
Menyusuri trotoar jalan yang entah akan membawanya kemana, Elisa sembari sesekali memegang perutnya menghela napas pelan. Ia mana berani kembali ke rumah Sky, walaupun ia sama sekali tidak bersalah namun rasanya menjelaskan hal pada pria itu hanyalah perbuatan percuma saja. Elisa mengerjap tatkala sebuah mobil berhenti sekonyong-konyongnya di depan kakinya. Ia melihat pria dengan beberapa topeng yang menutup wajah mereka penuh, hanya menyisakan kedua bola mata yang asing baginya.
Mata Elisa membulat, ia tahu akan ada hal bahaya yang mengincarnya. Apalagi, sebagai istri seorang bandar terkenal seperti Sky pasti akan banyak orang yang mengincar nyawanya. Elisa berbalik dan berlari cepat, sayangnya sebuah tangan kekar dengan cepat menahan bagian perutnya dengan keras dan menarik dan membawanya masuk ke dalam mobil. Elisa di bekap dan tidak lama ia tidak sadarkan diri. Sepertinya, ia diberi obat bius.
Di sebuah ruangan kumuh yang tidak lain adalah gudang obat-obatan terlarang juga tempat perjudian ilegal dilakukan. Elisa bisa mencium aroma yang menyengat, tangan dan kakinya terikat kencang sehingga sulit baginya untuk melepaskan diri. Terdengar samar-samar suara yang amat familiar, suara perempuan yang mendayu tidak berbeda jauh dari suara si jalaang Mera.
Namun, kepala Elisa yang masih sangat sakit tidak bisa benar-benar mencerna percakapan orang-orang itu. Yang ia ingin hanyalah keselamatan baginya dan juga anak yang ada di kandungannya sekarang.
"Lakukanlah yang kalian inginkan, aku benar-benar muak melihat Tuan Sky begitu frustasi ketika wanita ini bersama pria lain."
"Kamu benar-benar gila Mera! Baiklah, tapi terimakasih atas bantuanmu. Mungkin dengan ini aku bisa membuat pria itu bertekuk lutut padaku."
"Lakukanlah apapun, aku pergi dulu."
Tidak lama setelah Mera pergi dari tempat itu, Elisa tersadar sepenuhnya ia mendelik tajam ke arah para pria yang kini menyeringai jahat ke arahnya. Tangannya terikat ke atas sedangkan ia duduk bersimpuh dengan kaki terikat juga. Perutnya terasa sakit sekali, tapi dia harus tetap kuat untuk mempertahankan bayinya dengan Sky. Napasnya sedikit tersenggal, ia merasa sesak dan hampir kehilangan napas.
Asmanya mungkin tidak lama akan kambuh lagi, perut dan dadanya begitu sakit ia bahkan menggeretakan gigi untuk menahan sakitnya.
"Kamu ingin aku menelepon suamimu? Katakan saja, aku akan meneleponnya agar dia datang. Dengan itu, aku akan lebih mudah menghabisinya.
Dia yang telah merusak bisnisku, menjebakku sampai masuk penjara. Membongkar bisnis ilegal dan membangun bisnis legalnya sendiri, pria tidak tahu malu pengkhianat itu harus merasakan sakit yang berkali-kali lipat!"
__ADS_1
Elisa tertawa kecil kemudian mendelik tajam. "Percuma saja, aku tiada artinya bagi pria yang menjadi musuhmu itu. Walaupun kamu meneleponnya kemungkinan yang terjadi adalah dia akan mengabaikanmu."
"Persetan! Jangan membohongiku, jelas wanita tadi bilang bahwa dia sangat frustasi saat kamu terlihat dengan pria lain! Jika kamu tidak berarti bagaimana dia bisa sekacau itu?"
Elisa terdiam, ia merasa tidak percaya atas ucapan pria di depannya. Mungkinkah Sky menyesal telah mengusirnya pergi? Elisa menggeleng kuat, tentu saja tidak mungkin jelas-jelas pria itu mengusir dan menyeretnya dengan penuh amarah. "Dia bahkan meminta bercerai, jadi kamu tidak perlu repot memanggilnya kemari, ia tidak akan peduli!"
