
Sudah seminggu sejak kejadian itu berlangsung, Elisa kini mulai membaik. Dia sudah terlihat tenang dan kembali aktif ke kebun dan peternakan. Sedangkan Sky, sudah lima hari ini pria itu tidak datang kerumah Elisa. Terakhir kali, dia pergi ke kota karena ada pekerjaan disana. Pria dingin itu sama sekali tidak peduli pada Elisa.
Lagipula, untuk apa peduli pada anak keluarga yang dia benci setengah mati. Sky terus bergelut dengan kartu-kartu judi diatas meja. Minuman keras, juga lintingan penenang. Jika, terus seperti itu. Sky mungkin akan lebih dulu mati sebelum balas dendamnya tercapai.
Si brengsek Skandar kini sudah membusuk dipenjara, Nori sudah memberikan keterangan sebagai saksi pada sidang pertama. Sedangkan Sky, menolak untuk menjadi saksi. Dan pengadilan pun mengabulkan.
Elisa yang sudah mandi dan siap untuk sarapan turun dari tangga. Kamarnya sudah diperbaiki, tapi dia tidak menempatinya lagi. Dia pindah ke kamar lain, tempat ayah dan ibunya dulu. Wanita itu merasa trauma melihat kamarnya sendiri, rencananya dia akan membongkar kamar itu dan akan dijadikan perpustakan yang lebih besar dari yang dia miliki.
Elisa berjalan menuruni anak tangga satu persatu, kakinya yang jenjang dan kulitnya yang seputih susu membuat gaun tanggung berwarna maroon nya terlihat sangat mencolok. Dia berjalan ke arah dapur, dilihatnya makanan sudah tersaji dengan rapih di meja makan. Nori yang tersenyum melihat wanita itu merasa senang, karena Elisa lambat laun melupakan kejadian itu.
Ataukah, dia hanya berpura-pura?
Nori menghampiri Elisa dengan sumringah, " Selamat Pagi, nonaku yang cantik." Kata Nori sambil memeluk Elisa.
"Selamat pagi Nori," Kata Elisa sambil tersenyum manis. Gaun tanggungnya menyempurnakan tampilan wanita itu, Elisa agak menyibakan gaunnya saat dia duduk di kursi. Nori langsung menuangkan air putih untuk Elisa. Wanita itupun, menenggak air putih lebih dulu. Setelah itu, Nori membalikan piring didepan Elisa.
Wanita itu memang sangat memanjakan Elisa, karena rasa sayangnya pada wanita itu seperti seorang ibu kandung. Dia menaruh sehelai roti gandum diatas piring, lalu menaruh selai coklat diatasnya. Elisa menatap Nori agak lama, " terimakasih Nori, aku sangat menyayangimu." Elisa mengusap lembut tangan yang sudah terlihat keriput itu.
"Sama-sama sayang," Nori membelai lembut kepala Elisa. Elisa pun menyantap roti buatan Nori, dia dengan agak lahap menggigit roti itu. beberapa hari terakhir setelah kejadian itu, dia kehilangan nafsu makan. Tapi, setelah mendengar Skandar mendekam di penjara hati nya mulai merasa lega.
__ADS_1
Walaupun pria itu adalah kakaknya, tetap saja. Perbuatan menjijikan yang Skandar lakukan, membuat wanita itu semakin membenci kakaknya. Dipengaruhi alkohol atau tidak, Elisa tidak akan pernah memaafkannya. Saat sedang sarapan, Paman Charly dan Bibi Jane datang kerumah Elisa. Mereka berniat untuk menjenguk keponakannya. Juga untuk membicarakan makan malam di Gedung Marys , gedung yang selalu dipakai untuk berpesta para konglomerat.
Tak tak tak...
Suara langkah kaki mendekat kearah dapur, Elisa menatap Nori dengan raut wajah penasaran. Kemudian, dilihatnya paman dan bibi datang sambil menyeringai. "Selamat pagi, Elisa." kata pamannya sumringah.
"Pagi," Jawab Elisa singkat. Bibinya tidak menyapa wanita itu, dia menaikan sebelah alisnya menatap Elisa ketus. Sambil mengibaskan kipas tangannya, bibinya langsung duduk di kursi ruang makan.
