Bukan Istri Pajangan

Bukan Istri Pajangan
Bab 19 : Teman di rumah


__ADS_3

"Harry!" Ujar Elisa.


"Lepaskan dia brengsek!" Harry tidak segan memukul pria tadi sampai terhuyung ke belakang. Dia menghantamnya tanpa ampun. Sedangkan Elisa gemetar karena melihat pertarungan di depan matanya sendiri.


Setelah cukup tidak berdaya dan tidak melawan, Harry menemui Elisa yang terguncang. Namun, banyak orang juga yang datang menghampiri keributan yang sudah mereka buat tadi. Sky terlihat memerhatikan Elisa dan juga Harry, saat pria itu merangkul istrinya dan berniat untuk menjauhkannya dari area itu. Tangan Sky menghalangi, dia kini menatap Elisa dengan tajam.


"Untuk apa kesini?"


"Sayang, kamu bahkan dibuntuti sampai kesini." kata Mera yang tiba-tiba muncul dari belakang Sky. Semua orang tertawa kecil sembari menunduk. Emosi suaminya semakin mendidih, dia menarik lengan Elisa dengan kasar dan membawanya keluar dari kasino. Dia terus menarik Elisa sampai mendorongnya masuk ke dalam mobil.


Harry tidak bisa melakukan apapun, karena Sky adalah suami Elisa. Jika dia terus membelanya di depan orang lain, tentu akan membuat semua orang berpikir negatif pada Elisa dan dirinya. Dan Harry, tidak mau Elisa di anggap seperti itu. Tanpa kata, Sky mengemudi dengan kecepatan penuh, membuat Elisa menutup matanya karena takut. "Apa tujuanmu ke sana? Untuk menemui mantan kekasihmu itu?"


Elisa tidak menjawab Sky karena dia merasa takut dengan kecepatan mobil yang Sky kemudikan. "Jawab saya dasar kamu jalaaang!"


Mereka sampai di depan rumah Sky. Tanpa ampun pria itu membawa Elisa bahkan hampir menyeretnya. Karena Elisa terus memberontak akhirnya Sky membawa Elisa di pundaknya. Dia membuka pintu dengan satu tangannya, membawa Elisa ke ruang tamu dan menjatuhkannya ke sofa dengan kasar.


"Kamu ingin mempermalukan saya? Sudah saya bilang, diam saja di rumah dan jangan urus apapun yang saya lakukan! Kamu tidak perlu tahu kegiatan saya diluar rumah!" mata Sky memerah menatap Elisa dengan tajam.


"Apa aku tidak boleh tahu tentang suamiku?" Elisa mendelik ke arah Sky, air matanya hampir menetes.


"Sejak kapan kamu menganggap saya sebagai suamimu? Bukankah kamu tidak ingin ada di pernikahan ini juga?" Sky berjalan mendekat dan menekan pipi Elisa lagi.


"Ikut aku," Sky menarik Elisa dan membawanya menuju tangga. Dia membuka pintu kamar Elisa dan berniat untuk mengunci wanita itu disana.


"Aku kesepian, aku ingin pulang!" Elisa memohon pada Sky agar tidak di kurung di dalam sana. Dia memegang pergelangan tangan Sky.

__ADS_1


"Kesepian? Baiklah, saya akan membawakanmu seorang teman." Sky tetap mendorong Elisa masuk ke dalam kamar dan mengunci istrinya disana. Dia kemudian kembali ke kasino untuk menemui Mera. Sky berjalan dengan sangat cepat, dia mengarah ke arah pria yang tadi melecehkan Elisa.


Pria itu langsung di hantam dengan kepalan tangan kosongnya, menarik kerah kemeja pria itu dan mendorongnya hingga ke satu meja judi yang kini hancur berantakan. "Kamu yang menyentuh istriku bukan?"


Entah apa yang ada dipikirannya, namun dia merasa kesal saat pria itu berusaha melecehkan istrinya. Harry melihat Sky menyerang pria tadi dengan membabi buta. Sky menghentikan aksinya saat pamannya datang dan menghalau pertengkaran mereka.


"Hey Albert, sudah hentikan! Tenangkan dirimu!" Sky di bawa oleh pamannya ke area yang lebih sepi dan tenang.


"Ada apa?" pria itu mengerutkan alisnya.


"Tidak apa-apa, aku juga tidak tahu kenapa menyerang pria itu."


