Bukan Istri Pajangan

Bukan Istri Pajangan
Bab 25 - Hujan Deras


__ADS_3

Setelah membersihkan diri Elisa bergegas pergi ke kamar. Untuk pertama kalinya, ia melihat Sang Suami dalam kondisi perasaan yang baik, biasanya dia tidak ada kesempatan untuk melakukan hal ini bersama Sky apalagi melakukan pillow talk atau berbincang sebelum tidur. Namun kali ini rasanya ia benar-benar seperti istri sungguhan dan bukan pajangan. Elisa merangkak ke tempat tidur kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Elisa menghela napas panjang, sedangkan Sky masih duduk menyilangkan kaki mengesap rokok sembari menatap ke luar jendela yang di buka. Ia menoleh ke arah Elisa, kemudian membuang sisa puntung rokoknya ke dalam asbak. Sky berjalan ke arah istrinya dan menggendong wanita itu di dadanya dengan tiba-tiba. "Siapa bilang kamu boleh tidur?"


Sky membawa Elisa menuju jendela yang terbuka. "Tuan, aku takut ketinggian" ujar Elisa saat dirinya duduk di ambang jendela.


Sky mengelus pangkal paha Elisa kemudian mengecup leher wanita itu. Bekas yang ia buat tadi siang masih begitu terlihat jelas, Elisa mengerang menahan gejolak yang ada di bawah perutnya. Bagi Elisa, tindakan Sky kali ini berbeda jauh dari sebelumnya, sekarang pria itu terlihat begitu lembut dan tidak bau alkohol. Biasanya, Sky akan melakukannya tanpa belas kasih sembari mabuk berat.


Untuk sejenak, Elisa berharap di hati Sky mulai terpahat namanya. Walaupun hal itu terdengar mustahil, tak apa kali ini karena terlanjur dibuat cinta oleh pria itu ia tetap terima walau seluruh dunia berkata ia bodoh karena mengemis cinta pada pria tanpa hati di depannya. "Tuan, aku akan melayanimu dengan baik. Tapi kumohon, lebih lembutlah untuk kali ini."


Sky menatap langsung pupil mata Elisa yang berbinar dibuatnya, ia tidak tahu perihal lembut apa yang Elisa maksud. Karena pertama kali ia mencoba hal itu, ia melakukannya dengan kasar terhadap Elisa, sehingga semua itu sudah menjadi kebiasaan baginya. Tapi kini, melihat wajah istrinya yang tidak berbeda jauh dari anak anjing yang malang, ia merasa iba dan akan mengikuti kemauan wanita itu untuk sekali ini.


"Baiklah seperti yang kamu inginkan, Nona!"


Sky mengecup lembut tengkuk leher Elisa, mengerahkan tangannya sembari meremas kecil pangkal paha wanita itu. Elisa menengadahkan kepalanya, ia bahkan mempercayakan sepenuhnya tubuh itu pada Sky. Ia percaya pria itu tidak akan menjatuhkannya dari lantai atas rumahnya, ia percaya kali ini suaminya akan bersikap lebih lembut. Ia percaya suatu saat, cintanya akan terbalas dan segala kekhawatirannya akan pernikahan mereka tidak akan pernah terjadi.

__ADS_1


Dua jam telah berlalu, Elisa tertidur di kursi yang sebelumnya Sky bersantai, sedangkan pria itu baru saja selesai membersihkan diri kemudian bergegas keluar mencari udara segar di tengah malam. Saat Sky keluar, Elisa merasakan kepergian suaminya dan tidak lama dari dalam kamar Elisa melihat Sky berjalan menuju peternakan dan membawa philips keluar.


Entah apa yang akan dia lakukan malam-malam seperti ini, Elisa bahkan masih merasa tidak berhak untuk mencegah suaminya pergi. Hanya saja demi menunggu Sky pulang Elisa rela untuk tidak tertidur lebih dahulu.


Di tengah malam yang dingin, Sky masuk ke dalam kandang kuda dan membawa philips pergi menuju hutan terdekat juga membawa senapan panjang berburu. Sepertinya, hanya Sky yang menghabiskan malam dengan berburu tanpa rasa takut. Hal itu ia lakukan demi menghilangkan bisikan balas dendam yang mengganggu hidupnya, ia yang masih belum bisa melepaskan masa lalu dan kematian adiknya sangatlah tersiksa ketika ia sadar hatinya mulai luluh karena Elisa.