"Benarkah? Betapa bodohnya ia melepaskan istri cantik dan menawan sepertimu, kalau begitu jika kita bisa mencapai kesepakatan untuk saling menguntungkan mungkin aku bisa melepaskanmu!"
"Cih! Aku lebih baik mati daripada menjadi budakmu!"
"Keparat! Siksa dia tanpa ampun, pukuli!" sepenggal kalimat seruan pada anak buahnya terdengar, Elisa dengan membabi buta di tendang dengan kekuatan laki-laki dewasa. Hanya dengan beberapa kali tendangan Elisa sudah terkapar lemas.
Pria tadi tertawa puas saat melihat Elisa tidak sadarkan diri. "Siapa suruh begitu jual mahal!"
"Bos, kami juga tidak tahu."
"Bodoh! Kita menculiknya untuk memancing kedatangan si keparat, tapi malah membuatnya sampai seperti ini."
Di kediaman Albert Sky, pria itu nampak tidak tenang ia merasa ada sesuatu hal yang tidak baik sedang terjadi. Entah kenapa ia langsung teringat pada Elisa dan bayinya, sekalipun ia tidak suka pada bayi itu tapi ia merasa telah terlalu kejam pada Sang Istri. Setelah perang batin, akhirnya ia bergegas pergi ke rumah Harry untuk menjemput Elisa dan membawanya kembali ke rumah. Rumah tangganya memang harus dibicarakan berdua, terlebih ia tidak sudi melihat istrinya berduaan dengan pria itu.
"Sayang, kamu mau kemana?"
__ADS_1
Saat Sky berjalan menuju mobilnya, ia berpapasan dengan Mera yang baru saja pulang. Sky mengabaikan gadis itu, jika bukan karena hasutannya mungkin ia tidak akan sekejam itu pada Elisa. Sky bergegas menancapkan kakinya pada gas mobil, belum sampai ke kediaman Harry ia sudah melihat pria itu dengan balutan jas rapih dengan seorang wanita yang ia lihat bukanlah Elisa masuk ke gedung kasino yang baru diresmikan di kotanya.
Sky turun dengan cepat dan menghampiri Harry tanpa basa-basi, ia menarik kerah kemeja pria itu dan membawanya seperti seekor kambing. "Dimana Elisa?"
"Elisa? Dia istrimu, kenapa bertanya padaku?"
"Brengsek, aku memberinya padamu sekarang dimana dia?"
"Kamu kira dia barang? Jika tidak bisa menghargainya lebih baik kamu lepaskan. Dia akan merasa bahagia."
"Keparat!" Sky langsung meninju wajah Harry lagi. "Dimana Elisa?"
Sembari menyeka darah di sudut bibirnya Harry terbangun dan menatap Sky. "Kukira dia kembali ke rumahmu, kami berpisah di ujung jalan."
Mata Sky membulat kemudian menarik kerah kemeja Harry lagi. "Jika sesuatu terjadi padanya, aku akan membunuhmu!"
"Seharusnya kata-kata itu aku yang ucapkan, jika terjadi sesuatu pada Elisa dan calon bayinya aku tidak akan segan membunuhmu Sky! Kamu membuat hidupnya bagaikan di neraka, bahkan kamu tidak mengakui buah cintamu sendiri. Betapa gila dan kejamnya kamu!"
Sky terdiam. "Omong kosong macam apa itu? Jelas itu adalah anak harammu!"
"Apakah kamu terlalu banyak bercinta dengan gadis berambut merah itu? Sampai otakmu tidak bekerja lagi, mudah terhasut hanya karena beberapa kalimat.
__ADS_1
Lebih baik kamu melepaskan Elisa daripada harus menderita bersamamu. Jika dia mau, aku bisa membuatnya bahagia dan membuatnya menjadi wanita paling beruntung diseluruh dunia. Namun sayangnya, ia menolakku dan bersikeras memilihmu. Pria bajingan yang tidak tahu diuntung, sudah dicintai begitu tulus masih bersikap seenaknya bahkan kejam."