Elisa rasanya sudah muak melihat bibinya itu, dia juga ingin sekali mengusir wanita itu dari hadapannya. Tapi sayang sekali masih ada paman yang dia segani. Dia jadi mengurungkan niatnya. bibinya dengan ketus berbicara. "Kamu Elisabeth! Nanti malam kita harus mengnghadiri pesta. Jadi kamu harus ikut kesana. Aku tidak menerima penolakan! Kita harus segera memperjelas statusmu dengan Tuan Sky." Bibinya tersenyum.
Elisa menghela nafas panjang, dia memutar bola matanya kesal. "Terserah bibi saja!" Jawab Elisa singkat. Dia memakan rotinya lagi, rasanya roti itu jadi terasa hambar, Elisa kehilangan selera makan karena bibinya.
Lagi-lagi Elisa mendengus kesal, "Cih Apanya yang beruntung?" tanya Elisa pada dirinya.
"Baiklah Paman, terserah Paman saja." Elisa malas mendebat paman dan bibinya, lagian dia tidak akan menang melawan mereka. Sekalipun itu hak dirinya sendiri, dia akan selalu terbayang-bayang oleh nama keluarga Michigan.
Jika dia bisa dia ingin sekali membuang nama itu jauh-jauh. Tapi sayangnya, dia tidak bisa melakukannya. Lagi pula, nama itu juga peninggalan dari ayahnya tercinta.
"Elisa kamu harus membuat ini menjadi mudah, oke?" tanya pamannya.
__ADS_1
Elisa hanya mengangguk tanpa melihat pamannya sedikitpun. Dia tetap fokus pada roti di hadapannya. melihat Elisa tidak lagi bicara, paman dan bibinya memutuskan untuk pergi dari sana. Setelah paman dan bibinya pergi dari rumahnya, Elisa mendengus kesal.
"Memangnya mereka siapa? Berani-beraninya mengatur kehidupanku? Kenapa aku bisa terjebak dengan orang-orang itu? Kenapa aku bahkan tidak bisa membela diriku sendiri?" Elisa mengepalkan tangannya geram.
Kemudian Nori pun menghampiri Elisa dan duduk di sampingnya. Wanita itu mengelus lembut tangan Elisa, "Bersabarlah! Mungkin, Tuan Sky tidak seburuk itu, kamu harus bisa membuka hatimu dan mencoba untuk memahami pria itu terlebih dulu Nona." Kata Nori.
Elisa pun menggeleng, setelah pernikahannya batal sekitar 7 tahun lalu, Elisa sudah tidak percaya lagi pada pria manapun. Bahkan pria yang dulu sangat dia percayai dan cintai, malah meninggalkannya dan menikah bersama orang lain. Elisa merasa takut untuk membuka hatinya lagi, dia takut akan salah Memilih lagi.
Elisa menatap Nori dengan datar "Aku tidak tahu, Apakah aku bisa menerima siapapun lagi dihidupku." Jawab Elisa lirih.
"Apalagi pria yang sekarang sudah mengambil seluruh peninggalan orang tuaku." lanjut Elisa menatap Nori.
Nori mengerti perasaan sedih Elisa, dia juga paham betul bahwa Nonanya sangat merasa Tertekan atas apa yang terjadi pada dirinya. Ini semua karena Skandar, Jika dia tidak menjadikan Elisa bahan taruhan, pastinya wanita itu tidak akan semenderita ini. Nori mengelus lembut punggung tangan Elisa lagi, lalu dia tersenyum dan memberikan Elisa semangat.
"Aku yakin, ada hal yang sangat indah menunggu Nona didepan sana. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya nanti nona, jadi Serahkanlah semuanya kepada yang di atas. Mungkin saja, Tuan Sky adalah jodoh yang Tuhan kirim untukmu." Nori menyeringai, Elisa pun ikut tertawa kecil mendengar celotehan Nori.
Rasanya tidak mungkin pria seperti dia menjadi jodohnya, Apakah Tuhan akan setega itu?
...****************...
__ADS_1
...****************...