Walau sejuta kali ia mencoba menepis perasaan itu, ia tetap melihat Elisa dengan penuh belas kasih akhir-akhir ini. Akan tetapi, rasa tanggung jawabnya sebagai seorang kakak yang adiknya dilecehkan oleh keluarga istrinya sendiri membuat pria itu hampir gila.


Sky berteriak meluapkan emosi di dadanya beberapa kali, ditengah hutan yang dingin dan gelap ia melampiaskan setiap peluh yang ia pendam sendiri selama puluhan tahun. Tiba-tiba hujan mengguyur begitu deras, Elisa yang masih menunggu Sky pulang sangatlah cemas karena suaminya tak kunjung datang.


Elisa keluar dengan balutan gaun tidur berwarna putih, ia perlahan masuk ke dalam kandang kuda kemudian memacu kudanya dengan cepat ke dalam hujan. Elisa besar di lingkungan itu sehingga ia sudah hafal bahwa di hutan itu memang tidak ada binatang buas, hanya saja jalan yang cukup terjal selalu bisa menghambat perjalanannya. Ia hanya khawatir, Sky yang baru saja mengenal lingkungan miliknya terjebak oleh salah satu ranjau di dalam hutan.


Pikirannya tidak tenang, Elisa memacu kudanya lebih cepat. Ia bahkan memanggil kudanya Philips agar memberikan isyarat keberadaan Sky. "Philips!"


Tidak lama terdengar, suara jawaban dari philips di dalam hutan, Elisa dengan cepat bergegas masuk ke tengah hutan karena ia takut ada sesuatu terjadi pada Sky. Tapi, di dalam sana ia hanya melihat Philips tanpa Sky. Setelah ia turun dari kuda, ia baru sadar bahwa Sky ada di depannya sedang bersimpuh di tanah basah hutan.

__ADS_1


Elisa dengan pakaian yang sudah basah kuyup dan menyorot Sky menggunakan senter yang ia bawa langsung memeluk pria itu dari belakang dengan rasa bahagia.


Apapun yang Sky alami, sebagai istrinya kini ia bisa merasakannya juga. Entah apa yang pria itu rasakan namun yang pasti ia mengerti Sky sedang tidak baik-baik saja. Elisa memeluk Sky dengan erat namun pria itu hanya bisa menunduk dan menangis membelakangi istrinya. "Tuan," ucap Elisa begitu lirih.


"Untuk apa Nona kesini?"


"Aku mencarimu, Tuan."


"Apa kamu bodoh?" Sky menoleh ke arah Elisa membuat wanita itu terkesiap dan mundur ke belakang. "Setelah apa yang aku lakukan padamu, apa kamu begitu naif dan masih mengharapkan belas kasihku?"


"Atau kamu hanya berpura-pura mencintaiku, sehingga kamu bisa mendapatkan seluruh hartamu kembali?"


"Tuan! Aku sudah menurunkan harga diriku agar bisa menerimamu seutuhnya sebagai suamiku. Aku peduli terhadapmu, jika aku hanya berpura-pura untuk apa aku datang kesini dan merasa begitu khawatir seperti orang gila?


Bukankah seharusnya aku senang jika kamu mati di dalam hutan dimakan oleh biantang buas? Jika kamu masih tidak bisa menerima kebaikanku, tidak apa-apa. Tapi, jangan pernah menuduhku tidak tulus padamu!"

__ADS_1


Elisa menyentuh kedua bahu Sky dan memarahinya sekuat tenaga. Begitu inginnya ia memukul wajah pria di hadapannya tapi ia tidak kuasa dan tidak punya kekuatan untuk itu. Sky menarik tengkuk leher Elisa dan mengecup bibirnya dengan lembut dibawah guyuran hujan deras. Baru pertama kalinya Sky merasakan cinta yang begitu tulus dari seseorang, dan cinta itu malah berasal dari anak musuhnya sendiri.


__ADS_2