"Seharusnya aku membiarkan pria itu melakukannya, bukankah aku senang jika wanita itu menderita. Tapi, kenapa aku malah marah dan kesal?" Sky merasa bingung dengan dirinya sendiri.


Pamannya tahu, yang kini dimaksud Sky adalah Elisa, apapun yang terjadi dia yakin ini semua menyangkut Elisa. "Aku menikahinya karena balas dendam, tapi akhir-akhir ini aku ragu dengan tujuan awalku paman!" Sky menatap pamannya agak lama, sebelum dia menjawab suara orang lain terdengar lebih dulu.


"Kamu menikahi wanita itu karena balas dendam? Pantas saja, kamu terlihat tidak memedulikannya." Mera ikut campur dalam percakapan antara Sky dan pamannya.


"Pergi saja, ini urusan Sky. Kamu tidak perlu ikut campur!" kata paman Sky.


"Kamu tidak bisa mengusirku begitu saja, aku sudah sangat lama mengenal Sky dan aku peduli padanya." Mera duduk di samping Sky sembari merapatkan posisinya pada pria itu.


"Aku bisa membantumu, dengan cara yang lebih tepat untuk membuatnya menderita." Mera menawarkan diri untuk membantu Sky. Wanita itu terlihat tersenyum bangga.


"Bagaimana?" Sky terlihat tertarik.

__ADS_1


"Terserah kamu saja Sky, paman ke meja kingkong dulu." Paman Sky berlalu dari tempat itu.


Kini hanya tinggal Mera dan juga Sky disana.


"Dirumah besar milikmu, wanita itu pasti sangat merasa kesepian. Ajak aku tinggal disana. Bukan untuk menemaninya, tapi untuk membuatnya mati cemburu karena kita berdua."


Sky menatap Mera dengan datar, dia paham maksud Mera. "Kita melakukan hal yang menyenangkan di hadapannya, bercumbu atau bahkan bercinta di hadapan wanita itu. Aku yakin, hidupnya akan sangat terasa di neraka." Mera tertawa kecil.


"Kita bisa melakukannya," Mera menggoda Sky dan pria itu tidak menganggap ide Mera buruk.


"Kalau begitu, sekarang juga ikut saya dan kemasi beberapa pakaianmu. Untuk sementara waktu, kamu boleh tinggal disana. Dia juga merasa kesepian." Sky meminta Mera segera ikut dengannya. Wanita itu tentunya merasa senang, jika statusnya dari wanita penghibur menjadi madu Sky, berarti derajatnya akan naik.


"Tunggu disini, aku akan segera kembali." Mera pergi dari tempat itu dan mengemas pakaiannya.


Sky hanya diam termenung sembari mengesap rokok juga alkohol seperti biasa. Dia tidak tahu akan melakukan apa kedepannya. Tapi untuk saat ini, Mera akan menjadi hal yang bagus untuk menemani Elisa di rumah. Tidak lama, Mera datang dengan tas besar dengan penuh barang bawaan. Mereka segera pergi kerumah Sky yang tidak jauh dari sana.


Didalam rumah, masih ada Elisa yang terkunci disana. Dia menangis dan beberapa kali memukul pintu namun tidak ada orang lain. Dia melihat dari jendela saat melihat mobil Sky terparkir di depan rumah, pria itu keluar bersama seorang wanita yang dia benci sejak awal.


"Aku lebih baik mati, jika ditemani wanita itu!" gumam Elisa dengan nada kesal.


Pintu kamarnya terbuka, terlihat Sky dan wanita itu dibelakangnya sedang memyeringai pada Elisa. Sky masih bersikap datar, dia menghampiri Elisa dan mendekat ke arahnya. Tindakan tidak terduga di lakukan oleh Sky, pria itu menyeka air mata Elisa. "Saya sudah membawakan teman untukmu."


Elisa mengibaskan tangan Sky dari wajahnya, "aku tidak butuh teman jalangmu!"


Mera tertawa kecil, berjalan mendekat ke arah Sky lalu memeluk pria itu dari belakang.

__ADS_1


"Aku kesini bukan untuk menemanimu, tapi untuk menemani Skyku tersayang." kecupan di leher Sky diberikan oleh Mera. Membuat Elisa ingin sekali memuntahkan seluruh isi perutnya yang kosong.


__ADS_2