa kalian kesini?" Elisa tersenyun getir.
"Hmm sebenarnya kami sudah menginap disini sejak tiga hari lalu," Bibi Jane tersenyum sembari melihat Paman Charly.
"Menginap? Kenapa aku tidak tahu?" Elisa mengerutkan dahi.
"Kami sudah izin pada Tuan Sky, benarkan sayang?" Bibi Jane memberi kode pada paman Charly agar menjawab ya.
Harry menatap lurus Elisa yang terlihat kecewa, seharusnya paman dan bibi Jane berbicara langsung pada Elisa bukan Sky. "Jadi, kalian akan menginap lagi?" tanya Elisa dengan nada yang dingin.
"Tentu tidak, karena kamu pulang. Kami akan pulang juga, nikmati liburanmu selama disini." Setelah paman Charly dan bibi Jane keluar, Elisa memutuskan untuk naik ke kamar sedangkan Harry merebahkan tubuhnya di sofa.
Disisi lain Sky sedang serius menyaksikan perjudian sengit antara anggota tigers dan casablanca. "Ada telepon untukmu," seorang pelayan berbisik ke arah Sky. Sky beranjak dari duduknya, dia kemudian pergi keruangannya dan menjawab panggilan itu.
"Halo," tatapan Sky berubah memicing tajam. Dia segera menutup panggilan itu dan meraih jas juga kunci mobilnya. Dia berjalan keluar dengan cepat.
"Sayang, mau kemana?" Mera yang melihat Sky langsung menahannya.
"Bukan urusanmu, jangan panggil aku seperti itu diluaran, itu memuakan!" Sky terus berjalan lurus keluar kasino. Dia mengemudi dengan kecepatan yang jauh lebuh cepat dari biasanya.
"Apa dia sengaja ingin merusak namaku?" Geram Sky sembari memukul kemudinya. Waktu sudah menunjukan jam 2 siang, kini Harry dan Elisa terlihat sedang menyantap makan siang mereka.
"Kamu sudah ada rencana jam berapa kita akan pulang?" Harry menatap Elisa sembari melahap makanannya.
"Sebenarnya aku ingin sekali menginap, tapi karena aku pergi tanpa pamit aku tidak ingin menyebabkan masalah." Elisa tersenyum getir.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu jam 4 sore kita sudah harus pulang," Saran Harry. Elisa pun setuju dengannya. Setelah makan siang selesai, Elisa mencari Nori di halaman belakang.
"Nori," kata Elisa tersenyum lebar.
"Nona, bagaimana keadaanmu disana? Kenapa kamu nampak begitu kurus?" Nori menyentuh lembut bahu Elisa.
"Aku baik-baik saja," tidak ada cara lain selain berbohong, Elisa tidak ingin Nori menjadi khawatir karenanya.
"Tapi, apa ini?" Nori melihat bekas jari jemari Sky di rahang Elisa. Masih terlihat samar memerah keunguan.
"Ini bukan apa-apa, kamu tahu, kami pengantin baru."
Mata Nori membulat, dia percaya ucapan Elisa. "Syukurlah, ku kira itu bekas jari jemari kencang. Aku khawatir pria itu menyakitimu, apakah sikapnya baik terhadapmu Nona?"
"Kuharap, keinginanku benar. Kuharap dia memperlakukanmu dengan baik." Nori terlihat berkaca-kaca, dia yang sudah mengasuh Elisa sejak kecil tentunya akan sakit hati melihat Nona nya diperlakukan semena-mena oleh Sky.
"Tenang saja, Sky memperlakukanku dengan baik. Aku dan Sky kini tinggal di rumahnya," jawab Elisa.
"Tinggal disana? Tapi, kenapa kamu datang bersama Tuan Harry kesini?" Nori mengerutkan dahi.
Elisa hanya bisa tersenyum getir, dia kebingungan harus berkilah apalagi. "Sky yang memintanya untuk mengantarku, mereka berteman."
"Apa tuan Sky tidak tahu bahwa Tuan Harry hampir menjadi suamimu?" Nori mendekat ke arah Elisa dengan suara lirih.
"Ssh, itu tidak penting. Yang terpenting adalah kuharap kamu menjaga kesehatanmu dengan baik. Aku menyerahkan segala urusan peternakan dan perkebunan kita padamu." Elisa mengelus pundak Nori yang jauh lebih pendek darinya.
"Tapi, semua itu sudah di urus oleh paman dan bibimu. Katanya mereka mendapat titah dari Tuan Sky, apa kamu tidak tahu?"
"Sky? Meminta mereka?" Elisa menaikan sudut alisnya.
"Iya, maka dari itu sudah beberapa hari ini mereka tinggal disini. Bahkan mereka tidak segan memerintahku dan yang lain."
Mendengar hal itu Elisa merasa sangat geram, dia tidak bisa diam saja melihat mereka mengambil alih begitu cepat.
Suara pintu terdobrak dengan sangat keras, membuat Nori dan Elisa mengerjap. Mereka sudah lama mengobrol disana. Elisa dan Nori segera berlari ke arah pintu utama. Mereka melihat sosok pria yang sedang mengeratkan tangan pada kerah kemeja Harry.
"Sky!" gumam Elisa.
Bersambung...
__ADS_1